Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 9



Suasana dikediaman Hansa sangat indah, ruang tamu dihias sedemikian rupa, cahaya dari lampu tumbler yang berwarna-warni membuat suasana jadi semakin hidup. Semua makanan sudah tersaji diatas meja, kue berukuran besar juga sudah tersedia di meja khusus. Hansa dan Tania adalah pemeran utama untuk malam ini. Ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 24 tahun. Mereka hanya memiliki satu anak yaitu Tiara karena Tania memiliki kista di rahimnya yang mebuat rahimnya terpaksa harus diangkat akibatnya Tania tidak bisa memiliki keturunan lagi. Tiara menggunakan dress berwarna putih selutut tanpa lengan yang menampakkan pundaknya yang mulus serta rambutnya yang ditata rapih membuat leher jenjangnya terekspos dengan sempurna, riasan wajah yang simple membuat Ara semakin terlihat cantik natural tanpa perlu make up berlebihan.


Tiara dan keluarga kini tengah duduk di kursi yang telah disediakan menunggu kedatangan para tamu yang mereka undang. Tak lama Rini datang bersama kakaknya Rocky. Kabarnya Rocky menyukai Tiara sejak Ara sering berkunjung ke rumahnya bersama Rini. Jaman mereka masih SMA dulu Tiara memang sering kerumah Rini untuk belajar bersama, jadi tidak heran kalau Ara sering bertemu Rocky.


"Selamat ya om, tante, semoga tetap seperti ini sampai maut memisahkan"PUcap Rini bergantian memeluk Tania dan Hansa. serta memberikan kado yang dibawanya pada Tania.


Rocky berjalan menghampiri Tania dan Hansa memberikan selamat pada mereka berdua dan memperkenalkan diri. Pandangan Rocky kini tertuju pada Tiara yang sangat cantik malam ini.


"Hi Ara apa kabar?". Sapa Rocky dengan sopan. Yang disambut uluran tangan Ara dengan senyum manisnya.


"Baik kak, ka Rocky apa kabar? ". Tanya Ara sopan.


"Seperti yang kamu lihat". Jawab Rocky dengan senyum dibibirnya.


"Wahh kalau yang Ara lihat sih kurang baik, soalnya agak kurusan gitu". Ara terkekeh dengan tatapan meneliti.


Beberapa menit kemudian Banu, Sahila serta Indra dan Angela atang. Indra mengenakan stelan jas berwarna abu muda dan kemeja berwarna putih serta dasi warna biru dongker dengan motif garis. dipadukan dengan sepatu berwarna putih, membuatnya semakin tampan apalagi dengan rambut acak-acakan khasnya.


Sampai didalam Sahila, Angela dan Banu serta Indra langsung memberikan selamat dengan menyalami dan memeluk Tania dan Hansa. Riuh suara mengobrolpun tidak bisa dihindari, acara belum dimulai karena masih ada tamu yang belum datang.


Indra duduk disebelah Tiara. di sofa disamping kedua orangtua mereka mengobrol. Ada Rini dan Rocky juga dihadapan mereka.


Rocky menatap Indra lekat, seolah ingin bertanya 'siapa kamu kenapa dekat-dekat dengan Tiara' tapi tidak diungkapkan.


"Ikut aku" Seru Indra dengan menarik tangan Tiara, Tiara yang tangannya dituntun oleh Indra hanya bisa pasrah mengikuti langkah Indra.


"Kita mau kemana?". Tanya Tiara sambil melepaskan tangannya dari genggaman Indra. Namun Indra tidak menjawab.


Indra membawa Tiara ke dekat kolam beranang disamping rumah. Mereka duduk dikursi yang ada disana dengan gelas yang masih dipegang dari tadi. Sesekali mereka saling bersitatap namun tak ada yang memulai pembicaraan. Melihat baju Tiara yang terbuka Indra berinisiatif membuka jasnya dan memakaikannya pada Tiara."Terimakasih" Ucap Tiara.


"Jangan pakai baju seperti itu lagi nanti masuk angin". Ujar Indra yang langsung mengalihkan pandangannya.


Tiara diam-diam mengulum senyum merasakan jas Indra yang terpasang ditubuhnya "Mau ngapain sih kesini, Para tamu banyak didalem kenapa kita kesini temen kuliah ku u-". Ucapan Tiara terhenti saat tangan dingin Indra menyentuh tangannya yang ia taruh diatas paha. Tiara menatap Indra dengan tatapan heran tapi Indra tidak menghiraukan tatapan Tiara.


"Tiara Kinanti, kamu inget ini tempat apa?". Indra bertanya tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus kedepan.


"Dulu kamu pernah ngajarin aku berenang disini. itu memalukan bahkan aku tak memakai apapun saat itu". Suara Tiara mengecil saat mengatakan kalimat terakhir.


Indra mengulum senyum dibirnya "Tidak perlu mengecilkan suaramu, aku ingat semuanya, bahkan yang tidak kamu ingat pun aku ingat". Jelas Indra.


"Apa itu?". Tanya Tiara penasaran.


"Kamu ingat setelah kita belajar berenang, lalu kita makan siang bersama dan kamu ketiduran di meja makan". Ucap Indra yang sepertinya sedang mengenang masa kecilnya bersama Tiara.


Indra menoleh ke arah Tiara, otomatis pandangannya dan Tiara bertemu, cukup lama mereka bersitatap sebelum Tiara mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku yang meggendongmu ke kamarmu". Tambah Indra sambil menatap lurus kembali ke depan.


"Dan saat aku ingin pergi, tapi kamu tidak mau mau melepaskan tanganku, akhirnya terpaksa aku harus menunggumu sampai bangun tidur". Tambah Indra.


"Itu pasti bohong" Sanggah Tiara.


"Kamu boleh tanyain itu sama om dan tante kalau tidak percaya". Ucap Indra.


Indra berdiri dan hendak meninggalkan Tiara, namun tangannya ditahan oleh Tiara. "Nah persis seperti ini". Indra terkekeh melihat Tiara segera melepaskan tangannya dengan wajah cemberut "Ayo masuk disini dingin". Indra berjalan lebih dulu didepan Tiara, sedangkan Tiara mengikuti.


Saat tiba di dalam sudah banyak tamu yang datang, beberapa kolega Hansa juga turut menghadiri acara malam ini. Namun ada sosok yang membuat Tiara terperangah ditengah kerumunan tamu yang hadir. Tara. Hera. Mereka? Indra yang melihat Tiara berhenti berjalan refleks menoleh ke belakang dan menghampiri Tiara.


"Ada apa? ". Tanya Indra. disamping Tiara. Tapi Tiara tidak menjawab.


Tara yang melihat kedatangan Tiara malah terlihat sangat senang, tanpa memperdulikan perempuan yang ada di sampingnya.


"Hai Ra, sini gabung". Ajak Hera.


Tiara yang sejak tadi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya segera tersadar. Tiara tiba-tiba menggandeng tangan Indra yang dari tadi berdiri keheranan melihat Ara. Indra terkejut melihat tangan Tiara yang sudah menggandeng tangannya dengan penuh percaya diri.


"Ayo sayang". Ucap Tiara pada Indra dengan mengembangkan senyum manisnya. Sedangkan Indra tidak berkata apapun, pikirannya belum sepenuhnya sadar karena sikap Tiara yang berubah drastis secara tiba-tiba.


Tak terkecuali semua orang yang ada disana pun terkejut dengan sikap Tiara pada Indra, 'siapa itu, apa dia pacarnya Tiara?' mungkin itu adalah pertanyaan yang muncul dibenak muda-mudi yang hadir. Beda lagi dengan kedua orangtua yang menjodohkan mereka, mereka malah terlihat senang sekali melihat kedekatan keduanya. 'Sepertinya usaha kita berhasil' mungkin itu yang mereka pikirkan.


Kini Ara dan Indra sudah berada di kerumunan muda-mudi. "Oh iya kenalin, ini calon suami gue namanya Indra". Ara berbicara penuh percaya diri pada Rini, Rocky, Hera dan Tara. "Maaf ya sayang, aku kalo sama temen-temen ngomongnya emang gini" Sambil tangan kirinya mengelus dada Indra yang hanya dibalut kemeja.


Tara yang menyaksikan adegan barusan mengepalkan tangannya di bawah meja. Sudah lama ia ingin bertemu Tiara tapi bukan untuk menyaksikan hal semacam ini, Saat mendengar Hera mengajaknya pergi kerumah Tiara ia berharap akan bisa mengajak Tiara keluar untuk bicara dari hati ke hati. Tapi takdir berkata lain. Tara malah mendapat kabar yang membuat hatinya terbakar.


"Selamat ya Ra, Suami lo ganteng banget". Ucap Rini sambil tertawa kecil.


"Iya Ra selamat ya, lo ngeduluin gue aja" Ucap Hera menimpali. "Kenalin ini Tara pacar gue, dia baru balik dari London".


Tara menjulurkan tangannya berharap Tiara akan menjabatnya, tapi Tiara malah menarik tangan kanan Indra dan menjabatkannya pada Tara "Salam kenal" Jawab Tiara. Indra yang sejak tadi diam saja mengalihkan pandangannya pada Tiara dengan tatapan heran. "Calon suami gue cemburuan" Celetuk Tiara yang dibumbui cekikikan kecil khasnya.


Indra memijit keningnya karena kelakuan Tiara Ra kalo mau ngejatuhin martabatku jangan gini caranya Gumam Indra dalam hati.


***


Hu readers semoga suka sama ceritanya yaa:)