
Dalam hatiku muncul harapan dan bertepatan dengan itu Sifra berkata, “Aku yang menyuruhnya datang.”
Suaranya tidak cepat dan tidak lambat, juga tidak terdengar apa tujuannya.
Tetapi aku mencuri pandang ke Giyanto, di jidatnya seperti sudah ada selapis keringat.
Kita berempat masuk ke dalam rumah, Sifra menarikku duduk di sebuah sofa 2 orang, Giyanto dan Indira duduk di seberangnya, Bi Tia mulai menuangkan teh untuk kami.
Sifra menarik tanganku dan berkata, “Masalah pernikahan, Odina sudah memberitahuku.”
Di saat ini, keringat Giyanto seketika keluar, berdiri dan memarahi Odina, “Kamu benar-benar tidak tahu berterimakasih, apakah kamu sudah dihasut oleh Nesya?”
Sambil berbicara, mengambil gelas yang di meja, langsung melempar ke badan Odina!
Odina tidak sempat menghindar, tersiram air teh yang panas, gelasnya jatuh ke lantai dan pecah!
“Sudah cukup!” Sifra berteriak dengan serius, berbicara kepada Odina, “Odina, kamu masuk ganti baju, aku tidak panggil, kamu tidak perlu keluar.”
Walaupun Sifra memberikan kesan baik, tetapi dia adalah kepala keluarga, perkataannya pastinya ada nilainya.
Begitu dia berucap, Giyanto langsung duduk kembali, tangannya mengepal erat, masih memikirkan untuk bagaimana menjelaskannya.
Sifra bertanya kepadaku, “Nesya, aku dengar dari Odina mengatakan bahwa malam pertama bersama Merrick itu adalah kamu, betul tidak?”
Aku menganggukkan kepala, tidak tahu, Sifra kenapa bisa bertanya begini.
Lalu Sifra bertanya lagi, “Odina bilang, setelah hari itu, walaupun masalahnya sudah jelas, tetapi Adoria sementara belum pindah untuk tinggal bersama Merrick.”
Mendengar hal ini, Indira langsung berdiri menjelaskan, “Itu karena, Merrick mengatakan bersalah kepada Adoria, jadi mau memberikan pilihan sebidang tanah kepadanya, membangun rumah yang dia impiankan dan membiarkannya tinggal di sana.”
Hatiku, tiba-tiba merasa kecut.
Merrick terhadap Adoria sungguh sangat perhatian.
Perasaan seperti ini, bagaimana mungkin karena perkataannya dengan mudah terprovokasi?
Begitu aku mendengar perkataan ini, sempat bingung selama 5 detik, baru memastikan maksud dari perkataan ini.
Indira dan Giyanto juga begitu, disaat aku tersadar, Indira baru berdiri, dengan suara yang tajam berkata, “Tidak boleh! Ini tidak boleh! Bagaimana boleh dia yang menikah dengan Merrick!”
Aku juga merasa aneh, “Nenek…… Ini……”
Disaat ini, hatiku sangat kacau, sebenarnya aku sudah tidak punya harapan lagi terhadap Merrick.
“Keluarga Ji tidak mungkin bersedia.” Giyanto sekarang sudah tenang.
Perkataannya juga membuatku sadar.
Di kota ini, keluarga Ji adalah keluarga terhormat, keluarga Qin walaupun besar, tetapi di dunia bisnis, masih jauh dibandingkan dengannya.
Oleh karena itu, hal ini kalau keluarga Ji tidak bersedia, Sifra seorang yang mengatakan tidaklah sah.
Sifra melihat Indira, menyuruhnya duduk.
Menunggu Indira duduk, dia baru melanjutkan, “Kamu kira keluarga Ji yang sebesar ini, kenapa bisa mengikat perkawinan dengan kita?”
Pertanyaan ini menuju ke poinnya, aku merasa berdasarkan skala keluarga Ji, posisi Merrick yang di Grup Atlas di kota ini, antrian pemilihan pasangan pernikahan begitu banyak, juga tidak mungkin sampai ke keluarga Qin.
Tapi malahan bisa terpilih sampai ke keluarga Qin.
Sifra menyebutkan salah satu alasannya, dulu, Sifra dan kakeknya Merrick adalah teman masa kecil, tetapi waktu itu, Sifra adalah anak orang kaya, sedangkan kakeknya Merrick hanyalah anak orang miskin.
Masyarakat dulu tidak mengizinkan mereka bersama.
Setelah sudah bertahun-tahun, keduanya yang sudah tua pun bertemu kembali dan memutuskan pernikahan ini.
Saat Sifra bercerita, raut wajahnya sangat lembut, bisa dilihat, kakeknya Merrick dan dia memiliki perasaaan yang spesial.