Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 16



Indra yang kini tengah berada di luar kota menyelesaikan pekerjaannya dengan Dom dan Bima. Bima juga bekerja di perusahaannya Indra sudah sejak Indra masih ada diluar negeri, Bima menjabat sebagai direktur pemasaran di perusahan milik keluarga Banu itu. Jadi Bima lebih sering mengikuti Indra dan Dom saat ada pekerjaan diluar kota. Sudah setengah hari lebih Indra berkutat dengan pekerjaannya yang super sibuk, begitu juga dengan Bima dan Dom.


Hari sudah menunjukkan pukul 14.06. Indra dan Bima serta Dom sudah kembali ke apartemen milik Indra yang ada di kota B. Karena Indra sering bepergian ke luar kota dan luar negeri, jadi ia memiliki beberapa apartemen di masing-masing kota.


"Dom" panggil Indra dari kamarnya.


Dom yang sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen Indra segera beranjak dan masuk ke kamar Indra. Meski Dom sebagai sekretaris Indra tapi kehidupannya tidak terkekang dan cukup santai, layaknya seorang teman. Dom bisa makan apa saja yang ada di apartemen Indra dan juga bebas menonton televisi atau berolahraga dengan alat olahraga milik Indra. Tapi karena Dom sadar dirinya siapa, jadi untuk urusan-urusan tertentu Dom selalu memposisikan dirinya sebagai sekretaris yang profesional.


"Iya bos?" jawab Dom dengan tegas tapi tidak berlebihan.


"Kamu sudah membereskan perempuan itu?" tanya Indra yang sedang duduk dan menyandarkan bahu di sofa kamarnya.


"Sudah bos ternyata perempuan itu sedang hamil 2 bulan, tapi tidak tau siapa ayah dari bayinya karena terlalu banyak lelaki yang menggaulinya. Menurut pengakuan si perempuan, ia dihamili oleh pamannya sendiri tapi pamannya tidak mengaku, dia membongkar kelakuan perempuan itu di depan orangtua si perempuan. Akhirnya pamannya mengaku karena terus didesak, kabarnya sekarang mereka sudah dinikahkan dan pamannya itu memiliki dua istri" tutur Dom menjelaskan.


"Kerja bagus. Pergilah". titah Indra. Dom hanya membungkukan kepalanya dan berlalu keluar kamar.


Beberapa jam waktu yang tersisa mereka habiskan untuk beristirahat, Indra berada di kamarnya, Bima dan Dom juga berada dikamar masing-masing. Karena merasa kelelahan mereka bertiga tidur dengan sangat pulas sampai waktu menunjukkan pukul 17.33.


Indra menggeliat dan mengerjapkan matanya berkali-kali, merasai tubuhnya yang sakit disana-sini. Indra mengambil ponselnya yang berada di atas nakas kemudian mengetikan beberapa pesan singkat pada Tiara.


Indra:


Kamu sudah dirumah? Aku akan pulang sekarang.


Tring. Tak butuh waktu lama Indra sudah mendapat balasan dari Tiara.


Tiara:


Aku masih di butik, baru akan pulang jam 9 an.


Indra:


Jangan pulang terlalu malam, pulanglah jam 7. Aku akan sampai disana jam 8. Lagipula tidak aman seorang perempuan pulang malam-malam sendirian.


Tiara:


Baiklah, aku akan pulang jam 7.


Tiara tersenyum mendapat pesan dari singkat dari Indra, yang menunjukkan perhatiannya pada Tiara.


Indra memasuki kamar mandi dan melakukan aktivitasnya di kamar mandi, kemudian berganti pakaian dan bersiap untuk pulang setelah membangunkan Bima dan Dom yang masih tertudur pulas.


***


Tiara Boutique


Tiara yang sudah ada dibutiknya sejak tadi siang dan kini tengah memeriksa laporan keuangan dari butik miliknya, mendengar dari cerita Ana bahwa beberapa hari ini pengunjungnya sangat ramai, sehingga pemasukan ke ATM butik semakin mengembang. Rencana Ara jika tabungannya susah cukup, ia akan membangun cabang baru diluar kota.


"Ana" panggil Ara dari ruangannya.


"Iya mbak?" sahut Ana yang sedang sibuk mengemas pesanan.


"Kemari" kata Ara, dan Ana segera datang.


"Ada apa mbak?". Tanya Ana.


"Berikan saya nomor mbak Dian" kata Ara, sambil mendongak melihat Ana yang sedang berdiri di depannya.


"Baik mbak". Ana segera keluar ruangan untuk mengambil buku catatan kontak pelanggan di meja kasir dan membawanya ke ruangan Ara.


"Ini mbak" Ana menyodorkan buku catatan kontak yang tadi dia ambil.


"Terimakasih, kamu boleh keluar" ucap Ara mengambil buku yang disodorkan Ana.


Ara membuka lembaran demi lembaran buku catatan tadi, mencari-cari dimana nama Dian. Pada lembaran ke empat, Ara menemukan nama Dian Chandika 'nama belakangnya kayak orang India' pikir Ara.


Ara mengambil ponselnya diatas meja dan mendial nomor Dian di ponselnya, menyimpan kemudian memanggilnya. Panggilan terhubung.


Apakah dia selalu bicara dengan nada begini pada semua orang. Pikir Ara.


"Oh halo, dengan mbak Dian?" tanya Ara sopan.


"Iya saya sendiri, ini siapa ya?" jawab Dian.


"Saya Tiara mbak, dari Tiara Boutique. Ini nomor pribadi saya" ujar Ara.


"Oh, kebetulan sekali. Saya ingin mengabari bahwa saya ingin bertemu sama kamu besok siang untuk membicarakan perihal gaun yang akan saya pakai" jelas Dian.


"Justru saya menelpon mbak Dian untuk memberitahu bahwa untuk minggu ini saya tidak bisa bertemu dengan mbak Dian" kata Ara dengan sopan.


"Kenapa?" kata Dian ketus.


"Saya harus mempersiapkan acara pernikahan saya" dengan malu-malu Ara memberitahu Dian perihal rencana pernikahannya. "Sekaligus saya ingin mengundang mbak Dian ke pernikahan saya yang akan berlangsung 3 hari lagi dari sekarang. Setelah pernikahan, baru saya akan mengurus gaun pengantin yang mbak Dian pesan" tambah Ara.


"Oh baiklah" balas Dian singkat.


"Saya akan mengirimkan alamat lengkapnya ke mbak Dian nanti" Ara.


Dian "Oke"..


"Kalau begitu mohon maaf sudah mengganggu waktu mbak Dian malam-malam begini, sampai jumpa selamat malam" kata Ara. Setelah beberapa detik tidak mendengar jawaban dari Dian, Tiara segera menutup telpon, dan memebereskan barang-barangnya untuk segera pulang.


Setelah dirasa semua selesai, Ara segera menarik langkah keluar ruangan. "Hari ini kalau sudah beres kalian boleh pulang lebih awal" ucap Ara pada karyawannya yang sedang membereskan pekerjaannya.


"Horeee" ucap para karyawannya serentak dengan disertai tepuk tangan yang meriah.


"Saya pulang duluan" pamit Ara.


"Hati-hati mbak Ara" ucap para karyawannya.


Saat Ara sudah ada didalam mobil. Tring tring. Ponsel Ara berbunyi menandakan panggilan masuk dari kontak bernama 'Indra'. Ara kemudian memasang earphone ditelinganya dan memarkirkan mobil menuju jalanan.


"Halo" sapa Ara.


"Halo, aku sudah dijalan" kata Indra.


"Aku baru keluar dari parkiran" kata Ara.


Indra "hati-hati, pelan-pelan saja bawa mobilnya"


"Iya iya aku tau, yaudah bahaya menelpon sambil menyetir" jelas Ara "bye bye". Indra tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Ara pun bebas melenggang menyusuri jalanan ibukota.


***


"Siapa tuh?" tanya Bima saat Indra sudah memasukkan ponselnya di saku jas.


"Calon istri" jawab Indra singkat dengan wajah datarnya.


"Cewe yang ada difoto waktu itu?" tanya Bima lagi semakin penasaran. Indra hanya mengangguk.


"Sumpah baru kali ini gue liat lo perhatian banget sama cewe selain ibu lo. Bahkan dikantor banyak banget yang naksir sama lo tapi lo malah nyuekin mereka" kata Bima.


"Emangnya lo yang setiap ada cewe yang naksir langsung di embat" balas Indra.


"Lo kayak ngga tau gue aja. Tapi gue penasaran banget tuh cewe, kayak apasih orangnya sampe bikin seorang Indra klepek-klepek" Bima terkekeh.


"Diem lo, ya kayak orang lah" kata Indra. Bima malah tergelak dengan jawaban Indra.


Dom yang ada di kursi depan hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kejahilan Bima pada Indra. Kedua orang dikursi belakang itu memang tidak pernah akur saaat sedang santai, selalu saja saling menjahili satu sama lain. Tapi mereka bersahabat sejak dulu jadi walaupun Indra adalah atasannya Bima tidak pernah bersikap canggung pada Indra, begitu juga dengan Indra, dia tidak pernah bersikap bossy pada Bima.


***