Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 19



Indra yang menyaksikan pemandangn di depannya malah terkekeh.


"Kenapa ketawa?" tanya Tiara ketus yang langsung meninggalkan Indra di dalam rumah.


"Ra aku belum pamitan sama orangtua kamu" teriak Indra memandangi punggung Tiara yang terus berjalan keluar tanpa menunggunya.


Akhirnya Indra menyusul Tiara keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Indra membukakan pintu mobilnya untuk Tiara, iapun segera masuk kedalam. Indra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan komplek perumahan Tiara. Untuk beberapa saat hanya keheningan yanh menyelimuti keduanya sampai pada saat, kring kring. Ponsel Indra bunyi.


Dilihatnya panggilan masuk dari Dom.


"Halo bos" sapa Dom diujung telpon.


"Ada apa? " tanya Indra datar. Tiara yang berada di samping Indra menoleh kearah calon suaminya itu dan memperhatikan Indra yang sedang menelpon.


Ternyata kalo lagi serius makin ganteng aja calon suamiku ini. Pikir Tiara.


"Hari ini ada jadwal meeting jam 10 de-" belum sempat Dom menyelesaikan ucapannya, Indra sudah memotong.


"Batalkan semua jadwalku hari ini, kalau memang ada yang sangat penting undur sampai besok" tegas Indra.


"Baik bos" tutup Dom diujung telpon.


Selesai menelpon, Indra memasukkan ponselnya ke saku celana, dan kembali fokus menyetir. Tapi menyadari ada yang dari tadi memperhatikannya, Indra menepikan mobilnya kemudian berhenti. Sedangkan Tiara yang merasai mobilnya tidak bergerak akhirnya sadar dari tatapannya yang ternyata sudah beradu dengan tatapan Indra.


"Emmm" kata Tiara sambil menutupi wajahnya karena malu ketahuan memandangi Indra daritadi.


Sikap malu-malu Tiara inilah yang membuat Indra tidak mau kehilangan Tiara, hidupnya akan terasa sepi tanpa Tiara seperti 17 tahun yang ia lalui selama ini.


Indra membuka tangan Tiara yang menutupi wajah cantiknya "Aku juga ingin menatap wajah calon istriku yang cantik ini" kata Indra, yang berhasil membuat jantung Tiara berdegup cepat, serta wajahnya memerah.


Aaaa please jangan kayak gini jantung gue mau copot, asli malu banget. Apa gue pura-pura pingsan aja. Ngga ngga nanti berabe lagi.


"Ra biarin aku natap kamu sebentar aja, 17 tahun lamanya aku ngga natap wajah cantik ini. Wajah yang dulu kecil, polos, ceria. Sekarang wajah ini sudah dewasa dan tetap cantik" Indra mengangkat tangan kanannya mengelus pipi Tiara dan menyibakkan rambut Tiara ke belakang telinganya "Dari dulu aku berharap wajah ini bisa menjadi milikku suatu saat dan untuk selamanya. Akhirnya keinginanku terwujud Ra. Kamu akan menjadi milikku selamanya. Aku mencintaimu" ucap Indra dengan tatapan yang sangat tulus.


Tanpa sadar ternyata air mata Tiara menetes. Indra segera menyeka air mata di yang mengalir di pipi Tiara dan membawa Tiara ke pelukannya.


"Makasih ka, sudah mencintaiku selama dan sebesar itu. Ara juga cint sama kaka, Ara nyaman kalo deket-deket kaka, Ara ngga mau kehilangan kaka" jujur Ara. Tiara membenamkan wajahnya di dada bidang Indra.


Saat keduanya sedang asik berpelukan. tok tok tok.


Seorang polisi mengetuk pintu mobil Indra, sontak keduanya kaget dan segera melepaskan pelukan masing-masing karena takut disangka yang tidak-tidak.


"Selamat siang pak" ucap polisi itu.


"Selamat siang" balas Indra.


"Anda tau apa kesalahan anda? " tanya polisi itu.


Kemudian polisi itu memberikan sebuah kertas berisi surat peringatan dan mengembalikan sim dan stnk milik Indra "Lain kali jangan diulang lagi, permisi selamat siang" katanya.


"Iya pak" balas Indra disertai anggukan. Kemudian polisi itu pergi.


Tiara terkekeh sendiri didalam mobil saat Indra memasukkan kembali sim dan stnk kedalam dompet yang membuat Indra menatapnya dengan keheranan.


"Kamu kenapa cengengesan? " tanya Indra, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ngga papa lucu aja, aku sampe kaget. Kita kayak ketauan lagi ngapa-ngapain aja" Tiara terkekeh.


"Sini aku sentil ginjalnya" kata Indra sambil mencubit pinggang Tiara yanh tidak berhenti tertawa.


"Aww haha" Tiara malah tambah ngakak.


****


Sementara disebuah cafe di ibukota, seorang lelaki dan perempuan sedang menyantap makanan mereka. Dua orang itu tidak lain adalah Tara dan Hera, kabarnya semenjak acara anniversarry orangtuanya Tiara, Hera merasakan kalau Tara berubah sikap padanya.


Hera povv


"Sayang abis ini kita nonton yah" kataku. Karena daritadi Tara hanya diam saja.


"Aku ngga bisa" jawab Tara dengan tatapan dingin. Tidak biasanya dia seperti ini.


Biasanya Tara selalu mau kalau aku ajak kemana-mana, bahkan dia tidak pernah menolak menemaniku spa dengan waktu yang lama.


"Emang kamu mau kemana?" tanyaku lagi mencoba mencari penjelasan atas penolakannya..


"Ada urusan" katanya.


Aku mencoba berdamai dengan egoku, mungkin sesekali dia butuh waktu untuk sendiri, aku harus mengerti, pikirku


"Yaudah ngga papa, bisa kapan-kapan ko" kataku disertai senyuman manis yang tulus.


Aku sebenarnya berharap dia membalas senyumanku, atau setidaknya tatap aku seperti biasa, tatapan yang ku lihat ada cinta didalamnya...


"Pulang yuk" ajak Tara buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan mengeluarkan uang cash dari dompetnya.


"Loh sayang kamu belum makan apa-apa" teriaku, saat melihat Tara sudah melangkah keluar.


Dengan langkah cepat akupun terpaksa mengikuti Tara keluar cafe.


Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu jadi begini? Batinku...


****


Jangan lupa likenya yaa, tambahkan favorit juga🙏