
Adoria tentunya tahu siapa kakek yang kusebut itu.
Tangannya yang menjinjing kantong belanjaannya menggenggam erat, dengan terpaksa dia mengeluarkan satu senyuman, dengan nada bicara yang menyebalkan dia berkata, “Begitukah? Kalau begitu selamat untukmu.”
Aku tidak ingin berhubungan banyak dengannya.
Setelah karyawan toko itu selesai melakukan proses pembayaran, aku mengambil kembali kartu itu dan keluar dari toko. Kemudian aku beli lagi sepasang sepatu hak tinggi untuk dipakai bersamaan.
Kali ini aku belajar dari pengalaman, aku menanyakan harganya dulu baru mencobanya.
Karena takut supir kelamaan menungguku, setelah selesai membeli sepatu aku dengan cepat berjalan ke arah pintu keluar dan ketika aku baru sampai di depan pintu, alat pendeteksi di samping mengeluarkan suara “tit-tit-tit” yang kencang.
Dua satpam menghampiri dan menahanku, kemudian berkata, “Maaf, barang yang Anda bawa mungkin belum dilepaskan magnetnya.”
Saat ini, manager tempat ini pun menghampiri dan memeriksa barang yang kubeli.
Dan aku pun menyerahkannya kepada mereka.
Manager menyatakan kalau baju dan sepatu itu sudah dilepaskan magnetnya dan ketika aku melangkah keluar lagi, suara itu kembali berbunyi.
Karena aku beli barang yang harganya dua ratus ribuan, manager juga tidak berani mengatakan akan mengecek tasku.
Namun aku memberikan tasku untuk dia periksa sendiri.
Dan hasilnya, manager menemukan sebuah gelang perak yang masih ada magnet dari dalam tas aku!
“Bukan aku yang ambil.”
Aku dipenuhi dengan tanda tanya!
Gelang ini aku pernah melihatnya, ini adalah gelang di kasir tempat aku membeli gaun, namun kenapa bisa ada di dalam tas aku?
Ketika aku sedang bingung, karyawan toko di toko baju barusan berlari keluar, melihat gelang di tangan Manager itu, dia hampir menangis, “Ternyata ada di sini! Aku kira sudah hilang.”
Dan di belakangnya diikuti Adoria.
Manager menanyakan apa yang terjadi.
Karyawan toko itu pun berkata, tadi banyak orang di toko, ketika dia berbalik dia menyadari gelang itu sudah hilang. Dia takut setengah mati akan kehilangan ini.
Karyawan toko itu walaupun tidak mengatakan kalau aku yang mengambilnya, tapi karena ditemukan di dalam tasku, hal ini sudah membuktikan semuanya, aku tetap menjelaskannya, “Ini bukan aku yang ambi dan aku juga tidak tahu kenapa bisa ada di dalam tasku.”
Manager menatapku sekilas, dengan pandangan yang merendahkan, dia berkata, “Kamu bicarakan dengan polisi saja!”
Dan kini aku langsung panik.
Manager menyuruh satpam untuk membawaku ke kantor di lantai satu, kemudian menunggu kedatangan polisi.
Aku tidak ingin pergi dan Adoria yang berdiri di samping membuka mulutnya, “Nesya, dulu kamu mencuri di rumahku, ayah dan ibu hanya menutup mata untuk itu, tapi aku tidak menyangka kamu berani mencuri sampai ke sini.”
Dia dan aku memiliki muka yang sama.
Kata-katanya tentu saja sangat dapat dipercayai.
Manager membawaku ke tempat istirahat di pusat perbelanjaan ini dan disaat yang sama, dia melaporkan hal ini ke polisi.
Polisi dengan cepat sampai ke lokasi dan mengetahui situasi saat ini. Karena ruang kontrol terkunci, maka rekaman kamera baru dapat diperiksa nanti malam.
Awalnya mereka berencana membawaku ke kantor polisi, namun setelah manager mendapat sebuah telepon, dengan senyuman dan permintaan maaf, dia melepaskanku pergi.
Dan ketika aku keluar, dia masih terus-terusan meminta maaf kepadaku, memintaku untuk jangan memasukkannya ke hati.
Dalam hati aku menebak-nebak apa yang terjadi.
Namun ketika aku keluar, setelah membuka pintu mobil, aku menyadari dua orang yang sudah duduk di dalamnya.
Merrick dan Adoria.
Adoria duduk di depan pintu, menahanku.
Dengan terpaksa, aku pun duduk di depan.
Setelah aku duduk, aku mendengar suara Adoria yang penuh keprihatinan bertanya kepadaku, “Nesya, kamu tidak apa-apa? Aku takut mereka menyulitkanmu, jadi aku mencari Merrick, kamu tidak akan menyalahkanku kan?”
Aku hanya diam saja.
Mengangkat kepalaku, melalui cermin di depan aku melihat mata Merrick.
Mata pria itu menatap ke depan, ekspresinya datar, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Adoria melihatku yang tidak bersuara juga tidak menggangguku lagi, namun dari cermin aku bisa melihatnya yang mengandeng tangan Merrick.
Akhirnya pun sampai, Adoria dan Merrick turun duluan, memberikanku tempat di belakang untuk mengganti baju dan sepatu.
Ketika turun dari mobil, aku melihat Adoria yang mengalungkan tangannya di leher Merrick dan meminta ciuman.
Aku dengan cepat berjalan ke arahnya dan berdiri di samping, kemudian bertanya, “Boleh kembalikan suamiku kepadaku sekarang?”