CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 26



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination....


~ Happy Reading ~


*****


Beberapa saat sebelum penyiraman.


Di tempat lain,


Berdiri dengan anggun, kumpulan nyonya – nyonya besar se – Indonesia hanya diam memperhatikan setiap langkah dan gerakan dari Rega dan Secyla.


“Bukankah sudah ku bilang. Kalau Secyla hanya pantas menjadi menantu tunggal keluarga Rahendra. Tidak ada yang lebih pantas menjadi pendamping hidup Secyla, selain putraku. Rega Rahendra.” Ucap Riana dengan nada bicara lemah lembut namun terkesan anggun – Tersenyum kemenangan dengan sirat kesombongan.


“Memangnya kenapa kalau Cyla terlihat serasi dengan putra mu? Tetap saja mereka tidak akan bisa menikah tanpa adanya restu dari keluarga besar Mahesa, Mrs. Large Rahendra.” Balas Ajeng tidak kalah lemah lembut. Matanya membalas tatapan tajam dan senyum kesombongan Riana.


Perdebatan yang menarik untuk nyonya – nyonya besar di sekitar mereka. Sehingga mereka membuat kubu, kubu Rahendra – Yang mana terdiri dari nyonya yang suaminya memiliki memiliki perusahaan atau memiliki jabatan yang bergerak dibidang usaha. Sedangkan satunya kubu Mahesa – Mereka para nyonya yang suaminya menjabat dibidang politik atau pemerintahan negara. Seperti halnya nyonya Adiaksa, yang mana suaminya tidak akan bisa menjabat menjadi Perdana Menteri jika bukan karena dukungan dari nama Mahesa di belakangnya. Hanya saja ada satu nyonya besar yang sangat berpengaruh, namun dia hanya diam dengan gelas anggur di genggamannya tanpa ada niatan untuk memihak salah satu kubu – Menikmati tontonan di depannya dengan senyum miring nan cantik di wajahnya. Dan pandangan tajam dan tubuh anggun nan gemulai sangat mempesona untuk ukuran wanita paruh baya yanh sudah bersuami dan memiliki dua anak. Annasia Orlova. Dia sadar dan tahu tanpa memihak satu diantara mereka, dia mampu berdiri dengan segala kekuasaan dan kekuatan dari suaminya dan putra pertamanya. Keluarga Sky berdiri tanpa pondasi dari Rahendra dan Mahesa. Bahkan mungkin bisa dikatakan, baik Rahendra maupun Mahesa masih belum bisa menandingi Sky Family.


“Mau ku beri tahu satu rahasia? Yang kupastikan kalau kau mendengarnya, keluarga Mahesa tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui pernikahan mereka.” Balas Riana mengangkat sebelah alisnya, tersenyum mengejek. Melipat kedua tangannya didepan dada dengan penuh kebanggaan. Kata – kata yang sempat membuat Ajeng menegang namun hanya untuk sesaat.


“Sayangnya yang namanya rahasia harus disebut rahasia. Itu sebabnya, rahasia tersebut harus tetap menjadi rahasia. Mrs. Large Rahendra.” Balas Ajeng tenang dengan senyum lemah lembut. Membuat senyum Riana luntur dalam sekejap mata.


“Aku tidak tertarik dengan semua perkataan yang kamu sebut rahasia itu!” tambah Ajeng mengubah raut wajahnya seketika dengan nada dingin dan raut wajah datar. Membuat nyonya – nyonya yang berada di kubu Mahesa meneguk ludah gugup. Khawatir jika nyonya Mahesa berimbas pada mereka, terutama pada pekerjaan suami mereka.


Baru saja Ajeng akan melangkah pergi, meninggalkan sekumpulan nyonya – nyonya yang membuat emosi bangsawan dalam dirinya tidak terkendali. Namun, baru beberapa langkah. Langkahnya sudah terhenti melihat adegan yang benar – benar menyulut emosinya. Kedua matanya membulat sempurna, menatap nyalang kearah putri ketiga dari Perdana Menteri Adiaksa. Sama halnya dengan Riana, nyonya Rahendra yang sama geramnya dengan Ajeng. Sedangkan dibelakang mereka, nyonya Adiaksa juga terkejut melihat tingkah putri bungsunya yang membuat dirinya meneguk ludah gugup dan khawatir. Hanya bisa berdoa dalam hati, semoga baik nyonya Mahesa maupun nyonya Rahendra mau memaafkan putrinya. Dan tidak melakukan apapun kepada jabatan sang suami.


~


Cyla sungguh sangat – sangat dibuat geram oleh tingkah laku Moana. Menatap tajam dengan raut wajah datar. Mengepalkan kedua tangan di sisinya kuat – kuat. Menghela nafas kasar mengatur emosinya. Mencengkram pergelangan tangan Rega yang hendak maju – Mungkin untuk memarahi atau memberi pelajaran pada Moana. Yang pasti bukan pelajaran sekolah dasar apalagi TK. Cyla tidak menginginkan hal itu. Menarik Rega agar kembali berdiri di belakangnya. Lalu, melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Rega dan melangkah maju, mendekati Moana dalam jarak dekat. Sungguh sangat pas dengan bertepatan lewatnya pelayanan yang membawa minuman anggur di nampannya. Meraih gelas anggur tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah sombong Moana. Membuat Moana sedikit gugup dan khawatir jika Cyla akan membalas perbuatannya dengan gelas anggur di genggaman Cyla. Meneguk ludah gelisah saat mendapati Cyla menyeringai kepadanya.


“Maaf jika aku menghalangi mu, Moana. Sungguh aku tidak tahu.” Ucap Cyla lembut dengan senyum menyeringai pada wajah cantiknya. Membuat Moana menatap dirinya dengan kerutan dan keheranan di dahinya.


“Tentu.” Balas Moana singkat kembali meneguk ludah gugup yang kedua kalinya.


“Jadi apa kau sudah selesai?” tanya Cyla tenang, meneguk sedikit anggur di gelas yang berada pada genggamannya. Melirik santai kearah Moana yang kentara sekali baru saja bernafas lega.


“Ya, kalau begitu aku permisi.” Jawab Moana singkat. Mengangkat bahu acuh. Baru saja dirinya melangkah berbalik berniat pergi. Sayangnya langkahnya kalah cepat dengan air yang mengalir dari atas kepalanya, yang sangat jelas itu air anggur. Membasahi rambut, wajah hingga gaun atasnya. Membuat Moana terkejut, terdiam membeku – Memejamkan mata terkejut dengan apa yang baru saja menimpanya. Hal yang membuat Moana meremas kuat kedua sisi dress samping kanan kirinya. Semakin menggeram tertahan, menahan marah mendengar kata – kata yang Cyla bisikan tepat di telinganya.


“Kau juga menghalangi ku, *****.” Balas Cyla berbisik tepat di telinga Moana. Lalu, menyenggol kasar bahu Moana dan melangkah pergi meninggalkan Moana dan Rega yang terdiam tidak berkutik. Serta meninggalkan ruang ball room yang masih hening melihat dirinya. Sangat puas, meski kesal tetap saja tanpa sadar dengan Moana bersikap seperti itu. Sama saja Moana memberinya celah untuk balik menyerangnya – Balik mempermalukan Moana.


‘Poor Moana!.’ Gumam Cyla dalam hati. Menyeringai senang sambil terus melangkah keluar dari ball room. Pergi dari Vienca Hotel adalah tujuan utamanya, tidak peduli dirinya harus pergi kemana. Tempat itu sama saja seperti neraka bagi Cyla. Vienca Hotel akan masuk dalam hotel yang tidak akan pernah Cyla kunjungi untuk yang kedua kalinya. Menjengkelkan! Masuk buru – buru kedalam taxi, mengabaikan teriakan Adam yang memanggil namanya.


~


Tepat setelah acara selesai. Rega melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata – rata. Kembali ke kota saat itu juga. Setelah sampai diperbatasan kota, tidak lama kemudian tiga mobil hitam membuntuti tepat dibelakang mobil Rega. Yang tidak lain adalah mobil anak buah Rega sendiri. Dengan tepat di belakangnya, membawa seseorang yang dia inginkan secara paksa. Mengemudikan masuk kedalam gang yang ukurannya hanya pas dengan ukuran satu mobil untuk lewat. Cukup panjang melewati gang sempit itu, namun tidak lama kemudian padang sawah menanti dan menemani jalannya. Tidak gelap, namun temaram sebab lampu di padang sawah itu memakai bohlam lampu orange. Perjalan yang belum berakhir, dimana hutan pinus lah yang berganti menemani perjalanan malamnya. Hingga masuk kedalam jalanan hutan yang terkesan dingin, berdiri rumah megah nan mewah yang memang hanya satu – satunya rumah di hutan tersebut. Berdiri kokoh dengan segala perabot modern yang menemaninya. Tidak ada yang tahu keberadaan rumah ini kecuali dirinya, sekretarisnya, dan bodyguard serta pelayan yang memang bekerja dan tinggal di rumah tersebut. Mengemudikan masuk kedalam gerbang menuju bagasi mobil, keluat dari mobil. Melangkah kearah teras dimana ketiga mobil pengawalnya terparkir rapi. Sembari merapikan jasnya, semakin memperlihatkan kewibawaan dan sikap tegasnya. Lalu, salah satu pengawal yang duduk dikursi kemudi dari mobil paling depan, keluar dan menunduk hormat sekilas.


“Perintah anda selanjutnya, sir.” Ucap pengawal tersebut dengan tubuh yang tegap.


“kurung dia dalam tempat pengurungan didalam ruang bawah tanah dibawah gudang. Aku akan menemuinya satu minggu kedepan. Pastikan dia tidak kabur dan semua terkunci rapat. Aku tidak menerima kesalahan apapun itu.” Perintah Rega tegas, memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.


“Baik sir.” Balas Pengawal yang langsung melakukan perintah bosnya. Melangkah kearah mobil kedua, dan membuka pintu mobil penumpang belakang. Meminta kapada kedua bawahnya untuk keluar membawa perempuan yang terikat dan tertutup matanya tersebut kedalam ruang bawah gudang yang terletak tepat dibelakang bagasi mobil Rega terparkir sempurna.


Sedangkan Rega hanya menyeringai yang terlihat menakutkan bagi siapapun yang melihatnya. Masuk kedalam rumah yang besar dan mewah ini dengan dimana dua pengawal yang selalu berjaga didepan pintu utama. Membukakan pintu untuk Rega disertai dengan menunduk hormat. Lalu, kembali menutup saat sanga bos sudah sepenuhnya masuk kedalam.


Rega terhenti sejenak langkahnya saat ketika masuk sudah mendapati sekretarisnya Pram dan madam Leura yang merupakan kepala pelayan dirumah tersebut, sudah berdiri menunduk hormat kepadanya. Kembali melangkah dan duduk di single sofa yang tepat berada didepan Pram dan madam Leura.


“Saya sudah pastikan, semua saham milik keluarga Adiaksa yang tertanam di R Company baik cabang maupun pusat sudah terbeli semua, sir.” Ucap Pram tenang, melangkah mendekat kearah bosnya dan memberikan Ipad yang berada dalam genggamannya kepada bosnya, Rega Rahendra. Yang mana sudah langsung menunjukan data pembelian saham yang dilakukan dalam waktu singkat, yaitu dalam kurun waktu 1 jam. Meski menurut batin Rega, 1 jam terlalu lama. Terlalu lama hanya untuk membeli semua saham milik keluarga Adiaksa.


“Dengan mengalihkan atas nama nona Secyla Jellyn, sir. Sesuai perintah anda, sir.” Tambah Pram. Menatap tenang kearh bosnya yang duduk dengan menilangkan kaki. Serta jemari yang sibuk diatas layar Ipad milik Pram. Mengamati data pembelian saham.


“Bagaimana dengan menantu baru itu?” tanya Rega dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari layar Ipad.


“Sesuai perintah anda, sir. Jabatannya sebagai wakil ketua partai akan turun dalam waktu semalam. Menantu pertama Perdana Menteri Adiaksa dan keluarganya hanya akan menduduki posisi anggota dalam dipartai.” Jawab Pram tenang namun sungguh hatinya menyeringai bangga pada dirinya sendiri jika masalah tugas seperti ini sudah dipastikan dia tidak akan pernah gagal.


“Bagus, kalau begitu aku ingin besok setelah selesai bekerja. Kau jemput Cyla dengan Gladis. Lakukan apapun dan terserah bagaimana pun caranya, besok malam aku ingin Cyla sudah dihadapanku.” Ucap Rega tegas dengan nada memerintahnya. Mengulurkan kembali Ipad kepada pemiliknya.


“Baik, sir. Akan saya pastikan nona Cyla sudah di apartement anda besok malam.” Balas Pram tenang.


“Bukan apartement, tapi disini. Gala Home.” Sahut Rega tegas, mematap datar Pram.


“Saya mengerti, sir.” Balas Pram kembali mengerti akan perintah, menundukan kepala singkat lalu melangkah pergi keluar dari dari rumah dari rumah yang bosnya namai dengan ‘Gala Home’. Singkatan dari Rega dan Cyla Home.


“Kamar, pakaian, meja rias, serta segala keperluan nyonya Rahendra semua sudah selesai dibereskan, sir.” Ucap madam Leura tersenyum tenang menatap bosnya. Dengan jemari yang saling bertautan didepan perutnya. Sikap hormat dalam berdiri sebagai seorang pelayan.


“Ingat pesan ku yang lain?” tanya Rega datar, berdiri dari duduknya.


“Nyonya Secyla Rahendra tidur satu kamar dengan anda, sir. Dikamar anda.” Jawan madam Leura tenang.


“Kalau begitu kau bisa pergi.” Perintah Rega yang mana berjalan kearah lantai dua. Meninggalkan madam Leura yang menunduk hormat hingga sang pemilik rumah menghilang dari jarak pandanya.


Madam Leura melangkah kearah dapur, dan keluar lewat pintu belakang. Berjalan kearah rumah satu lantai namun melebar kesamping, yang hanya berjarak tidak jauh dari rumah utama. Rumah yang dia tuju adalah rumah dimana para pelayan serta serta pengawal tinggal. Dengan total lima kamar pelayan beserta kamar lebih besar ditempati madam Leura, dan lima kamar untuk pengawal dimana satu kamar ditempati oleh dua orang sebab total ada sekitar 10 pengawal yang mana semua pengawal yang berjaga dan bertugas disitu merupakan lulusan terbaik dalam angkatan militer. Namun, kamar disitu jangan dikira seperti kamar kos atau kamar kontrakan. Sebab kamar disitu yang ditempati para pengawal bisa dikatakan, lebih besar dan lebar dari pada kamar hotel yang berkelas VIP. Atasan yang sangat memanjakan bawahannya.


~


“Apa kalian harus sampai sejauh ini?” tanya Cyla memberontak. Dimana emosi Cyla benar – benar dibuat main – main oleh bawahan Rega yang satu ini.


“Dengar! Apa aku harus diperlakukan seperti ini? Aku tidak akan kabur meski...” Balas Cyla yang terpotong.


“Anda berniat kabur tepat setelah meleihat kedatangan kami beberapa jam yang lalu.” Sahut Pram cepat tanpa menoleh kebelakang. Memasuki gerbang ‘Gala Home’ yang sudah disambut oleh Rega dan madam Leura, serta June yang merupakan kepala pengawal didepan teras rumah. Jangan lupakan dua bodyguard yang selalu setia berjaga didepan pintu utama rumah ‘Gala Home’ tersebut.


“Oke fine. Aku tidak membantah akan hal itu, dan kita lupakan masalah borgol. Tapi, penutup mata? Oh, Ayolah kenapa kalian harus sampai menutup mata ku?” balas Cyla dengan nada kesal. Mengernyitkan dahi heran ketika telinganya menangkap suara mesin mobil yang sudah di matikan dan suara pintu mobil terbuka yang tepat pintu di sampingnya.


“Apa kita sudah sampai?” tanya Cyla dengan nada penasarannya.


“Iya, nona.” Jawab Pram yang masih setia duduk dikursi kemudi.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kalian harus sampai menutup mata ku?” ucap Cyla kembali mengulang pertanyaan sebelumnya.


“Agar kau tidak kabur dengan mencoba mengahafal jalan.” Jawab Rega tenang, berdiri tepat disamping Cyla. Menatap rindu pada wanita di depannya.


“Astaga! Rega, itukah kau?” sahut Cyla terkejut. Langsung memalingkan wajahnya kearah sumber suara. Mengulurkan tangan yang di borgol, dan merasakan dada bidang Rega tepat di depannya. Didepan mata yang masih tertutup kian penutup mata.


“Iya, ini aku. Aku mencintai mu, Secyla Jellyn. Aku sangat merindukan mu, sayang.” Jawab Rega dengan nada lembutnya. Membelai pipi Cyla perlahan yang terasa dingin di kulit jemari tangannya. Membuat Rega langsung menangkup wajah Cyla drngan kedua tangan hangatnya, sembari mengarahkan agar menatap wajahnya.


“Aku tidak butuh cinta atau rindu mu, Rega. Yang aku butuhkan sekarang lepaskan borgol dan penutup mata sialan ini dari tangan dan kepala ku. Sekarang” balas Cyla dengan nada kentara kesal dan memaksa. Menyodorkan tangannya, berharap itu tepat dia arahkan di wajah Rega.


“Maaf membuatmu kesal, sayang.” Ucap Rega terkekeh geli melihat raut wajah cemberut Cyla, dan mulai membuka kunci borgol di kedua pergelangan tangan Cyla. Dengan memberikan remasan pelan pada jemari Cyla yang membuat sang empunya tersentak terkejut dan menepis kasa tangannya. Bukannya marah, Rega semakin tersenyum geli.


“kau selalu membuatku kesal. Jadi, lakukan yang benar tuan Rega Rahendra.” Sahut Cyla dengan nada yang masih kesal.


“Baiklah, baiklah. Mrs. Rahendra.” Balas Rega dengan senyum mengembang di wajahnya. Mengecup singkat pergelang tangan Cyla yang memerah dan meninggalkan bekas borgol. Sangat sekilas karena lagi dan lagi sang empunya tangan langsung menarik tangannya yang sudah terlepas borgolnya untuk membuka ikatan penutup mata dibelakang kepalanya.


Cyla membuang ikatan penutup mata dengan gerutuan tidak jelas. Namun terlihat semakin terlihat menggemaskan dimata Rega.


“Minggir, kau menghalangi ku. Aku ingin keluar dari mobil yang menyesakkan ini.” Ucap Cyla mendorong dada bidang Rega pelan namun kuat, agar todak menghalangi jalannya keluar. Disusul Gladis yang juga ikut keluar dari mobil dengan pintu mobil satunya.


Setelah Cyla berdiri sempurna, dan pintu mobil Pram sudah tertutup sempurna di segala sisi. Kedua bola mata Cyla membulat sempurna. Menatap sekeliling dengan segala perasaan yang berkecambuk dalam benaknya. Bangunan rumah megah dan mewah dua lantai, dengan cat berwarna yang mana menurut Cyla itu campuran dari warna cokelat, hijau, dan kuning. Terlihat sangat menyatu dengan alam di sore senja. Jendela kaa yang sangat lebar, hingga terlihat sangat jelas isi di dalamnya. Mengalihkan pandangan dari bangunan yang membuatnya pusing, hamparan pohon bunga yang tidak berbunga. Dan hanya berdaun hijau, terasa menyejukan. Sangat memanjakan matanya. Lalu memutar tubuhnya 360 derajat penuh. Pohon pinus tumbuh menjulang tinggi dengan subur mengelilingi rumah tersebut. Cyla merasa terpesona dan sesak disaat yang bersamaan.


“Ini rumah mu?” tanya Cyla tanpa menatap Rega. Matanya masih terkejut dalam pesona yang berada di depannya.


“Iya.” Jawab Rega singkat yang hampir seperti gumaman. Berdiri disamping kiri Cyla, dan mengulurkan tangan kearah pinggang Cyla. Begitupun dengan Glafis yang juga sudah berdiri didamping Cyla dengan sedikit jauh memberi jarak.


‘Dan akan menjadi rumah kita, sayang.’ Tambah Rega dalam hati.


“Kenapa kau meminta Pram untuk membawa ku kesini?” tanya Cyla saat kesadaran sudah mulai menghampirinya kembali. Menatap penuh tanya tepat dinetra mata Rega. Sungguh Cyla sangat memerlukan penjelasan.


“Mulai saat ini kita akan tinggal disini.” Jawab Rega tenang. Tanpa menjelaskan secara rinci pada Cyla makna sesungguhnya dari kata ‘tinggal’ itu sendiri.


“Apa? Tunggu dulu. Memangnya kita saat ini ada dimana? Aku bahkan tidak tahu apa kita masih di Indonesia atau tidak. Dan apa maksud mu dengan kita tinggal disini?” rentetan pertanyaan Cyla lontarkan saat dirinya terkejut mendengar ucapan Rega.


“Aku tidak bisa memberi tahu mu secara rinci dimana kita, sayang. Tapi yang jelas kita masih di negara Indonesia. Dan maksudku adalah kita benar – benar akan pindah dan tinggal disini.” Jawab Rega dengan nada lemah lembut, terdengar merayu ditelinga Cyla. Mengulurkan tangan lainnya untuk membelai pipi Cyla yang langsung ditepis kasar oleh sang pemilik pipi.


“Menetap? Apa kau gila? Tidak, aku tidak bisa dan tidak mau. Aku mau pulang, aku lebih suka tinggal di apartemen mu dari pada disini. Pram antar aku kembali ke apartement Rega...” Sahut Cyla kesal, dan semakin kesal saat dirinya mencoba membuka kembali pintu mobil Pram. Namun, sudah Pram kunci dari dalam.


“Sayang, kau bisa dan kau harus mau.” Balas rega menarik kasar pergelangan tangan Cyla agar menatapnya.


“Aku tidak mau Rega! Bagaimana dengan kuliah ku? Apa kau gila, aku tidak bisa meninggalkan kuliah ku. Dan aku sangat tidak ingin kalau aku tidak bisa sarjana tahun ini.” Sahut Cyla yang sudah mulai menggunakan nada amarahnya. Menghempaskan kasar cengkraman Rega hingga lepas.


“Aku bilang kau bisa dan harus mau. Jangan mendebat ku, Secyla Jellyn.” Sahut Rega dengan nada tajam dan geraman pelan menahan emosi.


“Dan aku akan selalu mendebat mu sampai aku kembali ketempat yang lama.” Balas Cyla dengan nada yang tidak kalah tajam. Menatap tidak suka dengan semua keputusan sepihak Rega. Ucapan Cyla membuat keheningan sesaat melanda mereka.


“June! Gladis! Bawa nona kalian ke kamarnya dan kunci dia dari luar. Pastikan jangan sampai kabur atau keluar tanpa seijin ku.” Perintah Rega dengan nada tegas dan lantang. Yang langsung dilakukan Gladis dan June tanpa sepatah kata pun. Membuat Cyla melotot terkejut dan langsung memberontak yang sia – sia dari cekalan paksa Gladis dan June.


“Rega! Brengsek! Kau tidak bisa melakukan ini kepada ku, Rega! Lepaskan aku!” teriak Cyla yang menggema saat dirinya memasuki rumah mewah nan megah tersebut. Sungguh, andaikan ini tidak terjadi. Cyla dengan senang hati akan menjelajahi seisi rumah disetiap sudut ruangan.


Rega menghela nafas kasar karena merasa waktunya bersama Cyla berkurang akibat semua pemberontakan yang Cyla lakukan. Menepuk dua kali pada pintu penumpang belakang mobil Pram. Membuat Pram mengemudi keluar dari gerbang dan rumah tersebut. Lalu, Rega melangkah masuk diikuti madam Leura di belakangnya.


“Siapkan makan malam, lalu bantu Cyla bersiap – siap. Dia selalu tertidur setelah menangis. Jangan dekati dia saat menangis. Jika ada apa – apa aku ada diruang kerja.” Perintah Rega tegas dan tenang. Mencoba menekan perasaan gemuruh akibat menekan amarah dalam benaknya.


“Sesuai perintah anda, sir.” Balas madam Leura menghentikan langkah dan menunduk hormat sekilas. Lalu kembali berdiri tegap, menatap sendu pada punggung bosnya. Membuatnya menghela nafas lelah, dan berjalan kearah dapur untuk menyiapkan makan malam atasannya itu dengan nyonya barunya.


~


Rega berdiri diambang tangga lantai dua. Menatap jauh kearah pintu kamarnya. Paling ujung, dimana Cyla dikurung atas perintahnya sendiri. Melirik sekilas kearah June dan Gladis yang berdiri dengan sigap menjaga pintu terkunci itu. Sungguh dirinya tidak akan melakukan ini jika Cyla bisa diajak bicara baik – baik. Sayangnya, wanita tercintanya itu lebih memilih bertahan dengan ego pemberontak dalam dirinya. Membuat Rega harua selalu dalam posisi siaga dan waspada. Menghindari semua macam hal yang bisa membuat Cyla pergi dari hidupnya adalah hal yang tepat. Rega sydah berjanji pada dirinya sendiri, tepat dipagi hari. Dikamar hotel. Semua berawal, sentuhan pertama setelah dia pergi meninggalkan Cyla.


‘Karena kalau Cyla tidak bisa menjadi milikku. Maka akan aku pastikan tidak ada yang boleh memilikinya.’ Gumam Rega dalam hati, mengulang janjinya pada dirinya sendiri. Menyeringai, melangkah kembali berlawanan arah dari kamarnya menuju ruang kerjanya yang terletak diujung lorong sebaliknya kamarnya.


*****


To be continue,


See you again ~~~~


Don't forget your vote, rate, and like.


Typo coment guyss...


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!