CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 07



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination...


Jangan lupa like dan rate nya, guys..


~ Happy Reading ~


*****


Perlahan tapi pasti, Cyla mencoba membuka matanya. Siapa yang menyangka, tiba-tiba sekelebat bayangan tadi malam langsung memenuhi pikirannya. Menatap kesamping, ketampanan yang menurut kedua mata Cyla tidak ada duanya membuat Cyla merasa sesak nafas pagi-pagi begini. Bersyukurlah Cyla karena hari ini weekend, tidak ada jadwal kelas.


Tanpa menutupi hatinya, Cyla merasa bahagia saat ini. Sentuhan yang selalu memabukan membuat pertahanan dirinya runtuh dalam semalam. Cyla benar-benar rindu suasana pagi ini, hingga Cyla sadar air matanya mengalir seolah memberitahukan pada dirinya. Bahwa, seorang Secyla Jellyn masih memiliki cinta untuk Rega Rahendra. Namun, Cyla juga tidak menutup kebenaran jika dia masih marah, atau..... tidak terima dengan kejadian dua tahun silam.


Seorang pria yang ia benci dan ia cintai disaat yang bersamaan kini tengah tertidur begitu lelap di sampingnya dengan kedua tangan memeluk erat tubuh telanjang Cyla. Cyla menghela nafas pelan, mencoba mengabaikan perasaan gundah dalam hatinya saat ini. Memilih membalas pelukan Rega, merapatkan tubuh telanjang mereka. Menenggelamkan wajahnya didalam dada bidang Rega. Kembali memejamkan mata, melanjutkan tidurnya. Tidak perduli meski matahari sudah bersinar terang benderang, tubuhnya masih sangat lelah akibat permainan kasar Rega.


~


Rega melirik Cyla dengan ragu. Sudah berkali-kali Rega melihat dan mendengar Cyla mendengus kesal. Mereka tengah makan siang – Melewatkan sarapan mereka. Makan siang di restoran hotel tempat mereka menginap semalam. Rega sungguh dibuat gemas oleh Cyla yang terus mendengus kesal dalam makannya. Meski Rega sudah mengucapkan kata maaf ribuan kali. Namun, Cyla masih saja terlihat kesal. Tanpa disadari, Rega menarik sudut bibirnya keatas membentuk senyum kecil. Terlihat lebih hidup melihat Cyla mengomel saat marah. Itu lebih baik. Tidak.... Apapun lebih baik, asalkan Cyla masih dalam jarak pandangnya. Ya, itulah yang tepat dan benar bagi Rega.


"Aku kan sudah minta maaf, aku benar-benar tidak bisa menahan diri. Hm, maafkan aku, aku janji akan menggantinya." ucap Rega membuat pergerakan Cyla terhenti, dan menatap kearahnya.


"Huftt,,, ini bukan masalah kau menggantinya atau tidak. Yang membuatku kesal saat kau mengabaikan perkataan ku. Saat ku bilang jangan merobek pakaianku, seharusnya jangan kau lakukan. Cobalah hargai barang yang kau miliki. Itu akan membantumu belajar bagaimana cara menghargai orang lain." Jelas Cyla panjang lebar dengan nada sedikit meninggi – Menarik sedikit perhatian pengunjung yang penasaran, menghela nafas pelan mencoba menekan rasa amarahnya. Mengabaikan tatapan dan lirikan keingintahuan dari para pengunjung restoran hotel lainnya.


"Aku mengerti. Aku janji tidak akan melakukannya lagi." ucap Rega, mengulurkan tangan kanannya mencoba menggenggam tangan kiri Cyla. Yang sayangnya langsung ditepis oleh Cyla, mau tidak mau Rega menarik kembali tangan kanannya. Tersenyum sendu melihat tingkah Cyla yang sangat kentara masih belum menerima keberadaan dirinya kembali.


"Aku tidak membutuhkan janji mu. Cukup katakan, kau tidak akan mengulanginya lagi." sahut Cyla sinis, memicingkan mata tajam tidak suka kata 'janji' keluar dari mulut Rega.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Rega lembut kembali meraih jemari Cyla dan mengenggamnya selembut mungkin untuk mencoba meredakan rasa kesal Cyla, mengikuti kemauan Cyla saat ini adalah hal terbaik.


"Hm. Itu lebih baik." balas Cyla pelan kembali menarik jemarinya yang tengah Rega genggam, kembali memakan makanan pesananya.


“Apa kau tahu. Aku senang melihatmu mengomel, sayang. Terasa seolah kejadian buruk dimasa lalubtidak pernah terjadi sama sekali.” Ucap Rega lembut, masih setia dam tidak bosan menatap wajah Cyla. Wajah wanitanya. Miliknya – Membenarkan semua yang ada didalam tubuhnya Cyla adalah miliknya.


“Aku tidak tahu kalau kau dengan berani dan tidak tahu malunya mengucapkan hal itu.” Balas Cyla tenang, tanpa mau menatap wajah Rega. Lebih memilih untuk melanjutkan makan siangnya. Sebelum selera makannya hilang karena ingin ‘muntah’ ditempat akibat mendengar kata – kata menjijikan Rega. Telinga terasa sakit mendengar perkataan Rega yang manis namun tidak tahu malu itu.


“Aku mengerti. Maaf untuk kejadian yang lalu, sayang.” Balas Rega kembali mengulurkan tangannya berniat menggenggam jemari Cyla yang terlihat menganggur diatas meja. Namun, niatnya langsung diurungkan ketika tahu – tahu Cyla mengacungkan pisau di genggamannya tepat kearah tangan Rega yang hendak menyentuh jemari Cyla. Sontak Rega langsung mengangkat kedua tangannya disamping kepala, memberi tanda menyerah. Membuat Cyla kembali menurunkan pisaunya, dan Rega yang bernafas lega. Astaga! Rega benar – benar dikejutkan mendapati Cyla yang terlihat lebih tangguh dari dua tahun yang lalu. Dan jangan lupakan Cyla yang juga menjadi lebih sulit untuk ditaklukan.


“Aku tidak berniat sama sekali untuk memaafkan dirimu. Jadi, jika kau ingin agar aku tetap melanjutkan kesepakatan kita. Lebih baik kau diam dan jangan meminta maaf. Akan lebih bagus jika kau tidak lagi mengungkit kejadian lalu. Kau mengerti?” balas Cyla dengan nada tegas. Wajah datar tanpa senyum menghias di bibirnya. Bagi Cyla akan lebih sulit bertahan disisi Rega jika pria itu kembali mengungkit kejadian yang tidak pernah bisa Cyla lupakan. Sedangkan disisi lain, Cyla berharap bisa melupakan hal itu. Dengan begitu, Cyla mungkin akan bisa berdamai dengan masa lalu. Termasuk berdamai dengan kesalahan fatal yang Rega lakukan dikejadian lampau.


Mendengar pertanyaan Rega, Cyla sontak terdiam membeku. Menatap dalam Rega. Merasa ada yang salah dari pertanyaan yang Rega lontarkan. Astaga! Apa Cyla baru saja dibodohi oleh perkataannya sendiri. Sedangkan Cyla tahu bukan hal yang sulit bagi Rega untuk melakukan hal tersebut. Apa lagi jika itu benar – benar terjadi. Maka yang ada, hal tersebut akan membuat Rega berpikir kalau Cyla sudah memaafkan Rega dan tidak ingin membuat Rega terus menerus merasa bersalah padanya. Dan mungkin akan membuat Rega berpikir kalau Cyla juga ingin tetap disamping Rega, memulai semuanya dari awal. Namun, tidak memperpanjang masalah adalah hal baik saat ini.


“Iya. Apa kau senang?” jawab Cyla berakhir bertanya. Namun, dengan nada suara yang datar. Jawaban Cyla membuat Rega tersenyum senang, mengabaikan ekspresi wajah Cyla. Jawaban Cyla lebih penting untuknya.


“Tentu saja aku senang. Aku pasti akan melakukannya, sayang. Jadi jangan coba – coba untuk membohongi ku. Mengerti?” ucap Rega tanpa bisa menutupi rasa bahagianya. Kedua matanya sontak mengerjap lucu. Hanya lucu bagi orang lain, tidak untuk Cyla.


“Hm..” Balas Cyla dengan gumaman, memutar bola mata jengah. Lebih baik kembali melanjutkan makan siangnya dari pada terjebak perbincangan tidak masuk akal dengan Rega. Yang ada hanya akan membuat Cyla semakin ‘stres’ saja.


Keheningan menerjang suasana diantara mereka. Sesekali Cyla melirik kearah Rega yang makan dalam keadaan tenang. Jika saja tadi pagi di kamar hotel, dia tidak mendapati pakaiannya yang sudah sangat layak disebut seonggok sampah. Cyla mungkin tidak akan sekesal ini di siang hari begini. Ingatan saat semalam dia meminta agar pakaiannya tetap utuh diabaikan Rega, kembali membuatnya geram.


'Baru satu hari saja aku bersamanya, dia sudah menguras emosiku. Apalagi jika satu tahun. Apa aku sanggup?' Tanya Cyla dalam hati, kepada dirinya sendiri.


"Tuan muda ini surat kontrak yang anda inginkan." Ucap Pram Guntara yang tiba-tiba sudah berdiri disamping meja pesanan Rega.


'Sial! Dia membuat ku terkejut. Bersyukur aku tidak memakinya didepan umum begini.' umpat Cyla dalam hati, mengernyitkan dahi menatap Pram yang ia tahu Secretary Pribadi atau orang kepercayaan Rega sejak awal dia menjalin hubungan dengan Rega dua tahun yang lalu.


"Hm. Kau boleh pergi." balas Rega singkat. Tanpa menatap Pram, yang ada tatapannya teralihkan ke map coklat yang berisi surat kontrak yang dia minta Pram untuk membuat sesuai keinginannya.


"Kalau begitu, saya permisi tuan muda." Ucap Pram melangkah pergi tanpa menatap kearah Cyla. Dirinya masih ingin bernyawa dengan tidak melihat wanita milik bosnya.


'Apa dia memiliki masalah dengan ku? Benar – benar tidak sopan, menyapa juga tidak.' lagi dan lagi pertanyaan yang hanya muncul dalam benak Cyla. Mengangkat bahu acuh, tidak terlalu perduli.


*****


To be continue,


See you again ~~~~


Don't forget your like, vote and coment,


Typo coment guyss.


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!