Don'T Wanna Hide The Truth

Don'T Wanna Hide The Truth
Chapter 4



Kini kedua keluarga Banu dan Hansa sudah berada di meja makan. Ara duduk dihadapan Indra. Situasi canggung bagi Tiara dan Indra mengisi pikiran mereka. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut keduanya. Sedangkan para orangtua dari tadi sibuk dengan obrolan mereka.


Melihat Indra dan Tiara tidak bicara satu katapun akhirnya Hansa yang memulai pembicaraan pada anaknya "Tiara ada yang mau papa bicarain sama kamu". Begitulah Hansa memulai pembicaraan.


"Disini?" Tanya Ara dan berhenti memasukan makanan ke mulutnya.


"Iya. Kamu harus menikah dengan nak Indra". Tegas Hansa.


"Uhuk uhuk". Sontak saja pernyataan Hansa membuat Ara gelagapan dan tersedak makanannya sendiri sampai terbatu-batuk.


Mata Ara membelalak menatap Hansa. Raut mukanya berubah masam menyadari apa yang dikatakan papahnya.


"Tapi Ara kan masih kuliah pah" Tiara mencoba menolak.


"Mah" Memasang wajah semenyedihkan mungkin berharap mamahnya bisa memberinya bantuan, tapi Tania hanya membalasnya dengan senyuman manis pada Ara.


Melihat situasi yang terjadi dihadapannya, Banu ikut menimpali kata kata Tiara.


"Kamu masih bisa kuliah Tiara, Masih bisa bekerja. Silahkan lakukan aktivitas rutin kamu seperti biasa, Indra tidak akan melarangmu". Tiara hanya menatap Banu dengan tatapan sedih yang belum diubah.


"Iya kak Ara nikah aja sama kak Indra, kan nanti aku ada temennya disini". Angela tiba-tiba nyeletuk.


"Tapi pah, mah, om, tante, masih banyak yang belum Ara gapai, masih banyak planning Ara yang belum terealisasikan. Ara juga belum kepikiran sama pernikahan".


"Bilang aja kalau kamu punya pacar" Celetuk Indra yang masih dengan santainya melahap makanan dipiringnya.


"Ngga bukan gitu. Ak-"


Belum sempat Tiara menyangkal, Tania malah lebih dulu memotong ucapan Tiara. "Setau tante Ara ngga punya pacar, iyakan Ra? ". Bicara sambil bergantian menatap Indra dan Tiara.


Ayolah mamah kenapa malah ngasih lampu hijau ke laki-laki yang bahkan belum Ara kenal sama sekali. Gerutu Ara dalam hati.


"Mmm kalo masalah itu memang benar, tapi Tiara juga ngga berencana untuk punya pasangan dalam waktu dekat. Setidaknya kami perlu penjajakan dulu". Ujar Tiara yang sudh mengubah raut wajahnya menjadi senormal mungkin.


Sedangkan Indra dari tadi hanya diam saja seolah tidak terjadi apapun dihadapannya. Ia malah asik melahap makanannya sampai tak tersisa.


"Tiara sayang, tante dan om akan sangat senang kalau Tiara jadi menantu kami. Indra juga tidak keberatan dijodohkan dengan Tiara, bukankah kalian sudah berteman sejak kecil? Apa Tiara lupa?". Ujar Sahila.


"Hah?". Wajah Tiara berubah keheranan.


"Iya kalian kan sudah berteman sejak kecil. Ya tante maklum kalau Tiara sudah lupa, memang sudah lama kalian tidak bertemu Indra juga sudah banyak perbedaan sekarang, Tiara inget ngga dulu kalau Indra main sama Tiara, Indra ngga ngebolehin siapapun megang Tiara bahkan cuma ngeliatin Tiarapun ngga boleh. 17 tahun lalu waktu kami sekeluarga mau ke Rusia, tante sampe ngga dibolehin meluk Tiara sama Indra, katanya Tiara cuma boleh dipeluk sama Indra gitu". Sahila dan para orangtua lainnya terkekeh mendengar cerita panjang lebar dari Sahila tentang masalalu Indra dan Tiara. "Indra juga masih nyimpen boneka yang Tiara kasih ke Indra waktu itu" Celetuk Sahila lagi sambil mendelikkan mata kearah Indra "Iya kan Dra, kayaknya bunda liat deh boneka beruang warna cokelat itu dikamar kamu, rapih banget lagi disimpennya. Hihi". Mereka kembali terkekeh dengan keusilan Sahila pada Indra.


Dua orang yag dibicarakan hanya bisa menahan rasa malu satu sama lain. Wajah merona mereka tidak bisa dielakkan terlihat jelas oleh orang-orang disekelilingnya.


"Haha kak Indra malu ya ketauan sama kak Tiara, mukanya sampe merah gitu" Ucapan Angela yang terdengar jelas seketika membuat semua orang langsung mengalihkan pandangannya pada Indra yang dari tadi sudah merasa sangat malu, dutambah dengan celetukan adiknya yang tiba-tiba.


Ctak. Indra menjentikkan jarinya didahi Angela tanda tidak terima dengan ucapan yang dikeluarkan adiknya itu.


Disisi lain, Tiara mencoba menghilangkan kecanggungan yang tercipta anatara dirinya dan Indra dengan mengembangkan senyumnya pada Banu dan Sahila serta Indra"Maaf tan, Tiara lupa. Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu".


"Ia ra, om juga sepakat sepertinya kalian cocok. Apalagi kalian adalah teman masa kecil, om rasa kalian akan saling memahami satu sama lain". Ujar Banu menambahkan.


"Pernikahan kalian akan dilaksanakan seminggu lagi. Mamah dan tante Sahila sudah menghubungi pihak WO kalian hanya tinggal fitting baju dan mencari cincin pernikahan saja." Tambah Tania.


Indra memang sudah mengetahui perihal perjodohan ini sejak dulu, karena Indra tipe anak yang penurut terhadap orangtua maka ia tidak meolak perjodohan ini, ia juga tau kalau orangtuanya tidak mungkin memilih gadis dari latar belakang keluarga yang buruk perilakunya.


Akhirnya Ara hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan tidak mencoba untuk menolak lagi. Setelah ini dirinya hanya akan mengikuti kemana air mengalir saja pikirnya.


Setelah sekian lama terlibat percakapan panjang diantara kedua keluarga di meja makan, makan malampun selesai, keluarga Ara pamit pulang karena waktu sudah cukup malam. Mobil melaju membelah keramaian jalan ibukota, karena ini malam minggu jalanan ibukota cukup ramai oleh anak-anak muda yang sedang menikmati masa mudanya bermain dengan teman-teman sebaya.


***


Flashback on..


Jakarta. 12 Juli 2003


"Kak Indraa" Seorang gadis kecil dengan rambut sebahu yang digerai serta poni yang menutupi dahinya tampak berlari gembira melihat seorang lelaki berumur 10 tahun itu datang kerumahnya. Begitu pula dengan Indra lelaki yang berumur 10 tahun itu juga nampak senang sekali melihat Ara berlari ke arahnya dengan merentangkan kedua tangan kecil miliknya. Dengan sigap Indra langsung membungkuk agar mensejajari Tiara dan membalas pelukan Tiara kecil yang masih berumur 5 tahun.


"Hai Tan. Aduh seneng banget rasanya ngeliat Tiara sama Indra, emang ngga salah kita ngejodohin mereka berdua ya". Ucap Sahila pada Tania sembari memeluk dan melakukan cipika-cipiki begitu juga antara Banu dan Hansa.


Kini kedua keluarga itu tengah duduk di teras rumah Hansa. Mereka berbincang perihal masalalu dan sebagainya. Keempatnya tampak sangat akrab dilihat dari sisi manapun. Mereka sudah berteman sejak masih SMP sampai sekarang, hanya Banu lah yang berbeda sekolah dengan Sahila, Tania dan Hansa. Karena persahabatan yang sudah terjalin sejak lama itu mereka berniat untuk melanjutkan kekeluargaan meski mereka sudah tidak di dunia dengan cara menjodohkan Indra dan Tiara.


Indra dan Tiara sedang asik menikmati kebersamaan mereka di halaman rumah, cukup lama Tiara dan Indra bermain, tertawa, main kejar-kejaran, ayunan dan lain-lain. Sampai waktu sudah semakin sore.


"Oh iya Han, hari ini kami mau pamit. Kami sekeluarga akan pindah keluar negeri tepatnya ke Rusia untuk sementara waktu, Indra akan akan bersekolah disana, mungkin untuk jangka waktu yang lama sampai Indra siap untuk melanjutkan bisnis saya disini". Jelas Banu, menuturkan maksud dan tujuannya datang berkunjung.


"Iya, kami harap kita akan tetap menjadi keluarga meski berjauhan. Saat kami kembali nanti kita akan langsung menikahkan Indra dan Tiara, saya berharap Tiara tidak diberikan pada siapapun, rasanya saya tidak rela memisahkan mereka berdua". Tambah Sahila.


"Tentu saja kita akan tetap menjadi keluarga, memangnya apa yang kalian pikirkan". Hansa tergelak mendengar pernyataan Sahila dan Banu.


"Ayo ayo diminum kopinya". Ujar Tania mengusir kecemasan yang tampak diwajah Sahila dan Banu.


Setelah beberapa menit "Indra sayang ayo pulang, kita harus berangkat. Nanti ketinggalan pesawat". Panggil Sahila pada Indra yang masih asik tertawa riang dengan Tiara di halaman depan rumah.


"Ayo Ra" ajak Indra dengan menggandeng tangan gadis mungil itu.


Tiara datang mendekati Tania, dan menyandarkan badannya di kaki ibunya. Sedangkan Indra berdiri disamping Sahila.


"Ayo pamitan dulu sama Tiara" titah Sahila.


Indra membungkuk di hadapan Ara sambil mengusap pucuk kepala Ara pelan "Ra, ka Indra pergi dulu ya, nanti kita main bareng lagi. Ara mau main game apa kalau udah gede nanti ka Indra beliin. Ara jangan nakal ya, harus jadi anak baik nurut sama orang tua, jangan temenan sama orang jahat nanti Ara diapa-apain lagi, kan ka Indra ngga bisa jagain Ara dulu untuk sementara waktu, jadi Ara harus bisa jaga diri baik-baik ya".


"Ini boneka aku, namanya Keke buat ka Indra aja" Memberikan boneka beruang warna cokelat muda berukuran sedang yang ada ditangannya pada Indra.


***


Hi, gimana ceritanya? Monmaaf kalau ada salah nama atau tempat.