
Dikediaman Banu.
"Dra hari ini kamu harus ke rumah pak Hansa ingat itu". Titah Banu
"Ia yah". Indra hanya menjawab sekenanya dengan wajah datar.
Jam menunjukan waktunya sarapan. Indra bersama kedua orangtuanya sedang menyantap makanan mereka.
Indra Prakasa. Anak pertama dari dua bersaudara, adiknya bernama Angela Queen. Karena Angela lahir di Moskow jadi sengaja namanya dibuat menggunakan bahasa asing. Indra adalah penerus bisnis Banu karena tidak mungkin Angela yang mengurus perusahaan Banu sedangkan Angela masih kelas 3 SMP, lagipula Angela adalah seorang perempuan. Rasanya lebih pantas Indra yang mengurus perusahaan Banu.
Selesai sarapan Indra langsung memasuki mobil dan melaju membelah jalanan ibukota menuju kantornya.
**
Selesai dengan rutnitasnya diruangan Indra bergegas menuju parkiran. Dilihatnya sang driver sudah menunggu didalam mobil. Tak lama Indra pun masuk dan melenggang menuju rumah Tiara.
Jalanan hari itu cukup lenggang, karena belum waktunya pulang kerja, Indra sengaja pulang lebih awal agar dirinya bisa siap-siap.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah Tiara dari kantor Indra, karena rumah Ara setiap hari terlewati oleh Indra. Rumah mereka memang searah tapi rumah Indra lebih jauh dari kantor. Sesampainya Indra dihalaman depan rumah Tiara. Ia mengayunkan kakinya melangkah mendekati pintu utama rumah Tiara.
Terdengar beberapa kali bel berbunyi. Tidak butuh waktu lama seorang perempuan paruh baya sudah berdiri diambang pintu dengan senyum manis yang terukir diwajahnya.
"Nak Indra". Ujar Tania.
Yang ada dihadapan Indra saat ini adalah Tania, ibunya Tiara. Tania sudah mendapat kabar sebelumnya kalau Indra akan berkunjung hari ini, tapi tidak tahu apa tujuannya.
Dengan sopan Tania mempersilahkan Indra untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu dan Indra pun mengiyakan sembari terus mengembangkan senyum di wajah tampannya.
Pandangan Indra menyapu seisi rumah, menelisik beberapa ingatannya dirumah bernuansa putih itu. Ingatan yang dia tinggalkan 17 tahun yang lalu. Rumah itu sekarang sudah banyak berubah, dekorasinya sudah banyak yang diperbaiki, bahkan mungkin hampir semuanya diperbaiki. Tapi tidak, masih ada beberapa sudut yang terlihat sama seperti sebelumnya. Bayangan Tiara kecil berlari menuruni anak tangga dengan boneka beruang ditangannya dan semua yang Tiara kecil lakukan dirumah itu mulai bermunculan dikepala Indra.
"Silahkan diminum nak Indra". Suara Tania dari sofa didepannya membuat Indra membuyarkan lamunannya tentang masalalu.
"Terimakasih tante". Jawab Indra dengan sopan. Indra menandaskan hampir setengah jus lemon segar buatan Tania.
"Tante, saya kemari hanya ingin menyampaikan bahwa ayah mengundang tante dan om, serta Tiara untuk makan malam dirumah hari ini". Akhirnya Indra angkat bicara tentang maksud dan tujuannya datang berkunjung dengan nada penuh kesopanan.
"Ah iya tentu saja tante dan om akan datang, Tiara juga. Jam berapa makan malamnya?". Tanya Tania antusias namun tidak berlebihan.
"Jam 8 tan, kami tunggu dirumah".Jawab Indra.
"Oh, baiklah tante sekeluarga pasti datang kalau tidak ada halangan apapun. Silahkan dimakan kuenya, tadi pagi tante bikin banyak".Ujar Tania.
Waktu semakin berlalu, mereka berdua terlibat dalam percakapan panjang sampai tidak sadar hari sudah semakin sore, Tak lama Indra pamit untuk pulang pada Tania yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Indra.
Mobil melaju meninggalkan rumah yang bernuansa serba putih itu. Sampai hanya terlihat seperti noda hitam dikejauhan, Tania masih berdiri didepan pintu memandangi mobil Indra yang mulai menjauh sembil terus mengulum senyum dibibirnya.
***
"Iya mbak, hati-hati." Ucap Ana.
"Hati-hati mbak". Yang lainnya juga mengucapkan kalimat yang sama bergantian.
***
Mobil sudah terparkir digarasi. Ara bergegas masuk ke kamarnya dan menjatujkan diri ke tempat tidur.
Bug..
Baginya hari ini sangat melelahkan, tadi siang ada pelanggan baru datang ke butiknya dengan sangat tidak sopan. Mengatakan bahwa semua baju yang ada dibutiknya adalah rancangan orang lain. Padahal Ara merancangnya dengan tangannya sendiri. Hasil jerih payahnya sendiri. Karena merasa kelelahan Ara sempat memejamkan matanya sebentar sebelum.
"Ra buruan siap-siap bentar lagi kita berangkat". Suara Tania dari balik pintu membangunkan Ara yang baru saja terlelap.
"Henggh" Ara hanya bergumam tak jelas. Jika tidak dipaksakan untuk bangun, rasanya ia tak ingin beranjak sesentipun dari tempat tidur.
"Ara ngga ikut deh mah, pengen tidur aja". Lanjut Ara.
"Ngga bisa Ra kamu harus ikut. Buruan mamah tunggu dibawah". Jelas Tania. Namun hanya dibalas oleh helaan nafas panjang Ara dikamar.
Beberapa menit kemudian, Ara turun dari lantai atas, menggunakan dres polos selutut tanpa lengan berwarna mustard, rambut panjang lurusnya diikat simple rapih ke belakang menambah kesan dewasa dari seorang Tiara Kinanti, riasan make up yang simple membuat Ara semakin terlihat anggun dan cantik, dipadukan dengan heels bertali berwarna senada yang tidak terlalu tinggi. Sampai dihadapan kedua orang tuanya, Ara menanyakan perihal kemana mereka akan pergi.
"Kita mau kemana sih mah? ". Tanya Ara dengan wajah malas.
"Udah kamu ikut aja". Tania segera bangun dari duduknya disusul oleh Hansa dan Tiara.
***
Mobil keluarga Hansa memasuki halaman rumah yang asing bagi Tiara, dia baru pertama kali ke tempat ini. Tempat dimana calon suaminya dibesarkan tepatnya. Rumahnya megah bak istana di film-film kerajaan. Tapi Ada hawa tidak menyenangkan bagi Ara disini.
"Pah kita dimana? Ini rumah siapa?". Tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Kamu juga akan tau nanti". Jawab Tania. Mereka bertiga pun melangkah keluar mobil menuju pintu utama rumah keluarga Banu.
Tidak lama. cklek. Pintu utama terbuka menunjukan kemewahan dalam rumah, semua perabotan dirumah itu lebih menunjukan kesan mewah karena sepertinya barang mahal semua. Terlihat dua orang sedang berdiri di depan pintu bersiap untuk menyambut kedatangan Ara dan keluarga.
Kayak pernah liat mereka tapi dimana ya? Hati Ara.
Muncul banyak pertanyaan dibenak Ara yang memaksanya membongkar memori tentang dua orang yang berdiri memandanginya sejak lama. Tapi nihil tidak muncul ingatan apapun tentang mereka dibenak Ara. Wajar rasanya kalau Ara tidak mengingat kedua orang tua Indra karena sudah hampir 17 tahun mereka tidak bertemu. Hanya Indra yang sesekali datang kerumah Tiara. Itupun saat Ara tidak ada dirumahnya.
---
Terimakasih yang udah baca, Maaf ya authornya masih tahap belajar