
Aku mengikutinya dari belakang, namun aku malah melihat manager memberikan sebuah kartu yang sepertinya adalah kartu pusat perbelanjaan kepada karyawan toko itu dan mengancamnya, “Hal ini ditutupi oleh Presiden Grup Atlas, kalau kamu berani mengatakan apapun, jangan pernah berpikir untuk tetap tinggal di kota ini!”
Dia hanya mengatakan satu kata dan ketika aku hendak mengeluarkan ponselku untuk merekam bukti, manager itu langsung berlalu pergi.
Aku menghentikannya dan menanyakannya apa yang terjadi.
Manager itu malah memutar bola matanya, “Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan.”
Kemudian dia berlalu pergi.
Aku selalu merasa hal ini direncanakan oleh Adoria, tujuannya yaitu untuk merendahkan posisiku di hati Merrick.
Namun, aku tidak pernah menyangka Merrrick mengetahui semua ini dan menutup matanya akan hal ini bahkan dia membantunya!
Aku tidak menerimanya!
Aku langsung pergi ke gedung kantor Grup Atlas, aku ingin menanyakan kepada Merrick, sebenarnya apa yang dia pikirkan!
Grup Atlas merupakan sebuah perusahaan besar, memasuki pintunya pun membutuhkan kartu pengenal, aku kira akan kesulitan untuk memasukinya, namun aku tidak menyangka ketika sampai di depan pintu, resepsionis langsung menghampiri dan dengan hangat menyapaku, “Nyonya.”
Aku dibawa ke lantai atas dan dengan selamat memasuki ruang kantor Merrick.
Ketika aku masuk, Kevin Liu yang hari itu menjemputku pun berada di dalam kantor. Melihatku masuk, dia dengan otomatis berjalan keluar.
“Ada urusan?” Merrick bertanya tanpa mengangkat kepalanya.
Aku tidak memutar-mutar lagi dan langsung menanyakan, “Mengenai perihal kamera di pusat perbelanjaan, itu kamu yang lakukan kan?”
“Iya.”
Awalnya aku mengira Merrick akan mengatakan sesuatu, namun dia justru tidak menyembunyikannya.
“Kenapa?”
“Tidak kenapa.”
Aku sangat membenci sikapnya yang begini, membiarkan Adoria menjebakku dan dia malah membantunya diam-diam!
Semakin aku mengatakannya, semakin emosi, suara semakin besar.
Namun Merrick sama sekali tidak bereaksi, dia mengambil pena di atas mejanya dan menuliskan namanya di bagian bawah dokumen.
Setelah menutup dokumennya, dia mengangkat kepala, mata hitamnya sangat dingin, “Aku sudah mengakuinya, tentu saja aku akan membiarkannya melakukan hal-hal ini.”
Aku terpaku.
Mataku menatap Merrick, sekilas merasa, orang yang tadinya kucintai selama 12 tahun itu sama sekali bukan pria di depanku ini.
Aku hanya tahu dia penuh perencanaan dan tetap pada pendiriannya.
Namun aku tidak pernah menyangka, dia begitu setia dengan perasaannya ……. Sampai-sampai tidak memiliki prinsip.
Aku berdiri di tempat, tertawa pahit dan bertanya, “Kalau begitu, bagaimana denganku? Apa yang kamu rencanakan untukku?”
Merrick menjawab dengan datar, “Kalau kamu suka tinggal di kandang emas, maka aku biarkan kamu tinggal sesukamu, namun, aku tidak akan mencintaimu seumur hidup ini.”
Dia benar-benar tahu cara untuk menyakitiku.
Tanganku mengepal dengan erat, pinggang dan punggungku kutegakkan agar diriku tidak terlihat menyedihkan, aku tersenyum, “Baik, Merrick, sekarang aku sudah mengerti, mulai hari ini, aku juga akan membuat diri sendiri untuk tidak mencintaimu lagi.”
Setelah itu, aku pun berbalik.
Saat memasuki lift, terasa mual, aku sampai ke lantai satu dan segera memasuki toilet kemudian muntah, namun tidak ada yang bisa kumuntahkan.
Di toilet kebetulan ada bibi tukang bersih-bersih, melihat kondisiku, dengan baik hati berkata, “Nona, kamu hamil ya? Bawa saja asaman bersamamu, itu dapat membantumu meringankannya.”
Aku terdiam.
Hamil?
Mana mungkin!