
Mendengar hal tersebut, Giyanto masih tidak menyerah, “Nesya tidak memiliki didikan yang baik itu diketahui oleh semua orang, dia menikah ke sana, hanya akan membuang muka keluarga kita!” Dan ditambah lagi, “Aku tidak akan menyetujui hal sekonyol ini!”
Benar, hal ini beneran konyol, pesta pernikahan sudah diadakan, baru ganti pengantin, kalau tersebar hal ini, bukankah membuat keluarga Ji dan Keluarga Qin menjadi bahan ketawaan?
Aku mengungkapkan pemikiranku.
Indira tadinya masih bermuka dingin kepadaku, sekarang malah berubah, “Tetap saja Nesya lebih pengertian.”
Sifra melihatku juga tidak bersedia, baru berkata kepadaku, “Nesya, kamu pergi melihat Odina tadi ada yang terluka tidak.”
Aku tahu, dia ingin menjauhkanku.
Disaat aku ragu, Bi Tia datang, membawaku ke kamar para pembantu.
Kamar pembantu tidak jauh dari ruang tamu, walau aku masuk, tapi tetap dekat di pintu mendengarkan, aku mendengarkan Sifra berkata, hanya 4% saham itu saja, setiap tahun ada berjuta-juta bunganya.
Tetapi aku tidak pernah melihatnya.
Kalau mereka tidak menyetujui, aku akan menyuruh mereka mengembalikan bunga selama 3 tahun ini dan untuk mendatang bunga tidak ada bagian mereka sama sekali.
Sekali bahas mengenai uang, Giyanto dan Indira langsung patuh, mengoceh sebentar, tetapi akhirnya juga setuju.
Mereka pergi, Bi Tia baru mengijinkanku keluar.
Disaat ini, di ruang tamu cuma ada Sifra seorang, aku ke sana, langsung berkata, “Nenek, aku tidak ingin menikah dengan Merrick, hati Merrick hanya memiliki Adoria.”
“Sudahlah, baru bertemu beberapa hari, mana ada hatinya cuma ada siapa.” Sifra menarik tangannya sekali lagi dan berkata, “Sebenarnya saat resepsi pernikahan hari itu aku sudah tahu pengantinnya itu kamu, kamu lihat tatapan Merrick dan juga saat Adoria menatapnya, nenek walau mata rabun tua, juga tahu siapa yang lebih perhatian kepadanya.”
Perkataan nenek, membuat mataku memerah.
Resepsi pernikahan waktu itu, sikap Merrick awalnya sangat baik terhadapku.
Sekarang dipikir, dia di saat itu sebenarnya tidak bisa membedakan aku dan Adoria.
Melihatku tidak berbicara, Sifra melanjutkan, “Merrick aku memahaminya, merupakan anak baik, aku dan kakeknya tidak berjodoh, tetapi, aku berharap kalian bisa berjalan terus, sampai tua, menembus penyesalan kami.”
Ternyata, pernikahan ini masih memiliki makna seperti ini.
Dengan begini, perlakuannya terhadapku mungkin akan berubah.
Tetapi hatiku masih memiliki pertanyaan, “Nenek, tetapi apakah Merrick akan setuju?”
“Dia paling berbakti, asal permintaan kakeknya, dia pasti akan setuju.” Didalam perkataan Sifra membawa kepercayaan diri yang pasti.
Walau hatiku masih ada keraguan, tetapi lebih banyak mengacu pada keegoisan.
……
Aku meninggalkan rumah Sifra, kembali ke rumahnya Elise, semalaman tidak tidur.
Hari kedua, aku pagi-pagi pergi ke sebuah proyek yang paling penting, saat selesai memeriksa semuanya, waktu sudah siang, aku makan sebentar, saat bersiap-siap mau ke proyek kedua, sebuah mobil hitam berhenti di depanku.
Pintu belakang terbuka, disaat aku belum sadar, langsung ditarik masuk ke mobil.
Pintu ditutup, mobil mulai dijalakan.
Disaat aku mengira diculik, sebuah tangan yang kuat memegang daguku, memaksa mukaku memutar ke arah tangannya.
Merrick.
Mata hitam pria yang dingin, aku yang tadinya masih berkeringatan, sekarang bagaikan jatuh ke dalam hujan es.
“Tuan Ji……Apa yang kamu lakukan?”
Aku melihatnya, hanya merasa punggung mendingin.
“Tuan Ji?” Merrick menatapku, ujung mulutnya tertarik, tetapi tidak ada senyuman, “Kamu bukankah seharunya memanggilku suami?”
Aku memandangnya.
Jangan-jangan, Sifra begitu cepat sudah memberitahukan hal ini kepadanya?