
Dia berjalan mendekatiku, hatiku tiba-tiba menegang, karena sudah dua hari berturut-turut diantar pulang oleh Riley, hal ini pastinya susah dijelaskan.
Merrick mendekat, tangannya langsung diletakkan di pundakku dan memelukku.
Riley melihatku, lalu melihat Merrick, sepertinya mengerti sesuatu, tersenyum dengan hangat, “Sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu.”
Begitu Riley pergi, Merrick langsung menarik kerah bajuku, menarikku ke lantai bawah tanah, langsung menarik ke atas rokku.
“Kamu mau apa!”
Aku kaget dan melawan!
“Menidurimu.” Tangan pria tidak berhenti, dia dengan kasar menyobek kaos kakiku, langsung menerobos!
“Ah……!”
Aku berteriak kesakitan, tetapi mengingat ini lantai bawah tanah, kalau ada yang pulang, kedengaran suara kami……
Aku memohon, “Jangan, jangan di sini……”
“Tidak di sini? Kamu yang begitu tidak tahu diri, jangan-jangan masih ingin ke atas ranjangku?” Merrick mengendongku dan mengigit bagian antara leher dan pundakku, “Beritahu aku, kamu dan dia pernah melakukannya tidak?”
Seluruh tubuhku dipenuhi keringat, digigitnya, sakitnya sampai merinding.
Tetapi aku khawatir dengan bayi di perutku, tidak berani melawan, hanya bisa mengikutinya.
Setelah selesai, dia sambil merapikan celana dan berkata, “Nesya, kamu sekarang menjadi istriku, kamu hanya boleh ada satu pria yaitu aku, aku harap kamu memperhatikan tingkahmu.”
Setelah Merrick pergi, aku beristirahat sebentar di lantai bawah tanah, lalu mengirim pesan ke Riley untuk minta maaf, baru naik.
Sewaktu naik, Elise sedang membereskan barangnya, dia memberitahuku, dia mau pelatihan ke luar negeri selama 3 bulan, sebentar lagi mau berangkat.
Dia pelan-pelan menepuk pelutku, berkata, “Tunggu aku pulang, apakah perutmu sudah membesar!”
Aku tersenyum pahit.
Diam-diam aku memutuskan, tunggu perut agak besar, aku akan meninggalkan kota ini.
Seminggu setelah Elise pergi, aku tidak pernah bertemu Riley lagi, aku tidak begitu pasti, apakah dia marah.
Selesai infus, untuk memastikan bayinya sehat, memutuskan untuk pergi periksa lagi.
Setelah selesai periksa, kembali ke ruangan dan dokter melihat hasilnya.
Aku baru masuk, sudah mendengar ada ibu hamil yang bertanya kepada dokter, “Dokter, bagaimana dengan anakku ini?”
“Saranku istirahat di ranjang.” Jawab dokter.
Aku berdiri di belakang dan melihat hasilku, tidak memperhatikan, ketika ibu hamil itu membalikkan badan, kami berhadapan……
“Nesya?!”
Ibu hamil yang di depanku ini ternyata Adoria!
Ketika pandangannya tertuju kepada hasil laporanku, dokter mendesak, “Sama-sama ibu hamil, jangan berdesakan, kalau sudah selesai cepat keluar.”
Dia mengunakan pandangan yang tidak mungkin melihatku, “Kamu…… Kamu hamil?!”
Jika mengenai kehamilanku ini, orang yang paling tidak ingin kuberitahu adalah Adoria!
Dalam hatiku panik, menyembunyikan laporannya ke belakang, tidak tahu harus bagaimana, dokter mendesakku, “Kamu masih mau lihat tidak, belakang masih ada antrian!”
“Dia lihat.” Adoria merebut laporan yang di tanganku, langsung taruh di meja dokter.
Dokter mengangkat kepala, melihatku, lalu melihat Adoria dan ketawa, “Kembar ya, sama-sama hamil? Hal baik.”
Selesai berkata, lalu mulai melihat laporanku.
Setelah melihat dan berkata, “Anakmu tidak masalah, tumbuh normal.” Lalu melihat Adoria, “Dibandingkan denganmu, anak dia kalau tidak dijaga, akan lebih berbahaya.”
Hanya dengan seorang dokter, langsung selesai menjelaskan keadaan aku dan Adoria dan juga masih membuat perbandingan.
Punyaku normal, punyanya berbahaya.
Kita keluar dari bagian kandungan, Adoria memegang erat lenganku, bertanya, “Anak siapa?”