Do You Really Love Me?

Do You Really Love Me?
Bab 24. Terima Kasih Tuan Lu Sudah Mengantar Istriku Pulang



Hatiku tiba-tiba sedikit panik, sebab aku di kantor selalu tanpa gosip, kalau dia sampai duduk, aku bukannya menjadi musuh semua orang?


Disaat aku khawatir, Riley membelok, duduk di meja sampingku yang kosong.


Memberikan senyuman ‘mengerti maksudku’.


Hatiku sedikit terhibur.


Sore aku tinggal di kantor, hari ini tidak lembur, tapi ada janji mau ketemu klien jam 5.


Aku baru keluar dari kantor, melihat Riley mengendarai sebuah mobil sport putih dan melambaikan tangan terhadapku, aku berlari mendekati, dia duluan berkata, “Mau pergi ketemu klien? Ayo, aku pas sejalan dan bisa antar kamu.”


Sebenarnya aku tahu dia membohongiku, tetapi aku naik juga.


Setelah naik, aku pun mengeluh, “Kamu ke kantor kita jadi manager, kenapa tidak memberitahukan dulu?”


“Memberitahu kamu untuk apa?” Riley mengendarai mobil, pandangannya ke depan, sudut bibirnya telihat tersenyum dan berkata kepadaku, “Tidak peduli apa posisiku, kamu tetaplah adik kelas kecilku.”


Perkataannya sangatlah lembut, tidak merasa ada jarak.


Dengan cepat sudah sampai komplek tempat aku dan klien janjian, aku berterimakasih kepadanya dan turun, melihat mobil pergi, aku baru masuk ke dalam komplek.


Tugasku ini adalah proyek renovasi sebuah rumah pengantin, pemilik wanita seorang artis kecil namanya Jamie Deng, permintaannya banyak sekali, sombong, paling penting, mempunyai banyak imajinasi yang tidak realistis terhadap kamar pengantinnya.


Aku menghabiskan waktu 3 jam lebih baru menyelesaikan diskusi dengannya.


Setelah aku keluar dari komplek, melihat mobilnya Riley masih berhenti di tempat yang tadi aku turun, pria berdiri di samping mobil, badannya menyandar di mobil, tangannya mengambil sebuah laptop, sedang menggambar.


Aku cepat-cepat berlari menghampiri dan bertanya, “Kamu jangan-jangan mennunggu di sini terus?”


Aku melihat sketsanya yang di laptop, sudah menggambar hampir setengah, sampai pada tahap ini, walau orang itu adalah dia, juga butuh waktu di atas satu setengah jam untuk membuatnya.


Tetapi Riley menyimpan laptopnya dan tersenyum, “Tidak, aku juga baru dari proyek, waktu pulang sekalian menunggumu.”


“Bohong.” Aku menggunakan nada candaan untuk menyanggahnya.


Riley tidak berkata apapun, hanya membantuku membuka pintu, mempersilakan aku masuk,


“Baru tunggu sebentar, temani aku makan yuk.”


Karena sudah jam 8 lebih, banyak restoran yang sudah tutup.


Dia membawaku ke sebuah restoran Jepang.


Sewaktu memesan makanan, biasanya terhadap sashimi tidak menolak, mencium bau ikan, lambung tiba-tiba merasa tidak enak.


Dengan cepat berlari ke kamar mandi, muntah sebentar baru terasa lega.


Disaat aku duduk kembali, Riley dengan khawatir melihatku dan bertanya,


“Kamu kenapa? Apakah tidak enak badan?”


Aku memegang perut, ragu sebentar, berkata


, “Tidak, tidak apa, hanya lambung sedikit tidak enak.”


Riley percaya, dia mengira aku yang keseringan lembur, menyebabkan pola makan menjadi tidak teratur.


Mulai menceramahiku, kalau kesehatan itu penting, jangan terlalu bekerja keras dan segala macam.


Aku menyetujui semuanya.


Setelah makan, aku membalikan kunci ke Riley, berkata, “Aku seorang desainer kecil, tinggal di asrama kantor, pastinya akan mengundang banyak orang yang merasa tidak senang.”


Dia tidak bisa membujukku, hanya bisa menerima kembali kuncinya, tetapi dia berkata,


“Kamu kalau perlu bantuan apapun, ingat cari aku, jangan sungkan.”


Riley mengantarku sampai ke rumah Elise.


Baru mau berpisah, mendengar ada orang dari belakang berkata,


“Terima kasih Tuan Lu sudah mengantar istriku pulang.”


Aku membalikkan kepala, melihat Merrick bersandar di dinding, dalam kegelapan, api dari rokok berkedip-kedip.