CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 05



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination...


~ Happy Reading ~


*****


Rega yang sedari tadi melamun. Menatap kosong kedepan, sibuk dengan segala macam pikirannya. Mengabaikan obrolan temannya – Nicholas dengan madam Miranda. Hingga tersadar kalau dia harus mengambil kesempatan ini. Kewarasan Rega kembali, mengalihkan pandangannya – Mengerjapkan mata perlahan menatap Nicholas dan madam Miranda secara bergantian.


"Aku akan menyewanya. Secyla Jellyn, aku menginginkannya" Sahut Rega cepat dengan nada tegasnya, setelah kesadarannya kembali. Matanya bergerak menatap datar madam Miranda yang dibalas dengan raut wajah tenang dan senyum ramahnya.


"Sungguh? Baguslah kalau begitu, saya akan membuat jadwal pertemuan anda dengan Secyla Jellyn, sir." Ucap madam Miranda dengan nada tenang yang profesional – Menahan perasaan senang karena janjinya yang ingin membantu Cyla membuahkan hasil. Perasaan lega menyerang batin madam Miranda. Namun, masih dengan mempertahankan sikap tenangnya dengan menunjukan sanyum ramah yang menghias diwajahnya.


"Aku ingin besok, pastikan kami bisa bertemu besok malam. Dan jangan beri tahu identitas ku terlebih dahulu kepadanya." Ucap Rega kembali dengan nada khas memerintahnya, membuatnya terlihat jelas bahwa dia tidak sabar dan terkesan buru – buru. Meski demikian bertemu kembali dengan Secyla adalah prioritas utamanya saat ini juga. Tidak perduli jalan seperti apa yang Rega tempuh, meski dia tahu dan sadar bahwa jalan ini adalah jalan yang salah. Jalan yang mungkin akan membuat Cyla semakin memebencinya.


‘Lagi – lagi kesalahan. Selalu sebuah kesalahan. Membuat kesalahan yang baru untuk menutupi kesalahan yang lama. Sungguh hidup rumit yang kau jalani, Rega.’ Gumam Rega pada dirinya sendiri didalam hati. Kedua matanya senantiasa masih menatap tajam madam Miranda yang seolah tidak bergeming sama sekali.


"Baiklah, sir. Tapi, tentang masalah kontrak. Jika anda menyukai kinerja kerja Secyla, anda ingin kontrak tersebut berlangsung dalam kurun waktu berapa lama, sir?” tanya madam Miranda dengan nada tenang dan ramah – Menahan rasa penasarannya. Mencoba mencari tahu apa tujuan seorang Rega Rahendra lebih memilih Secyla Jellyn dari pada wanita yang lainnya.


"Apakah itu sangat penting untukmu? Bukankah seharusnya aku bertemu dengannya terlebih dahulu? Jika aku merasa cocok dengannya, aku tidak akan mengingkari perkataanku – Aku pasti akan membuat kesepakatan dengannya, benar bukan?” Ucap Rega melontarkan pertanyaan beruntun dengan nada kesalnya. Kedua matanya memicing tajam kearah madam Miranda, tidak suka dengan perilaku keingin tahuan madam Miranda.


"Saya hanya ingin mengetahuinya, sir. Jika anda merasa keberatan, tentu saja saya tidak akan ikut campur. Saya meminta maaf atas sikap lancang saya yang mungkin sedikit menyinggung anda, sir.” Jawab madam Miranda tenang, sebisa mungkin tidak menyulut emosi seorang pewaris Rahendra. Dirinya masih sayang nyawanya untuk tidak berurusan atau membuat masalah dengan keturunan tunggal Rahendra.


"Itu bagus. Vyli Hotel, kamar 203. Minta dia untuk menemuiku pukul sembilan malam. Tidak kurang dan juga tidak lebih, pukul sembilan malam tepat. Aku tidak suka di bantah, madam Miranda. Itu pun, jika kau masih sayang dengan Secret Bar, milikmu ini. Kau paham?" Balas Rega berakhir pertanyaan, dengan nada tenang – Menatap tajam penuh ancaman kearah madam Miranda. Lalu berdiri – Bangkit dari duduknya, serta menarik kerah jas bertujuan untuk merapikan kembali pakaian yang di kenakannya.


Hal tersebut sontak membuat Nicholas yang sedari tadi hanya diam mengamati – Mengerutkan dahi bingung melihat Rega berdiri seperti akan pergi.


“Kau mau kemana?” Tanya Nicholas mengernyitkan dahi bingung.


“Aku merasa kalau aku sudah terlalu mabuk. Akau akan pulang.” Jawab Rega datar tanpa menoleh – Menatap Nicholas sama sekali.


“Secepat ini?” tanya Nicholas kembali yang langsung dijawab Rega dengan gumaman.


‘Mabuk dari segi mananya? Di mataku dia sama sekali tidak terlihat orang mabuk.’ Gumam Nicholas dalam hati, menatap datar melihat tingkah Rega.


Rega melangkah pergi, tanpa mendengarkan jawaban dari madam Miranda dan mengabaikan Nicholas yang semakin terdiam seribu bahasa, penuh dengan rasa bingung melihat sikap Rega.


~


Sesuai dengan pembicaraan madam Miranda dengan Rega. Paginya tepat pukul delapan pagi, langsung menghubungi Cyla. Memberi tahukan semuanya kecuali identitas si pria yang akan menyewanya. Cyla pun menyanggupinya. Namun dengan syarat, agar madam Miranda memberikan ijin mengambil kelas siang terlebih dahulu. Madam Miranda setuju.


Hingga malam pukul setengah sembilan, kini dua insan sesama jenis tengah duduk tenang didalam mobil milik madam Miranda. Madam Miranda menawarkan diri untuk mengantarkan Cyla, yang sudah Cyla tolak ribuan kali dengan alasan kalau dia bisa memakai transportasi umum seperti taksi atau bus yang beroperasi malam hari. Ribuan kali Cyla menolak, maka ribuan kali juga madam Miranda keras kepala ingin mengantarkan dirinya. Hal tersebut membuat Cyla menghela nafas lelah, memilih menyetujui keinginan madam Miranda untuk mengantarkan dirinya. Asalkan tidak merepotkan untuk madam Miranda, dan hal tersebut langsung disahut tegas bahwa dirinya tidak merasa direpotkan sama sekali.


"Kau hanya perlu percaya, Cyla. Aku dengar kau dipecat dari Restauran itu? Apa itu benar?" Jawab Miranda diakhiri pertanyaan.Tanpa mengalihkan pandangannya, tetap fokus pada jalanan.


"Jadi, madam juga sudah dengar ya." Jawab ambigu, Cyla lontarkan dengan helaan nafas. Memandang kosong kearah jalanan, yang terlihat gerimis mulai turun.


"Jadi itu benar. Apa kau membuat masalah lagi?" Tanya madam Miranda lagi dengan nada sedikit memelan khawatir akan menyinggung perasaan Cyla, melirik Cyla yang terlihat merenung.


"Hanya sebuah kecelakaan. Kecelakaan yang mungkin berawal dari kesalahpahaman." jawab Cyla, lagi-lagi lontaran ambigu. Membuat madam Miranda tambah tidak memahami perkataan Cyla.


'Andai saja, dia tidak pergi saat itu. Andai semua itu tidak terjadi. Mungkin, kami sudah bersama dalam ikatan hubungan yang sah. Andai saja dia tidak meninggalkanku saat itu, aku tidak akan menerima pekerjaan seperti ini. Sayangnya, aku harus berhenti berandai-andai' gumam Secyla dalam hati, menatap kosong rintikan air hujan yang terlihat mulai deras.


"Kau baik-baik saja?" Tanya madam Miranda, merasa cemas melihat Cyla diam saja. Mematikan mesin mobilnya. Tepat, setelah selesai memarkirkan mobil.


"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja, madam? Apa make up ku luntur?" balik tanya Cyla, mengarahkan kaca mobil kearahnya. Mengernyitkan dahi, saat merasa penampilannya baik-baik saja.


"Make up mu baik-baik saja, Cyla. Aku tanya pada hatimu? Kau yakin ingin melakukan ini? Apa kau akan baik-baik saja setelah melakukan ini semua?" tanya madam Miranda dengan nada khawatir khas ke Ibuannya - Untuk yang terakhir kalinya.


"Aku yakin, madam. Kau hanya harus percaya padaku. Aku pasti bisa melewati ini semua." jaeab Cyla yakin, yang lebih tepatnya mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Baiklah, aku hanya bisa mengantarkan mu sampai sini. Ingat, kamar 203. Dia sudah menunggu mu disana." ucap madam Miranda, menggenggam tangan kanan Cyla dengan kedua tangannya. Mencoba meyakinkan semua akan baik-baik saja.


"Hm. Aku mengerti. Terima kasih sudah mau mengantar ku. Padahal kau tidak perlu repot-repot, madam. Aku bisa datang sendiri." balas Cyla, tersenyum tulus. Membalas genggaman tangan madam Miranda.


~


   Cyla menunggu dengan sabar sampai pintu kamar hotel didepannya terbuka lebar untuknya. Meraba pakaian yang ia kenakan dan rambutnya, mencoba memastikan semua tetap rapi. Menghela nafas gugup saat melihat dari bawah pintu didepannya mulai terbuka. Memasang wajah dengan senyum semanis mungkin.


   Hingga, tahu semua mimpi buruk dan do'anya tidak terkabul. Pria terbrengsek dalam hidupnya tengah berdiri dengan senyum bahagia terpatri sangat jelas diwajah brengseknya.


*****


To be continue,


See you again ~~~~


Don't forget your vote and coment,


Typo coment guyss.


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!