Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 20



Waktu berjalan terasa sangat cepat, kini Indra dan Tiara sudah memasuki gedung mall yang cukup terkenal di ibukota, keduanya membawa langkah mereka ke lantai 3, tempat dimana barang-barang mewah dan branded dijual.


Indra povv


Aku dan Tiara memilih masuk ke salah satu toko perhiasan yang cukup besar.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan toko.


"Saya ingin cincin pernikahan yang paling bagus" jawabku, sedangkan Tiara malah menatap heran padaku tapi tidak berkata apapun.


"Baiklah, tunggu sebentar" ucap si pelayan lagi. Tak lama kemudian seorang pelayan itu datang lagi dengan membawa beberapa kotak yang isinya cincin pernikahan dengan berbagai motif. Ada yang berbentuk seperti huruf, ada yang bermatakan berlian dengan ukuran besar, dan ada juga yang bermatakan berliar berukuran kecil.


"Kamu mau yang mana?" tanyaku pada Tiara karena dia tak kunjung memutuskan.


"Ah aku pilih yang ini aja" jawabnya.


Pilihan Tiara jatuh pada cincin dengan berlian kecil diatasnya, designnya simple tapi tetap elegan.


"Ngga yang ini aja?" ujarku sembari menyodorkan kotak cincin dengan berlian yang lebih besar.


"Ini kegedean ka, Ara ngga suka" kata Ara sambil tersenyum menatapku. Senyumnya manis sekali bak madu yang baru diambil dari sarang lebah.


"Hmm okelah terserah padamu" ucapku lalu mengacak-acak rambutnya.


"Ka Indra, Ara udah susah payah buat tampil cantik malah diacak-acak ish kan kusut jadinya" ujar Ara dengan wajah cemberut sambil merapihkan rambutnya.


Ngga tega juga ngeliat dia kesel kayak gitu, batinku. "Yaudah sini sini aku rapihin" kataku dan langsung menarik pundaknya agar lebih dekat denganku. Kemudian aku rapihkan rambutnya yang tadi sedikit berantakan. "Yaudah mbak dibungkus yah yang tadi" Lanjutku dan menoleh pada pelayan toko.


Selesai membeli cincin pernikahan, Indra dan Tiara mengunjungi sebuah restaurant seafood yang tidak jauh dari mall tadi. Karena hari sudah siang keduanya harus segera mengisi perut mereka.


"Ngga kerasa yah pernikahan kita tinggal 2 hari lagi" kata Indra setelah menyuap makanannya


"Iya, aku ngga nyangka loh bakalan nikah sama kaka" kata Tiara yang juga sudah menyuap makanannya.


"Ngga nyangka kenapa? " tanya Indra kemudian menatap Ara.


"Ngga nyangka aja, aku bakalan nikah sama teman masa kecilku yang bahkan aku sendiri udah lupa" jawab Ara.


Jujur sebenarnya dalam hati Indra ada yang sedikit menancap saat mendengar Tiara mengucapkan kalimat bahwa dia sudah lupa, tapi Indra mencoba untuk tetap bersikap tenang "Apa dalam waktu 17 tahun, kamu ngga pernah ingat aku sekalipun?" tanya Indra mencoba menelisik.


"Mungkin pernah pas awal-awal kita pisah, tapikan waktu itu aku masih kecil banget baru lima tahun" jawab Ara santai dan masih asik dengan makanannya.


"Sebenarnya aku berharap kamu mengingatku sekali saja, mengingat kenangan kita, mengingat kebersamaan kita. Tapi sepertinya kamu tidak pernah mengingat satu halpun tentang kita, kalau orangtua kita tidak menceritakan masalalu kita mungkin selamanya kamu tidak akan mengingatnya" ucapku dengan sedikit kekecewaan.


Lalu aku melihat Tiara dengan tatapan sendu pada Indra "sudah-sudah" kata Indra kemudian menepuk pelan bahu Tiara "aku akan menceritakan semua kebersamaan kita nanti setelah kita menikah. Yang penting aku ingin kamu mengingat semua kebersamaan kita dimasa yang akan datang, jangan pernah melupakan apapun yang kita lakukan nanti. Janji? " lanjut Indra dengan menyodorkan jari kelingkingnya


"Janji" kata Tiara dan mengaitkan kelingkingnya pada jari Indra dengan mata yang berkaca-kaca, "maaf" lanjutnya.


"Cantiknya hilang kalo nangis" ledek Indra dan Tiara pun hanya membalas dengan tawa kecil yang renyah.


Setelah itu tidak ada lagi suara yang mengganggu makan mereka.