Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 12



Beralih ke gedung tinggi menjulang yang mencakar langit, Indra sudah berada dilantai 30, Lantai paling atas dari gedung kantornya. Indra membanting tubuh di kursinya, meneliti beberapa dokumen yang ada diatas meja, untuk beberapa saat hanya itu yang dia lakukan, bisnisnya yang sudah ada diberbagai penjuru dunia memebuatnya harus ekstra memilah dan memilih laporan yang yang diajukan. Salah langkah sedikit saja akan membahayakan perusahaan.


Cklek. Suara pintu dibuka.


Indra menoleh ke arah sumber suara, nampaklah seorang lelaki berparas tampan dengan tinggi yang melebihi Indra sedang tersenyum lebar menampakkan barisan giginya yang putih dan rapih. 'Bima'


"Bisa ngga kalau masuk ketuk pintu dulu". Ucap Indra dengan wajah datar.


"Kapan-kapan gue ketuk dulu". Jawab Bima dengan sengiran mautnya. Indra hanya membalasnya dengan dengusan dan kembali beralih menatap dokumen-dokumen yang ada diatas meja.


Bima menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di sudut ruang kerja Indra, pandangannya menyapu seisi ruangan, menatap Indra yang sedang berkutat dengang dokumen-dokumennya yang menumpuk di atas meja. Bima mengelurkan ponselnya dari saku celana, kemudian membuka beberapa sosial medianya dan berselancar di Internet. Bima tercengang dengan apa yang dilihatnya. Berita yang menjadi trending topic di media masa.


"Model cantik dan terkenal Hanazia Valrent akan segera menikah dengan seorang pengusaha kaya bernama Indra Prakasa dalam waktu dekat".


" Woow, ternyata lo mau nikah sama Hana bro". Ujar Indra sambil berjalan menghampiri Indra dan menepuk-nepuk bahunya sampai Indra terhuyung-huyung ke depan.


"Sembarang lo" Indra menjawab dengan datar seolah Bima hanya meledeknya, dan tetap fokus dengan pekerjaannya.


"Udah ngga usah ngelak lagi gue udah liat beritanya, bahkan sampe jadi trending topic di medsos". Keukeuh Bima.


Secepat kilat Indra merebut ponsel Bima dari tangan pemiliknya, untuk melihat berita apa yang dikatakan Bima. Bima hanya ikut melihat berita yang kini dibaca Indra.


Brakk. Indra menggebrak meja dengan sangat keras "Dasar ja***g" Ucap Indra dengan nada marah.


"Parah lo ngatain calon istri lo sendiri" Celetuk Bima disamping Indra.


"Gue bukan mau nikah sama dia" Jelas Indra, dengan masih memasang wajah sebalnya.


"Lah terus lo mau nikah sama siapa?".


"Nih". Indra menunjukkan foto masa kecil dirinya dengan Tiara yang sedang bermain ayunan di halaman belakang rumah Tiara.


"Wah siapa nih gue belum pernah liat dia. Cantik, kenalin dong ke gue".Goda Bima dengan wajah jahilnya.


"Sembarangan". Jawab Indra singkat.


Indra menekan tombol di telpon kantornya, "Ke ruangan saya sekarang". Kata Indra pada orang di seberang telpon.


Tak lama seorang laki-laki bertubuh tegap dengan pakaian rapi masuk ke ruangan Indra dan langsung berdiri di hadapan Indra dengan sopan "Bereskan perempuan ini!" Ucap Indra singkat dengan nada memerintah sambil menunjukkan layar ponselnya pada Dom 'sekretaris Indra'.


Dom adalah sekretaris Indra di kantor, Dom adalah orang yang selalu membantunya dalam hal pekerjaan dan pribadi bila diperlukan, tidak seperti kebanyakan para pengusaha kaya raya yang selalu ditemani sekretarisnya kemana-mana, Indra lebih suka bepergian sendiri. Hanya dalam urusan-urusan tertentulah Dom akan ikut dengan Indra.


"Baik" Jawab Dom tidak kalah tegas, dan langsung berlalu meninggalkan ruangan Indra.


Bima yang sejak tadi diam saja merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya itu. "Eh mau lo apain Hana?". Tanya Bima.


Indra hanya tersenyum menyeringai.


***


"Model cantik dan terkenal Hanazia Valrent akan segera menikah dengan seorang pengusaha kaya bernama Indra Prakasa dalam waktu dekat"


Begitulah bunyi berita yang menjadi trending topic no 1 di medsos disertai dengan foto terakhir kali Indra dan Hana saat di Rusia beberapa bulan lalu. Keduanya tampak serasi di foto itu, Indra menggunakan setelan jas berwarna biru langit dengan kemeja warna putih, sedangkan Hana memakai baju yang glamour dengan belahan dada panjang hingga sedikit menampakkan belahan dadanya. Hana juga memakai hiasan topi kecil diatas kepala, sepertinya mereka sedang berada disebuah acara, Hana menggandeng tangan Indra dengan senyum mengembang diwajah cantiknya. Sedangkan Indra hanya mengulum sedikit senyum di bibirnya.


Entah kenapa dada Ara terasa sesak sekali melihat berita itu sampai Ara harus menghentikan aktivitasnya menyedot minuman kemudian ia taruh di sampingnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya bahkan sampai terdengar jelas oleh telinga Ara. Ara memegangi dadanya menyadari reaksi yang tubuhnya timbulkan sangat berlebihan menurut Ara.


"Ra".


Ara yang dari tadi menunduk dengan memegangi dadanya, terperangah kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata Hera sudah berdiri di samping Ara dengan seorang lelaki yang Ara kenal. Wajah dan senyuman lelaki itu masih sama seperti 4 tahun yang lalu, hanya saja kulitnya kini lebih putih karena lama tinggal di daerah yang dingin. Tara.


"Ra, lo ngga bawa mobil?". Tanya Hera dengan melambaikan tangannya di depan wajah Tiara yang masih menganga kaget.


Saat sadar Ara langsung mengembangkan senyumnya yang manis seolah tidak terjadi apa-apa. "Ngga, gue dijemput" Ujarnya.


Tiara memang pandai mengontrol dirinya di setiap situasi, tadi malam adalah pertama kalinya ia bersikap bodoh menurut kadar kepercyaan diri Ara, dan tadi saat Hera dan Tara belum datang itu adalah yang kedua kalinya Ara tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Entah kebetulan atau apa tapi keduanya berhubungan dengan Indra.


"Mau ditemenin? ". Kata Hera.


"Ngga usah, udah dijalan ko bentar lagi nyampe" ujar Ara.


"Yaudah, kalo gitu kita duluan ya, daah". Ara hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum manis miliknya.


Hera dan Tara berjalan menuju mobil milik Tara, Selama berjalan beberapa langkah Tara selalu memalingkan wajahnya untuk melihat Ara, tapi Ara mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Selang berapa lama saat mobil Tara menghilang dari pandangan, Indra datang menggunakan mobil sport kesayangannya. Indra turun dan menghampiri Ara yang sedang duduk dikursi dengan tatapan mengintimidasi sejak tadi.


"Kenapa mukanya ditekuk gitu?". Tanya Indra.


"Ngga papa" Jawab Ara singkat. Jantungnya mulai bergemuruh saat Indra bertanya seolah tidak tau apa-apa, dadanya sesak rasanya untuk bicara saja Ara enggan.


Akhirnya Ara berjalan mendahului Indra untuk masuk ke mobil, sedangkan Indra masih mematung keheranan dan hanya menggelengkan kepala lalu mengikuti Ara masuk kedalam mobil.


Diperjalanan Ara tidak mengatakan apapun, Ara terus saja memalingkan wajahnya saat Indra menoleh ke arah Tiara. Tiara hanya menatap jendela yang menampakkan gedung-gedung tinggi yang berjajar rapih di seberang jalan dan juga beberapa orang yang sedang berjalan.


"Kamu lagi pms ya? ". Celetuk Indra dengan tetap fokus ke depan. Ia tidak tau bahwa itu adalah salah satu pertanyaan sensitif untuk seorang wanita lajang.


"Dasar mesum". Gumam Ara pelan tanpa mengalihkan pandangannya.


Indra hanya mengulum senyum dibibirnya mendengar gumaman Ara, Lebih baik diam daripada harus berdebat dengan perempuan yang sedang pms. Pikirnya.


***


Hi readers, ceritanya masih lanjut yaa tunggu aku up lagi:)