Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 10



(Aplause)


Suara riuh tepuk tangan mengisi memenuhi seisi rumah, Hansa dan Tania sudah memotong kue, kue pertama diberikan pada Tiara, kue yag kedua pada Tania dan yang ketiga pada Hansa. Selanjutnya pada banu dan Sahila kemudian Indra, Angela dan semuanya ikut menikmati. Semua yang hadir sangat menikmati acara yang berlangsung, hanya Tara yang sejak tadi memasang wajah sebal. Hera yang sangat menikmati pesta tersebut tidak menyadari perubahan sikap Tara. Indra meninggalkan Tiara dan kerumunan orang yang sedang asik berdansa untuk menerima telpon, sudah sejak tadi ponselnya bergetar namun tak dihiraukan oleh Indra, ia berpikir mungkin ada hal penting sampai menelpon berkali-kali.


Dilihatnya panggilan masuk bernama 'Hana♡'.


"Halo" Sapa Indra sambil celingukan. Tiara yang ditinggalkan saat sedang berdansa hanya bisa memandangi Indra dari kejauhan.


"Kamu kemana aja, kenapa baru diangkat?" Suara Hana sedikit berteriak diujung telepon, sampai Indra harus menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Aku lagi dirumah temennya ayah, udah dulu ya disini berisik nanti aku telpon lagi". Tut. Tanpa Hana sempat berkata apa-apa telpon sudah dimatikan oleh Indra. Kali ini di non-aktifkan.


Indra bergegas kembali ke tempatnya semula, Tiara malas-malasan menjadi lawan dansanya Indra. Tiara terus saja memalingkan wajahnya dari tatapan Indra meski mereka sangat dekat. Indra yang melihat pemandangan tidak enak di depannya mempererat pelukannya pada Tiara, hingga membuat tubuh Tiara menempel pada tubuhnya, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, tatapan mereka bertemu satu sama lain, tanpa menghentikan kakinya mengikuti irama musik. Seakan terbawa suasana Tiara malah lebih menaikkan tangannya ke pundak Indra membuat wajah mereka semakin dekat dan lebih dekat.


Huuuuu.. (Aplause)


Teriakan para tamu serta tepuk tangan yang tiba-tiba membuyarkan aktivitas mereka, Indra dan Tiara segera sadar dengan apa yang mereka lakukan dan langsung melepaskan pelukan masing-masing, wajah keduanya merah merona karena kikuk sekaligus malu.


"wajah kamu kenapa merah gitu?". Tanya Indra.


Sontak Tiara langsung menutup telinga dengan kedua tangannya. "Ngga, disini panas". Sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


"Kayaknya acnya nyala, kamu juga pake baju kebuka gitu, panas darimananya coba". Ucap Indra yang senang melihat Tiara salah tingkah.


"Tau ah". Daripada tambah malu Tiara lebih memilih menghindar dari Indra dan mengambil minuman digelas. Indra yang melihat Tiara salah tingkah begitu malah tersenyum di tempatnya.


Malam semakin larut para tamu juga sudah pamit pulang. Hanya tersisa Hera, Tara, Rini, Rocky dan keluarga Indra. Rini dan kakaknya serta Hera dan Tara berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Tatapan Tara tidak beralih dari Tiara yang berdiri sebelahan dengan Indra. Tapi Tiara selaku mengalihkan pandangannya dari Tara tiap kali bersitatap.


Kini hanya tinggal keluarga Indra yanga ada disana, tak lama mereka juga berpamitan untuk pulang, Banu dan Sahila diikuti leh Angela sudah lebih dulu masuk kedalam mobil sedangkan Indra masih berada diluar bersama Tiara. Hansa dan Tania juga sudah masuk ke dalam.


"Besok pagi jangan bawa mobil sendiri nanti aku jemput, pulang kuliah kita langsung fitting baju". Ucap Indra pada Tiara yang membuat Tiara deg-degan tidak karuan. Entah kenapa setiap kali bersitatap dengan Indra jantung Tiara berdetak lebih cepat dari biasanya, seperti habis lari marathon 20 kilometer.


"Kamu ngga berniat balikin jas punyaku?". Tanya Indra sembari mengerutkan dahinya.


"E-eh iya ini kukembalikan". Ujar Ara masih dengan wajahnya yang merona.


"Aku balik dulu, kamu ngaca sana mukamu udah kayak udang rebus aja daritadi" Indra terkekeh. Ara memegangi wajahnya yang memang memanas dan segera berlari ke dalam rumah setelah menutup pintu.


Didalam mobil Indra tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian dimana Tiara menggandeng tangannya, mengenalkannya sebagai calon suami pada teman-teman Tiara dan memanggilnya sayang. Hanya dengan seperti itu saja sudah membuat Indra senang, apalagi tadi mereka hampir berciuman.


Banu dan Sahila yang duduk dikursi belakang hanya bertukar pandang dan mengulum senyum melihat anaknya bahagia.


"Kakak kenapa dih senyum-senyum mulu daritadi?". Celetuk Angela melihat keanehan yang dilakukan kakaknya.


Angela hanya mendengus serta melanjutkan kembali aktivitasnya bermain ponsel.


***


Didalam kamar Ara terus saja mengumpat pada dirinya sendiri. Menyadari betapa bodohnya dia tidak bisa mengendalikan diri sendiri.


Ara apa yang lo lakuin tadi, lo hampir nyium dia, muka lo juga merah udah kayak cepot aja dari tadi. Padahal biasanya lo selalu bisa ngendaliin diri lo disetiap keadaan, terus tadi ngapain lo manggil dia sayang, pake ngelus-ngelus dadanya lagi. Bodoh bodoh. "Bodoh" Umpatannya dalam hati sampai keluar dari mulutnya saking sudang tidak bisa ditahan. "Betapa malunya diriku aaaaa". Ara berteriak-teriak sendiri di kamarnya mengingat semua hal yang tadi dia lakukan.


Kini Ara sudah berada diatas ranjang, ia juga sudah mandi dan berganti pakaian. Ara menarik selimut kemudian meutupi seluruh tubuhnya sampai kepala hingga terlelap.


***


"Han aku mau ngomong penting sama kamu". Ucap Indra pada wanita di seberang sana.


"Ngomong apa serius banget". Jawab Hana.


Indra sudah berada di kamarnya mencari kenyamanan dan menjatuhkan diri ke sofa, ia membuka jas dan mengendorkan dasinya kemudian menyandarkan diri di sandaran sofa. Ponselnya sudah terhubung dengan Hana di Rusia. Hana adalah seorang model terkenal di Rusia, wajahnya sudah tidak asing lagi tampil diberbagai cover majalah, dia juga banyak membintangi iklan untuk produk-produk tertentu. Wajahnya sudah sering bersliweran di media masa. Indra tidak terlalu mencintainya karena Indra hanya dijadikan seperti ATM berjalan oleh Hana, sifatnya yang boros itulah yang membuat Banu dan Sahila tidak menyukai Hana.


"Aku akan menikah lima hari lagi". Jawab Indra singkat.


"Apa?". Teriakan Hana sampai membuat gendang telinga Indra berdengung. "Are you crazy? Hah".


"Aku rasa ngga ada lagi yang bisa dipertahanin dari hubungan kita Han, selama tujuh tahun ini apa yang kamu lakuin buat dapetin hati orang tuaku? ngga ada kan. Mana janji kamu yang katanya mau berubah demi kita, sampai sekarang aku belum liat perubahan kamu yang signifikan. Kamu tetap jadi wanita boros yang hobinya menghambur-hamburkan uang". Jelas Indra.


Sebagai model terkenal yang memiliki tubuh sehat dan seksi banyak lelaki hidung belang yang menawarkan uang ratusan juta hingga milyaran pada Hana hanya untuk bisa tidur dengan Hana meski semalam. Jelas saja untuk wanita yang gila uang Hana langsung tergiur dengan nominal yang ditawarkan para lelaki itu. Sudah bukan hal baru bagi Indra mendengar berita Hana tidur dengan lelaki disebuah hotel atau apartemen, Indra sudah tau itu. Makanya Indra tidak terlalu menaruh hati pada Hana. Atau mungkin karena hatinya sudah dimiliki oleh Tiara sejak kecil.


"Kita udah 7 tahun sama-sama Ndra, kamu ngga bisa menikahi perempun lain gitu aja". Suara Hana mencoba mencegah.


"Aku dan dia sudah bersama sejak 22 tahun yang lalu. Apa kamu bisa membandingkan mana yang lebih harus aku pertahankan? Ah ya dan yang terpenting dia lebih terjaga kesuciannya daripada kamu". Jelas Indra dengan lebih menekankan kata 'kesuciannya'.


Deg.


Kalau Indra melihat wajah Hana sudah merah padam kali ini. Hubungan gelapnya dengan banyak lelaki ternyata sudah diketahui Indra. Tapi Indra masih tetap bersamanya selama ini.


Dengan suara parau karena gugup Hana mencoba menyangkal apa yang dituduhkan Indra. "A-apa yang kamu katakan aku tidak mengerti. Kesucianku juga terjaga bukankah kamu belum pernah mencobanya".


Indra tergelak mendengar perkataan Hana, membuat perempuan diseberang sana merasa terintimidasi dengan tawa Indra. "Aku memang belum pernah mencobanya, tapi om-om itu maksudku pamanmu itu pernah mencobanya bukan? Berapa kali dia melakukannya? Berapa nominal uang yang kamu dapat darinya? Biar kuhitung apa lebih besar dari gajimu selama sebulan + pemberianku? Waw memang fantastis. Apa hanya segitu harga dirimu nona Hanazia? Tadinya aku akan memberikanmu lebih banyak daripada itu. Sekarang tidak lagi, ada yang lebih berhak mendapatkannya daripada dir-".


Tuut. Suara telepon dimatikan sepihak oleh perempuan diseberang sana. Indra yang merasa jijik dengan tindakan Hana hanya memicingkan bibirnya. Indra memang menunggu momen ini untuk memutuskan Hana dan membongkar semua kebusukannya. Tak disangka rencananya itu berhasil.


***