
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination...
~ Happy Reading ~
*****
Dari dulu sampai sekarang seorang Rega Rahendra, selalu percaya jika bahagia itu sederhana. Tepat seperti apa yang sedang dia rasakan. Tidak perduli apa yang akan terjadi kedepannya, menatap wajah Cyla dalam bentuk nyata adalah hal paling membahagiakan dalam hidupnya saat ini.
Rega melangkah kedepan, menarik tangan Cyla dengan lembut yang masih terdiam seribu bahasa akibat rasa terkejutnya. Membawa Cyla masuk kedalam kamar, tidak lupa kembali menutup dan mengunci pintu kamar hotel. Mendorong Cyla, menuntunnya agar masuk lebih dalam tepat didepan ranjang yang sudah dihias Rega dengan taburan kelopak bunga mawar merah di atasnya. Mengambil tas milik Cyla, dan meletakannya di sofa. Memutar tubuh Cyla agar menatap ranjang hotelnya. Rega berdiri tepat dibelakang Cyla, memeluk erat tubuh Cyla dengan dagu berada di bahu Cyla.
"Bukankah cantik? Aku yang menghiasnya sendiri. Sangat indah, seperti dirimu. Aku masih ingat sayang, kau sangat suka bunga mawar dan bunga tulip. Hanya saja terlalu beresiko serangga jika menggunakan bunga tulip. Kalau kau ingin melihatnya, kita bisa berlibur ke Belanda. Sama seperti dahulu, sayang." Ucap Rega dengan nada penuh kelembutan seolah sedang mengeluarkan bujuk rayuan kepada Cyla, atau lebih tepatnya bisik Rega tepat di telinga Cyla.
"Aku membencinya." Jawab Cyla, dengan nada dinginnya. Menatap datar kearah kumpulan kelopak bungan mawar yang bertaburan dengan indah diatas ranjang hotel. Masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"Kalau begitu, katakan padaku apa yang kau suka? Aku akan..." balas Rega terpotong.
"Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan mu. Aku sangat membencinya." Sahut Cyla cepat, masih bertahan dengan nada dingin dan raut wajah datarnya.
"Sayang, kau tahu? benci dan cinta itu beda tipis. Semakin kau membenciku. Semakin aku yakin, kalau kau sangat mencintai ku." Ucap Rega masih dengan nada lembutnya tepat ditelinga Cyla, diakhiri dengan kecupan singkat di leher bawah telinga Cyla.
"Aku merindukanmu. Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini juga, sayang. Aku mencintaimu, sayang. Aku benar-benar sangat mencintai dirimu, Secyla Jellyn." Tambah Rega, sedikit memajukan wajahnya dan memberikan kecupan singkat di pipi kanan Cyla. Merasakan kebahagiaan yang melimpah saat tubuhnya tanpa bisa dikendalikan menyukai setiap sentuhan lembut yang dia lakukan pada Cyla.
"Tidak bisakah kau enyah dari hidupku?" tanya Cyla dengan nada suara yang terdengar berbeda. Nada suara serak yang tertahan. Sebisa mungkin tidak ingin tergoda oleh rangsangan yang Rega berikan.
"Kau tahu itu tidak mungkin. Aku yakin kau sangat kau merasakannya dan sangat mengetahui kalau aku tidak akan bisa melakukannya." Jawab Rega selembut mungkin kemudian menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Cyla, menghirup penuh aroma favoritnya. Aroma strawberry. Aroma yang dia rindukan pada tubuh Cyla.
'Baiklah, Rega. Jika kau menggunakan jalan ini untuk mengikat ku. Maka, aku juga akan menggunakan jalan ini untuk lepas dari jerat peluk mu.' Ucap Cyla meyakinkan dirinya sendiri, dalam hati.
Menghela nafas lelah, memutar tubuhnya kebelakang. Membuat Cyla berdiri tepat di hadapan Rega. Mendongakan wajahnya sedikit agar dapat menatap wajah Rega dengan jelas. Jantungnya berdebar dengan ritme yang tidak tenang, namun Cyla tidak memungkiri bahwa dirinya seketika menyukai debaran jantungnya. Sedikit tersentak saat menatap wajah Rega dari dekat untuk pertama kalinya setelah sekian lama mereka berpisah. Sedikit atau mungkin sedikit lebih banyak tidak menyukai pemandangan yang ada di depannya. Sangat cemburu melihat wajah dan tubuh Rega yang kian sempurna dilihat setelah perpisahan mereka. Sangat menyakitkan kala pikirannya menerawang bagaimana bisa Rega baik – baik saja padahal dia yang meninggalkannya. Sangat membenci dengan sikap Rega yang sangat tidak tahu diri berani muncul di hadapannya dengan keadan yang sangat baik. Dewi batinnya berteriak, benar – benar marah karena hanya dirinya yang menderita. Karena hanya dia yang menanggung segalanya. Seolah dirinya lah yang dihukum atas semua kesalahan yang dilakukan oleh Rega. Benaknya memaki tanpa terkendali, sungguh tidak adil.
"Jadi kau akan menyewaku bagaimana? satu malam, atau kesepakatan kontrak?" tanya Cyla, mencoba untuk tetap tenang. Menahan emosi adalah salah satu dasar utama bersikap profesional.
"Ini pekerjaanku. Jadi kau tenang saja, aku pasti akan profesional." balas Cyla dengan nada yakin, sedikit lebih banyak menekankan kata ‘Profesional’.
Hal tersebut tidak tahu mengapa, sontak membuat Rega menggeram tertahan tidak suka ketika mendengar kata ‘Profesional’ meluncur keluar dengan mulus begitu saja dari bibir mungil Cyla – Wanitanya.
"Madam Miranda bilang, kau hanya butuh kesepakatan kontrak selama satu tahun. Kalau begitu kita lakukan sesuai keinginan mu, bagaimana?" tanya Rega lembut – Menetralkan emosi agar tidak menyulut ketidak sukaan Cyla, membelai pipi Cyla dengan penuh kasih sayang.
"Tentu. Aku tidak masalah." jawab Cyla mencoba tersenyum, bagaimanapun saat ini Rega adalah kliennya. Bersikap ramah adalah salah satu dasar utama juga dalam bekerja.
'Hanya satu tahun. Aku hanya harus bersabar. Setelah itu aku bisa lepas darinya.' Ucap Cyla tersenyum dalam hati.
"Kalau begitu aku menginginkan dirimu sekarang, sayang." seru Rega bahagia tidak dapat menahan senyum di bibirnya – Menyunggingkan senyuman merekah di wajahnya, mengangkat tubuh mungil Cyla didepan.
Hal yang dilakukan tiba-tiba oleh Rega, spontan membuat Cyla mengalungkan tangannya di leher Rega. Rega meletakkan tubuh Cyla dengan sangat hati-hati. Dan langsung mengambil posisi menindih diatas Cyla. Tanpa sadar hal tersebut membuat Cyla merinding. Kegelisahan, rasa panik, khawatir seketika melanda dirinya. Bergerak tidak nyaman dibawah kungkungan seorang Rega. Mengetahui hal tersebut, Rega langsung membelai pipi Cyla dengan lembut, menggenggam pergelangan tangan Cyla diatas kepala Cyla. Mencoba menenangkan Cyla dengan sedikit cara yang salah – Pemaksaan yang tidak bisa Cyla hindari akibat kedua tangannya terkunci oleh genggaman jemari tangan Rega.
"Akan kupastikan kau menyukainya, sayang." ucap Rega lirih tepat didepan bibir Cyla yang hanya berjarak beberapa centimeter saja. Namun, cara pengucapan Rega terdengar ditelinga Cyla lebih seperti sebuah ancaman, hal tersebut membuat Cyla memalingkan wajah tidak suka – Merasa dirinya seperti akan diperkosa saja. Mengabaikan raut wajah Cyla, Rega tetap setia membela anakan rambut Cyla yang ada didepan wajah Cyla. Tindakan awal yang Rega sadari akan membawa mereka keperasaan yang tidak akan terlupakan lagi. Keperasaan yang membuat mereka menggila ditengah malam yang sedikit temaram akibat cahay bulan yang sebagian tertutup awan hitam dimalam dingin. Sebuah kegiatan yang menggiring mereka dari malam dingin diluar, menjadi malam yang panas disalah satu kamar hotel yang mereka gunakan untuk membuat suara decitan ranjang.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your vote and coment,
Typo coment guyss.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!