Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 14



"Tentu saja Ra, apa lagi namanya kalau bukan cinta, selama aku di Rusia 17 tahun, aku selalu mengingatmu, menanyakan keadaanmu sama tante Tania atau om Hansa, mengkhawatirkanmu, menyimpan semua kenangan darimu, apalagi namanya kalau bukan cinta". Jelas Indra sambil terus menggenggam tangan Tiara.


"Tapi kaka tau aku ngga seperti itu, aku bahkan lupa kalau kita adalah teman masa kecil". Ujar Tiara.


"Aku maklumi itu Ra, 17 tahun bukan waktu yang sebentar, waktu aku pergi ke Rusia juga kamu masih sangat kecil, jadi wajar kalau kamu ngga inget. Menikahlah denganku Ra. Kamu bisa mengenalku setelah kita menikah".


Tiara berkutat dengan pikirannya untuk sementara waktu, tangannya dingin, keringat tipis di dahinya sudah terasa, jantungnya juga berdetak cukup cepat. Yang membuat Indra kaget, Ara menarik tangannya dari genggaman Indra dengan senyum yang dipaksakan. "Maafin aku ka, tolong kasih aku waktu buat mikir". Ujar Ara lalu memegangi kepalanya.


Indra sebenarnya sedikit kecewa dengan jawaban Tiara, tapi sebagai lelaki apalagi dirinya lebih dewasa dari Tiara, Indra mencoba untuk bersikap normal "Baiklah". Jawab Indra singkat.


Melihat Tiara yang tidak nyaman dengan keadaan ini, Indra langsung memanggil pelayan dan meminta bil.


"Ayo pulang, kasian kamu keliatannya cape banget" Ajak Indra dengan senyum mengembang di wajah tampannya.


Kenapa dia masih baik sama gue, sedangkan gue udah bikin dia kecewa. Hati Ara.


***


Beberapa foto waktu Ara kecil, masa tk, sd, bahkan SMA dan kuliah tergantung di dinding kamarnya, tertata rapih layaknya kamar seorang perempuan. Ditempat tidur Ara masih memikirkan kata-kata Indra tadi, tubuh Ara sudah bersih Ara sudah mandi dan berganti pakaian. Kakinya masih terasa perih akibat sayatan kaca yang mengenai kakinya.


Flashback on...


Mobil Indra sudah berada di depan gerbang utama rumah Tiara, dua orang di dalamnya belum ada yang turun satupun, hampir 10 menit mereka didalam mobil tanpa mengeluarkan suara, hanya pandangan mereka yang sesekali bertemu. Indra turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Tiara, Ara keluar dan sekarang mereka berhadapan.


"Mau masuk dulu?". Tanya Ara dengan canggung.


"Tidak. Masuklah diluar dingin, sampaikan salamku pada orangtuamu". Ucap Indra dengan wajah datar.


"He'em. Kalau begitu aku masuk dulu. Hati-hati dijalan". Balas Ara dengan senyum canggungnya.


Baru beberapa langkah di depan Indra, tiba-tiba Indra memeluk Tiara dari belakang, pelukan Indra secara otomatis membuat Ara berhenti melangkah. Kini tubuh mereka menempel, Indra meletakan dagunya di bahu Ara "Aku mencintaimu" kata Indra. Tapi Tiara hanya diam saja, saking menempelnya tubuh mereka, Tiara sampai bisa merasakan detak jantung Indra yang begitu cepat. Sama cepatnya dengan miliknya.


Kali ini Indra merubah posisi kepalanya, menjadi tertidur dibahu Ara dan menghadap ke Tiara. Cup. Kecupan singkat mendarat dileher mulus milik Tiara. Seketika wajah Ara langsung memanas, daun telinganya juga memerah.


"Kenapa telingamu memerah?". Tanya Indra sambil mengulum senyum gemas dibibirnya.


Untuk mengusir malu Tiara memutar badannya dan kini menghadap Indra, lalu mendorang pelan tubuh Indra agar menjauh. "Aku masuk dulu, bye bye". Tiara berbicara sambil berjalan mundur dan melambaikan tangannya.


"Yang bener jalannya nanti jatuh". kata Indra.


Sampai didalam rumah, Tiara tidak mendapati siapapun di ruang keluarga, mungkin mereka udah tidur begitu pikirnya.


Tiara melemparkan tasnya diatas sofa diruang keluarga, lalu berjalan santai ke dapur untuk mencari minuman di kulkas. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Ara menuangkannya di gelas, saat gelas sudah setengah terangkat.


Prang, srrt.


Gelas yang tadi Ara pegang kini sudah berserakan diatas lantai, darah segar juga mengalir di kakinya. Tangan Ara lemas tidak bisa merasakan apapun, sebelum terjatuh Ara menarik kursi yang ada di sampingnya.


Dengan sedikit berlari Tania dan Hansa mencari arah sumber suara, mereka melihat tas Tiara yang tergeletak di sofa dan langsung mencari Tiara ke dapur. Benar saja Tiara sedang duduk di samping meja makan dengan pecahan kaca berserakan di dekatnya, Tania dan Hansa langsung mendekati Tiara yang sedang memandangi tangannya.


"Kenapa Ra?" kata Hansa.


"Ngga tau pah, tiba-tiba tangan Ara ngga bisa ngerasain apapun. Tubuh Ara juga rasanya ngga punya tenaga". Jawab Tiara.


"Ya ampun Ra, kaki kamu berdarah". Teriak Tania dengan histeris. "Pah cepetan ambilin kotak p3k di dalam laci itu" menunjuk sebuah lemari lemari putih sepinggang orang dewasa yang terdapat di samping sofa ruang tamu. Tanpa pikir panjang Hansa pun segera berlalu.


"Iya kali mah, Ara ngga ngerasain apa-apa". Jawab Ara dengan wajah pucat.


"Kita ke dokter yah" kata Tania tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki Tiara yang terus mengeluarkan darah. "Cepetan pah" teriak Tania.


"Ngga usah mah, istirahat bentar juga sembuh ko". kata Ara.


Tak lama Hansa pun datang, Tania langsung mengoleskan alkohol pada luka Tiara dan membalutnya dengan perban.


"Yaudah kalo gitu kamu istirahat. Sini biar papa bantu jalan". kata Hansa.


"Hati-hati pah". Saat mereka bertiga sudah menaiki anak tangga yang pertama menuju kamar Tiara.


Saat sudah sampai di kamar "Kamu langsung istirahat aja, mungkin kamu kecapean" ucap Tania.


"Tiara mau mandi dulu mah, badan Tiara lengket".


"Besok aja mandinya". keukeuh Tania sambil memegangi bahu Tiara.


"Tiara udah ngga papa ko mah. Ngga usah khawatir". Jawab Ara dengan senyum.


"Jangan khawatir gimana, orang ngga biasanya kamu kayak gini. Mau mama bantuin ke kamar mandinya?". kata Tania.


"Ngga perlu mah, Tiara bisa sendiri ko".


"Yaudah, kalo udah beres langsung istirahat ya".


"Oke".


"Mamah keluar dulu" Tania berlalu meninggalkan kamar Ara untuk membersihkan lantai. Asisten rumah tangganya sudah pulang sejak jam 8 tadi, karena tidak menginap dan libur pada hari minggu jadi harus Tania yang membersihkan.


Flashback off...


Apa gue terima aja ka Indra, toh dia juga baik banget sama gue, waktu kecil dia selalu jagain gue walaupun dia jauh tapi selalu khawatirin gue. Mau sekarang ataupun nanti kami akan tetap jadi suami istri kan. gue juga bentar lagi lulus kuliah. Udah sekian lama sejak putus sama Tara gue belum pernah nyoba ngejalin hubungan lagi. Gue ngga mau pertemanan gue sama Hera rusak cuma gara-gara Tara nantinya. Akhir-akhir ini reaksi gue tiap ketemu sama ka Indra juga aneh, jantung gue rasanya suka deg-degan berlebihan, tiap dia natap gue rasanya muka gue langsung panas, dada gue juga sesak liat dia sama orang lain, apa mungkin gue jatuh cinta sama dia? Hati Ara.


Lalu Ara memegangi lehernya yang tadi dicium oleh Indra, tanpa sadar sebuah senyuman mengembang diwajah cantiknya. Merasa malu dengan diri sendiri, Aea segera menutupi tubuhnya sampai kepala dengan selimut dan mematikan lampu


***


Read more tomorrow lovers:)