
Waktu aku naik MRT balik ke kantor, dari tadi sudah lapar sekali, aku sampai kantin memesan bakso dan ikan yang biasa paling aku sukai.
Tetapi saat aku makan, malah merasa seperti mengunyah lilin, tidak ada selera makan sama sekali.
Lapar, tapi tidak ada selera makan.
Aku mengira karena terlalu lelah, tidak terlalu dipikirkan, dipaksa makan beberapa suap, kembali ke kantor dan mulai sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Hanya lembur sampai jam 9 malam, sudah merasa ngantuk sampai mata sudah susah di buka.
Keadaan yang sama berlanjut terus, hari minggu, aku tidur sampai jam 10, waktu bangun ternyata Elise di rumah.
Dia melihat langsung menggodaku, “Tidak bisa dibayangkan orang yang disiplin bisa tidur sampai jam segini.”
Aku dengan canggung tersenyum, juga agak sedikit tidak mengerti, akhir-akhir ini kenapa diriku bisa begitu mengantuk.
Aku memasak mie instan, juga tidak begitu ada selera makan, hanya makan beberapa suap, tidak tersisa banyak.
Disaat aku ke kamar mandi membuang sisanya, Elise yang sedang mencuci tangan di dalam melihatnya, merasa lebih aneh, “Kamu, kamu rela membuang makanan?”
Aku baru mau menjelaskan, lambung tiba-tiba merasa tidak enak, meletakkan mangkok, mendekati closet dan mau memuntah.
Tetapi tetap aja tidak memuntahkan apapun.
Elise melihatku, merasa aneh, “Nesya, jangan-jangan kamu hamil?”
Kali ini, aku mulai serius menanggapi.
Aku mulai melihat kalender, jarak menstruasiku sudah telat seminggu lebih……
Dan aku sudah melakukan dua kali dengan Merrick, juga tidak melakukan pengaman……
Tiba-tiba, hatiku muncul firasat buruk.
Aku menarik Elise untuk ikut ke rumah sakit, mengantri di bagian kandungan.
Setelah diperiksa, ternyata beneran hamil, sudah 5 minggu.
“Kenapa bisa begini……” Aku melihat hasil pemeriksaan, perasaan sangatlah kacau.
Elise malah beda denganku, dia memukul punggungku dan tertawa, “Hebat ya, Nesya, pada bilang jika sudah ada anak, perasaan pria akan berbeda.”
Melihat hasil pemeriksaan, perkataan Merrick masih bergema di telinga, perasaanku kacau dan pahit.
Tidak tahu harus bagaimana.
“Adoria, dunia sungguh sempit ya.”
Disaat aku masih melamun, Elise yang di samping meneriak nama Adoria.
Aku mengangkat kepala, melihat Adoria berdiri di depanku, tangannya mengambil beberapa lembar hasil pemeriksaan.
Adoria melihatk dan tersenyum, “Nesya, kamu datang ya.”
Kelakuannya hari ini berbeda.
Pandangan, tingkah lakunya bahkan berubah menjadi sedikit lembut, sama sekali tidak sama dengan dirinya yang dulu.
Aku belum membuka mulut, Elise sudah lebih dulu mengantikanku berkata, “Yo……Ini kenapa? Matahari terbit dari barat ya, kamu menjadi baik?”
Adoria meletakkan tangannya di perut, dengan penuh senyuman,”Ya, aku hamil, aku ingin memberikan panutan yang baik pada bayi di perut.”
Dia berucap dan melihatku, berkata, “Punya Merrick.”
Otakku seketika meledak, tetapi sengaja memaksaku tenang.
Aku menyadari kalau Elise sepertinya juga mau mengatakan kalau aku juga hamil, aku dengan cepat menariknya dan berkata, “Apakah suatu kebanggangan jika mengandung anak dari suami orang lain? Nanti kalau anakmu lahir, apakah kamu akan memberitahu kepada anakmu, mamanya selingkuhan orang?”
Adoria mendengarnya, raut wajahnya berubah, “Kamu! Kamu juga melakukan hal yang tidak bermoral baru bisa menikah dengan Merrick!”
“Itu juga karena kelakuanmu.” Aku menyimpan hasil pemeriksaanku di belakang, lalu melanjutkan, “Masalah pernikahan tadinya nenek juga membiarkan, kalau setelah itu kamu tidak ke depan tangga rumahku dan menjebakku, bagaimana mungkin nenek akan melakukan hal ini? Garam yang nenek makan lebih banyak dari nasi yang kamu makan, kamu kira itu bisa membohonginya?”
Semakin kubilang, muka Adoria makin buruk.
Akhirnya, dia tidak tahan dan marah, “Nesya, dasar kamu pelacur! Semua karena kamu! Kalau kamu tidak datang ke keluarga Qin, pasti tidak akan ada begitu banyak masalah!”
Sambil berkata, dia mulai menerjangku!
Elise melihatnya, langsung melindungiku di belakangnya dan berteriak, “Cepat lihat ke sini, ini selingkuhan mau memukul istri sah!”