
Gedung setinggi 5 lantai menunjukkan kemegahannya, bangunannya yang kokoh serta arsitektur yang terawat menambh kesan berwibawa dari gedung itu sendiri. Para mahasiswa di kampus A itu sibuk dengan urusannya masing-masing, diberbagai sudut tampak para mahasiswa sedang berkumpul bahkan ada yang menyendiri. Mobil kuning Ara memasuki area parkiran kampus, Ara segera turun dari mobil dengan sedikit berlari meski terpincang-pincang. Untung kelasnya berada dilantai pertama, jadi Ara tidak perlu menaiki tangga. Ia sudah terlambat 15 menit, dosen yang menjadi pengampu mata kuliah hari ini sudah berada dikelas sejak 13 menit yang lalu. Ara bergegas memasuki ruangan dengan nafas yang terengah-engah serta kaki yang pincang.
Tuk tuk tuk. Cklek.
"Maaf pak saya terlambat". Ara mengangkat tangannya keatas sebelah.
"Duduklah, kamu boleh mengikuti kelas, tapi tidak akan masuk daftar hadir". Tegas dosen yang sedang mengaajar tanpa mengalihkan pandangannya dari Tiara.
"Sini sini cepetan, lo darimana aja sih? ". Hera yang daritadi cemas menunggu temannya akhirnya angkat bicara.
"Gue tadi kerumah temen dulu bentar, ga nyangka kalo bakalan telat gini". Jelas Ara, sambil menarik kursi di samping Hera.
"Terus kenapa kaki lo pincang?". Hera penasaran dengan Ara yang datang terengah-engah dan kaki pincang.
"Ngga papa, cuma keseleo doang tadi karena buru-buru. Udah gausah khawatir perhatiin kedepan". Ucap Ara. Dan Hera hanya menyebutkan huruf o tanpa suara.
Kelas berakhir setelah 3 jam. hari ini Ara hanya memiliki 2 mk. Rutinitas Ara dikampus sudah selesai.
"Hera". Panggil Ara pada temannya dikejauhan. Hera dan Ara sempat terpisah saat kelas selesai, karena Hera berencana menemui temannya terlebih dahulu sebelum pulang.
Dengan santai Hera menghampiri Ara di parkiran. "Lo belum pulang?" Tanyanya.
"Gue nungguin lo, nanti malem mau ada acara anniversary pernikahan orangtua gue, lo dateng yah". Tiara.
"Oh, ok nanti gue dateng, sekalian gue mau ngenalin seseorang sama lo". Ujar Hera.
"Ok gue tunggu. Bye Bye". Tiara berjalan menuju mobilnya meninggalkan Hera yang juga berjalan mendekati kerumunan mahasiswa lainnya.
***
Wonderfull Cafe.
Seorang pria tampan tengah duduk di kursi dekat dinding kaca sebuah cafe ternama di ibukota. Matanya terus saja memandang keluar berharap orang yang ditunggunya benar-benar datang. Sudah 4 tahun lamanya mereka tak bertemu, meski berpisah dengan cara yang tidak baik tapi hatinya tetap tak bisa merelakan jika wanita yang ditunggunya bersama orang lain. Ya, Tara yang dari tadi sudah menunggu Tiara, meski tidak tau apakah Tiara akan datang atau tidak Tara bertekad akan tetap menunggunya.
Berkali-kali Tara menekan nomor Tiara tapi Tiara tidak mengangkatnya. Berpuluh-puluh pesan juga Tara kirimkan pada Tiara, namun satupun tak ada yang dilihat.
"Kamu kemana sih Ra" Gumam Tara dengan wajah khawatirnya yang sangat jelas.
Apa gue ke rumahnya aja. Pikir Tara.
Sebenarnya waktu belum menunjukkan pukul 14.00 yang dijanjikan Tara, tapi hatinya sudah berprasangka terlebih dahulu bahwa Tiara tidak akan datang. Karena Tara impulsif akibatnya kekhawatiran yang belum tentu terjadi membuatnya sangat tidak nyaman.
Diperjalanan pulang, Tiara ingat pesan dari Tara 2 hari yang lalu. Sekarang sudah pukul 13.54 cafe tempatnya dan Tara dulu sering makan bersama juga tinggal beberapa meter lagi tapi Tiara malah mengambil sen kiri dan berhenti ditepi jalan. Satu sisi Tiara enggan untuk bertemu Tara, tapi disisi lain Tiara berpikir harus segera mengakhiri semua ini, Tara harus tau bahwa dia akan segera menikah dan Tara harus melupakan dirinya. Tiara membenturkan keningnya ke kemudi, merasakan dirinya yang begitu kacau saat ini, tekanan menghampirinya dari berbagai arah, pertama masalah perjodohan, kedua masalah Tara, ketiga masalah rancangannya yang dijugde tiruan, kalau sampai masalah ketiga tersebar ke telinga oranglain maka reputasi butiknya akan terancam.
Hari sudah semakin sore, Tiara sudah sampai dikamarnya, melemparkan tas dan menjatuhkan diri ke tempat tidur sampai matanya terpejam. Ara tidur? Lalu apa kabar dengan Tara?
Hampir 4 jam Tara menunggu di wonderfull cafe. Namun Tiara masih belum menampakkan dirinya. Tara semakin gundah pikirannya sudah sangat yakin kalau Tiara tidak akan datang. Dengan wajah lesu dan tidak bersemangat akhirnya Tara meninggalkan wonderfull cafe. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan normal menuju apartemen miliknya, tanpa sadar air matanya menetes 'Apa sebenci itu kamu sama aku Ra'. Ucap Tara dalam hati.
***
Flasback on..
Tadi pagi, saat Tiara hendak memasuki mobilnya Tania berlari dari dalam menghampiri Tiara.
"Ra kamu mampir dulu yah ke rumahnya tante Sahila, bilang kalau nanti malem mau ada acara anniversary mamah sama papah dirumah, mereka harus dateng". Ucap Tania.
"Oh, oke mah". jawab Tiara dengan menggunakan isyarat tangan.
"Kamu juga boleh ngundang temen-temen kamu biar rame".
"Iya mah iya, Ara berangkat dulu" Tiara melambaikan tangan dan masuk kedalam mobil.
Diperjalanan, Tiara merogoh tasnya dan mengambil ponsel lalu mendial nomor Rini.
"Wei" Sapa Rini diujung telpon
"Wei" Balas Tiara.
"Kenapa Ra? ". Tanya Rini.
"Nanti malem datang yah kerumah gue, ada acara anniversary orangtua gue" Jawab Ara.
"Hao, gue pasti dateng". Ujar Rini.
"Oke, bye bye".
Sampai dirumah Indra Tiara lupa mengabari bahwa keluarga Indra diundang oleh Tania.
Flashback off...
***
Hi readers, maaf ya aku baru up lagi:)