
"Bangun sayang, waktunya sarapan?".
Naomi mengerjapkan matanya yang masih mengantuk, aktivitas ranjang tadi malam membuatnya telat tidur dan ingin tidur lebih lama namun suaminya, sang pelaku yang telah membuatnya begadang tersenyum lembut tanpa bersalah dengan nampan kayu berisi sarapan bubur dan segelas air putih segar.
"Aku ingin tidur sebentar lagi". Naomi menjawab dengan suara parau dan kembali memejamkan matanya namun sang pelaku tidak membiarkannya melakukan apa yang ia inginkan.
"Nanti tidur lagi sayang, sarapan dulu. Aku sudah buatkan bubur ayam kesukaanmu". Shen Xuan meletakkan nampan dan duduk di tepi ranjang menggoyang bahu istrinya namun tak lama kemudian tangan mulai nakal mengelus daerah sensitif Naomi.
Seketika mata yang berat tersebut terbuka sempurna dan mencubit tangan nakal yang selalu membuatnya gila sembari menatap tajam pada sang empu tangan namun sang pelaku hanya memindahkan tangannya tanpa mengubah ekspresi apapun.
"Ayo kita sarapan".
Naomi bangun dengan sedikit kesal dan menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka dan berkumur namun setelah melihat bubur ayam yang hangat, kekesalannya karena tidurnya digangu hilang sudah.
"Makasih suamiku"
"Sama-sama sayangku~" Shen Xuan mencubit manja ujung istrinya.
Kehidupan Naomi menjadi lebih banyak waktu luang setelah mengikuti ujian nasional perguruan tinggi, ia dapat bangun lebih telat daripada sebelumnya dan bersantai karena pekerjaan rumah kebanyakan dilakukan oleh suaminya. Semenjak suaminya sudah sembuh dan dapat beraktivitas seperti biasanya, Shen Xuan selalu melakukan pekerjaan rumah dan menyuruhnya untuk fokus belajar hingga ia terbiasa jika laki-laki itu mengambil alih pekerjaan dapur yang seharusnya ia lakukan.
Banyak wanita yang iri dan sekaligus kesal pada Naomi akan hal itu, terlebih setelah Shen Xuan mampu menghasilkan uang dari penjualan produk lokal dan bahkan setelah mendirikan koperasi desa oleh kepala desa Jiang yang otomatis menjabat sebagai manajer koperasi. Para gadis merubah pandangan mereka terhadap Shen Xuan yang sudah bisa berjalan normal dan memiliki banyak uang namun laki-laki yang mereka lirik sama sekali tidak memperhatikan mereka dan sibuk mengurus Naomi sehingga wanita itu menjadi bahan gosip para gadis desa dan wanita muda karena iri setelah mengetahui keseharian Naomi yang tidak perlu lelah mengerjakan pekerjaan rumah dan bahkan tidak perlu bekerja.
Selesai sarapan bersama, Naomi membantu Shen Xuan mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyuci baju sebelum keduanya duduk di kursi panjang depan rumah menikmati pagi hari yang akan berubah siang.
"Jiang Kaili!! Kau berhasil mendapatkan juara satu satu provinsi!!! Wakil camat mencarimu karena kau berhasil mendapatkan juara satu di ujian universitas!!!" Suara anak laki-laki berteriak kencang sembari berlari menghampiri Naomi. Ia mendengar perkataan laki-laki tua yang berhenti menanyakan alamat rumah Naomi dan segera berlari memberitahu.
Naomi terkejut dan hanya tersenyum lalu melirik suaminya yang sangat terkejut oleh informasi tersebut. "Aku juara satu Shen Xuan".
"Selamat sayang. Kau memang sangat hebat". Shen Xuan memeluk erat istrinya, ia sudah tau bahwa Naomi akan lulus ujian namun ia tidak menyangka bahwa istrinya mendapatkan rangking pertama se-provinsi, itu adalah suatu kebanggaan yang besar untuknya dan warga desa Jiang yang tergolong desa kecil.
Naomi yang ingin pamer kepada suaminya malah menjadi malu oleh ucapan selamat dan ekspresi senang yang tulus dari Shen Xuan, laki-laki itu begitu bisa membuatnya terharu oleh tindakan kecil yang ia lakukan.
Naomi memberikan dua permen kepada sang anak yang memberi informasi lalu menunggu wakil camat di depan rumah mereka. Tak lama kemudian segerombolan desa mendatangi rumah mereka dengan antusias maupun hanya menonton.
"Maaf, apa kau Jiang Kaili? Saya Yang Wenjing dari kantor camat, hasil ujian nasional perguruan tinggi telah keluar dan kau berhasil mendapatkan juara satu se-provinsi. Selamat Jiang Kaili". Pria itu menyerahkan amplop putih berisi yang datang dari kota Guangzhou dengan antusias, karena Naomi mereka mendapatkan apresiasi dari gubernur provinsi Guandong karena berhasil menciptakan calon mahasiswa yang berprestasi seperti Naomi.
"Terimakasih pak, silahkan masuk" Naomi dan Shen Xuan mempersilahkan Yang Wenjing dan warga desa untuk masuk ke dalam dan menyediakan segelas teh dan makanan kecil seperti kacang goreng dan biskuit membuat para warga yang masuk menjadi lebih antusias, biskuit yang hanya dapat dibeli di kota jarang mereka cicipi.
"Kami dari kecamatan sangat mengapresiasi bakat dan prestasimu Jiang Kaili dan memutuskan untuk memberikan bonus lebih kepadamu dan ini datang dari kota Heyuan". Pertama Yang Wenjing memberikan amplop lainnya yang berisi uang 70 yuan, 20 yuan lebih banyak dari keputusan awal karena apresiasi yang datang dari gubernur lalu memberikan amplop terakhir, ia bermaksud demikian supaya Naomi lebih mengingat amplop yang mereka berikan dan lebih berterimakasih kepada mereka dari pihak kecamatan.
Naomi, Shen Xuan dan Yang Wenjing mengobrol yang disisipi oleh para warga yang masuk beberapa saat sebelum Yang Wenjing pamit undur diri, ia harus melaporkan tugas yang sudah ia lakukan kepada kepala camat.
"Kaili, coba buka berapa uang yang ada di dalamnya" Salah satu ibu yang sudah lama melirik amplop yang berada di tangan Naomi sudah tidak sabar melihat isi uang amplop tersebut.
"Ya Kaili, perlihatkan kepada kami berapa uang yang kau dapatkan. Aku tidak menyangka bahwa mengikuti ujian universitas bisa mendapatkan uang jika tau maka aku akan menyuruh anak laki-laki untuk ikut belajar dan mengikuti ujian".
"Heh! Jangan bermimpi ibu Li, anak laki-lakimu saja tidak becus dalam berhitung apalagi harus menjawab soal sulit perguruan tinggi" Salah satu ibu yang berselisih dengan ibu Li membantu Naomi menjawab membuat ibu-ibu yang lain tertawa, ibu Li hanya diam tidak peduli dan kembali melihat Naomi.
Naomi melihat suaminya yang mengangguk lalu membuka amplop pertama yang berisi selamat atas lulus dengan nilai 890 dari 900 nilai sempurna lalu membuka amplop kedua yang berisi uang 70 yuan dari kantor kecamatan lalu membuka amplop terakhir yang berisi 150 yuan yang datang dari kantor gubernur.
"220 yuan hanya menjadi juara pertama satu provinsi? Itu uang yang banyak" Bisik salah satu ibu-ibu.
"Selamat Kaili".
"Aku juga akan menyuruh anakku belajar, aku dengar bahwa jika nilai ujiannya tinggi maka akan mendapat subsidi dari pemerintah?".
Naomi mengangguk. "Ya, jika mendapat rangking pertama satu kota maka kau bisa mengajukan subsidi di universitas lokal".
"Oh, lalu bagaimana denganmu Kaili? Apa kau akan mendaftar di universitas lokal?".
Semua mata menatap intens pada Naomi seakan jawaban dari wanita dapat menguntung mereka.
"Tidak bibi, aku ingin mendaftar di universitas Beijing. Kualitas dan fasilitas disana lebih memadai".
Semua orang terkejut, jika Naomi pergi ke kota Beijing maka Shen Xuan akan tinggal di desa karena harus mengurus koperasi desa.
"Lalu bagaimana dengan Shen Xuan?".
"Aku akan ikut ke Beijing".
"Tapi bagaimana dengan posisimu di koperasi? Apa kau akan mengundurkan diri?".
Shen Xuan mengangguk. "Aku akan mencari kerja di ibukota" ia tersenyum pada Naomi.
Jawaban Shen Xuan membuat pikiran para ibu-ibu menjadi aktif, jika laki-laki itu mengundurkan diri maka posisi kepala koperasi akan menjadi kosong, mereka bisa mencalonkan suami mereka untuk menggantikan Shen Xuan, mata mereka menjadi berkilat penuh perhitungan terlebih ibu-ibu yang memiliki suami yang bekerja di koperasi.