CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 33



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination....


Jangan lupa like dan rate nya guyss....!


~ Happy Reading ~


*****


Play list_by :


Jessie J - I Got You (I Feel Good)_Soundtrack Fifty Shades Freed


...----------------...


Jam sudah menunjukan waktunya makan malam. Madam Leura tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk sang nona sekaligus untuk menyambut kepulangan bosnya yang ada kemungkinan akan tiba sebentar lagi.


Dilain tempat, tepatnya di rumah asrama pelayan. Cyla tengah melangkah dengan tegas diikuti June dan Gladis di belakangnya. Disetiap lorong antar kamar para pelayan, semua yang melihat kedatangannya langsung berbaris diluar pintu kamar dan menunduk antara hormat disertai rasa takut. Terutama pakaian yang Cyla kenakan seolah mendukung status sosialnya di ‘Gala Home’ serta membuat para pelayan terintimidasi.


Kemeja dengan warna merah maroon dan rok pendek kotak –kotak. Lalu tidak lupa bagian luar Cyla juga mengenakan A –Line Coat. Sebuah mantel dengan siluet garis ‘A’ yang melebar menuju kelim bawah. Desaign manlel seperti ini sempat digemari semua kalangan wanita sampai akhir abad ke -20, karena penampilannya yang membuat tubuh terkesan sangat ramping meskipun terbuat dengan bahan tebal sekalipun.


Mata Cyla menelisik setiap wajah para pelayannya satu persatu. Hingga tatapannya terkunci pada satu pelayan yang wajahnya dia ingat sekalipun sedang menunduk. Pelayan yang dia cari berdiri paling ujung pada baris kanannya. Hendak melangkah, namun langkahnya terhenti akibat salah satu pelayan yang berdiri tepat disamping kanannya mendekat.


“Maaf sebelumnya, nona. Anda terlihat sangat marah, apa kami melakukan kesalahan?” tanya pelayan yang mendekati Cyla, namun tidak berani menatap mata Cyla.


“Tentu. Sayangnya bukan dengan mu.” Jawab Cyla dingin, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah tertunduk pelayan yang dia cari.


“Nona, kesalahan apa..” ucap kembali pelayan yang berdiri disamping nonanya, namun terjeda.


“Seret pelayan paling ujung baris kanan!” perintah Cyla tegas dengan nada yang meninggi membuat semua pelayan langsung mengangkat kepala mereka, penasaran apa yang terjadi dan siapa yang dia maksudkan.


“Baik, miss.” Ucap June dan Gladis bersamaan, langsung melaksanakan tugasnya.


Apa yang Cyla lakukan sungguh membuat kehebohan di ‘Gala Home’. Terutama saat dirinya sampai di dalam ‘Gala Home’ tepatnya di lantai satu. Semua pelayan juga ikut masuk khawatir dan gelisah serta ketakutan melihat rekan mereka diseret paksa oleh bodyguard pribadi sang nona. Begitupun dengan madam Leura yang terkejut dan langsung melangkah mendekati nonanya dengan langkah tergesa –gesa ketika melihat sang nona masuk dengan kedua pengawalnya menarik kasar salah satu orangnya. Belum lagi madam Leura kembali di buat syok dengan semua pelayan yang juga ikut masuk ke dalam ‘Gala Home’ dengan raut wajah kecemasan.


“Miss, ada apa sebenarnya?” tanya madam Leura panic.


“Lepaskan dia!” kembali Cyla membuat perintah yang langsung di kerjakan oleh June dan Gladis.


June dan Gladis melepaskan si pelayan tersebut dengan cukup kasar hingga membuat si pelayan jatuh tersungkur tepat di depan kaki Cyla. Melihat hal itu, Cyla langsung mendorong pelayan tersebut dengan kaki kanannya hingga terjungkal ke belakang. Lalu Cyla mundur beberapa langkah. Pelayan lain yang melihat itu hanya menjerit terkejut dan ada beberapa yang menangis. Sedangkan madam Leura hanya terdiam terkejut melihat amarah sang nona. Berbeda dengan June dan Gladis yang berdiri tegap beberapa langkah dibelakang sang nona. Mereka berdua diam dengan wajah datar, karena mereka tahu akar masalah dari amarah nonanya yang meledak.


“Nona, kenapa anda melakukan ini? Apa.. Kesalahan apa yang sudah saya perbuat sampai menyinggung nona?” tanya si pelayan ketakutan dengan tubuh gemetar dan matanya yang memerah dengan air yang mengalir dari sudut matanya. Menatap takut pada nonanya.


“Siapa nama mu?” tanya Cyla dengan nada sarkasnya. Melayangkan tatapan tajam dan menusuk pada pelayan yang terduduk dilantai tidak jauh dari kakinya.


“Lidya, nona.” Jawab pelayan tersebut gemetar, meneguk ludah gugup.


“Lidya. Nama yang cantik sesuai dengan wajah cantik mu.” Ucap Cyla sinis. Membuat semua kebisingan menjadi hening seketika.


“Kau tahu apa kesalahan mu?” ucap Cyla kembali bertanya dengan nada tajamnya, menatap nyalang pada pelayan yang bernama Lidya itu. Melipat kedua tangan didepan dadanya.


“Ti... tidak nona.” Jawab Lidya terbata, kembali meneguk ludah takut. Sekujur tubuhnya dibuat merinding akibat tatapan menusuk sang nona. Belum lagi rasa nyeri akibat dorongan kaki nonanya yang mengenai bahu kirinya. Meski tidak luka dan berdarah tapi Lidya yakin pasti akan memar.


“Mengejutkan. Sangat mengejutkan.” Seru Cyla sinis, tidak percaya pada keberanian pelayan yang memilih untuk tetap berbohong.


“Tadinya aku akan mengampuni mu jika kau langsung sadar akan kesalahan mu. Tapi, kesempatan itu hangus seketika dalam keberanian mu bertahan. Menyedihkan.” Tambah Cyla dengan nada mengejek. Membuat pelayan yang bernama Lidya itu langsung menundukan kepala, menangis ketakutan dalam diam.


“Miss, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya madam Leura, masih tidak memahami penyebab amarah sang nona.


“Madam akan segera mengetahuinya, tapi bukan dari ku. Melainkan langsung dari mulut orang ‘mu’.” Jawab Cyla menekankan kata ‘mu’ pada madam Leura, tanpa mengalihkan pandangannya dari pelayan yang bernama Lidya.


“Baiklah, miss.” Balas madam Leura. Menyerah, dan lebih memilih untuk menunggu. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendapat anggukan kepala sebagai jawaban dari sang nona.


“Penghianat atau mata –mata, tell me who are you?” tanya Cyla tajam, geram melihat Lidya hanya diam menunduk.


Sedangkan yang ditatap tajam, Lidya dibuat terkejut mendengar pertanyaan yang di layangkan oleh nonanya. Seketika dia sadar apa yang membuat sang nona marah besar.


‘Aku ketahuan.’ Gumam Lidya dalam hati. Ketakutan, mencengkram sisi seragam piayama tidurnya kuat –kuat. Dirinya benar – benar di landa ketakutan.


Melihat keterdiaman Lidya yang cukup lama, semakin membuat Cyla menggeram marah. Sedangkan madam Leura dan para pelayan lainnya terdiam dalam kebingungan. Tidak memiliki pilihan lain, Cyla berbalik dan melangkah. Berhenti tepat di samping June, membuat June mengernyit dahi bingung. Namun, seketika June langsung membelalakan kedua matanya saat sadar nonanya mengambil pistol di sakunya. Sempat ingin melayangkan protes namun langsung June urungkan, terdiam ketika nonanya melotot kearahnya. Membuat June tidak punya pilihan lain selain diam dengan hati dan pikiran yang gelisah khawatir akan tindakan sang nona selanjutnya. Menatap punggung nonanya yang kembali melangkah mendekat kearah Lidya.


“Miss...” Panggil madam Leura terkejut melihat nonanya membawa senjata api di tangan kanannya. Sayangnya panggilan itu di abaikan oleh sang nona.


Pelayan lain kembali dibuat menjerit ketakutan, saat matanya ikut menangkap nonanya berani membawa pistol di tangannya. Sedangkan Lidya benar –benar ketakutan melihat hal itu. Terutama saat Cyla berjongkok tepat di depannya.


“Nona, saya mohon ampuni saya. Saya akan mengatakan segalanya.” Gumam Lidya lirih, menatap memohon pada sang nona. Berniat menggenggam tangan nonanya yang bebas, namun langsung di tepis kasar oleh sang nona.


“Aku yang melakukannya, atau kau sendiri?” tanya Cyla dingin, menatap menusuk tepat pada netra mata pelayannya –Lidya.


“Saya.. saya penghianat, nona.” Ucap Lidya lantang. Namun, sekujur tubuhnya bergetar ketakutan.


Membuat madam Leura membulatkan kedua matanya terkejut. Tidak percaya jika wanita yang notabenya seorang ibu tunggal dia bawa ke ‘Gala Home’ untuk menjadi pelayan adalah seorang penghianat. Mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya kuat –kuat.


Sedangkan Cyla tersenyum miring. Berdiri, dan kembali mundur beberapa langkah. Lalu menarik slide pistol pada genggamannya. Hal yang semakin membuat Lidya kalang kabut, dan merangkak langsung memeluk erat kaki kanan nonanya.


“Nona, saya di ancam. Nyonya Debora bilang akan membunuh putri saya jika saya tidak bisa membawa dokumen yang berisi kepemilikan tanah milik mendiang Jenderal Putra Hizam. Tanah tersebut sudah dibeli oleh tuan muda Rega dulu saat mendiang Jenderal masih hidup. Nona, putri saya baru berusia 5 tahun. Dia lahir tanpa seorang ayah. Hanya memiliki saya di dunia ini. Dan sekarang putri saya berada dalam genggaman nyonya Debora. Saya yang hanya orang biasa dan seorang Ibu bisa apa, nona. Tolong maafkan saya.” Ucap Lidya berseru disela –sela tangisnya yang menderu. Benar –benar berharap sang nona mau memaafkan kesalahan dirinya dan memberinya kesempatan.


Sedangkan Lidya langsung melepaskan pelukannya pada kaki sang nona dan menghapus kasar sisa air mata di pipinya. Berdiri dan menatap yakin pada nonanya. Sadar jika tidak ada pilihan lain selain menceritakan segalanya.


“Iya, nona. Nyonya Debora bilang jika mendiang Jenderal Putra Hizam menjual tanah itu pada tuan Rega tanpa persetujuannya. Dan surat wasiat yang dibacakan oleh pengacara mendiang Jenderal Putra Hizam tertulis jika tanah yang berada dalam genggaman tangan tuan Rega Rahendra diwariskan pada putrinya, nona Sara Hizam. Nyonya Debora juga mengatakan kalau sebenarnya dia sudah berusaha membeli kembali tanah tersebut, namun dengan harga awal. Dan tuan Rega tidak memberikannya karena tuan Rega membelinya 5x lipat dari harga awal. Dan tuan Rega juga tetap tidak akan menyerahkan tanah tersebut sekalipun akan dibeli 10x lipat dari harga awal. Itulah alasan kenapa saya berkhianat, nona.” Jawab Lidya panjang lebar. Dadanya terasa sesak menunggu reaksi dari sang nona.


Semua dibuat menganga terkejut mendengar penjelasan dari Lidya. Berbeda dengan Cyla yang tidak terkejut dan terdiam berpikir. Lalu, menghela nafas pelan. Hendak mengucapkan sepatah kata, namun disela oleh kedatangan orang yang merupakan tuan rumah. Rega Rahendra.


“Ada apa ini?” tanya Rega dengan nada meninggi. Tidak suka peraturannya dilanggar dengan keberadaan para pelayan di ‘Gala Home’ ketika matahari terbenam. Melayangkan tatapan tajam satu persatu, hingga tatapannya terkunci pada mata Cyla yang juga menatapnya sekilas. Dan juga dengan keberadaan Pram tepat di belakannya.


“Dengar, Lidya. Janjiku tetaplah sebuah janji. Putri mu akan baik –baik saja. Kupastikan hal itu.” Ucap Cyla datar dengan nada serius.


Disaat semua fokus pada ucapan Cyla. Rega dibuat salah fokus dengan adanya senjata api dalam genggaman Cyla, wanitanya. Cyla memegang senjata api tersebut tanpa gemetar sama sekali. Cyla seketika terlihat berbeda di mata Rega. Berani dan menakutkan secara bersamaan. Bukan seperti Cyla yang Rega inginkan.


“Sungguh, nona? Terima kasih.” Sahut Lidya menggenggam tangan kiri nonanya dengan senyum tulus di wajahnya.


“Tentu.” Balas Cyla tersenyum manis. Namun, senyum tersebut hanya sekilas. Sebelum kembali melayangkan tatapan mematikan pada Lidya. Membuat Lidya seketika itu juga melepaskan genggamannya. Cyla melirik sekilas pada tangan Lidya yang sudah lepas dari jemarinya, lalu melangkah maju dan mensejajarkan wajahnya tepat pada telinga Lidya.


“Sama hal nya dengan janji ku. Penghianat tetaplah penghianat. Dan aku sangat membencinya. Hukuman harus tetap kau hadapi. Jadi pilih, bagian tubuh mana yang ingin kau merasakannya?” ucap Cyla dingin tepat ditelinga Lidya. Namun matanya menatap tajam netra Rega. Membuat Rega diam tidak berkutik sekalipun.


Tanpa sadar sikap dan ucapan Cyla membuat seisi penghuni lantai 1 ‘Gala Home’ meneguk ludah gugup dan ketakutan. Tidak terkecuali Rega dan Pram yang kembali dikejutkan oleh sisi lain Cyla.


“Baiklah, nona.” Ucap Lidya setuju. Ikut meneguk ludah yang entah sudah berapa kali karena perasaan gugup kegelisahan.


Mendengar jawaban Lidya, si pelayan tersebut membuat Cyla langsung menarik kembali kepalanya dari telinga si pelayan dan berdiri tegap didepan si pelayan dengan senyum di wajahnya.


“Jadi?” tanya Cyla singkat, mengangkat sebelah alisnya menunggu.


“Kaki. Kaki kiri saya, nona.” Jawab Lidya mencoba untuk kuat. Dirinya tahu dan sadar bahwa dia sudah salah serta pantas mendapatkan ini semua.


“Keputusan mu. Akan aku lakukan.” Ucap Cyla membaut semua pasang mata membelalak tidak percaya.


“Cyla! Apa kau sudah gila?” teriak Rega yang di abaikan oleh si pemilik nama.


“Miss, biarkan saya melakukan sesuatu sebelum anda menembaknya?” tanya madam Leura menatap tajam pada Lidya yang langsung membuat Lidya kembali tertunduk kepalanya.


“Tentu, madam.” Jawab Cyla singkat. Kembali mundur beberapa langkah sedikit agak menjauh.


Mendengar persetujuan dari sang nona, madam Leura langsung melangkah tegas dan berdiri tepat di hadapan Lidya.


Plakk!!!


Madam Leura menampar keras pipi kanan Lidya. Hingga kembali membuat Lidya menangis kesakitan dalam diam. Bahkan dirinya tidak berani menyentuh bekas tamparan dari kepala pelayan di depannya. Hening sesaat, hingga madam Leura kembali ketempat dia berdiri sebelumnya. Memberi ruang untuk nona Cyla melakukan hukuman selanjutnya pada Lidya.


Menarik nafas dalam, Cyla mengarahkan pistolnya dan membidiknya tepat di kaki Lidya sesuai permintaan. Memegang kuat dengan kedua tangannya. Mengambil posisi yang tepat untuk menembak. Lalu bersiap –siap menekan pemicunya.


Doorrr!!!


Satu peluru melesat tepat sasaran. Membuat Lidya langsung jatuh tersungkur kelantai dengan darah yang mengalir dari kakinya. Suara tembakan yang memekan telinga mmebuat para pelayan sampai menuti telinga mereka dengan tangan dan memejamkan mata. Sedangkan Rega, Pram, madam Leura, June dan Gladis hanya memejamkan mata. Seolah kejadian tersebut bukanlah ha lasing bagi mereka.


Semua kembali membuaka matanya saat mendengar erangan tangis kesakitan dari Lidya. Beberapa pelayan langsung mendekat kearah Lidya dan membantunya memapah keluar dari ‘Gala Home’ kembali menuju rumah asrama pelayan di belakang. Diikuti dengan pelayan lainnya. Rega menatap nanar darah yang berececeran di lantai.


Setelah semua pelayan keluar, semua pasang mata menatap terkejut dan tanda tanya pada Cyla. Cyla yang di tatap seperti itu hanya bersikap acuh tidak peduli. Memilih untuk mengeluarkan amunisi atau sisa peluru dari dalam magazen yang berada didalam genggaman atau grip pistol dengan cekatan. Lalu, membuang keduanya dilantai.


Hal yang membuat Rega terkejut melihat betapa cekatannya Cyla dalam mengoperasikan senjata api. Sungguh sesuatu hal yang jauh dari kata wanita dalam bayangan Rega. Begitupun dengan yang lainnya. Mereka merasa sesak nafas, tidak percaya mengetahui sang nona mampu mengendalikan senjata api. Sangat –sangat luar biasa dan mengerikan dimata mereka.


*****


MODEL PAKAIAN YANG DIKENAKAN CYLA



¬


SENJATA API GLOCK MEYER 22



¬


SECYLA VICTORIA JELLYN



...----------------...


To be continue,


See you again ~~~~


Don't forget your vote, rate, like and coment!


Typo coment guyss....


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!