
Diperjalanan menuju rumah, Ara terus menggerutu serta mengumpat dalam hati. wajahnya terus menunjukan kekesalan bahkan sampai dibawa kerumah.
"Loh Ra muka kamu kenapa ko kusut gitu? tadi pagi baik-baik aja". Tanya Tania yang sedang mencuci piring di dapur dan Ara menghampirinya.
"Mah emang Ara gendutan yah? ". Ara mencoba memastikan apakah perkataan Indra itu benar.
"Siapa yang bilang gitu? ". Bukannya menjawab Tania malah balik bertanya.
"Emang bener ya mah? ".
"Ngga sayang, tubuh kamu itu pas banget ngga gendut, ngga kurus". Mencoba meyakinkan putrinya.
Dasar Indra tukang ngibul, niat banget ngejahilin gue. Gumam Ara. Sambil mengerutkan bibirnya.
Samar-samar Tania mendengar ucapan Ara "Hah? ".
"Ng-ngga mah, badan Ara lengket banget nih bau lagi, Ara mau mandi". Sambil mengibas-ngibaskan bajunya. "Bye mah". Dengan sedikit berlari Ara menaiki anak tangga satu-persatu menuju kamarnya dan langsung memasuki kamar mandi sampai aktivitas di kamar mandinya selesai.
***
Setelah berlari santai ditaman tadi, Indra tidak pulang lagi kerumahnya. Ia memilih untuk pergi ke kantornya menggunakan taxi online. Sampai di kantor Indra menarik langkahnya menaiki lift menuju lantai atas gedung kantornya. Di gedung besar yang tinggi menjulang itu lantai paling atas adalah ruangannya sendiri. Disana ada dua ruangan, satu untuk ruang kerja, satu lagi kamar pribadinya. Sesampainya dilantas atas ia memilih untuk mandi dan beristirahat sebentar. Fasilitas dilantai itu sudah sangat lengkap, dikamarnya juga terdapat kamar mandi, dapur dan ruang ganti.
Keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan ke pinggangnya. Menampakkan tubuh bagusnya yang terawat, tampak jelas dari abs nya. Menuju ruang ganti pakaian, setelah itu keluar lagi dan merebahkan tubuhnya ditempat tidur memandangi plafon berwarna putih diatasnya.
Indra memang sedang diambang kebingunan, bagaimana cara mengatakan pada Hana 'kekasihnya saat ini' kalau dia akan menikah. Untuknya sendiri, dia sudah bisa menerima jika harus berpisah dengan Hana, karena sifat Hana yang boros membuat orangtua Indra tidak suka padanya. Tapi bagaimana dengan gadis itu. Indra tau sifat Hana, dia tidak akan menyerah begitu saja walaupun Indra sudah menikah nanti. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Drrt drrt. Ponsel Indra berbunyi, sebuah panggilan dari kontak bernama 'Bima'
Indra kemudian mengambil ponselnya diatas nakas di samping tempat tidur dan menggeser tombol hijau.
"Hallo Ndra lo dimana? Gue ke rumah lo ngga ada". Tanya seorang lelaki diujung telpon.
"Di kantor, ada apa?." Indra menjawab dengan nada malas. Sedangkan Bima terdengar sangat antusias.
"Lo mau maried ngga bilang-bilang ke gue. Gimana ceweknya cantik ngga? Bukan janda kan. " Bima tergelak.
"Lo liat sendiri aja nanti. Males gue harus nyeritain ke lo. lagian nikahannya juga bentar lagi. " Jawab Indra malas.
"Haha oke oke. Nanti kenalin ke gue ya. Penasaran banget gue orangnya yang mau sama es balok kayak lo. haha". Terdengar mengucapkan dengan diiringi tawa.
"Sekali lagi ngatain gue, ilang lo dari muka bumi!". Suara Indra terdengar kesal. Dilema yang sedang melanda Indra saat ini membuatnya mudah tersulut emosi dengan candaan receh.
"Mau banget gue, haha". Bima malah semakin menggoda Indra.
"Sialan lo". Jawab Indra ketus sebelum mematikan teleponnya sepihak.
Karena ini hari libur, suasana di kantor Indra sepi, hanya beberapa staff yang datang untuk sekedar menyelesaikan pekerjaannya karena dikejar deadline. Indra sendiri masih berada dikamarnya dilantai atas, kini matanya sudah terpejam nafasnya teratur menandakan ia sedang tertidur pulas.
Hari sudah semakin sore, matahari sudah menunjukkan warna jingga dan akan segera berlabuh di peraduan. Tapi tubuh lelaki itu masih tidak berubah posisi sedikitpun.
***
Disisi lain, Tiara sudah ada di butiknya, berkutat dengan barang-barang pesanan customernya dibantu oleh 4 orang karyawan yang juga sibuk melayani pelanggan. Tidak heran memang setiap hari libur butik milik Tiara selalu ramai oleh pengunjung. Mulai dari orang tua sampai anak-anak muda berdatangan memasuki butiknya.
"Mbak Tiara ada telpon" Panggil Ana di meja kasir.
"Dari siapa? ". Tanya Ara.
"Mbak Dian". Jawab Ana sedikit gugup. Mengingat Dian adalah pelanggan Ara yang menjudge gaun-gaun yang Ara buat adalah desain orang lain. Tanpa bertanya lagi segera Ara keluar dari ruangannya menuju meja kasir dan mengambil aloh telepon.
"Hallo selamat siang, dengan Tiara Boutique ada yang bisa kami bantu? ". Sapa Tiara dengan sopan.
"Saya mau bicara sama pemilik butiknya! ". Pinta Dian dengan ketus.
"Iya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu? Maaf ini dengan mbak siapa ya? ". Tanya Ara pura-pura tidak tau.
"Ngga profesional banget sih sama pelanggan ko bisa lupa. cih". Suara Dian terdengar sangat meledek.
"Maaf mbak bisa tolong sebutkan nama, karena pelanggan saya banyak jadi tidak bisa mengingat satu-persatu". Jelas Tiara dengan nada sopan.
"Saya Dian, bulan depan saya akan melangsungkan pernikahan, saya mau kamu yang mendesign gaun pengantin saya". Tutur Dian dengan nada tetap ketus.
"Oh mbak Dian, saya ucapkan selamat atas pernikahannya mbak. Dengan senang hati saya akan membuatkan mbak Dian gaun pengantin yang terbaik. Tapi apa kita bisa bertemu dulu sebelumnya mbak? saya harus memastikan ukuran gaun yang akan saya buat nanti, sekaligus tema seperti apa yang mbak inginkan". Jelas Ara panjang lebar dengan senyum sumringah. Ia tidak tahu maksud apa yang tersembunyi dibalik permintaan Dian, tapi ia tidak mau berprasangka buruk pada oranglain. Ia hanya berpikir bahwa ini adalah rezekinya tidak ada pikiran lain.
"Ok, nanti saya atur jadwal terlebih dahulu". jawab Dian.
"Baiklah, apa ada lagi yang bisa saya bantu mbak Dian? ". Tanya Ara.
"Ngga itu aja". Jawab Dian ketus.
"Kalau begitu terimakasih atas kepercayaan anda pada butik kami, kami akan berusaha memberikan hasil yang terbaik untuk mbak Dian. Sampai jumpa selamat siang". Ara menutup teleponnya dengan senyum yang masih mengembang sejak tadi. Raut bahagianya tidak bisa disembunyikan. Para karyawan yang melihatnya merasa ikut bahagia karena mendengar percakapan antara Tiara dan orang diseberang sana. Dari percakapan yang mereka dengar Ara akan membuatkan sebuah gaun pengantin, itu artinya mereka akan disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan.
Beberapa pelanggan sudah meninggalkan butik Ara hanya beberapa yang tersisa di dalam, pendapatan hari ini lumayan banyak, dan karena Ara sedang senang jadi ia berencana mengajak karyawannya untuk makan siang diluar. Biasanya mereka makan siang di butik dengan memesan gofood.
"Karena hari ini kalian sudah bekerja keras, saya akan mengajak kalian makan diluar". Tegas Ara dengan lantang saat tak tersisa satu pengunjung pun di butiknya. Riuh para karyawan Ara langsung memenuhi seisi gedung.
Beberapa menit kemudian mereka sudah ada di sebuah cafe yang menyajikan berbagai macam menu makanan dan minuman enak.
"Kalian bebas makan apa aja yang kalian mau, mbak yang teraktir". Ara berbicara sambil menaikkan alisnya beberapa kali.
"Yeeee". Sahutan gembira dari para karyawannya berbarengan.
Mereka pun makan dengan khidmat sambil diselingi canda tawa beberapa kali.
Readers, mohon dukungannya ya agar novel ini tetap berjalan. :)