
Kini Indra dan Tiara sudah ada di gedung berlantai dua di pusat kota, mata Ara menyapu seisi ruangan dilantai dasar 'tempatnya rapih bersih dan luas' pikir Ara. Lantai pertama dijadikan untuk tempat penjualan pakian santai sehari-hari dan lantai dua dijadikan tempat penjualan pakaian khusus seperti gaun pernikahan.
Saat memasuki lantai yang kedua, Ara tertegun melihat semua design pakaian yang ada disana, rasanya semua design yang Ara buat jauh berbeda dengan yang ada disana. Ara lebih medominasi design simple nan mewah, tapi yang ada dihadapan Ara sekarang semua bentuknya mengembang dengan banyak sekali taburan hiasan diatasnya. 'Mewah, sangat mewah' gumam Ara. Meskipun mewah tapi Ara memang tidak terlalu terbiasa dengan pakaian yang menjuntai kebawah sampai harus di angkat oleh beberapa orang dibelakangnya agar tidak terinjak, namun Ara mencoba untuk menghargai orang lain. Meski agak sedikit keberatan Ara akan tetap memakainya.
Sebelum berangkat untuk menjemput Ara tadi Indra sudah memerintahkan sekretarisnya untuk mempersiapkan semuanya, termasuk menyiapkan gaun pengantin yang sudah ia pesan khusus untuk Tiara dari designer terkenal langganan keluarganya yang ada Rusia.
Semua gaun pernikahan yang ada disini memang dibuat oleh designer khusus yang sudah bekerja selama bertahun-tahun dengan keluarga Indra, namanya Aelee.
"Tiara Kinanti ngapain bengong disitu?". Tanya Indra saat menyadari Tiara tidak ada di sampingnya. Ternyata Tiara masih tertegun dengan gaun-gaun yang ada disana, matanya tidak berkedip sedikitpun dan mulutnya menganga.
"Tiara". Indra menaikkan intonasinya sedikit lebih tinggi dari yang tadi karena Ara tak kunjung sadar dari keterpukauannya.
"Ah iya?". Ucapnya setelah sadar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Nampaklah Indra yang sudah jauh didepan dengan wajah datarnya.
Ara segera berlari mengejar Indra yang sudah beberapa langkah jauh di depan Ara dan sekarang Ara sudah mensejajarinya. Mereka berjalan memasuki sebuah ruangan yang ada dilantai itu.
"Bukalah" Titah Indra pada Tiara. Tiara hanya menatap Indra sekilas kemudian membuka pintu yang ada di depannya.
Saat pintu terbuka sebuah gaun berwarna emas dengan taburan swarovski dibagian dada dan pinggulnya terpampang jelas dihadapan Ara. Gaun tanpa lengan yang jika dipakai akan mengekspos bahu si pemakai dan bagian bawah yang mengembang seperti payung menjuntai kebawah mengenai lantai. Ara bahkan terkejut melebihi tadi, ia tidak bisa berkata apa-apa dan langsung menyambar gaun Indah yang tertutup oleh kaca itu.
"Aku memesannya untukmu, kau suka?". Tanya Indra saat melihat Tiara terus-terusan meraba kaca yang melindungi gaunnya.
Ara mengangguk berkali-kali dengan mata berbinar. Tak pernah Ara sebahagia ini saat melihat sebuah gaun, apalagi pemberian oranglain.
"Buka" kata Indra pada seorang pelayan perempuan yang ada di ruangan tersebut. Sang pelayan lalu memencet sebuah remote control dan Srekk, kaca itu sudah hilang terangkat ke atas. Kini Ara bebas meraba gaun indah itu dari berbagai arah.
"Cobalah" kata Indra saat dirinya sudah duduk di sebuah sofa di dalam ruangan itu.
Kemudian Ara masuk ke ruang ganti dan saat keluar Ara sudah mengenakan gaun yang indah tadi. Sekarang giliran Indra yang tertegun melihat kecantikan Ara. Kulit Ara yang putih sangat serasi dengan warna emas, lehernya yang mulus serta bahu yang indah sangat pas dengan gaun yang dipakainya. 'cantik' gumam Indra.
"Gimana?" tanya Ara penasaran.
"Perfect" Jawab Indra dengan diiringi isyarat jari seperti 'oke'.
"Aku ngga nyangka kalo gaun itu bakalan pas banget sama kamu". Tambah Indra. Sedangkan Ara masih berputar-putar di depan cermin mengamati dirinya sendiri.
"Kamu coba baju kamu sana". Ucao Tiara tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku liat tadi ada baju laki-laki yang senada sama baju ini. Kayaknya pas dikamu". tambahnya.
"Itu memang punyaku". Jawab Indra santai. Dan hanya dijawab "oh" oleh Tiara.
Tak terasa hari sudah malam, matahari sudah beristirahat di peraduannya digantikan oleh bulan. Setelah selesai mencoba beberapa gaun lainnya dan membelinya, Tiara dan Indra melaju dengan mobilnya, karena perut mereka keroncongan, keduanya memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu di sebuah restaurant yang mereka lewati.
Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah ada didalam restaurant bertema Anime, semua pelayan yang ada disana semua menggunakan pakaian khas beberapa tokoh anime, seperti tokoh Akame dari anime Akame ga kill, Asuna Yuuki dari Sword art online, Ryuzaki dan lain-lain. Indra dan Tiara sudah memesan beberapa menu makanan dan minuman yang ada di restaurant itu. Untuk sesaat hanya beberapa dengtingan sendok yang terdengar, sebelum.
"Apa?". Kata Indra santai.
"Ka Indra pasti udah tau kan soal berita yang jadi trending topic no 1 sekarang".
"He'em terus?". Indra menjawab sambil terus memakan makanannya.
"Apa itu benar?" tanya Ara mencari kepastian.
Indra hanya fokus menghabiskan makanannya untuk beberapa saat, tidak menghiraukan pertanyaan Ara. Hal itu membuat rasa penasaran Ara mencuat. "Ka" panggil Ara dengan intonasi yang lebih tinggi.
Selesai dengan urusannya menyantap makanan dan menghabiskan minuman Indra mengelap mulutnya dengan tissue. Sekarang pandangannya beralih pada Tiara yang dari tadi tidak sabar menunggu jawaban Indra.
"Kamu ingat aku pernah bilang kalau aku punya pacar?". Tanya Indra dengan seksama.
"He'em" Tiara menjawab dengan anggukan.
"Sekarang tidak lagi".
"Maksudnya?". Tiara tidak mengerti dengan perkataan Indra.
"Aku sudah memutuskannya tadi malam. Kamu tau selama 7 tahun kami bersama tapi yang lebih aku khawatirkan itu kamu. Aku juga ngga tau kenapa bukan dia".
Tiara hanya menatap Indra dengan tatapan heran.
"Waktu aku kuliah semester 4, dan kamu masih SMP kelas 3 saat itu. Aku dengar kabar dari mamah kamu kalau kamu kena DBD, semalaman aku tidak bisa tidur, aku bahkan sampai pesan tiket online ke Indonesia, tapi besoknya mamah kamu bilang kalau kamu sudah mendingan jadi ku batalkan penerbangan ke Indonesia". Indra menatap Ara lekat, yang ditatap juga balik menatapnya. "Aku mencintaimu Ra, menikahlah denganku".
Ara terkejut dengan kata-kata Indra, bukankah mereka memang akan menikah.
Grep.
Indra memegang tangan Tiara yang ia silangkan diatas meja. "Aku ingin kamu mengatakan 'aku mau menikah denganmu' bukan hanya karena perjodohan kita". Jelas Indra.
"Kalau aku katakan aku tidak mau menikah denganmu apa ka Indra akan membatalkan perjodohan ini?". Tanya Ara.
"Tidak. Tapi aku akan memberikanmu waktu untuk mengenalku". Jawab Indra. "Aku akan menjagamu seperti dulu saat kita masih kecil, aku juga akan mencintaimu seperti dulu".
"Hah? Apa kaka mencintaiku dari dulu?".
***
Hi readers, maaf ya kalau ceritanya jelek, masih proses belajar:)