
Setelah hari itu, sudah sekitar sebulan aku tidak bertemu dengan Merrick.
Kehidupan perlahan berubah tenang, aku sengaja mengatur kerjaanku dengan padat, kugunakan itu sebagai obat bius untuk melupakan pernikahan ini.
Hari ini adalah hari gajianku, Elise pagi-pagi ini sudah memintaku untuk mentraktirnya.
Demi tidak membuatnya menunggu, setelah sekian lama bekerja terus menerus, aku hari ini pulang tepat waktu.
Dan ketika aku keluar dari gedung itu, seorang pria dengan jas menghampiriku, dengan penuh sopan santun dia berkata, “Nona Nesya, saya supir Presiden Ji, dia menyuruhku untuk menjemputmu.”
Sekarang jam pulang, sekitarku dipenuhi dengan orang yang berlalu-lalang, mereka semuanya menatapku dengan pandangan aneh.
Sejenak aku terbengong, “Presiden Ji? Merrick?”
Mana mungkin dia menjemputku?
Supir pun menjelaskan, “Presiden hendak menemui Anda, beliau adalah kakek Presiden Merrick.”
Terlintas dipikiranku telepon satu bulan sebelumnya, dalam hati aku sangat menolaknya, aku takut Merrick mempermalukanku di depan kakeknya.
Tapi, aku tidak boleh menolak untuk pergi.
Dengan terpaksa, aku hanya dapat mengikutinya ke mobil.
Dia mengantarkanku dulu ke Pusat Perbelanjaan Galaxy dan memberikanku satu kartu berwarna perak, kemudian menyuruhku untuk membeli pakaian yang cocok.
Walaupun aku tidak ingin mengambilnya, tapi pusat perbelanjaan Galaxy adalah tempat yang paling bergengsi di kota ini, semua merk yang terkenal di dunia dapat dibeli di sini.
Namun harga pakaian di dalam sini kalaupun aku mengesek kartuku sampai meledak juga tidak mampu membayarnya.
Dan yang biasanya datang ke sini adalah para gadis keluarga kaya beserta para artis.
Aku mengenakan pakaian kerja yang murahan, sesaat ketika aku memasuki tempat itu, semua karyawan toko menatapku sekilas, kemudian tidak mempedulikanku lagi.
Aku juga tidak peduli karena aku memang bukan orang yang dapat berbelanja ke sini.
Aku berputar-putar di sekitar, kemudian berhenti di depan sebuah toko yang menjual satu merk tertentu. Aku memilihnya karena selain toko ini, merk lain semuanya pernah kudengar.
Jadi, aku mengira toko ini pakaiannya pasti yang paling murah.
Dengan sekali pandangan, aku langsung suka dengan sebuah gaun panjang berwarna beige yang dipakai oleh patung, designnya sangat sederhana dan berkelas.
Dan yang membuatku merasa aneh itu adalah pelayanan toko ini yang sangat baik. Ketika tahu aku ingin mencobanya, dia langsung mencarikan ukuran yang kuminta dan membawaku ke ruang ganti.
Ketika aku selesai berganti, aku keluar dan berdiri di depan cermin.
Dan benar, baju ini sesuai dugaanku sangat cocok denganku.
Ketika aku memutuskan untuk membeli gaun ini, aku bertanya ke karyawan tokonya, “Harganya berapa?”
Karyawan toko itu menjawab dengan hormat, “420 juta.”
Mendengar harganya, aku langsung terkaget-kaget dengannya.
420 juta ……
Awalnya aku mengira gaun ini harganya paling cuma beberapa puluh juta saja dan hal ini benar-benar di luar rencanaku, aku takut ketika Merrick melihat harga ini dia akan mengira aku wanita matre.
Ketika aku hendak masuk untuk mengganti pakaian ini, dari cermin aku melihat kehadiran Adoria.
Tangannya menjinjing dua kantong, karyawan toko melihatnya langsung menyapanya dengan hangat.
Setelah selesai menyapanya, dia memutar ke arahku dan mengatakan kepadanya, “Anda sangat mirip dengan pelanggan yang satu ini……”
Adoria baru menatap ke arahku, melihat gaun yang dipakai olehku, dia dengan “baik hati” mengingatkan karyawan toko itu, “Pakaian di toko kalian semahal ini, kenapa boleh membiarkan siapa saja untuk mencobanya? Kalau dia tanpa sengaja mengotorinya dan tidak mampu membayarnya bagaimana?”
Karyawan toko itu melihatku, dari matanya jelas terlihat dia sedang kesulitan.
Dengan terpaksa, aku menjawab, “Aku beli.”
Ketika mendengarku akan membelinya, Adoria menatapku dengan aneh dan kaget, namun dia tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa.
Aku mengeluarkan kartu perak itu dari tasku dan menyerahkannya ke karyawan toko, kemudian aku langsung masuk ke dalam untuk mengganti pakaian.
Ketika aku keluar, Adoria berdiri di samping dan tertawa dingin, “Tak kusangka kamu punya uang untuk membelinya.”
Sambil menyerahkan gaun itu untuk dibungkus pelayan itu, aku menjawabnya, “Iya, hari ini mau bertemu dengan kakek, jadi suamiku menyuruhku ke sini untuk membeli baju.”
Setelah itu, aku memberinya satu senyuman yang manis.