Dream World Online

Dream World Online
Episode 54



"Lama sekali dia," ucap Fahri.


 


 


"Ini sudah hampir satu jam," ucap Freja.


 


 


 


 


**


[Hidden Quest Murry]


Grade: A


 


 


Murry, meminta anda untuk membunuh Monster yang ada di Area sungai darah.


 


 


•Progres [120%]


 


 


Reward:


•Flute silver Murry


•Gold 8.000


•Fame Point +10.000


***


 


 


Fahri sangat terkejut ketika melihat Progres Quest yang sedang mereka lakukan sudah melebihi 100% tanpa mereka sadari.


 


 


"Za, coba lihat progres Quest nya," ucap Fahri.


 


 


"Kita berempat waktu itu membutuhkan waktu selama 2 jam lebih, dan itu hanya 30%. Tapi Mal sendirian saja dengan waktu satu jam sudah melebihi progres Quest," ucap Freja kagum.


 


 


Karena Fahri dan Freja saking seriusnya melihat Progres Quest yang terus naik hampir ke 200%, mereka berdua sampai tidak menyadari kalo Yuri dan Mei serta anggota Elite dari Guild Company M datang mendekat kearahnya.


 


 


"Rupanya disini, lelah kami mencari kalian," ucap Mei.


 


 


Freja dan Fahri berbalik badan karena mendengar suara Mei, ketika berbalik badan mereka berdua tak hanya melihat Mei dan Yuri saja. Semua petinggi dari Guild Company M juga ada bersama mereka berdua.


 


 


"Ada apa ramai-ramai disini," ucap Mal, dia tiba-tiba muncul dikerumunan dan berjalan melewati Demihuman harimau yang memiliki badan yang besar.


 


 


Namun yang dirasakan oleh Clain ketika Mal berjalan melewatinya, dia merasakan aura membunuh yang sangat kuat.


 


 


"Maafkan aku, saking serunya memburu Ypotryll aku jadi lupa melihat Progres Quest nya," ucap Mal.


 


 


"Haha, Begitukah?," ucap Fahri tersenyum dipaksakan, baginya membunuh satu Ypotryll saja harus memakan banyak waktu dan membutuhkan support dari Yuri.


 


 


"Hei-hei, apa kalian berhasil menyelesaikan Quest nya?," ucap Mei.


 


 


Freja maju satu langkah, dari tempatnya.


"Tentu saja, bahkan Progres Quest nya 185%," ucap Fahri dengan nada sombong, dan sambil membusungkan dadanya.


 


 


"Hebat," ucap Mei dengan wajah yang kagum melihat kepada Mal, raut wajah nya menjadi datar ketika melihat kepada Freja.


"180%, tapi kontribusi mu dalam 180% adalah 0%," ucap Mei.


 


 


"Benar sekali," ucap Freja dengan bangganya.


 


 


"Apa sih yang perlu dibanggakan," ucap Fahri.


 


 


 


 


Clain, yang memakai Avatar Demihuman Harimau dengan job Monk merangkul pundak Mal dan dia tertawa lepas.


 


 


"Haha, tadi itu sungguh menakutkan. Jangan lakukan lagi, sungguh itu sangat menakutkan," ucap Clain.


 


 


Seorang perempuan yang sepertinya adalah seorang Mage dilihatt dari topi dengan bentuk kerucut yang sering seorang Mage kenakan dan dia juga membawa tongkat staff, berjalan maju mendekat kepada Mal.


 


 


Dia mencoba melepaskan topeng kepala Naga berwarna biru yang Mal kenakan, namun dia tidak berhasil karena Mal langsung menjauh darinya.


 


 


"Malam kak Henrietta," sapa Mal, kepada perempuan Mage yang mencoba melepaskan topeng ICY DRAGON MASK dari wajahnya.


 


 


Dari wajahnya saja, Mal sudah bisa mengenali kalo dia adalah Henrietta yang juga masih merupakan Kakaknya walaupun bukan kakak kandung.


 


 


"Topeng itu tingkat apa?," tanya Henrietta.


 


 


"Super-,"


 


 


"Legend," ucap Fahri memotong perkataan Mal.


 


 


"Pantas saja. Dengan mudahnya menjual puluhan senjata tingkat Rare, karena tingkat Rare sudah tidak berarti lagi," ucap Henrietta.


 


 


"Hehe, begitulah," ucap Mal.


 


 


"Ada urusan apa kak Henrietta datang kemari?," tanya Mal.


 


 


 


 


Henrietta mengatakan tujuan mereka berlima datang menemui Mal, tujuan mereka berlima adalah untuk ikut menyelesaikan dungeon yang ada di semua kota pemula.


 


 


"Boleh, tapi dengan syarat semua Core yang didapatkan akan menjadi milikku. Santai saja, aku akan membayar dengan Gold," ucap Mal.


 


 


Mal sudah tidak peduli lagi, dengan material drop monster di dungeon kota pemula walaupun itu adalah material tingkat Epic. Apa yang perlu dibanggakan dengan material Monster tingkat Epic jika kau sudah punya perlengkapan tingkat Super Epic?.


 


 


Mal hanya membutuhkan Core Monsternya saja walaupun itu adalah core monster tingkat rendah, dengan Skill Predator miliknya core Monster tingkat rendah pun pasti akan berguna jika dalam jumlah yang banyak.


 


 


Henrietta dan Clain setuju, karena tujuan mereka berlima sama seperti dengan Mal, Yaitu Scroll EXP. Tanpa berlama-lama, Fahri yang merupakan ketua dalam party langsung mengundang ke-lima orang yang ingin ikut menyelesaikan dungeon.


 


 


 


 


 


 


•[FharXXX]---[Level 52]---[Swashbuckler]


•[FrjzaaXXX]---[Level 40]---[Tank]


•[Yurichi]---[Level 32]---[Bard]


•[Meii]---[Level 30]--[Beast Summoner]


•[Clainsss_M]---[Level 130]---[Monk]


•[Villarrr_M]---[Level110]---[Archer]


•[Hen-Henrietta]---[Level 98]---[Mage]


•[Ikhsannn_M]---[level 110]---[Swordman]


•[Sanzzz_M]---[level 115]---[Ninja]


 


 


"Jadi dia Sanzi," batin Mal.


 


 


Sementara itu Clain dan Henrietta hanya terdiam ketika mereka dimasukkan kedalam party, disana mereka bisa melihat semua level Player yang ada didalam party. Dan yang membuat mereka terdiam, adalah level yang dimiliki oleh Mal.


 


 


Padahal mereka berpikir kalo level Mal sedikit lebih tinggi atau sedikit lebih rendah dari level yang dimiliki oleh mereka, namun ternyata level yang dimiliki oleh Mal adalah level 92. Yang artinya perbedaan level Mal, dengan anggota elite Guild Company M sangat jauh.


 


 


Guild Company M bisa menjadi Guild terkuat nomer satu di Indonesia karena mereka mempunyai anggota elite yang level mereka tak jauh dari level 95-100. Ditambah lagi dengan adanya Clain, Iksan, Villar dan Sanzi yang merupakan Top job dari Job masing-masing.


 


 


 


 


〖PVP!!〗


〖Player Sanzzz_M menantang anda PVP〗


         [Accept]-------------------[Decline]


 


 


 


 


"Apa kau punya masalah dengan ku?," ucap Mal pada Sanzi yang tiba-tiba mengrimkan tantangan PVP padanya.


 


 


"Ada apa?," tanya Clain.


 


 


Suasana menjadi tegang karena Mal dan Sanzi terus bertatapan satu sama lain, walaupun Clain tidak tahu apa yang terjadi tapi dia mencoba melerai suasana yang tegang itu dengan mengajak mereka langsung masuk kedalam Dungeon.


 


 


Namun sayangnya, Mal dan Sanzi sama sekali tidak bereaksi dengan ajakan Clain. Mereka berdua masih saling bertatapan.


 


 


"Sepertinya Sanzi menantang PVP," bisik Villar.


 


 


"Apa?, apa dia punya masalah pribadi?," bisik Clain terkejut.


 


 


"Jika disebut masalah pribadi kurang cocok, lebih tepatnya masalah harga diri," bisik Villar.


 


 


"Harga diri?," batin Mal mendengar percakapan antara Villar dan Clain. Dengan cepat dia sudah mengerti arti perkataan yang dikatakan oleh Villar.


"Begitukah, ternyata ada orang yang seperti itu ya," batin Mal, dia sudah mengerti dengan alasan kenapa Sanzi menantang dirinya untuk melakukan PVP.


 


 


 


 


"PVP tidak mendapatkan apapun bukannya itu membosankan, bagaimana kalo kita taruhan?," ucap Mal.


 


 


"Baiklah, apa yang akan kau taruhkan?," tanya Sanzi.


 


 


"Dagger tingkat Super Epic ini," ucap Mal mengambil Dagger Vgold yang ada dibelakang punggung nya.


 


 


"Apa kau serius?, Itu tingkat Super Epic loh?," bisik Fahri.


 


 


"Tenang saja, lagi pula aku tidak berniat untuk kalah," bisik Mal.


 


 


"Sanzi, semua orang punya alasan tersendiri. Lebih baik hentikan ini, bukannya aku tidak percaya dengan kemampuan mu. Tapi disini level terkadang suka berbohong," ucap Villar.


 


 


"Kalo itu aku tidak setuju, didalam game semuanya ditentukan oleh angka. Semakin tinggi angkanya semakin tinggi kesempatan untuk menang?," ucap Mal.


 


 


Dia berbalik badan dan melihat kepada Fahri.


"Apa benar begitu Far?," tanya Mal.


 


 


"Ternyata kau masih ingat, padahal itu sudah lama sekali," ucap Fahri.


 


 


"Bagaimana mungkin aku lupa perkataan yang membuatku jadi suka bermain game," ucap Mal.