
H-5 before marriage
Mentari pagi diam-diam menyelinap melalui ventilasi udara, membangunkan orang-orang yang masih terlelap dalam tidurnya seperti Tiara. Matahari sudah bangun dari tadi tapi Ara masih saja berkutat dengan selimutnya. Bergerak ke kanan dan ke kiri mencari kenyamanan
Tring.
Ponsel Ara berbunyi, dengan malas Tiara segera mengambil ponselnya diatas nakas, dan melihat siapa yang pagi-pagi begini mengganggunya. Dilihatnya panggilan masuk dari kontak bernama 'Beruang coklat'. Itu adalah nama kontak Indra di ponsel Tiara. Ara sengaja menggunakan nama itu hanya untuk mengingatkan bahwa mereka adalah teman masa kecil.
"Henghh". Ara menyapa Indra dengan gumaman tak jelas diujung telpon. Karena baru bangun jadi suaranya masih parau.
"Cepat bangun dan bersiap aku tunggu dibawah". Tut.
"Hah!". Ara terkejut dengan perkataan Indra, karena refleks Ara langsung duduk diatas ranjang dengan tatapan menuju pintu.
Apa dia berteleportasi dari rumahnya kesini. Kenapa pagi-pagi sekali. Gumam Ara.
Secepat kilat Ara menyambar handuknya dan langsung memasuki kamar mandi.
Dibawah Indra sedang mengobrol dengan Hansa dan Tania.
"Tiara memang begitu, selalu bangun siang apalagi kalau tidak ada pekerjaan". Ucap Tania.
"Iya, jadi nanti kalau kalian sudah menikah. Om harap nak Indra bisa membimbing Tiara jadi lebih baik, setidaknya dia bisa menjadi istri yang baik untuk nak Indra". Tambah Hansa dengan penuh wibawa.
"Saya akan berusaha om. Setau saya Tiara seperti itu dari dulu jadi mungkin akan sedikit susah diubah". Indra.
"Kamu mengobrol saja dengan tante, om mau berangkat ke kantor" Hansa berpamitan untuk pergi ke kantornya, meninggalkan Indra dan Tania yang sedang mengobrol.
"Hati-hati om" Kata Indra. Yang hanya dibalas anggukan oleh Hansa.
Cukup lama mwnunggu Tiara turun Indra sudah terlibat percakapan panjang dengan Tania, Sampai kaki Indra pegal rasanya menunggu Tiara yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Wanita yang sedang berdandan memang salah satu mahluk paling lambat dibumi, Tapi apa itu berlaku untuk Ara yang biasanya hanya memakai pelembab dan liptint saja? Oh tidak. Beberapa menit kemudian Ara sudah menuruni anak tangga, hari ini Tiara menggunakan rok berwarna merah tua selutut dan baju berwarna hitam dengan lengan seperempat, untuk sepatu Ara menggunakan sepatu cats warna hitam polos. Dengan tubuh Ara yang cukup tinggi, ia masih terlihat serasi dengan Indra meski tidak memakai heels. Rambutnya sengaja ia gerai agar menambah kesan casual.
"Eh Ra" panggil Tania. Indra yang sedang menatap ponselnya langsung mengalihkan pandangannya pada Ara.
Pandangan Indra melihat Tiara dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan seksama. Sampai diwajah Tiara, Indra terkejut dengan enkspresi wajah Tiara yang manyun disertai tatapan sebal. "Kenapa ekspresinya kayak gitu? ". Tanya Indra dengan disertai tawa kecil.
"Apa ketawa. Liat dong ini baru jam berapa udah disini aja. Akutuh ada kelas jam 10 sekarang baru jam 8. Seenggaknya biarin aku tidur satu jam lagi kek". Tiara mengomel tanpa memperdulikan ekspresinya yang seperti anak kecil minta jajan.
"Gini ya, kalau kamu tidur satu jam lagi. Berarti waktu kamu tinggal satu jam. Mandi 15-20 menit, ganti baju+dandan 30 menit. Jarak dari sini ke kampus kamu paling cepet 40 menit. Kalu dihitung, kamu bisa telat tig em-". Kata-kata Indra terpotong karena Ara menutup mulut Indra dengan tangannya.
"Stop! Jangan ngomel lagi, kalo kamu ngomong lagi aku malah bisa telat satu jam". Ucap Ara tak mau kalah.
"Yaudah kamu sarapan dulu sana, aku udah sarapan tadi". Indra berbicara dengan santai sambil melepaskan tangan Tiara dari mulutnya dan meminum susu buatan Tania. Belum sempat sampai ke mulut Indra gelas susunya sudah berpindah tangan ke Tiara.
"Ara itu buat Indra". Ujar Tania yang merasa kesal dengan kelakuan putrinya.
"Harusnya ini buat aku, kenapa mamah kasih ke dia". Jawab Tiara tanpa merasa bersalah.
"Tapi itu bekas aku loh". Jelas Indra.
"Ngga papa kan bakalan jadi suami". Jawab Ara santai. Tapi itu membuat Indra tersipu. Selesai dengan perdebatan kecil mereka, Indra dan Ara pamit pergi pada Tania.
Ditengah perjalanan, Indra berhenti di sebuah cafe kecil. "Kenapa berhenti? ". Tanya Tiara keheranan.
"Tunggu dimobil jangan kemana-mana". Jawab Indra.
Ngapain dia ke cafe pagi-pagi gini, bukannya tadi udah makan atau dia masih lapar. Pikir Ara.
Kembali ke mobil Indra sudah membawa beberapa bungkus makanan penutup dan minuman hangat untuk Tiara yang ia beli dari cafe di seberang jalan. Indra takut Tiara akan sakit karena tidak sempat sarapan.
Kenapa dia perhatian sama gue?. Gumam Ara dalam hati.
Perasaan memang tidak bisa dibohongi, sekecil apapun akan tetap tampak, seperti ke khawatiran yang ditunjukkan Indra pada Ara, itu sudah cukup membuktikan perasaannya. Meski tidak diucapkan secara langsung perlakuan yang ditunjukkan sudah mewakili semuanya.
"Makan, nanti sakit". Titah Indra.
"Kamu mengkhawatirkanku?". Tanya Ara dengan tatapan menyelidik saat mobil kembali melaju membelah jalanan.
"Udah makan aja jangan banyak tanya".
Tiara memakan makanan yang dibeli Indra tadi dengan lahap sampai tak tersisa.
"Makasih kak". Ucap Tiara sesaat setelah menandaskan minumannya.
Tak terasa waktu berjalan cepat, 50 menit perjalanan menuju kampus terasa seperti 30 menit, Indra hanya mengantarkan Ara di depan gerbang utama kampus selebihnya Ara berjalan menuju gedung utama kampusnya.
Saat sudah berada diluar mobil, Ara membungkukkan badannya sedikit dan mengetuk kaca mobil Indra "Hati-hati dijalan" ucapnya malu- malu sambil melambaikan tangan pada Indra.
"He'em" Balas Indra dengan disertai anggukan kepala. "Nanti siang aku jemput" Teriak Indra dalam mobil saat Ara sudah berjalan beberapa langkah, Dan Ara membalasnya dengan lambaian tangan tanpa menoleh pada Indra.
***
Hi readers, sampe sini suka ngga sama ceritanya? :)