
Dia melihatku berjalan ke arah kamar mandi di tempat peralatan mandi dan dari belakang dengan sedikit rasa malu berkata, “Aku dulu tidak pernah membeli barang untuk wanita, juga tidak tahu merek apa yang kamu gunakan, jadi aku membeli beberapa varian.”
“Terima kasih.” Aku membuka shampo dan mencium baunya.
Harum.
Setelah itu, dia mengajakku makan.
Disaat sedang makan, dia mengatakan bahwa dia sekarang memulai usahanya dan bertanya apakah aku mau pergi menjadi desainer di perusahaannya.
Aku tahu bahwa dia ingin membantuku, tetapi aku sudah masuk ke dalam penjara selama satu setengah tahun, jadi aku tidak yakin apakah masih memenuhi syarat untuk di posisi ini.
Riley mendengarkan perkataanku dan hanya mengucapkan tiga kata, “Aku percaya padamu.”
Setelah makan, dia membawaku jalan-jalan ke perusahaannya dan membawaku ke meja yang akan aku duduki.
Aku menyadari, itu adalah di sudut kantor yang paling dekat dengan ruangannya.
“Aku tahu dulu saat masih kuliah kamu suka duduk di sudut ruangan,” Riley menjelaskan.
“Terima kasih.”
Kecuali terima kasih, aku tidak tahu harus berkata apa.
Malam hari, Riley mengantarku pulang dan dengan gagahnya kembali.
Aku mandi lebih awal dan mengganti baju tidur yang sebelumnya telah Riley persiapkan untukku, akhirnya aku bisa tidur nyenyak.
Hari berikutnya, ketika aku bangun, aku melihat Elise berbaring di atas sofa.
Dia tidur dengan berantakan.
Aku tidak membangunkannya dan pergi untuk membuat sarapan.
Dia bangun ketika mencium bau makanan dan meletakkan kepalanya di atas pundakku, berkata dengan keras, “Nesya sudah kembali, bisa makan sarapan yang penuh dengan kasih sayang.”
Aku tersenyum, “Kalau suka makanlah lebih banyak.”
Elise hari itu menemaniku,dia berkata bahwa dia telah naik pangkat dan punya uang, meskipun aku berulangi kali menolak, dia tetap saja membawaku untuk melakukan perawatan kecantikan, membeli beberapa kosmetik dan di sore hari membawaku ke salon.
Aku yang awalnya memiliki rambut kering seperti jerami, di bawah komando Elise, dipotong oleh seorang penata rambut sampai ke akar telinga.
Dan mengecatnya lagi.
Pada senin pagi, sesuai dengan instruksi Elise, aku pergi ke perusahaan dengan berdandan.
Riley sedang menungguku di depan pintu perusahaan, begitu aku keluar dari lift, matanya tidak bisa menyembunyikan tatapannya yang terkejut dan dia terbisu sejenak baru berkata, “Kamu sangat cantik.”
Meskipun citra telah berubah, itu tidak mengubah fakta bahwa aku sudah lebih dari setahun tidak pernah berhubungan dengan industri ini.
Di era informasi ini, perkembangan industri benar-benar lebih cepat daripada yang aku bayangkan.
Apalagi berubah menjadi bermacam varian.
Ketika aku menerima tugas pertama, aku diberitahu oleh klien bahwa gayaku sudah terlalu ketinggalan zaman, langsung pergi mencari manajer kami dan memaksa untuk mengganti desainer.
Jika satu pesanan diubah, itu adalah masalah klien.
Tapi minggu depan selanjutnya.
Aku mengambil proyek lain, tetapi beberapa kali berturut-turut ada masalah ketika aku berkomunikasi dengan klien.
Membuatku tersadar bahwa aku harus berhenti sekarang.
Hari berikutnya, aku pergi ke kantor Riley dan memberitahunya bahwa aku ingin berganti pekerjaan dan ingin menjadi asisten desainer.
Aku yang sekarang, sama sekali tidak bisa menjabat sebagai seorang desainer.
Awalnya Riley tidak setuju. Kemudian, di bawah pemaksaanku, dia mengaturku di samping Angie An, desainer papan atas yang baru saja direkrut oleh perusahaan.
Membiarkanku menjadi asistennya.
Dia memanggil Angie, Angie untuk pertama kalinya menghubungiku, menyuruh aku pergi mencarinya di hotel yang baru dibuka.
Aku tidak berani mengabaikannya, aku dengan cepat pergi ke sana.
Akhirnya, taksi yang aku naiki sampai di pintu masuk hotel dan berhenti di belakang mobil hitam yang mewah.
Ketika aku keluar dari mobil, aku melihat seseorang turun dari mobil depan.
Merrick.
Aku hanya termenung sejenak dan bersembunyi di balik pilar.