Do You Really Love Me?

Do You Really Love Me?
Bab 26. Memintaku Mengalah



“Tentu saja punya suamiku.” Aku tersenyum tipis dan bertanya, “Bagaimana denganmu? Punya siapa? Apakah kali ini akan melahirkannya?”


Aku tahu masalah tentang dimasa kuliah Adoria pernah aborsi sebanyak dua kali.


Saat itu dia tidak berani membiarkan orang lain menemaninya, terpaksa memanggilku.


Adoria kesal bergetar karenaku, “Nesya, dasar ******! Aku tidak akan membiarkanmu melahirkan anak itu!”


Setelah selesai mengatakannya, dia dengan marah pergi membawa hasil tes.


Hatiku juga diam-diam merasa sedikit gelisah, apalagi Adoria tidak pernah berperilaku baik, jika anaknya keguguran dan anakku masih tetap ada.


Dia mungkin tidak akan bisa menjadi istri pertama.


Aku mulai galau, apakah mau memberi tahu Merrick tentang masalah kehamilanku.


Alhasil karena sibuk, aku mengabaikan masalah ini.


Dua minggu kemudian diakhir pekan, Handi memanggilku dan Merrick pulang untuk bertamu.


Disaat aku melihat Merrick di atas mobil, agak linglung sejenak.


Dihitung-hitung, kami sudah hampir sebulan tidak bertemu.


Empat musim di kota ini sangat jelas, baru memasuki bulan September, cuaca jelas semakin dingin, aku memakai kemeja yang longgar untuk menutupi perut hamilku.


Handi melihatku mengenakan pakaian yang longgar, langsung menyukainya, “Apa ini? Apakah cucu kecilku sudah datang?”


Aku tersenyum, “Kakek, mana mungkin begitu cepat? Jika kita memilikinya, jika sudah ada kami pasti langsung memberitahukan kepadamu.”


Tapi Handi malah tidak berhenti sampai disitu, seperti seorang anak kecil berkata, “Apakah anak ini terlalu sibuk bekerja, mengabaikanmu? Jika demikian, katakan padaku, aku akan menghabisinya!”


Aku segera menggelengkan kepalaku dan mengulurkan tangan untuk memegangi lengan pria di sampingku, “Tidak, Merrick sangat baik padaku, sangat peduli padaku, masalah tentang anak,itu bergantung pada nasib, menurut Anda?”


“Benar.” Handi merasa bahwa perkataanku benar dan tidak lagi bertanya.


Aku yang sekarang, sudah belajar berakting di depan Handi.


Aku menoleh untuk melihat Merrick sekilas, pria itu menatapku, ekspresinya agak sedikit rumit.


Sepanjang makan bersama ini, aku melakukan semuanya dengan sangat baik, juga tidak menimbulkan kecurigaan Handi.


Suaranya agak acuh dan aku yang sekarang sudah dapat menebak jalan pikirannya, juga tidak akan pernah kepedean lagi.


Aku berdiri di samping mobil dan tanpa perasaan berkata, “Terima kasih Tuan Merrick atas pujiannya, kalau begitu aku pergi dulu.”


Aku tak mau dipermalukan lagi.


Saat hendak ingin pergi, lenganku malah ditarik oleh pria itu.


Aku menoleh bertanya padanya, “Ada yang bisa kubantu Tuan Merrick?”


Di dalam hatiku sendiri memahami bahwa ingin melepaskan orang yang telah dicintai selama dua belas tahun, tidaklah mudah.


Namun, aku mencoba membuat diriku bersikap lebih asing.


Hanya dengan cara ini, disaat diusir olehnya, aku tidak akan terlalu menyedihkan.


Tatapan mata Merrick memandangku semakin rumit, setelah berhenti selama beberapa detik, barulah berkata, “Naik ke atas mobil, aku akan mengantarmu pulang.”


Dia mengatakannya, juga tidak mengizinkanku untuk menolak, langsung duduk di kursi belakang, lalu, pindah ke posisi dalam dan memberiku kursi kosong di samping pintu.


Aku galau sejenak dan tetap saja masuk ke dalam mobil.


“Adoria hamil.”


Begitu aku masuk ke dalam mobil, Merrick mengangkat topik masalah ini.


Membuat hatiku menjadi sedikit kecut.


Aku pikir dia baik hati, ternyata untuk memberi tahuku hal ini.


“Yah, lalu.” Aku memaksakan diri untuk bersikap tenang dan bertanya padanya, “Ingin aku mengalah atau apa?”


Mungkin kelakuanku di luar dugaannya, dengan tatapan mata bertanya-tanya Merrick menatapku lama, barulah berkata, “Tunggu sampai anak itu dilahirkan baru dibahas lagi.”


Hening sepanjang jalan.


Merrick ingin membawaku ke villa yang dia berikan kepadaku, aku malah memberi tahu alamat Elise kepada supir.


Melihat bahwa mobil menuju ke depan pintu rumah Elise, aku mengelus perutku yang masih terbilang rata, aku tidak tahan dan bertanya padanya, “Merrick, bagaimana jika aku juga sudah hamil?”