
H-2 before marriage
Gedung kampus yang menjulang tinggi, menampakkan para mahasiswa yang berkeliaran diarea luar maupun dalam kampus, ini adalah hari aktif belajar untuk Tiara. Gadis cantik bermata indah yang selalu menebar senyum itu mengayun langkah menuju ruangan tempat dirinya menimba ilmu.
Tania pernah berpesan jika kelak takdir berkehendak lain setidaknya Tiara sudah punya bekal untuk kehidupan masa depannya.
"Ara"
Suara itu membuyarkan fokus langkah Tiara yang terarah.
Lalu...
"Lo ko baru masuk sih. Mr. Danias nanyain lo terus dari kemaren"
Suara Hera sedikit terengah, sepertinya dia baru saja menaikki tangga menuju lantai tiga.
"Ada deh"
Jawabku dan melanjutkan langkah kali ini beriringan dengan Hera.
"Tumben Mr. Danias nanyain gue, kenapa?" lanjutku.
Menatap Hera kemudian berbelok memasuki ruangan.
Danias Hadi namanya, salah satu dosen di kelas Tiara. Beliau adalah orang yang biasanya paling sering memberikan tugas tidak masuk akal pada Tiara, seperti mengukur satu persatu daun tanaman di gerbang kampus, mengukur seberapa bulat batang pohon, juga mengukir bulan sabit di rerumputan.
Belum sempat Hera menjawab ,Tiara sudah mengeluarkan argumennya
"Semoga kali ini gue ngga disuruh ngukur berapa luas toiletnya dia" katanya.
Tepatnya tugas itulah yang ada dibenak Tiara saat ini. Mengingat beberapa tugas sebelumnya yang ia terima semuanya tidak masuk di akal.
Tapi jika dipikir dua kali, tugas yang diberikan memang cukup berhubungan dengan jurusan Tiara, yaitu arsitektur. Yang dominan berurusan dengan ukuran serta coretan.
Sebelumnya Hera menghela nafas panjang, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas hvs berisi tulisan-tulisan berukuran kecil, bukan seperti makalah yang ukuran hurufnya sedang, ini lebih seperti kata-kata yang sengaja diketik dengan ukuran sangat kecil. kemudian memberikannya pada Tiara.
Tiara mengangkat alisnya mencari penjelasan.
"Itu kertas dari Mr. Danias, tadinya kalau lo ngga masuk hari ini gue mau ke rumah lo"
Lalu...
"Gila"
Tiara sudah cukup sabar selama ini dengan perlakuan Danias padanya, sikapnya pada Tiara yang tidak pernah menunjukkan sikap manis bahkan bisa dibilang seperti musuh. Dan tak hentinya memberikan tugas aneh yang hanya ditujukkan untuk Tiara.
Tiara membiarkan kepalanya terbentur meja didepannya, merutuki nasibnya pagi ini. Baru saja akan melewati hari ini dengan kebahagiaan, Tiara malah dihadapkan dengan perusak mood yang gaada akhlak.
"Udah gue bantuin ngitung semalem Ra, lembar pertama ada dua ratus tiga puluh tiga kata. Selebihnya gue ngga tau deh. Soalnya keburu ngantuk gue semalem"
Hera menepuk-nepuk punggung Tiara yang membenamkan wajahnya diatas meja.
"Tenang aja, Mr. Danias ngga bakalan masuk ko hari ini. Katanya mau ada acara keluarga gitu sama calon istrinya" tambah Hera.
Tiara kemudian mengangkat kepalanya, memegang dahi putih miliknya yang sedikit memerah karena terbentur meja, sedikit rasa sakit terasa disana.
Kali ini giliran gadis bermata indah itu yang mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, senyumnya yang kini mengembang diwajah ayu Tiara menimbulkan keheranan diwajah Hera
"Nih"
Hera mengangkat kedua alisnya
"Ini undangan pernikahan gue" kata Tiara lagi.
dengan wajah tercengang Hera mengambil undangan yang diberikan Tiara.
Kemudian tanpa sadar Hera memeluk Tiara dengan erat, menggoyangkan tubuh Tiara ke kiri dan ke kanan menyalurkan rasa bahagia dengan senyum merekah dibalik pungung Tiara karena temannya akan menikah, tanpa sepatah katapun.
Disudut lain, tepatnya di pintu masuk ternyata ada sepasang mata yang sejak 5 menit yang lalu memandangi mereka berdua dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan....
----
Hi readers, monmaaf ya author baru update. Dikejar deadline tugas dulu. Jangan lupa likenya ya :)
Atau kalau ada saran/masukan boleh banget author terima dengan senang hati guyss;)