
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination!
Jangan Lupa Like dan Votenya Guys.
~ Happy Reading ~
*****
Didalam kamar, Cyla sungguh uring – uringan. Paniknya semakin meningkat terutama saat dirinya berusaha menghubungi Rega. Namun, selalu di reject oleh Rega. Hingga panggilan ke limanya, no. Rega tidak aktif. Nomornya Rega tidak dapat dihubungi. Lebih tepatnya Cyla yakin Rega me non – aktifkan ponselnya agar Cyla tidak dapat menghubunginya lagi.
“Rega benar – benar menyebalkan. Bastrad! Bastrad! Bastrad! Awas saja jika dia kembali nanti, kali ini aku benar – benar akan membunuhnya. Persetan siapa dia. Damn! Rega brengsek.” Ucap Cyla menggerutu – Segala makian dan sumpah serapah sudah Cyla ucapkan. Bahkan mungkin jajaran nama binatang yang terhormat sudah Cyla gumamkan didalam hatinya dengan perasaan jengkel tidak bisa dibendung lagi. Dirinya sedari tadi melangkah mondar – mandir didalam kamar. Jangan lupakan – giginya bergemeletuk menggigiti kuku ibu jari kanannya. Sangat ciri khas seorang Cyla jika dirinya dilanda kepanikan. Cyla sungguh tidak bisa dikurung.
Kembali melangkah kearah pintu kamar yang dikunci. Mencoba kembali untuk usaha yang terakhir. Siapa yang tahu mungkin saja dewi fortuna tiba – tiba berada di pihaknya.
“Pram buka pintunya, brengsek! Atau siapa pun yang diluar buka pintunya. Jika kalian ingin mengunciku, kalian bisa mengunci pintu apartementnya saja. Kenapa harus mengunci pintu kamarnya. Pram brengsek, bagamaina jika aku lapar? Pram atau siapa pun yang diluar ku mohon buka pintunya. Atau aku akan meminta Rega untuk memecat kalian. Buka pintu sialan ini! Shit!” Teriak Cyla kesal. Namun, di akhir kalimat, Cyla sangat sial. Cyla mengumpat saat dirinya menendang pintunya, namun yang ada kakinya sepertinya cedera. Mengabaikan rasa sakit yang ada di kakinya. Kepalan tinju Cyla masih setia menggedor – gedor daun pintu di depannya.
“Pram sialan, buka pintunya!” Jerit Cyla putus asa, menggebrak pintunya dengan kedua telapak tangannya hingga merah. Terdiam sejenak, khawatir apakah dirinya ditingkatkan sendiri didalam apartement dengan kondisi dia dikunci didalam kamarnya. Sungguh sangat miris. Menyerah – Menyandarkan punggungnya kedaun pintu. Tubuhnya terkulai lemas dilantai. Menekuk lutunya dan memeluk erat kedua lutunya. Menenggelamkan wajahnya didalam lutunya, hingga air matanya mengalir tanpa seijinnya dari sudut matanya. Menangis dalam diam, siapa tahu dengan menangis gangguan paniknya bisa sedikit mereda.
Merenung dalam isak tangis yang menderai. Cyla merasa bahwa kali ini dirinya melihat sosok Rega yang berbeda. Yang Cyla tahu, Reganya itu lembut dan penuh kasih sayang kepadanya. Cyla tahu kalau Rega tahu bahwa Cyla paling takut yang namanya dikurung apalagi sampai dikunci di dalamnya. Cyla yakin dan sangat ingat kalau dirinya pernah menceritakan tentang hal ini pada Rega. Sebab saat Cyla kecil, Cyla pernah diculik dan dikurung didalam lemari yang dikunci dari luar. Hingga 3 hari lamanya sampai polisi menyelamatkan dirinya. Kejadian tersebut membuat trauma tersendiri untuk Cyla.
~
Sedang dilain tempat, tepatnya dikediaman Rahendra. Rega menatap datar kearah ponselnya yang sengaja ia matikan. Mengabaikan semua panggilan dari wanitanya. Membenarkan pikirannya jika Cyla layak dihukum. Cyla berani mengkhianatinya. Rega merasa benar jika Cyla sudah melakukan kesalahan. Intinya, Rega tidak akan lagi lembut dengan Cyla yang mencoba pergi darinya. Memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Kembali tersenyum, mengalihkan pandangannya kearah Ayahnya yang menatapa penasaran kearahnya dengan sebelah alisnya terangkat. Namun, sepertinya Ayahnya memahami jika Rega sedang tidak ingin membahas masalahnya.
Akhirnya baik Rega maupun Jhoan kemballi fokus kedalam permainan catur mereka. Rega dan Jhoan tengah bermain catur sore hari balkon ruang keluarga dilantai dua. Mereka sudah main satu putaran dengan Rega kalah telak. Sekarang mereka tengah bermain di putaran kedua. Ayahnya – Jhoan menggunakan taktik yang membuat Rega kesal setengah mati. Ayahnya – Jhoan menggunakan taktik dimana ketika Rega menjalankan bidak apa saja. Maka Jhoan pun sama. Seperti saat Rega menjalankan pawn kedepan, Jhoan pun melakukannya. Hal tersebut benar – benar menyulut rasa kekesalan Rega. Sedangkan Jhoan yang melihat putranya kesal, dirinya malah terkekeh senang – Merasakan kepuasan tersendiri. Semakin lama Jhoan semakin tidak bisa menahan tawanya. Hingga ketika Rega memberenggut kesal saat dirinya kembali kalah. Tawa Jhoan langsung meledak.
“Papa mendapat undangan pernikahan, acaranya besok malam. Mama mu pun sama, jadi kami mendapat dua undangan. Undangan Mama mu, kami berniat untuk memberikannya kepadamu. Jadi nanti kau hadir menggantikan Mama mu.” Ucap Jhoan santai setelah dirinya berhasil meredakan tawanya.
“Memangnya siapa yang menikah, Pa?” tanya Rega mengernyitkan dahi bingung. Penasaran – Jemarinya sangat lihai menata bidak catur dengan rapi dan memasukkannya kembali kedalam kotak. Ciri khas Rega yang selalu menata mainanya setelah selesai bermain sejak kecil.
“Seingat Papa yang menikah itu, putri pertama dari Perdana Menteri Adiaksa. Acaranya di Surakarta. Tapi, Papa tidak terlalu ingat siapa nama putrinya. Sebentar, biar Papa coba ingat lagi. Papa yakin pernah mendengar namanya.” Jawab Jhoan, menyandarkan punggungnya kekursi lalu melipat kedua tangannya didepan dadanya. Setelah itu dengan sangat pelan, Jhoan meletakkan jari telunjuk kanannya di dagunya. Bersikap seolah dirinya sedang berpikir keras untuk mengingatnya. Padahal kebenarannya, dirinya tidak benar – benar mengingatnya. Hanya ingin bertingkah dan menunjukkan kalau dirinya masih terlihat keren dan berwibawa. Seorang pria yang tidak sadar kalau dirinya sudah paruh baya. Pria dengan usia 60 tahun. Sangat kekanak – kanakan.
“Tidak usah di ingat, Pa. Lagi pula juga aku tidak ingin tahu. Yang ada Papa terlihat semakin tua jika dahi Papa terus berkerut seperti itu.” Sela Rega dengan nada jengah – Memutar bola matanya malas melihat tingkah Ayahnya yang tidak ingat umur.
‘Bukan Papa ku. Sungguh, aku tidak mengenalnya.’ Tambah Rega bergumam dalam hati. Dirinya masih ingin hidup dengan tidak berani mengucapkannya secara lantang.
“Terserah apa yang ingin kau katakan. Papa ingin menanyakan tentang hubungan mu dan Cyla sekarang, apa kalian baik – baik saja?” ucap Jhoan bertanya. Raut wajahnya seketika langsung berubah serius.
“Kami baik – baik saja, Pa.” Jawab Rega datar. Mengalihkan pandangannya dari tatapan mata menusuk milik sang Ayah. Tidak berniat untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Semakin kau menjeratnya, itu hanya akan membuatnya mati sesak. Tapi, jika kau tidak menjeratnya itu sama saja dengan kau yang harus siap melepaskannya. Namun, jika kau menarik ulur. Itu hanya akan membuatnya kesakitan dalam derita tanpa ujung.” Ucap Jhoan menengadahkan kepala – Memejamkan mata perlahan.
“Papa ingat perumpamaan yang ditawarkan Seneca dalam bagian cara kerja nasib dan kesia – siaan respon dalam buku On Providence?” sahut Rega tenang saat Ayahnya memejamkan matanya. Yang dibalas gumaman oleh Jhoan – Ayahnya.
“Seekor binatang yang berjuang melawan jerat akan semakin terikat. Tidak ada beban yang sekencang apapun yang tidak akan melukai binatang itu jika saja ia ikut menarik bersamanya, alih – alih berjuang melawannya. Cara menghilangkan rasa sakit adalah dengan bertahan dan tunduk jika diperlukan.” Gumam Jhoan dengan mata masih terpejam. Namun, masih dapat terdengar dengan jelas oleh Rega – Putranya.
“Aku tidak berniat sama sekali membuatnya bertahan. Satu – satunya cara agar aku bisa memilikinya di dengan utuh. Maka, membuat Cyla tunduk pada ku adalah keputusan yang aku benarkan untuk aku lakukan.” Balas Rega tersenyum miring – Penuh perasaan licik. Menatap lurus kedepan dengan pikiran sudah memiliki daftar list yang akan dia lakukan dalam benar.
Bagi Rega ‘bertahan’ merupakan hal yang penting, sedangkan ‘tunduk’ merupakan hal yang mungkin. Rega sempat merasa tersesat saat berpikir untuk menerima hal yang penting dan menyangkal hal yang mungkin. Namun, Rega sangat ragu. Kembali berpikir dan hampir kembali tersesat dalam pikirannya sendiri saat membalik dengan menyangkal hal yang penting dan menerima hal yang mungkin. Sayangnya pemikiran tersebut hanya membuat seorang Rega merasa pusing. Semua itu benar – benar membuat Rega menyerah dalam berpikir. Terserah pada akal sehat. Rega hanya akan memutuskan sesuatu yang dia benarkan. Dengan begitu keraguan yang selalu muncul dalam benaknya akan menutup – Mengabaikan dirinya.
Rega sadar dirinya tidak memiliki kekuasaan untuk membuat Cyla bertahan. Namun, Rega sangat mampu untuk melakukan segala cara yang dia benarkan untuk membuat Cyla tunduk padanya. Mengulurkan jemarinya. Dengan lincah jemarinya meraih cangkir dengan rasa pahit hitamnya kopi di dalamnya. Menenggak habis dalam satu kali tegukan. Berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan sang Ayah yang terlihat sangat nyaman dengan dunianya sendiri didalam matanya yang terpejam.
Tepat diruang keluarga, Rega menghampiri Mamanya yang tengah asyik dengan majalah di pangkuannya. Menyadari putranya mendekat, Ibunya – Riana langsung menutup majalahnya dan meletakkan kembali keatas meja didepannya. Berdiri dengan senyum terpatri di wajahnya.
“Sudah ingin pergi?” tanya Riana lembut, merentangkan tangannya untuk memeluk putranya.
“Iya Ma. Ini juga sudah mau malam. Aku khawatir jika Cyla akan mencari ku.” Jawab Rega ramah, membalas pelukan sang Ibu dengan kecupan singkat Rega lakukan dipipi Ibunya.
“Mama sebenarnya ingin agar kau menginap. Tapi, mengingat Cyla akan sendirian di apartement. Mama merasa sangat khawatir, jadi memang lebih bagus jika kau kembali ke apartement untuk menemaninya. Apa mau Mama bungkuskan beberapa makanan untuk makan malam kalian nanti?” ucap Riana sedikit khawatir jika harus membayangkan kalau calon menantu kesayangannya yang sempat gagal, namun akan Riana buay untuk jafi calon mantu lagi bagaimana pun caranya – Khawatir jika Cyla sendiri di apartement putranya.
“Oh, undangan itu. Ini, jangan lupa kau juga harus membawa Cyla. Mama ingin mengenalkan Cyla sebagai calon menantu keluarga Rahendra keteman – teman Mama disana.” Jawab Riana meraih undangan miliknya yang terletak di atas meja tepat disamping majalah. Menyerahkan undangan tersebut ke putranya – Rega. Yang disambut biasa saja oleh Rega tanpa banyak bicara.
“Aku mengerti, Ma. Kalau begitu aku pergi dulu.” Balas Rega tersenyum, kembali mengecup singkat pipi kiri Ibunya yang dibalas dengan gumaman.
Rega kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah megah milik orang tuanya. Pelayan yang dia lewati selalu menunduk hormat, namun tidak ada yang berani menyapa dirinya sepatah kata pun. Bertepatan diakhir anakan tangga teras depan, Rega mendapati Pram dan June sedang berjalan melangkah kearahnya. Membuat Rega seketika langsung menghentikan langkahnya. Pram melangkah dengan wajah datar ciri khasnya dengan map coklat digenggaman tangan kanannya. Sedangkan June yang sudah mengganti pakaiannya dengan setelan jas hitam melangkah disamping Pram dengan wajah dingin tak tersentuh dan tubuh tegap layaknya bodyguard pada umumnya. Ketika Pram dan June sampai didepan Rega, mereka serentak menunduk hormat yang ditanggapi gumaman oleh atasan mereka – Rega. Pram langsung menyerahkan map coklat yang ada di tangannya kepada Rega. Yang langsung Rega terima dengan tenang tanpa banyak bersuara untuk bertanya isi didalam map tersebut.
“Bagaimana?” tanya Rega datar – Menatap dengan raut wajah yang sulit diartikan kearah Pram.
“Nona Cyla sudah kami kurung didalam kamar sesuai dengan perintah anda, sir. Memang sempat memberontak, namun kami sudah menanganinya tanpa menyakitinya.” Jelas Pram paham arah pertanyaan bosnya – Rega.
Rega mengangguk paham – Kembali melangkah dengan Pram dan June dibelakang dirinya, mengikutinya.
“Besok aku akan ke Surakarta untuk acara pernikahan. Pesankan kamar hotel VVIP untuk kami. Hanya satu kamar, siapkan juga gaun mahal untuk Cyla yang tertutup. Begitu juga dengan sepatunya.” Ucap Rega dengan nada memerintahnya – Berhenti trpat disamping pintu mobil kemudi miliknya.
“Baik, sir” Balas Pram tenang. Tanpa membantah atau pun bertanya. Ikut berhenti melangkah dibelakang Rega, dengan June dibelakang dirinya.
“Tetap awasi Adam, aku sudah mulai curiga dengan dirinya. Beberapa kali pertemuan dewan direksi dia terlihat tidak hadir. Dan satu lagi, awasi juga sekretarisnya.” Ucap Rega kembali memerinta.
“Saya mengerti, sir.” Balas Pram kembali, menundukan kepala paham dan hormat saat Rega masuk kedalam mobilnya.
Pram dan June mengangkat kembali kepalanya saat dirasa mobil Rega mulai menjauh keluar dari gerbang kediaman Rahendra. Membalikkan tubuhnya menatap datar kearah June.
“Suruh bawahan mu untuk keluar dari apartement sekarang juga. Minta mereka untuk kembali mengawasi apa saja yanng dilakukan tuan Adam, dan suruh bawahan mu yang lain untuk mengawasi gerak – gerik Sekretarisnya. Ingat baik – baik, namanya Julia Rahayu. Laporan kepada ku jika ada gerakan dari mereka yang terlihat mencurigakan. Kau mengerti?” ucap Pram dengan nada pelan namun tegas yang masih sanggup didengar oleh anak buahnya – June.
“Saya mengerti, bos.” Balas June ikut dengan nada lirih namun tegas. Undur diri, melangkah menjauh untuk menghubungi beberapa anak buahnya. Saat dirasa cukup jauh dari bosnya – Pram, June langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menghubungi Indra agar dia dan Wana keluar dari apartement milik bos besarnya sekarang juga. Lalu menghubungi anak buahnya yang lain untuk tetap mengawasi semua kegiatan dari Adam, dan menghubungi bawahannya yang lain lagi untuk mulai bergerak mengawasi gerak – gerik sekretaris tuan Adam yang bernama Julia Rahayu.
Sedangkan Pram hanya berdiam diri, menatap menerawang kearah langit senja yang mulai menjemput malam. Suara kicauan burung berterbangan dilangit yang kembali ke sarang mereka terdengar indah di telinganya. Menghela nafas, tahu diri bahwa tidak bisa membantu nona Cyla. Mungkin nona Cyla adalah wanita yang paling dekat dan yang paling sering dia lihat. Namun, nona Cyla juga adalah wanita yang tidak akan bisa dia sentuh. Menyentuh nona Cyla tanpa ijin dari bosnya – Tuan Rega. Sama saja dengan menguburkan diri sendiri karena berani menyinggung tuan Rega. Memejamkan mata – semilir angin senja terasa sangat hangat dan sejuk secara bersamaan dikulit wajahnya. Pikirannya terbengkalai dengan segala peperangan batinnya. Menyerah adalah hal yang tepat untuk Pram lakukan sekarang dan ke depannya.
~
Rega menatap nanar pintu di depannya. Dirinya sudah sampai sejak 40 menit yang lalu. Namun, matanya menatap betah kearah daun pintu kamarnya. Sangat jelas jika Rega harus menjauh dari Cyla untuk beberapa saat. Dirinya pasti akan lepas kendali dengan segala Kecemburuan nya jika harus bertatap muka dengan Cyla sekarang. Hatinya tercubit sakit saat tidak ada satupun suara dari arah dalam kamar. Menghela nafas – Menstabilkan perasaan dengan langkah pelan untuk membuka penghalang diantara dirinya dan Cyla. Rega mengernyit heran ketika mendapati lampu kamarnya masih dalam keadaan mati – Gelap gulita. Menutup kembali pintunya dan menekan saklar lampu yang berada didinding samping pintu. Hatinya terenyuh sakit melihat wanita tercintanya tengah tertidur pulas diatas ranjang. Meringkuk tepat ditengah ranjang tanpa bantal dibawah kepalanya dan tidak ada selimut untuk menutupi tubuhnya. Kembali melangkah dalam diam, tidak ingin membangunkan Cyla. Lagi – lagi langkahnya harus terhenti saat dirinya tidak sengaja menginjak sesuatu. Ponsel milik Cyla yang tergeletak mati dilantai. Meraihnya dan mencoba menghidupkan ponsel Cyla, hanya gambar low battery dilayar ponsel. Meletakan ponsel Cyla diatas nakas dan menyambungkannya ke charger agar mengisi battery ponsel Cyla. Dengan undangan pernikahan disamping ponsel Cyla. Naik keatas ranjang dengan perlahan, lalu membenarkan posisi tidur Cyla menjadi terlentang dengan nyaman tanpa membangunkan sang empunya tubuh. Menarik selimut hanya untuk menyelimuti Cyla.
Menatap wajah bengkak Cyla yang tengah tertidur pulas karena Rega yakini Cyla terlalu lelah menangis. Mengecup lembut penuh kasih sayang kedua mata bengkak Cyla, lalu dahi yang sedikit tertutup helaian anak rambut, dan juga hidung merah Cyla. Tersenyum lembut dengan belaian halus Rega berikan dikepala Cyla. Matanya tidak akan pernah lelah dan bosan hanya sekedar untuk menatap wajah dambaannya tanpa peduli bagaimana keadaannya.
‘Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk yang satu ini, sayang. Papa benar dan aku tahu, seberapa keras aku mencoba untuk menjelaskan alasan kenapa aku kabur dan meninggalkan mu. Kau tetap tidak akan pernah menerima diriku lagi. Aku merasakannya, sayang. Rasa mu terhadap diriku mulai luntur. Aku sangat sadar beberapa bulan terakhir kau bertahan disisi ku hanya karena sikap profesional mu. Persetan dengan kontrak kesepakatan kita, sayang. Aku tidak pernah mengijinkan dirimu pergi dariku. Sejak dulu dan selamanya. Aku pantang mengijinkan pria manapun menyentuhmu. Menghukum mu adalah hal benar yang harus kau rasakan sayang, karena berani menyinggung titik kecemburuan ku.’ Gumam Rega dalam hati, menelusuri setiap keindahan wajah yang memanjakan matanya.
“Wanita ku maka hanya akan menjadi milikku. Hanya untuk diriku, selamanya.” Ucap Rega lirih – Berbisik tepat ditelinga Cyla. Lalu melarikan bibirnya untuk mengecup singkat pada sudut bibir Cyla yang terasa sedikit lembab di bibirnya.
Melangkah pergi keluar kamar setelah menyalakan lampu tidur. Menatap sejenak dengan tatapan memuja kearah Cyla tertidur pulas sebelum kembali keluar menutup pintu kamar dengan sangat perlahan. Bersandar pada daun pintu dibelakangnya. Menghela nafas lega karena berhasil menekan perasaan cemburu yang ada didalam hatinya.
Didunia tidak ada manusia dengan real face. Terutama untuk Rega. Rega berusaha mati – matian untuk menutupi sikap ‘bahaya’ nya kepada Cyla. Dirinya hanya mengekspos satu kali kesalahan yang Rega lakukan, yang sayangnya kesalahan tanpa ada kata maaf setelahnya. Dan, untuk pertama kalinya. Rega mengungkap sikap ‘bahaya’ miliknya kepada Cyla. Menghukum Cyla – Wanitanya dengan menekan sedikit rasa trauma yang Cyla miliki. Sebuah awal dari sikap ‘bahaya’ yang tanpa sadar menuntun Rega ke lembah tanpa kendali emosi.
~
Didalam ruang kerja mata Rega menajam, menatap lembaran data berisi informasi yang Adam – Sahabatnya lakukan dalam diam tanpa sepengetahuannya. Rahang Rega mengeras, cengkraman jemarinya disetiap lembar hampir membuat robekan – Meninggalkan jejak kusut pada pinggiran kertas. Dilembar tersebut tertera dengan jelas jika tiga cabang dari Jellyn Hotel milik mendiang calon Ayah mertuanya berhasil diakusisi oleh Adam. Namun, yang membuat Rega geram adalah saat dirinya tahu dia tidak bisa berbuat apapun. Adam membeli keseluruhan saham pada ketiga cabang hotel tersebut tanpa menggunakan uang perusahaan ataupun uang pendapatan dari jabatan yang dimiliki Adam di ‘R Company’. Adam mengakusisi ketiga cabang hotel tersebut tanpa embel – embel nama perusahaannya. Melainkan dengan nama ‘Mahesa’ di belakangnya.
*****
To be continue,
See you again ~~~
Don't forget your Vote, Like, and Coment.
Typo coment guyss.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!