Do You Really Love Me?

Do You Really Love Me?
Bab 59. Pindah Dari Rumahnya



Aku melihat gepokan uang itu dan menggelengkan kepala, “Tante Indira, kamu benar-benar luar biasa. Siap sedia jebakan setiap waktu, menunggu aku terperangkap di dalamnya ya?”


Kata “Bibi Indira” membuat wajah Indira berubah.


Ketika aku dalam keadaan lengah, Giyanto melangkah kemari, mengangkat tangannya ‘Plak’ satu tamparan didaratkan ke wajahku!


Tiba-tiba, mataku kabur dan telinga aku berdengung.


Mendengarkan Giyanto memakiku dengan marah. “Kami melahirkanmu, merawatmu tiga tahun, kamu mencuri uang kami, bahkan memanggil kami seperti ini?!”


“Nesya!” Adoria berpura-pura datang memelukku, berkata kepada Giyanto, “Ayah, Nesya sekarang adalah mantan narapidana, tidak mudah menemukan pekerjaan, perusahaan mana pun tidak menginginkannya, dia mungkin terpaksa.”


Aku mencibir, mendorong Adoria pergi, “Kamu tidak usah berpura-pura.”


“Nesya.”


“Dengar, kamu membantunya berbicara, dia bahkan tidak berterimakasih padamu, dasar tidak berhati nurani!”


Indira menarik Adoria ke sisinya.


“Kamu yang …”


“Cukup!”


Ketika Giyanto mengangkat tangannya dan ingin memukul aku lagi, Sifra yang duduk di samping akhirnya angkat bicara.


Dia melambai padaku dan berkata dengan suara ramah, “Ayo, Nesya, duduk di sini.”


“Bu, kamu tidak bisa dibodohi lagi olehnya!”


Ketika Giyanto melihat bahwa meskipun mereka berusaha keras untuk bersandiwara, tapi sikap Sifra terhadapku tidak berubah sama sekali, dia menjadi lebih marah.


Aku mendengarkan kata-kata Sifra dan duduk di sofa bersebelahan dengannya.


Dia menyentuh wajahku dan bertanya dengan khawatir, “Apakah itu menyakitkan?”


Aku mengangguk, lalu bertanya padanya, “Nenek, apakah kamu percaya padaku?”


Keluarga ini, hanya Sifra saja yang masih keluargaku.


“Kamu adalah cucuku, bagaimana mungkin aku tidak percaya.”


Sambil berbicara, memegang tanganku di tangannya dan menepuknya.


Semuanya sama seperti dulu, seolah-olah hal-hal sebelumnya tidak pernah terjadi.


Indira menjadi gelisah melihatnya, “Bu, kamu lupa bagaimana dia berkali-kali menyakiti Adoria, Ini semua ada buktinya!”


“Bu, lupakan saja.”


Adoria menarik Indira, lingkar matanya agak memerah.


Aktingnya benar-benar bagus.


“Sudahlah, aku sudah lama tidak bertemu Nesya, aku ingin berbicara dengannya, kalian pulanglah dulu.”


Sifra menyuruh mereka pergi.


Indira dan Giyanto tercengang, terutama Indira, sepasang mata menatapku lekat, seolah ingin menelanku.


Kemudian, mereka mengocehkan beberapa kata lagi, Sifra kemudian menyuruh Bibi Odina mengantar mereka pergi.


Setelah mereka pergi, Sifra menarikku dan berkata, “Nesya, mereka sangat pandai dalam hal ini, aku baru tahu masalah kamu dipenjara, kasihan.”


Sambil berkata, lingkar matanya memerah.


Aku percaya bahwa Sifra benar-benar menyayangiku dengan tulus.


Aku mengambil lengan Sifra dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku menggelengkan kepala. “Semuanya sudah berlalu, Nenek, aku akan mencoba memulai kehidupan baru ……” Aku terdiam. “Aku difitnah.”


Aku harus mengatakan hal ini.


“Aku tahu, aku tahu, jika aku mengetahui hal ini sebelumnya, aku pasti tidak akan membiarkanmu masuk penjara! Itu salahku yang sudah tidak mengatur masalah di luar lagi, informasi pun sangatlah sedikit!”


Sifra menepuk pundakku.


Aku bisa mendengar nada menyalahkan dirinya sendiri.


Kemudian, kami banyak mengobrol. Dia bertanya tentang pekerjaanku, aku mengatakan kepadanya tentang pekerjaan baru-baru ini di perusahaan Riley.


Sifra menahanku untuk makan malam. Ketika makan, dia bertanya kepadaku, “Kamu tidak kembali untuk memberitahu cucu Handi dulu?”


“Ini …” Kata-katanya membuatku kusut dan memilih untuk berbohong, “Tidak, dia sedang dalam perjalanan bisnis beberapa hari ini.”


Sifra menatapku dan tidak berbicara lagi disaat itu.


Tetapi saat sudah selesai makan, dia baru berkata kepadaku, “Sebenarnya, aku tahu semua hal tentang cucu Handi dan Adoria. Meskipun Adoria sedikit pintar, tetapi mungkin tidak begitu sempurna, itu semua dilakukan oleh cucunya, benar?”


“Nenek, tidak …”


Aku tidak ingin Sifra khawatir tentang pernikahanku.


Tanpa diduga, setelah dia tahu bahwa aku mengalami masalah, kemudian menyelidiki kembali masalah ini.


Setelah mengatakan dua hal ini, Sifra menggelengkan kepalanya. “Handi si Pak tua pikun itu tidak mempercayaimu, tetapi kamu adalah cucu perempuanku, aku memahamimu, aku percaya padamu!”


Dia mengeluarkan sebuah map dokumen dan sebuah kunci dari lemari dan pertama-tama meletakkan kunci di tanganku. “Setelah masalah terakhir, aku tidak menyimpan pembagian sahammu di tanganku, mengira kamu telah pergi belajar di luar negeri, tidak tahu kapan kamu akan kembali. Agar uang tidak mengalami devaluasi, jadi aku membeli sebuah rumah untukmu dengan uang tersebut di tahun ini, kamu pergilah ke sana untuk tinggal, jangan tinggal di rumah cucu Handi lagi.”


“Nenek, tidak usah, aku …”


“Ambillah, kamu adalah cucu perempuanku, keluarga Qin kita tidak sebanding dengan keluarga Ji, tetapi masih belum sampai tahap harus hidup memandang muka orang lain!”


Mengetahui bahwa aku ingin menolak, Sifra meletakkan kunci ke tanganku.


Kemudian dia mengeluarkan sebuah kartu dari tas dan mengatakan bahwa itu adalah uang yang tersisa dari pembagian dividen saham.


Aku menolak lagi, Sifra masih memberikanku kartu itu.


Aku tinggal sampai jam 10 malam hari itu.


Ketika aku akan pergi, Sifra meminta pembantu untuk mengambil sebuah kotak dari gudang dan menyerahkannya kepadaku.


Aku membukanya dan itu ternyata adalah komputerku saat kuliah.


Ada juga beberapa album.


Dia mengatakan bahwa ketika Giyanto akan membuang barang-barang tersebut, dia menyuruh pembantu untuk menyimpannya, merasa bahwa ini masih akan berguna untukku kelak, jadi menyimpannya untukku.


Aku sangat berterima kasih kepada Sifra.


Dan diwaktu bersamaan aku baru mengetahui diantara pembantu di rumah Giyanto ada mata-matanya.


Aku pergi dengan membawa kotak.


Begitu sampai di rumah, mencoba membuka komputer, menemukan bahwa notebook tersebut sepertinya telah rusak.


Dalam ketidakberdayaan, aku hanya bisa meletakan komputer.


Pada akhir pekan, aku menerima telepon dari Sifra dan mendesakku untuk pindah.


Aku tidak punya banyak barang, aku mengemas pakaian yang biasa kupakai dan komputer sebelumnya, aku membuka lisensi real estat dan melihat sekilas denah alamatnya, dagu serasa mau jatuh.


[Kota A No.1].


Jika bertanya perumahan mana yang paling baik dan harga termahal di Kota A?


Maka itu pasti Kota A No.1.


Komplek ini dikelilingi oleh feng shui yang sangat baik dan pengelolahan terbaik.


Jika bukan karena namaku tertulis di atas SHM, aku benar-benar berpikir bahwa Sifra salah memberikannya.


Ketika aku naik taksi sampai di depan gerbang perumahan, penjaga keamanan itu memandangiku, dengan kasar mengusirku. “Pergi pergi pergi, sales dilarang di perumahan kami.”


“Aku pemilik rumah, baru saja pindah hari ini.”


Aku dengan cepat menjelaskan.


“Pemilik? Gedung yang mana dan nomor berapa?” Komplek tingkat tinggi seperti ini, bahkan memilih satpam pun harus yang melihat orang dengan lubang hidung (dalam pengertian memandang rendah orang).


Dia melihat ekspresiku dan tampaknya telah menentukan bahwa aku datang sebagai sales, dipenuhi dengan kepuasan menungguku untuk terbongkar.


Ketika aku hendak meletakkan barang bawaanku dan menunjukan kepadanya SHM, ada suara lembut dan mantap datang dari belakang, “Aku yang membuktikan bahwa dia adalah pemiliknya.”


Aku menoleh dan melihat orang yang berdiri di belakangku sedikit akrab …


Segera teringat, meskipun aku enggan, tetapi masih memanggil, “Ji … Paman.”