
"Ini buat ka Indra? ". Indra bertanya lagi mencoba untuk memastikan. Dan hanya dibalas anggukan oleh Ara.
"Baiklah terimakasih gadis baik". Indra mencubit hidung mancung gadis mungil dihadapannya dan kemudian memeluknya dengan sangat erat. Jika diperbolehkan Indra ingin membawa serta Tiara bersamanya ke Rusia, apalagi mereka akan berpisah untuk jangka waktu yang cukup lama. "Om tante, Indra pamit dulu, jaga Tiara ya".
"Iya pasti, sering-seringlah memberi kabar saat disana". Ucap Tania.
"Tentu" Balas Sahila dengan melemparkan senyum ke arah Tania Hansa dan Tiara. "Uwuu gadis manis, tante berat banget ninggalin kamu disini. Sini peluk dulu". Saat Sahila hendak menggendong dan memeluk Tiara, tangannya ditepis oleh Indra dengan tatapan memgintimidasi pada Sahila.
"Ngga boleh, Tiara itu punya Indra bunda ngga boleh peluk-peluk". Ujar Indra menegaskan rasa kepemilikan terhadap Tiara.
Keempat orang tua disana malah tergelak melihat tingkah Indra pada Tiara yang super possesive. Selang berapa menit mobil keluarga Banu sudah melaju meninggalkan pekarangan rumah Tiara dan hanya menyisakan jejak.
Flashback off...
***
Hari yang cerah untuk sekedar berlari pagi ditaman kota. Suasana hari minggu di taman kota ini sangat terasa, terbukti dengan banyaknya muda-mudi sampai orangtua yang menghabiskan paginya disini untuk sekedar berlari atau bersepeda. Begitu juga dengan Tiara yang sudah berlari sekitar satu jaman ditaman itu, kini ia tengah duduk di sebuah cafe kecil yang berada tidak jauh dari taman. Membiarkan peluh menetes di tubuhnya, Ara sudah memesan segelas lemon tea dingin yang menyegarkan tenggorokannya dan sudah menandaskan setengahnya. Pandangan Ara sedari tadi tertuju pada layar ponsel ditangannya, mengecek akun sosial media butik miliknya, serta mengirim beberapa pesan pada Ana.
"Tiara? ". Ara mendongakkan kepalanya karena mendengar sebuah suara yang tepat berada di depannya. Matanya langsung membelalak melihat siapa yang ada di depannya.
"Rini? ". refleks Tiara langsung memeluk erat sahabatnya itu. Rasa rindu yang ia tahan bertahun-tahun akhirnya terobati. Biasanya mereka hanya berkomunikasi lewat video call. Tapi sekarang bisa langsung bertemu dan bertukar cerita.
"Ehh btw lo kapan pulang, ko ngga ngabarin gue, kan gue bisa jemput lo di bandara. Gimana kuliah lo disana, kan belum wisudaan ko udah pulang aja kan nanggung tinggal bentar lagi". Ara langsung menghujani Rini dengan banyak pertanyaan.
"Etdah satu-satu kali Ra nanyanya. Mulut lo makin bocor aja dah. Gue jadi bingung mau jawab yang mana dulu". Keduanya tergelak menertawakan kelakuan sendiri.
"Haha abisnya gue seneng banget ketemu sama lo". Ujar Ara antusias dengan senyum yang belum memudar.
"Lebay lo. Haha. Gue baru 4 hari disini. Sengaja ngga ngabarin lo biar jadi surprise gitu aseek. Kuliah gue lancar adem ayem tanpa ada rintangan apapun. Btw gue udah wisudaan Ra makanya gue bisa pulang. Harusnya masih satu semester lagi sih baru wisuda, tapi karena kecerdasan otak gue ini makanya gue bisa wisuda lebih cepet dari yang lain". Rini tergelak dengan ucapannya sendiri yang terkesan menyombongkan diri. Tapi ya itu memang kenyataannya Rini memang anak yang berprestasi di sekolah, dia juga selalu mendapat peringkat pertama dan juara umum waktu disekolah, hasil belajarnya tidak bisa diragukan lagi semuanmata pelajaran ia kuasai dengan baik. Jadi tidak heran jika dia bisa wisuda lebih cepat dari yang lain. "Kalo lo gimana? Kuliah lo lancar-lancar aja kan? si Tara masih suka gangguin lo ngga? ". Tanya Rini balik.
"Sejauh ini kuliah gue baik. Kemaren Tara minta maaf ke gue entah yang ke berapa kalinya. Tapi ya gitu beraninya cuma lewat hp doang, cih". Ara malas membicarakan Tara "Udah ngga usah ngomongin dia ngga penting. Sekarang gue udah punya butik sendiri". Ara berbicara dengan menaikkan kedua alisnya sebentar seolah 'gue udah berhasil bikin usaha sendiri hebat kan gue' itulah yang ingin diucapkan Tiara.
"Uwoow seriously? ". Ekspresi Rini menandakan kekaguman pada sahabatnya itu.
"He'em". Jawab Ara sembari menandaskan minuman yang ada dihadapannya.
"Gongxi Gongxi" Ucap Rini sambil menjabat tangan Ara yang ada diatas meja.
"Itulah salah satu kebiasaan buruk gue. Wahgelaseh tapi lo hebat banget Ra, usia masih muda tapi karir lo udah bagus banget. Bangga gue sama lo". Keduanya tertawa dengan keras tanpa memperdulikan sekeliling. Mencurahkan segala kerinduan, bercerita panjang lebar tentang bagaimana lika-liku perjalanan hidup mereka selama 4 tahun ini di negara yang berbeda dan masih banyak lagi, hingga tak terasa waktu semakin siang.
"Nanti main ya kerumah gue, mama sama papa gue pasti seneng banget ketemu sama lo. Secara kan lo udah lama ngga kerumah". pinta Ara.
Rini hanya menjawab menggunakan isyarat jari "oke" dengan mengedipkan satu matanya.
"Genit lo gailang ilang Haha. Gue balik dulu lengket nih badan gue". Ara beranjak pergi dari cafe setelah Rini bilang akan membayar minuman Ara tadi dengan menirukan gaya genit Rini yaitu mengedipkan mata sebelah, kali ini diikuti dengan juluran lidah Ara.
Sesampainya diluar cafe, Ara mengedarkan pandangannya ke berbagai arah dan mendapati Indra tengah duduk dibangku taman dengan peluh bercucuran diwajahnya. Ara enggan untuk bertemu dengan pria itu, namun sayangnya jalan pulang kerumah Ara harus melewati jalanan tempat Indra duduk. Akhirnya Ara memberanikan diri untuk melewati Indra dengan cara menutupi mukanya dengan handuk kecil yang sedari tadi menggantung dilehernya.
Ara mempercepat jalannya saat berada di hadapan Indra namun "Bruk" Karena tidak memperhatikan sekeliling Ara tidak melihat ada orang yang lewat disampingnya membuat Ara hilang keseimbangan dan duduk tepat dipangkuan Indra. Sebisa mungkin Ara menutupi wajahnya dengan handuk kecil itu, sampai ia susah bernafas.
"Ra".
Siapa itu, apa ada yang ngenalin gue. Mana pas banget lagi gue duduk dipangkuannya, Etdah tengsin banget:(
"Ra". panggilan kedua dari Indra.
Akhirnya Ara terpaksa membuka penutup mukanya dan langsung bersitatap dengan Indra. Indra hanya mengernyitkan dahi melihat ekspresi Ara yang tersenyum namun terlihat sangat dipaksakan, ditambah raut mukanya yang memerah seperti udang rebus karena malu, namun membuatnya sangat menggemaskan.
"Berdiri Ra berat". Pinta Indra.
"Eh i-iya maaf jadi enak". Ucap Ara kikuk, sampai tidak sadar apa yang barusan dikatakan.
"Hah? ". Indra menatap Ara dengan heran.
"Eh jadi ngga enak maksudnya" Aduh kenapa jadi salting gini sih gue. Ara menepuk-nepuk mulutnya pelan.
Indra tergelak melihat kekikukan Ara yang menggemaskan itu hingga Indra malah ingin terus menjahili Ara. Gadis ini memang sudah menggemaskan dari kecil sampe gede juga masih dibawa-dibawa aja. Sayangnya cerobohnya juga masih dibawa-bawa. Gumam Indra dalam hati.
"Kenapa mau lagi? nih". Indra menepuk pahanya pelan mempersilahkan Ara untuk duduk lagi di pangkuannya. "Diet dulu tapi, kalau berat badan kamu masih segitu aja kayaknya aku gabakalan kuat kalo kamu nanti duduk dipangkuan aku tiap hari". Goda Indra dengan terkekeh kecil. Indra beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Ara yang masih sebal dengan kata-kata Indra barusan. Sampai beberapa langkah didepan Ara, Indra berteriak "inget diet! ".
***
maaf yaa kalo ada kesalahan, authornya masih belajar :)