Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 2



Flashback on...


Saat itu Ara masih berstatus pelajar kelas 2 SMA. Memiliki kekasih bernama Tara Wijaya. Anak dari pengusaha sukses dibidang pertambangan. Tara adalah kaka kelas Tiara, dan salah satu dari dua pria populer di sekolah karena ketampanan dan kekayaannya.


Mereka sudah menjalin hubungan selama 1 tahun lebih yaitu sejak Tiara masuk SMA dan Tara kelas 2 saat itu. Sejauh itu hubungan mereka adem ayem sebelum ada orang ketiga diantara mereka.


"Ra! ". Rini sahabat Ara memanggil dari kejauhan dengan sedikit berlari.


Refleks Ara mendongak kearah rini. Melihat rini yang mendekat sambil ngos-ngosan karena berlari.


Rini menghela nafas panjang.


"Tarik nafas, buang. Tarik nafas, buang. Tenang dulu tenang. Kenapa lari-larian gitu. Ada apa? ". Ara mencoba menenangkan sahabatnya itu yang sudah terlihat sangat cemas.


"Tara" Rini masih mencoba mengatur nafasnya.


"Tara kenapa Rin"Wajah ara langsung cemas, berpikir mungkin tara kenapa-kenapa.


"Tara Ra Tara"..


"Iya Tara kenapa?! ". Refleks Ara mnggenggam bahu rini dan menggogangkannya dengan kencang sampai Rini gelagapan. Raut wajah Ara langsung berubah 180 derajat, yang tadinya ceria menjadi gelisah tak karuan karena sahabatnya tak kunjung mengatakan apapun.


"Ikut gue" Rini lekas berdiri dan menarik tangan ara yang sudah bercampur keringat dingin di sana sini.


Dijalan Rini sempat bercerita tentang apa yang dia lihat sambil mempercepat langkahnya.


"Tadi gue liat Tara lagi ciuman sama Raisya di toilet cewe." Dengan pandangan tetap terarah pada Ara. Takut jikalau sahabatnya itu pingsan mendengar perkataannya.


Raut wajah Ara yang tadinya cemas berganti dengan tatapan tak percaya pada Rini namun tak menghentikan langkah mereka. Keduanya hanya bergegas menuju toilet sekolah. Sampai di lorong toilet, Ara benar-benar melihat apa yang dikatakan sahabatnya barusan. Ara hanya diam mematung tak percaya. Dengan mata terbelalak Ara kehilangan konsentrasinya untuk sesaat. Kristal bening di pelupuk matanya sudah tak terbendung lagi. Bercucuran membasahi pipi. Tubuhnya lemas tak tertahan hingga jatuh ke pelukan Rini.


Dengan sigap, bak seorang bodyguard Rini membawa Ara keluar dari lorong toilet, tanpa menghiraukan dua orang gila yang sedang asik bercinta dengan tidak tahu malunya itu. Sambil terus berjalan Rini menepuk-nepuk bahu Ara berusaha menenangkan.


***


"Gue ngga percaya Tara tega khianatin gue Rin". Tangisan Ara semakin pecah saat mereka sudah sampai dikelas dan duduk dibangku masing-masing.


"Gue juga ngga percaya. Tapi lo kan liat sendiri tadi Ra."


Brengsek si Tara. bisa bisanya ngelakuin ini ke Ara. awas lo ya. Geram Rini dalam hati.


"Hwaaaaa" Tangisan Ara malah semakin menjadi-jadi. Membuat semua orang diruangan kelas itu menatap ke arahnya.


"cup cup cup. Udah tenang. Masih banyak cowo yang mau sama lo. Kalo perlu gue bawain oppa Chanyeol buat lo". Rini masih berusaha menenangkan Ara yang sedari tadi tidak berhenti menangis dipelukannya.


Rini adalah satu-satunya sahabat ara di sekolah. Mereka selalu pergi berdua kemana-mana. Jika ada kesempatan mereka juga sering liburan berdua.


***


"Udah Ra, jangan dipikirin lagi." Ucap Rini.


"Dia tega banget sama gue Rin. Sumpah gue ngga percaya sama apa yang gue liat tadi. Bisa-bisanya Tara ngelakuin itu, gue kurang apalagi sama dia Rin? Apa karena gue ngga pernah ngebolehin dia nyium gue makanya dia ngelakuin itu sama orang lain. Tapikan maksud gue baik Rin, lo ngerti kan?". Ara berusaha mencurahkan keluhan dalam hatinya pada Rini, rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi, sakit, sedih, marah, kecewa, tak percaya, semuanya bercampur dihati Ara. Bayangan Tara sedang berciuman dengan Raisya masih berkeliaran dipikirannya.


"Dorr!!". Suara keras yang datang tiba-tiba membuat Ara tidak bergeming sedikitpun karena Ara masih fokus pada lamunannya dan tidak menyadari kedatangan Tara sebelum akhirnya Tara mengacak-acak rambut Ara dengan lembut.


Kali ini Ara sadar kalau Tara sudah berada disampingnya namun Ara enggan untuk menoleh pada Tara. Ara malah dengan cepat menandaskan blue ocean miliknya. Setelah menghabiskan minumannya, Ara berdiri hendak meninggalkan Tara tapi tangannya ditahan oleh tangan Tara. Sontak itu membuat Ara menoleh pada Tara dengan tatapan tidak bersahabat.


"Lepas". Dengan kasar Ara menepis genggaman tangan Tara. Tentu saja itu membuat Tara heran.


"Kamu kenapa sih ko kayak ngehindarin aku gitu?". Tanya Tara


"Ngga papa". Jawab Ara ketus.


"Beneran ngga papa?" Tanya Tara lagi, mencoba mencari kepastian.


cih dia pikir gue ngga tau yang dia lakuin dbelakang gue. Gatau diri!. Ara.


"Aku ngga mau ketemu sama kamu lagi. Kita udahin aja semuanya sampe disini, kamu boleh pergi sama Raisya kapanpun, boleh ngelakuin apa aja sama cewe itu, atau mungkin sama cewe yang lain selain Raisya. Aku ngga tau berapa banyak lagi cewe yang kamu punya, aku udah ngga mau peduli lagi sama kamu. Selama ini aku selalu berusaha untuk percaya sama kamu walaupun kamu bohongin aku, aku ngga pernah mempermasalahkan itu, tapi kali ini ngga bisa lagi Tar, aku capek". Dengan lantang dan tegas Ara menyudahi hubungannya dengan Tara yang sudah terjalin sejak lama itu. Ada perasaan sedih bercampur benci dihati Ara. Satu sisi dia masih sangat menyayangi Tara, disis lain dia tidak bisa memaafkan Tara atas apa yang Tara lakukan.


"Bukankah kita pernah saling berjanji Tar untuk tidak meninggalkan satu sama lain, setia sampai akhirnya hanya ajal yang memisahkan, bahkan akan saling memaafkan kalo salah satu buat salah, tapi ada satu hal yang mau aku tekanin sama kamu, kecuali perselingkuhan. Kamu pasti inget itu kan, karena kamu sendirinyang bilang itu. Apa kamu lupa sama janji yang kamu ucapkan sendiri. Kayaknya iya, atau kamu cuma pura-pura lupa Tar". Lanjut Ara. Ingatan Ara sejenak beralih pada saat dimana mereka mengucapkan janji untuk saling setia dan percaya.


Dihadapan Tara, Tiara mencoba untuk bersikap setegar mungkin, meski tidak bisa dipungkiri dari kata-katanya barusan terselip kesedihan dan kekecewaan yang mendalam terhadap Tara.


Tara yang dari tadi hanya bisa diam mendengarkan ucapan Tiara, seketika wajahnya berubah jadi merah padam, matanya memerah namun mulutnya tidak bisa berkata apapun. Disituasi seperti ini kenapa mulutnya tidak bisa diajak kompromi. Malah seakan-akan menolak untuk membuat sepatah atau dua patah kata bantahan untuk Ara.


Sedangkan Rini hanya terdiam menyimak perkelahian dua orang yang ada dihadapannya itu. Terlihat tatapan geram Rini terhadap Tara yang sejak tadi ditahannya. Rasanya Rini ingin melemparkan Tara ke segitiga bermuda supaya mati kelaparan disana.


"Aku minta maaf Ra, tapi itu ngga seperti yang kamu liat. Aku bisa jelasin semuanya kamu tenang dulu". Akhirnya Tara bicara dengan nada yang sangat lembut sambil tetap menatap Tiara dan menggenggam tangan Tiara sekali lagi yang masih berdiri namun sudah tidak menatap dirinya.


Seperti sebelumnya Tiara menepis tangan Tara dengan kasar "Gaada yang perlu dijelasin. Ayo Rin".


Secepat mungkin Ara menarik langkahnya meninggalkan Tara yang mematung di pojok kantin dan Rini mengekor dibelakang Tiara.


Tara berpikir mungkin tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari hubungan mereka berdua, Tara sadar bahwa dia yang salah, karena tidak menepati janjinya. Tapi hati tidak bisa dibohongi, kalau Tara masih sangat menyayangi Tiara. Alasannya menjalin hubungan dengan Raisya semata-mata hanya ingin memenangkan taruhan bahwa ia lebih baik dari saingannya Hans dengan cara membuktikan bahwa Tara bisa mendapatkan wanita terpopuler sesekolah mereka saat itu yaitu Raisya. Raisya memang memiliki wajah yang cantik, dia juga seorang anak pengusaha kaya raya di ibukota, tubuhnya yang seksi dan proporsional membuat para kaum adam mengidolakannya.


Kalau Tara menyebutkan yang sebenrnya pada Tiara maka pasti Tiara akan lebih marah lagi, karena Ara tidak menyukai pria angkuh, yang menggunakan segala macam cara hanya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik, atau lebih tepatnya untuk menyombongkan diri.


Sejak saat itu, Tara hanya berani mengganggunya lewat telpon saja. Kabarnya sekarang Tara melanjutkan studi s1 di London.


Flashback off...


***


Terimakasih untuk yang sudah baca.. Jangan berhenti sampai disini ya masih banyak lho ceritanya