Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 18



H-3 before marriage


Hari berikutnya Indra sudah rapih dengan pakaiannya yang terlihat lebih santai dari biasa, wajah tampan yang menyertai Indra hari ini sangat jelas terlihat, kebhagaiaan yang menyelimutinya tak dapat ia sembunyikan. Langkahnya menuruni anak tangga dari lantai dua satu-persatu. Senyum yang mengembanh di wajah tampan Indra tidak pernah surut dari semalam, bahkan wajah Tiara yang malu-malu saat dicium sampai terbawa mimpi oleh Indra.


Rasanya ngga sabar walau cuma tiga hari lagi. Batin Indra.


Sahila yang baru saja keluar dari kamar ketularan senyum karena melihat anaknya sangat berseri hari ini, kenapa lagi kalau bukan karena Tiara.


"Ekhem" goda Sahila yang sukses membuat lamunan Indra buyar. Indra yang terciduk sedang asik senyum-senyum sendiri merasa malu tapi tetap mencoba untuk cool.


"Aduh ada berita apasih pagi-pagi begini sampe girang banget? " tanya Sahila dengan nada meledek. Tak lama Banu dan Angela menghampiri Indra dan Sahila yang kini sudah bersiap untuk sarapan.


"Hari ini Indra mau jemput Tiara dan langsung ke toko perhiasan mah" jawab Indra malu-malu. Indra mengambil nasi dan beberapa lauk-pauk kedalam piringnya dan langsung memakannya.


"Mamah seneng banget dengernya, berarti bentar lagi mama bakalan punya cucu" ucap Sahila dengan raut wajah bahagia.


Angela yang daritadi hanya menyimak pembicaraan kaka dan mamahnya jadi antusias mendengar kata cucu "wow, aku bentar lagi jadi aunty nih. I'm so happy" ucapnya disertai dengan tepuk tangan.


"Tiara itu anak yang baik, kamu jangan mengecewakan dia" ujar Banu dengan tatapan seriusnya pada Indra yang hampir menandaskan sarapannya.


Indra yang telah selesai dengan sarapannya segera meneguk segelas susu di meja "Iya pah, Indra berangkat dulu ya".


Indrapun melangkahkan kakinya keluar rumah, melajukan mobil kesayanganny membelah jalanan ibukota, didalam mobil pikirannya tidak teralihkan dari Tiara, bahkan wallpaper ponselnya pun adalah sosok Tiara kecil yang sedang memegang boneka dan tersenyum polos tanpa dosa.


Aku mencintaimu Ra, bahkan sangat. Aku harap kamupun begitu juga padaku.


***


Dikamar Tiara juga sudah rapi dengan baju berwarna putih lengan panjang sepaha, ditambah celana jeans pendek sepaha juga, sangat kontras dengan kulitnya yang putih ditambah dengan riasan simple dan sandal tinggi berwarna putih serta kacamata ala-ala korea yang dipakainya membuat kecantikan Tiara tak tertandingi.


Dirasa sudah cukup, Tiara mengambil tas gucci berukuran kecil berwarna pink miliknya dan segera turun dari lantai atas untuk sarapan terlebih dahulu, kedua orangtuanya yakni Tania dan Hansa sudah menunggunya di meja makan.


"Morning" sapa Tiara pada Tania dan Hansa dan mencium serta memeluk keduanya bergantian. Itulah salah satu bentuk kasih sayang keluarga mereka.


"Pagi sayang" balas Tania.


"Wahh ada teri balado, mamah emang paling best" ujar Tiara yang antusias melihat makanan favoritnya.


"Udah ayo makan" ucap Hansa...


"Den Indra" kata maid yang membukakan pintu "silahkan masuk den, non Tiara bersama tuan dan nyonya sedang sarapan" tambahnya.


"Makasih bi" balas Indra. Indrapun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Mau minum apa den? " tanya maid.


"Ngga usah bi, terimakasih".


"Kalau begitu saya panggilkan non Tiara dulu den, permisi" dan dibalas anggukan oleh Indra.


Maid itu segera pergi ke dapur dan memberitahu bahwa ada Indra datang.


"Permisi tuan, nyonya, non ada den Indra di depan" ucapnya.


"Makasih bi" jawab Tania, "saya permisi" pamit maid itu.


Tiara yang sudah menandaskan makanannya pun segera pergi dari tempat makan untuk menemui Indra. Sesampainya di ruang tamu, Indra tidak menyadari kedatangan Tiara karena Tiara datang dari belakang sofa yang diduduki Indra.


Puk. Tiara menutup kedua mata Indra dari belakang dengan tangannya, melakukan permainan tebak-tebakan seperti waktu kecil. Orang yang ditutup mata harus bisa menebak siapa yang menutup matanya.


Indra yang menyadari ini adalah kelakuan Tiara segera memegang tangan Tiara yang menutupi matanya dan berpura-pura menebak.


"Ini pasti mpok Neneng" kata Indra berbohong dan Tiara geleng-geleng karena kalau bersuara ketauan.


"Emm atau mbok Jum? " mencoba menebak lagi disertai tawa kecil


"Ini pasti anak kecil yang suka nangis kalo ngga di gendong? " kata Indra.


Indra melepaskan tangan Tiara dari matanya tapi tidak dari genggamannya dan menoleh ke belakang. Disana Tiara sudah menyambutny dengan senyuman termanis, membuat Indra gemas dan menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa cm.


Menyadari itu adalah daerah tidak aman, Tiara segera menarik tangannya dan menjauhkan wajahnya dari Indra, karena kalau orangtuanya sampai lihat apa yang akan dipikirkan mereka.


***


Happy read. Jangan lupa likenya yaa🙏