Do You Really Love Me?

Do You Really Love Me?
Bab 15. Dia Memeluk Wanita Lain



Merrick mendengar perkataan stafnya, langsung memotong, “Kita sengaja memilih hari yang tidak baik untuk datang.”


Stafnya memperlihatkan ekspresi yang aneh, melihatku, tidak banyak bicara, langsung membantu kami mengurusnya.


Setelah mengambil buku merah, keluar dari kantor sipil bersama Merrick, pria tiba-tiba membalikkan kepala, menggunakan nada yang dingin berkata, “Neysa, kamu sudah sangat berusaha keras untuk menikah denganku, aku tidak akan membuatmu kecewa.”


Dia mengeja kata kecewa dengan kuat.


Jelas-jelas hari yang panas, tapi dalam sekejap badanku merinding.


Disaat aku ingin menjelaskan, supir Merrick menghampiri dari jauh, di tangannya memegang sebotol air dan sekotak kecil obat.


Hanya sebuah isyarat dari Merrick, supir memberikan air dan obat kepadaku.


Aku mengambil obatnya, melihat tulisan di atasnya, hatiku serasa tertusuk.


Di sana tertulis, obat menghindari kehamilan darurat 24 jam.


Aku tidak berkata apapun dan memakan obatnya.


Merrick melihat aku memakan obat, dengan dingin berkata, “Aku akan selalu melihatmu memakan obatnya dikemudian hari, jadi kamu tidak perlu berharap akan hamil!”


Selesai berkata, melempar sebuah kunci kepadaku, naik mobil dan pergi.


Aku berdiri di tempat semula, melihat mobil yang menghilang dari pandanganku, hatiku pun merasa sakit.


Membayangkan pernikahan yang paling penting seumur hidup, aku malah menggantikan nama kakak untuk pergi, sekarang aku beneran menikah dengannya, tetapi pria itu memperlakukanku seperti musuh.


Aku jongkok di pojok pintu, menggigit bibir dan termenung sebentar.


Kemudian baru berdiri dan mau melanjutkan kerja.


Kehidupan masih tetap harus dijalani.


……


Malam, aku tidak pulang ke rumah pengantin itu, tetapi kembali ke rumah Elise.


Elise kebetulan juga di rumah.


Melihat suasana hatiku yang menurun, langsung menarik dan menanyaiku.


Dia bertanya berkali-kali, akhirnya aku pun jujur mengatakannya.


“Dia untuk kebaikanku.”


Aku menjawab dengan tegas.


Aku percaya, walaupun seluruh orang tidak untuk kebaikanku, dia juga pasti demi kebaikanku.


Dia merasa Merrick baik, jadi ingin aku menikah dengannya.


Elise mengangguk, memeluk bahuku berkata, “Sudahlah, bagaimanapun juga hari ini adalah hari pernikahanmu, ayo, aku membawamu pergi makan enak.”


Walau aku tidak tega untuk boros, tapi tidak akan sanggup untuk menolaknya.


Terakhir, kami memilih sebuah restoran shabu-shabu kelas menengah.


Cuaca sepanas ini orang yang makan shabu-shabu sangatlah sedikit, sewaktu kita masuk, di toko hanya ada beberapa orang.


Kami sambil makan, sambil minum bir.


Setelah minum alkohol, suasana hatiku sepertinya sudah tidak begitu buruk, kita lalu pergi berkaraoke.


Sekali main, sampai jam 12 lebih.


Cuaca tidak panas, kami berjalan kaki pulang ke rumah.


Siapa sangka, baru keluar tidak jauh dari KTV, melihat sebuah mobil hitam yang berhenti di pinggir.


Aku langsung mengenali dalam sekali pandang bahwa itu adalah mobilnya Merrick.


Karena mobilnya berhenti di sana, maka orangnya juga pasti di dekat sana.


Aku melihat sekeliling, dengan cepat melihat bar yang tidak jauh, Merrick sedang menggendong seorang wanita mengarah ke luar jalan.


Tidak perlu melihat, aku juga tahu, orang itu adalah Adoria……


Mukanya memerah, sepertinya minum lumayan banyak alkohol.


Disaat melihat keduanya, aku sudah lumayan sadar dari pengaruh mabuk, telapak kaki seperti diisi timah, tidak bisa bergerak.


Sungguh konyol, setelah pengurusan surat pernikahan hal pertama adalah melihat suami sendiri, di pelukannya malahan wanita lain.


Di saat aku sepertinya menyerah untuk melakukan sesuatu, Elise yang di samping tiba-tiba berlari mendekati, mendorong Merrick dan memarahi, “Merrick, kamu tidak tahu malu, membiarkan istrimu begitu saja dan tidak diurus, malah pergi untuk memeluk wanita lain?!”