
Selama kurang lebih 3 jam dari kota B ke kota A, sekarang Indra sudah tiba di rumah Tiara kemudian memarkirkan mobilnya dihalaman rumah. Bima dan Dom sudah turun di tengah jalan tadi, karena arah rumah mereka berlawanan jadi mereka tidak ikut Indra. Indra melangkahkan kakinya kakinya menuju pintu utama rumah Tiara.
Ning nong. Terdengar beberapa kali bel berbunyi.
Cklek.
Pintu rumah terbuka, ternyata Tania yang membukakan pintu, wanita paruh baya itu mengembangkan senyumnya saat melihat siapa yang datang.
"Nak Indra, ayo masuk" sapa Tania.
Indra menyalami tangan Tania yang masih berdiri di ambang pintu.
"Iya tante" balas Indra dengan sopan dan juga menebarkan senyum dibibirnya.
Tania masuk ke dalam rumah diikuti oleh Indra, yang kemudian dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu. Tania juga ikut duduk di sofa dihadapan Indra.
"Nak Indra mau minum apa?" tanya Tania.
"Susu panas boleh tan, kalo ngga ngerepotin" jawab Indra.
"Ngga usah sungkan gitu, tante ngga ngerasa direpotin ko. Sebentar yah tante buatkan dulu" Tanpa menunggu lagi Tania lekas berlalu ke dapur membuatkan susu untuk Indra.
Beberapa menit kemudian Tania datang membawa secangkir susu panas untuk Indra.
"Oh iya tumben nak Indra kesini malam-malam ada perlu apa?" tanya Tania.
"Saya mau ketemu Tiara tante" balas Indra dengan senyum mengembang.
"Ooh mau ketemu Ara, yaudah sebentar tante panggilin dulu" kara Tania.
"Iya" Indra.
Sepeninggal Tania ke lantai atas memanggil Tiara, Indra meminum susunya dengan pelan.
Dilantai atas Tiara sedang duduk bersandar diatas ranjangnya sambil mengutak-atik ponsel miliknya. Tuk tuk tuk.
Tania mengetuk pintu kamaar Ara "Ra, ada Indra tuh, buruan turun" teriak Tania.
Tiara yang mendengar suara Tania dibalik pintu langsung turun dari ranjangnya dan bergegas menuju pintu.
"Indra dimana mah?" tanya Tiara antusias.
"Itu dibawah" jawab Tania sambil memegang tangan Tiara.
Tiara menoleh ke arah ruang tamu dan mendapati Indra sedang meminum susu buatan Tania.
"Ayo turun" ajak Tania, dan menggandeng tangan Tiara menuruni anak tangga satu persatu.
Saat tiba di ruang tamu, Indra tersenyum oada Tiara yang malu-malu berjalan mendekati Indra. Tiara duduk di sofa yang sama dengan Indra,
"Tante tinggal dulu yah, kalian ngobrol aja berdua" ucap Tania sambil berjalan menuju kamarnya meninggalkan Tiara dan Indra.
"Ehem" Indra mencoba mencairkan suasana karena melihat Tiara yang terlihat sangat gugup.
Tiara menoleh pada Indra yang berjarak satu meter di sampingnya.
"Gimana kerjaannya diluar kota? Udah beres?" tanya Tiara mencoba mengusir kegugupan dalam dirinya.
"Udah" jawab Indra dengan santai, "Kamu sendiri, gimana butiknya lancar?" tanya Indra balik.
"Lancar juga, rencananya sih mau bikin cabang diluar kota gitu, tapi belum nemu tempat yang strategis" jawab Tiara yang mulai terlihat santai.
Indra memang pandai mengaduk-aduk hati Tiara, terkadang membuatnya kikuk, gugup, santai bahkan malu setengah mati.
"Kalau serius mau bikin cabang, nanti aku cariin tempatnya" kata Indra.
"Beneran?" kata Ara dengan mata berbinar.
"He'em" balas Indra sembari menandaskan susu buatan Tania yang mulai dingin.
"Makasih ka" kata Ara.
"Emm itu emm anu" Ara menjawab dengan terbata-bata, wajahnya mulai memanas karena malu.
"Itu? itu apa?" tambah Indra penasaran.
"Aku mau nikah sama kamu" jawab Tiara cepat dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Indra terdiam mendengar pernyataan Ara yang cepat namun jelas, wajahnya langsung berubah ceria sekaligus tak percaya tapi itu nyata.
"Apa? kamu bilang apa tadi? coba sekali lagi!" Indra mencoba untuk memastikan pendengarannya sekali lagi.
"Aku mau nikah sama kamu" kata Ara tapi tidak melepaskan tangan dari wajahnya.
Indra menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Tiara dan membuka kedua tangan Tiara yang menutupi wajahnya. Terlihatlah Ara yang malu-malu membuka matanya, dan langsung ditatap oleh Indra yang hanya berjarak satu jengkal dari wajah Tiara.
"Apa kamu serius?" tanya Indra dengan terus menatap mata Ara.
"He'em" ucap Ara disertai anggukan mantap.
Grep. Indra memeluk Tiara dengan erat, menumpahkan segala rasa cinta yang ada padanya "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi" kata Indra "aku tidak akan memberikanmu pada siapapun" tambahnya.
Sedangkan yang dipeluk hanya tersenyum mendengar ucapan Indra yang terdengar sangat meyakinkan.
"Aku mencintaimu" kata Indra lagi dengan lebih mengeratkan pelukannya.
"Uhuk-uhuk" Tiara terbatuk karena pelukan Indra sangat erat hingga sedikit mencekiknya.
Sontak Indra melepaskan pelukannya setelah mendengar Ara terbatuk-batuk. "Maafkaan aku" kata Indra "Kamu ngga papa?" tambahnya.
"Ngga papa ko" balas Tiara.
"Kalau gitu besok aku jemput, kita langsung nyari cincin" kata Indra dengan sangat antusias. Perasaan bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya, sorot matanya juga menunjukkan cinta yang begitu dalam pada Tiara.
"Tapi aku harus kuliah dulu" balas Tiara sambil memanyunkan bibirnya.
Cup. Ciuman singkat mendarat di bibir ranum milik Tiara membuat wajahnya jadi merah merona tak karuan di hadapan Indra.
"Apa wajahmu akan terus merah seperti itu setiap kali aku menciummu?" kata Indra sambil memiringkan wajahnya.
Refleks Tiara langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan, takut kalau Indra akan menciumnya lagi secara tiba-tiba.
Indra terkekeh melihat tingkah Ara yang seperti anak kecil, sangat menggemaskan.
Merasa situasi sudah aman Tiara melepaskan tangannya dan menaruhnya diatas paha. Tak disangka Indra malah menciumnya lagi. Cup. Satu kali lagi kecupan singkat mendarat di bibir Tiara.
"Udah ah sana pulang" ucap Tiara dengan sedikit mendorong tubuh Indra.
"Ngusir?" tanya Indra sambil nyengir.
"Iya, kalau kamu nyium aku lagi kamu pasti ngga bakalan pulang semaleman" jawab Tiara.
"Emang aku ngapain?" kata Indra.
"Ngeronda di depan rumahku" balas Ara.
Indra tergelak mendengar jawaban Ara yag konyol "Ganteng-ganteng gini ngeronda, yang ada aku yang dicuri sama malingnya" kata Indra disertai tawa keras dari mulutnya.
"Berisik, udah sana pulang, nanti mamah sama papa bangun" kata Tiara.
"Iya iya aku pulang". Indra berdiri dan Tiara mengantarkannya sampai di pintu depan.
"Hati-hati" kata Tiara yang dibalas anggukan oleh Indra.
Mobil Indra pun melaju melewati gerbang utama rumah Tiara dan menyusuri jalanan ibukota yang mulai lenggang.
***
Hi readers, jangan lupa like and tap love yaa:)