
"Apa?, Pindah ke desa?," ucap Mal terkejut, dia sekarang sedang berbicara dengan ayahnya melalui telepon.
["Ya, disana tidak akan ada yang bisa mengetahui keberadaan mu. Bukannya itu yang kau inginkan?,"] ucap Ayahnya.
"Ya memang benar, tapi jika aku pindah ke desa, disana-,"
Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Ayahnya malah menyerobot dan seperti sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Mal.
["Disana ada rumah ibumu, walaupun tidak besar dan mewah seperti Villa. Tapi fasilitas disana sudah disiapkan dari jauh hari, jadi tidak perlu khawatir dengan fasilitas nya,"] ucap Ayahnya.
"Bukan itu yang kumaksud!!," ucap Mal kesal yang melihat Ayahnya seperti sangat mengenalnya, padahal dia sama sekali tidak banyak menghabiskan waktu bersama anak-anaknya apalagi dengan Mal.
["Lalu apa?,"] tanya Ayahnya.
"Koneksi internet," ucap Mal.
Selama beberapa detik Ayahnya sama sekali tidak bersuara, dan ketika bersuara dia malah tertawa terbahak-bahak.
["Haha, baiklah. Ayah akan meminta perusahaan Telkow untuk mempercepat koneksi di desa itu,"] ucap Ayahnya.
"Jika Koneksi internet masih lambat bagaimana?," ucap Mal mencoba bercanda dengan Ayahnya.
["Perusahaan Telkow pemiliknya akan berganti nama,"] jawab Ayahnya dengan serius.
"Pfft, pantas saja ayah mempunyai banyak musuh. Baiklah selamat tinggal, aku masih punya hal yang harus dilakukan," ucap Mal, dia langsung mematikan telponnya.
Fahri yang mendengar seluruh percakapan antara Mal dengan Ayahnya, meloncat-loncat gembira di atas kasur.
"Akhirnya waktu sudah tiba?," ucap Fahri.
"Apa yang kau maksud?," tanya Mal.
"Rahasia, ngomong-ngomong maaf ya mengganggu waktumu bermain," ucap Fahri.
"Tak apa, lagi pula urusan ku sudah selesai. Ngomong-ngomong cepat cari tahu desa mana di provinsi mana itu," ucap Mal.
Fahri langsung turun dari kasur, dan dia berlari ke arah meja yang disana ada laptop milik Mal yang sedang di charge.
"Tempat tinggal ibu, aku baru tahu kalo ibu adalah gadis yang berasal dari desa," batin Mal, dia sedikit bersemangat ketika mendengar dari Ayahnya dia akan dipindahkan ke desa tempat tinggal Ibunya dulu.
Dan dia juga sedikit merasakan sedih, namun dia sama sekali tidak tahu darimana dan apa yang membuat ada perasaan sedih ketika harus meninggalkan kota tempat tinggalnya sekarang.
"Jauh sekali, pantas saja ayahmu berani mengatakan tidak akan ada yang mengenalmu," ucap Fahri, ketika membuka email dari Ayah Mal yang berisikan tempat tinggal mereka berdua nanti.
"Benar, coba cari gambar latar desanya," ucap Mal.
Fahri mengangguk paham, dan ketika gambar-gambar dari hasil pencarian Fahri muncul. Keduanya sama terkagum dengan gambar pemandangan yang mereka lihat.
"Tidak cocok disebut desa, ini lebih cocok disebut kota kecil," ucap Mal.
"Pantai, Gunung, Danau. Ini baru kemewahan," ucap Fahri.
"Hey, boleh aku menelpon Ayahmu?," ucap Fahri sambil memasang wajah yang memelas.
"Apa-apaan ekspresi wajah mu itu, telpon saja asal jangan mengatakan dan meminta yang aneh," ucap Mal, dia melemparkan smartphone nya ke kasur dan berjalan keluar kamar.
"Kau mau kemana?," tanya Fahri.
"Mencari jawaban," jawab Mal.
"Hah?,"
Karena perasaan sedih yang sangat mengganggu dirinya dan tidak tahu apa yang membuatnya merasakan sedih ketika harus meninggalkan kota tempat nya sekarang berada. Mal memutuskan untuk mencari jawabannya dengan mengelilingi Villa tempat tinggalnya.
Namun selama 2 jam, dia masih tidak bisa menemukan hal yang paling berkesan yang sampai-sampai membuat nya sedih dan mempunyai sedikit perasaan enggan untuk meninggalkan kota tempat nya berada.
"Ketika harus pindah kesini, dari mansion yang ada di ibukota. Aku tidak merasakan perasaan ini sama sekali," ucap Mal, sekarang ini dia sedang berada di dekat jendela melihat pemandangan yang ada di luar Villa.
"Hoyy,"
Mal mendengar suara teriakan dari teman dekatnya. Namun dia hanya diam ditempat, dan terus memandang ke luar jendela yang disana dia bisa melihat Annie dan Mina sedang menyiram tanaman yang ada di Villa.
"Ngomong-ngomong nama Kak Annie, sama seperti nama Ghost perempuan yang dibakar sampai habis oleh Maiden ku," ucap Mal teringat ketika dia masih berada di dalam game Dream World.
Agar dia bisa beristirahat dengan tenang dialam baka, dan bisa lagi bertemu dengan teman-teman petualang nya.
Sebenarnya membakar Roh adalah hal yang mustahil jika mengakarnya dengan api biasa, karena roh adalah memiliki unsur mana yang sama sekali tidak terbakar.
Namun sekarang setelah Maiden dari Embryo miliknya telah muncul, Mal sudah tahu apa kelebihan dan Fungsi dari 3 Api berwarna yang bisa dia keluarkan.
"Mal," ucap Fahri, dia memegang pundak sebelah kiri Mal.
"Ada apa?," tanya Mal, dia bisa melihat dari wajah temannya itu dia tau kalo ada hal yang gawat terjadi.
(Nafas terengah-engah) "Haah..Haah.."
"Besok," ucap Fahri dengan nafasnya yang tidak beraturan.
"Besok kita akan berangkat pindahnya," ucap Fahri yang sudah lebih tenang.
"Apa?, Kenapa mendadak sekali," ucap Mal.
***
Karena diberitahukan kalau besok adalah hari terakhir dia berada di kota ini, Mal langsung menelpon ayahnya kembali dan bertanya kenapa harus sangat mendadak sekali. Ayahnya menjawab, karena hanya besok Theo kakak pertamanya bisa mengantarnya ke tempat tinggal Mal yang baru.
"Baiklah aku akan menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa," ucap Mal.
["Apa kau punya seorang yang membuatmu tak ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini?,"] tanya Ayahnya.
Mal terdiam sejenak, dan entah kenapa dia melihat momen-momen bersama gadis berambut pirang yang selalu bersamanya ketika berada di atap sekolah.
"Mana mungkin ada, lalu bagaimana dengan sekolah?," tanya Mal kepada ayahnya.
["Surat pindahan nya akan dikirim besok,"] jawab Ayahnya.
Mal langsung menutup telponnya, dan dia melihat wajah sedih dari temannya.
"Apa tidak bisa menunggu 1 Minggu lagi?," tanya Fahri.
"Mana semangatmu yang tadi?,"
"Kau tahu apa yang membuat ayahku bisa berada dipuncak bisnis?," tanya Mal.
"Ketika sudah memutuskan, keputusan yang diambil tidak akan pernah bisa diganggu gugat," jawab Fahri.
Mal mengangguk, dan dia berjalan meninggalkan Fahri untuk melihat-lihat barang-barang apa saja yang akan dia bawa nanti.
"Apa kau tidak merasakan sedih?," teriak Fahri kepada Mal, namun Mal masih terus berjalan menjauh meninggalkan dirinya.
"Jika besok kita sudah pindah, kita tidak akan bisa berpamitan kepada teman-teman. Begitu juga dengan nyuri, kita hanya bisa melakukannya lewat pesan," ucap Fahri, perkataannya berhasil membuat Mal berhenti berjalan.
" Ada pertemuan, maka ada perpisahan. Oh ya kirimkan pesan selamat tinggal kepada Freja, dan katakan padanya terimakasih atas dua tahun nya," ucap Mal, dia kembali berjalan menjauh meninggalkan Fahri.
"Lalu bagaimana dengan Yuri?," tanya Fahri kepada Mal.
"Dan Mei?," Sambung nya setelah beberapa detik.
"Ya tolong sampaikan pada mereka juga," ucap Mal sambil melambaikan tangannya meminta Fahri untuk tidak bertanya lebih banyak lagi.
"Baiklah,"
Pesan Author.
Ini adalah yang terjadi jika Rute Yuri yang dipilih, sedangkan jika Rute Arisa MC akan pindah ke Jepang dan sekolah bareng disana.
\=========================
Like kalo udah selesai baca,
Komen kalo ada yang ingin di komen,
Vote novelnya kalo punya poin,
Itu semua adalah tanda kalau kalian mensupport novel ini untuk tetap lanjut.
\=========================