Do You Really Love Me?

Do You Really Love Me?
Bab 62. Kembalikan Nyawa Suamiku!



Dia menaruh kembali gelas kopinya dan berjalan keluar, lalu aku mulai mengikutinya keluar, “Apa yang sedang terjadi?”


Riley melihat ke arahku sekilas, dengan sedikit ragu, berkata, “Tidak apa-apa, kembalilah ke pekerjaanmu.”


Dapat kurasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Untungnya pekerjaan hari ini tidak begitu penting, segera kuatasi, mulai mengikutinya ke bawah.


Pikiran Riley hanya pada pembicaraan telepon tadi, tanpa dia sadari jika aku sedang mengikutinya dari belakang, ketika dia membuka pintu mobil, aku mengambil selangkah lebih maju di depannya dan duduk di kursi penumpang depan.


Dia melihat wajahku, wajahnya memuram, “Kembalilah bekerja.”


“Beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi.”


Aku bertanya padanya.


Riley tidak ingin membuka mulutnya, karena keadaan yang terlalu mendesak, dia harus menyalakan mobilnya.


Di sepanjang perjalanan dia mulai menceritakannya, diproyek kita yang kemarin ini,petugas lem di dalam ditemukan dalam keadaan meninggal di ruangan.


Meninggal kemarin malam, mayatnya ditemukan hari ini!


Aku mendengar berita ini, samar-samar aku merasa ini bukan suatu kebetulan.


Ketika Riley dan aku sampai ditujuan, polisi sudah ada di tempat, bersama mayat yang tergeletak di sana.


Kali ini, aku baru tahu orang ini bernama Garry Chen.


Aku melihat dia tergeletak di lantai, teringat ketika kejadian di kantor polisi dulu, dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca bahwa hidup ini sangatlah tidak mudah.


Keluarganya mempunyai 3 orang anak, dia seorang ayah yang meninggal begitu saja, bagaimana keluarganya kelak?


Setelah polisi mendapatkan barang bukti di tempat, kemudian membawa jenazah ke rumah sakit.


Melalui hasil pemeriksaan di TKP, kematian Garry diketahui hanya kematian yang mendadak.


Karena sanak keluarganya tidak ada yang di sini, pada hari yang sama aku dan Riley membantu mengirim jenazah ke ruang duka dan membeli peti mati, kain kafan, lalu mengundang pengurus mayat untuk mendandani jenazah.


Setelah sibuk seharian.


Sesampai di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Aku membuka pintu dan melihat lampu di dalam rumah terang, Merrick duduk di atas sofa, di depannya ada meja komputer dengan sebuah laptop.


Tangannya berada di atas laptop dengan cepatnya sedang mengetik.


“Kamu, bagaimana caranya kamu masuk?”


Walaupun bibir ini berkata begitu, tetapi seharian ini aku di rumah duka, yang kulihat hanya barang-barang yang berhubungan dengan orang meninggal.


Pulang ke rumah dan kudapati dia, di dalam hati ini terasa nyaman.


Hati ini terasa lebih tenang.


“Hari ini ketika aku ingin keluar, aku mengambil kunci cadangan.” Ketika Merrick berkata, matanya tetap pada layar laptopnya


Kunci cadangan?


Aku sendiri tidak tahu di mana aku meletakkan kunci cadangan itu!


“Bagaimana bisa kamu sembarangan membongkar isi rumahku!”


Aku melihat ke sekeliling rumahku, dapat kulihat tidak ada perubahan apapun.


Lalu, Merrick menghentikan tangannya dari pekerjaan, mendekatiku dan sedikit mengerutkan kening, bertanya, “Darimana mana saja kamu? Bagaimana ada aroma ini?”


Dia mulai bertanya, aku melepaskan sepatu, berdiri di depan jendela, memandangi lampu-lampu di luar jendela, aku mulai menceritakan apa yang terjadi hari ini.


Kemudian, aku mengerutkan dahi dengan jujur dan apa adanya, “Coba kamu bayangankan, istrinya masih memiliki 3 orang anak dengan kepergiannya suaminya, seberapa besar kesedihannya, tulang punggung keluarga sudah tidak ada, bagaimana nasib keluarga itu sekarang?”


Walaupun kejadian ini tidak terjadi pada diriku.


Tetapi, pertemuanku dengannya di kantor polisi masih ada dibenakku dengan mata yang berkaca-kaca dia berbicara padaku.


Ketika ku terus saja berbicara, seketika punggungku terasa hangat.


Merrick memelukku dari belakang, lengannya telah melingkari pinggangku, bibir tipis itu mencium rambutku, dengan nada yang lembut dia berkata padaku, “Kita bukan Yang Maha Kuasa, tidak mungkin kita bisa membantu semua orang, tetapi jika kita telah melihatnya, kukira kita dapat membantunya, aku akan menggantikan kamu untuk membantunya.”


Mungkin hari ini terlalu menghayati kisah orang lain dan merasa Merrick yang hari ini tidak terlibat menyebalkan.


Aku menggelengkan kepala, “Tidak perlu, aku juga punya uang, aku bisa membantu mereka.”


Malam itu, Merrick mau tidur denganku di kamar utama, aku tidak menolaknya.


Kami terlelap sambil berpelukan, tanpa melakukan apapun.


Tiga hari setelah kejadian itu berlalu, aku sampai di depan kantor, melihat segerombolan orang, di sana terdengar suara bayi menangis.


Aku mencari cela untuk masuk ke kerumunan itu, melihat seorang wanita membawa tiga orang anak, anak perempuan yang paling besar berlutut di lantai, dua bayi masih terbungkus kain bedungan diletakkan di lantai dan menangis.


Beberapa orang yang berdiri di belakang mereka memegang spanduk, di dalamnya tertulis—


【Universe Design, kembalikan nyawa suamiku!】


Aku seketika tahu siapa orang-orang ini!


“Kalian tolong bantulah aku! Universe Design adalah perusahaan vampir. Untuk mengejar pekerjaan ini, suamiku bekerja siang dan malam, akhirnya dia kelelahan dan meninggal di lokasi pembangunan! Mayatnya ditemukan setelah badannya kaku!”


“Dia adalah Kepala keluarga kami, saya harus membawa tiga orang anak, tidak mungkin harus bekerja, sekarang dia meninggal, saya harus bagaimana sekarang!”


Istri dari Garry menangis dan berteriak.


Semua orang disekitar memberikan rasa ibanya.


Ada juga yang mengeluarkan dompet dan memberikan uang kepada mereka.


Aku tahu perusahaan ini tidak mungkin memeras tenaga buruhnya, tetapi aku tak dapat berkata apa-apa.


Aku keluar dari kerumunan ini dengan diam-diam dan langsung naik ke atas gedung.


Setelah memasuki kantor, aku merasakan suasana di kantor sangat tertekan, semuanya tidak berkata sepatah pun, malah termenung di depan layar komputernya masing-masing.


Aku berjalan menuju ke ruangan Riley, melihat dia tidak ada di ruangannya.


Akhirnya aku baru mengetahui, dia menghubungi polisi, agar segera menyelesaikan permasalahan ini.


Satu jam pun berlalu, istri dari Garry, bersama tiga orang anaknya, Riley dan polisi naik ke atas.


Ketika dia datang, terdengar suara tangisan dengan histeri dan berteriak.


Gadis yang menjaga meja resepsionis segera memberikan minuman, lalu memberikan botol susu, membantu menyusui anak kembar itu.


Polisi telah datang.


Beberapa orang mulai membahas uang kompensasi.


Dengan tidak sungkan Istri Garry membuka harga, 6 milyar.


Pada dasarnya harga ini tidak bisa kami terima, tetapi istri Garry tiba-tiba merubah harga, 10 milyar!


Polisi juga merasa uang kompensasi yang diinginkan istri Garry terlalu banyak.


Aku hanya dapat menatapnya dari sebelah, ketika sedang membicarakan uang, raut wajah dari istri Garry terlihat ketakutan.


Dapat kurasakan, uang kompensansi ini bukan yang dia inginkan, tapi ada yang menyuruh dia untuk menyebutkan harga ini.


Polisi sedang berdiskusi di sebelah, walaupun telah menggugat, dengan hal seperti ini, uang kompensasi tidak mungkin hingga satu milyar, biasanya hanya empat atau enam ratus juta saja, itu pun kamu juga harus menyewa seorang pengacara.


Istri Garry dengan bingung menatap polisi, seolah bingung dengan semua ini.


Lalu, dia berkata ingin pikir-pikir dulu.


Riley membayar dengan uangnya sendiri untuk tiga orang anak ini, lalu menyewa sebuah kamar di dekat kantor, agar mereka dapat tinggal di sana.


Saat itu istri Garry sangatlah bersyukur.


Dan awalnya kami mengira masalah ini ada titik balik yang baik, tetap tidak sangka dihari kedua istri Garry kembali, lalu duduk disebuah sofa.


Menunjukku di tengah-tengah kerumunan orang, berkata, “Sepuluh milyar, satu sen pun tidak boleh kurang! Tahun itu di perusahaan kalian ada seorang wanita bernama Nesya yang menyuruh suamiku mencelakai orang lain! Mungkin saja dia yang telah membunuh suamiku!”


Nada suara menguat, sangat jelas datang dengan persiapan.