CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 25



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination...


Jangan lupa like, vote and rate!


~ Happy Reading ~


*****


Dimalam pada hari yang sama. Masih di kediaman Mahesa, semua anggota keluarga sudah siap dengan pakaian pesta. Dengan perempuan yang mengenakan dress sesuai tema – Black Tie.


Black Tie sendiri merupakan termasuk jenis acara formal yang diadakan malam hari. Namun, masih terkesan santai. Pesta dengan dress code ini biasanya diadakan dengan sangat tertutup, baik berupa makan malam maupun pesta dansa.


Membuat Cyla yang mengetahui dress code ini paham jika di acara resepsi pernikahan putri pertama Perdana Menteri Adiaksa akan ada bagian berdansa. Dari kediaman para Eyang memilih untuk tidak hadir karena merasa lebih membiarkan para anak muda yang hadir dan bersenang – senang. Tidak ingin mengganggu kesenangan anak muda. Begitu pula dengan Andreas dan Annasia yang tidak ingin hadir karena tidak mendapat undangan. Namun, keinginan itu lenyap seketika saat sang Ibu – Eyang Putri meminta Andreas, Annasia dan Cain untuk menghadiri acara tersebut dengan undangan yang beratas namakan suaminya – Eyang Kakung. Sedangkan Dimas dan Ajeng serta Adam sudah pasti datang menerima undangan selain itu, acara tersebut digelar di wilayah yang mungkin masih merupakan wilayah kekuasaan Mahesa. Dan Cyla akan datang dengan maut di sampingnya. Tidak memiliki pilihan lain selain datang menjadi pasangan Adam. Cyla yakin seratus persen jika Rega melihat dirinya datang dengan Adam, emosi pria itu pasti tak terkendali. Semoga saja tidak terjadi apapun. Awalnya Cyla sudah menolak dan ingin tetap tinggal menemani Eyang Kakung dan Eyang Putri di Paviliun. Namun, paksaan dari Ibu Ajeng tidak bisa Cyla tolak untuk tidak ikut. Bahkah Ibu Ajeng diam – diam ternyat sudah membelikan gaun dan yang lainnya untuk Cyla kenakan saat menghadiri acara resepsi tersebut. Benar – benar membuat Cyla melemah dalam menolak keinginan Ibu Ajeng. Dalam acara tersebut, dengan tema black tie. Ibu Ajeng mengenakan dress yang membentuk bentuk tubuhnya dengan masih terdapat corak kebaya dari bagian dada hingga pinggang, selebihnya ke bawah polos hitam. Dan corak kebaya yang menghias indah itu berwarna putih lembut. Rambut di ikat sanggul kecil diatas, sangat anggun. Sedangkan aunty Annasia – ibu Cain memilih untuk mengenakan black mermaid dress. Dress ini dibagian atas sangat ketat sampai bagian atas lutut. Kemudian seterusnya melebar. Dengan model off shoulder. Dress yang juga sangat menonjolkan bentuk lekuk tubuh.


Sedangkan Cyla, Cyla mengenakan gaun pemberian Ibu Ajeng. Gaun yang sangat indah, memperlihat dirinya bak seorang putri. Membuat Cyla sedikit risih – tidak nyaman. Cyla merasa salah karena ini merupakan pernikahan orang lain. Sedangkan gaun yang dia kenakan sudah dipastikan menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian orang. Meski tidak di pungkiri dirinya menatap takub pada gaun yang melekat indah di tubuhnya. Gaun ballgown warna hitam. Desainnya terkesan sederhana namun mewah dipandang dengan bagian bawah yang melengkung bervolume sehingga akan membuat penampilan Cyla terlihat lebih anggun. Dengan brokat hitam yang dipadukan dengan kain dasar dress warna putih tulang. Membuat penampilan Cyla nampak jauh lebih dewasa. Dipadu padankan dengan heels yang juga berwarna hitam. Dan kaluan mutiara hitam yang menghias berkilau pada leher jenjangnya. Kalung pemberian Adam yang sangat membuat Cyla tidak nyaman. Lalu clutch kecil di genggamannya dengan materials dan warna senada dengan ballgown yang Cyla kenakan.


Sedangkan para pria mengenakan setelan jas hitam dan tuxedo hitam. Para Ayah dengan tuxedo mereka, dan para putra dengan setelan jas hitam mahal mereka. Menyesuaikan tema dengan melengkapi kesesuaian sang wanita.


~


Cyla terdiam menatap orang – orang yang berlalu lalang memasuki gedung Vienca Hotel yanh menjadi tempat acara berlangsung. Sebenarnya Cyla sangat ragu dan khawatir apakah ini merupakan hal benar dengan dirinya yang datang bersama Adam?


“Apa kau mengkhawatirkan tentang Rega atau karena kau memang tidak ingin datang ke acara ini?” Tanya Adam melirik jengah kearah Cyla yang hanya diam dan terlihat tidak tertarik untuk keluar sama sekali dari dalam mobilnya.


“Kalau ku bilang dua – duanya apa kau akan percaya?” balas Cyla dengam gumaman lirih yang hanya terdengar samar di telinga Adam.


“Apa?” tanya Adam tidak mendengar dengan jelas gumaman Cyla.


“Ck. Aku bilang buka kan pintu mobilnya untuk ku.” Jawab Cyla dengan nada kesal. Benar – benar jawaban yang tidak sesuai dengan pikirannya. Cyla yang malang.


“Kenapa tidak bilang sejak tadi, Secyla Jellyn. Kita sudah terdiam disini lebih dari dua puluh menit, hanya karena kau ingin aku membukakan pintu mobil untuk mu? Astaga! Jika kau mengatakannya lebih awal, mungkin kita sudah menikmati pestanya saat ini. Tuan Putri!” balas Adam kesal dengan menekankan kata ‘tuan putri’. Dirinya menemani Cyla diam dimobil hanya karena tidak dia bukakan pintu mobil? Tolong siapapun, Adam akan membayar mahal pada orang yang berani menenggelamkan Cyla. Adam menghela nafas kasar, berharap agar rasa kekesalannya pada Cyla teredam sebelum mereka memasuki gedung tersebut.


“Itu karena kau saja yang tidak peka. Bukan salah ku.” Ucap Cyla kembali dengan nada kesal dan wajah cemberut, memutar bola mata malas.


“Women always win.”sahut Adam masih dengan nada kesal. Keluar dari mobil dan berjalan memutar kearah pintu mobil kursi penumpang depan. Membuka, dan mengulurkan tangan kearah Cyla agar keluar dari dalam mobil dengan hati – hati. Yang disambut hangat oleh Cyla.


Memasuki ball room hotel, sesuai dengan perkiraan Cyla. Banyak pasang mata tertuju kearah dirinya dan Adam. Membuat Cyla mendengus kesal. Memantapkan langkahnya dalam hati – hati dan penuh keanggunan, berjalan kearah pengantin baru. Tepat saat Cyla berdiri dihadapan mempelai wanita. Cyla bisa merasakan dan melihat dengan jelas tatapan sinis dari mata mempelai wanita di depannya.


“Selamat atas pernikahan mu.” Ucap Cyla datar tanpa ada niatan untuk mengulurkan tangan tanda selamat.


“Pernikahan ku, atau dirimu? Mencoba bersaing dengan gaun indah mu?” balas sang mempelai wanita sinis, menekankan kata ‘indah’ dengan suara tajamnya. Emosinya tersulut melihat kehadiran Cyla di acara yang seharusnya membahagiakan dirinya bukan membuat dirinya tertekan akibat mengendalikan emosinya.


“Aku yang orang miskin ini mana bisa memiliki keberanian untuk bersaing dengan sang pemilik acara.”Ucap Cyla berbisik di telinga mempelai wanita dengan nada mengejek. Menekankan kata ‘keberanian’ dengan senyum miring di bibirnya. Lalu, melangkah kecil meninggalkan mempelai wanita yang wajahnya sudah merah padam menahan rasa kesal – dengan Adam mengekor di belakangnya. Mengernyitkan dahi heran melihat tingkah Cyla yang tersenyum senang – Seolah baru saja memenangkan lotre. Sungguh Adam benar – benar dibuat bingung dengan Cyla dan dunianya. Memilih membiarkan Cyla yang menuju kearah meja prasmanan, dan berjalan kearah kumpulan Ayahnya dan rekan kerja Ayahnya.


Cyla melangkah dan berhenti tepat didepan meja prasmanan. Mengambil minum untuk menghilangkan rasa kering pada tenggorokannya. Baru saja Cyla hendak menempelkan pinggir gelas pada bibirnya merah darahnya. Tiba – tiba datang hama lain yang sangat mengganggu bagi Cyla. Hama yang Cyla tahu sangat tergila – gila pada Rega. Membuat Cyla kembali mengurungkan niatnya untuk minum.


“Seingat ku, aku tidak pernah mengundang mu untuk datang di acara pernikahan kakak pertama ku. Loony girl.” Ucap Moana Flow Adiaksa dengan nada sinis dan tatapan merendahkan. Putri bungsu (Ketiga) dari Perdana Menteri Adiaksa. Yang juga merupakan satu Universitas dengan Cyla. Hanya saja Moana mengambil jurusan politik di Universitas Putri – Mengikuti jejak sang Ayah. Membuat dirinya dan Cyla berbeda gedung dengan Cyla.


“Biar ku ingatkan, level kita sudah berbeda loony. Aku tidak menyangka kau berani datang kesini tanpa undangan dengan wajah tidak tahu malu.” Tambah Moana dengan nada sinis dan senyum mengejek melihat Cyla diam tidak berkutik.


Namun, senyum itu tidak bertahan lama – Luntur saat tiba – tiba melihat Cyla membalasnya sama dengan senyum mengejek diwajah Cyla.


“Aku yakin kau melihat berita belakangan ini, bukan? Jika iya, maka kau benar tentang level kita yang berbeda sekarang. Kau yang hanya bisa datang dengan undangan, sedangkan aku yang bisa menghadiri banyak acara. Bahkan tanpa undangan di tangan ku. Nona muda ketiga Moana Flow Adiaksa.” Balas Cyla lirih dengan nada mengejek, sebisa mungkin bersuara pelan agar tamu lain tidak mendengar obrolan dirinya dan Moana. Tersenyum miring dan tatapan remeh di wajahnya. Hendak melangkah pergi meninggalkan Moana yang diam mematung.


“Kau benar. Tapi apa kau tahu, sesaat yang lalu aku berpikir kau akan datang dengan Rega. Namun, loony girl seperti mu memang selalu mengejutkan ku. Muncul dengan Adam Mahesa? Aku jadi penasaran bagaimana pendapat Rega, atau jangan – jangan kau memang sudah dicampakan oleh Rega? Lagi? Poor girl.” ucap Moana sinis tepat ditelinga Cyla. Menekankan kata ‘dicampakan’ dan kata ‘lagi’ dengan nada mengejek. Melipat kedua tangannya tepat didepan dadanya.


Membuat Cyla sontak memandang Moana dengan wajah datar dan dingin. Memajukkan wajahnya beberapa centi didepan wajah Moana. Mata dibayar mata, dan wajah dibayar dengan wajah. Maka kata tajam harus terdengar menusuk ditelinga Moana.


“Lalu kau ingin mendekatinya?” tanya Cyla pelan dengan nada dingin tepat didepan wajah Moana. Saling melempar tatapan tajam satu sama lain.


“Bukan mendekatinya. Tapi, memilikinya.” Balas Moana yang juga menggunakan nada suara pelan dan tajam.


“Kalau begitu buktikan, dear. Panggil Rega, buat dia mau berdansa dengan mu. Didepan mata ku saat ini juga. Bukankah, sebentar lagi pesta dansanya dimulai?” ucap Cyla memundurkan wajahnya, dengan nada serius namun raut wajah mengejek. Ikut melipat kedua tangannya didepan dada. Menantang Moana yang dibalas senyum mengejek.


“Tentu. Dan akan aku pastikan kau menyesal menantang ku, loony girl.” Balas Moana tenang, mulai melarikan pandangannya mencari keberadaan Rega. Memanggilnya dengan lantang, membuat semua padang mata penghuni ball room menatap penasaran kearahnya. Rega yang awalnya ingin mengabaikan panggilan dari putri bungsu Perdana Menteri Adiaksa, seketika langsung melangkah mendekat ketika matanya mendapati Cyla tengah berdiri di hadapan Moana dengan membelakangi dirinya. Lalu menghentikan langkahnya tepat disamping Cyla, di hadapan Moana.


Melihat reaksi Rega yang langsung menghampiri dirinya ketika dia panggil. Membuat Moana langsung memasang senyum manis di bibirnya. Membuat Cyla memutar bola mata hengah – Tidak percaya melihat perubahan sikap Moana dalam sekejap.


“Apa tidak masalah jika kau berdansa dengan ku? Hanya untuk malam ini di hari membahagiakan untuk kakak pertama ku, Rega bagamaina?” tanya Moana lemah lembut dan senyum manis terpatri seketika di wajahnya. Yang hanya di respon diam dan datar oleh Rega tanpa ada niatan untuk membalas ucapan Moana. Membuat Cyla terkekeh pelan yang langsung mendapat pelototan dari Moana.


“Rega?” panggila Moana kembali saat melihat Rega hanya diam tak berkutik.


“Kalau begitu, apa artinya aku bisa mengajak mu berdansa dengan ku. Pretty girl?” ajak Cain yang tiba – tiba muncul – Menyela berdirj diantara Cyla dan Moana. Mengulurkan tangan kearah Cyla, menunggu dengan sabar yang di ajak membalas uluran tangannya. Hal tersebut membuat Moana bergeser kesamping dan berhadapan tepat didepan Rega.


Rega yang kesal melihat Cain datang tiba – tiba dan merayu Cyla. Mengetatkan rahang menahan emosi – tidak ingin membuat kegaduhan diacara orang lain. Alih – alih membalas ucapan Moana, Rega langsung meraih jemari Cyla dan menggenggamnya dengan erat – Mengangkat dan menunjukannya pada Cain.


“Sayangnya, my lovely queen sudah memiliki janji dengan saya terlebih dahulu. Tuan muda Uzzielsky.” Ucap Rega dengan nada mengejek dan senyum penuh kemenangan. Langsung menarik, membawa Cyla ke lantai dansa di ball room hotel. Yang diiringi dengan instrumen musik ‘Dmitri Shostakovich_Waltz no. 2’.


Meninggalkan Cain yang terdiam membeku, menarik kembali uluran tangannya yang sia – sia dengan mengepal kuat. Sedangkan Moana, menggerutu dalam hati dengan umpatan dan makian membuat dirinya semakin membenci Cyla.


“Bagaimana jika kau berdansa dengan ku, tuan muda Uzzielsky” ajak Moana tanpa menatap Cain, namun dengan nada lemah lembut yang tertahan.


Baru saja Moana membalikkan badan. Hendak kembali keteman satu jurusan kampusnya. Tapi, tiba – tiba saja kakak perempuan keduanya sudah berdiri dengan mata tajam dan kedua tangannya melipat tegas didepan dadanya. Membuat Moana dengan susah payah meneguk ludah gugup.


“Apa ada masalah kakak kedua?” tanya Moana gugup, memaksakan senyum di wajahnya.


“Kaulah masalahnya.” Jawab kakak kedua – Jessy Adiaksa. Singkat dan padat, dengan nada dingin dan raut wajah datar.


“Kakak kedua sungguh aku tidak pernah mengundangnya sama sekali. Percayalah pada ku.” Ucap Moana gugup, meraih tangan Jessy yang langsung ditepis.


“Kau lucu Moana. Yang aku lihat tidak seperti yang kau katakan. Aku tidak mau tahu, pastikan dia sudah pergi sebelum acaranya selesai. Merusak pemandangan saja.” Balas Jessy pelan namun dengan nada tegas. Lalu, melangkah pergi meninggalkan adiknya – Moana tanpa mendengar jawaban dari perintahnya.


“Menyusahkan saja.” Gumam Jessy saat langkahnya sudah menjauh dari Moana. Mengibaskan rambutnya kasar yang tergerai indah dengan wajah kesalnya.


Sedangkan Moana, terdiam kesal dengan kedua tangan di sisinya yang mengepal sempurna.


‘Selalu saja seperti ini. Kita lihat Cyla apa yang bisa aku lakukan terhadap mu.’ Gumam Moana dalam hati. Menatap nyalang pada punggung terbuka kakak keduanya.


~


Rega terus menerus menuntun Cyla dalam langkah dansa mereka dengan lembut dan penuh kehati – hatian. Wajah dan mata Rega dengan setia menatap Cyla tanpa berniat berpaling. Cantik. Rega sangat mengakui kalau malam ini Cyla lah yang terlihat seperti ratu dari pada mempelai wanita sang pemilik acara. Jantung Rega berdegup kencang, merasakan kedekatannya dengan wanita di depannya kembali. Rega salu dibuat terkejut, kalah, dan jatuh dengan pesona Cyla yang tidak ada habisnya. Memutar tubuh Cyla – Menjauh dan kembali. Tepat saat dansa waltz no. 2 selesai. Memiringkan tubuh Cyla dengan anggun dan wajah yang saling bertatap tatapan. Matanya dan mata Cyla saling bertemu. Terdiam – Mengutarakan segala kerinduannya melalui tatapan matanya. Sungguh Rega merindukan wanita dalam dekapannya ini. Ingin mengecup bibirnya yang mungil nan menggoda itu. Namun, matanya terkunci pada tatapan mata amber Cyla. Hingga musik kedua mulai mengalun kembali, membuat semua pasangan kembali melanjutkan dansanya. Berbeda dengan putaran pertama, putaran kedua kali ini sangat romantis. Lagu yang diputar berjudul ‘A Thousand Years_Christina Perri’. Mengalun merdu disetiap pasang telinga para tamu yang menghadiri acara tersebut. Dansa yang bisa dibilang terbilang lebih santai, dengan tebuh yang saling berhadapan – Melekat satu sama lain.


“Apa ada yang salah dengan wajah ku?” tanya Cyla lembut – Memecah keheningan. Mengalungkan kedua tangannya dengan anggun dan perlahan pada belakang leher Rega. Membiarkan Rega menyentuh dan mendekap pinggangnya.


“Cantik.” Jawab Rega tenang disela – sela dansa mereka. Melangkah perlahan kekanan kekiri tanpa mengalihkan matanya dari wajah Cyla.


“Kau orang kesembilan yang mengatakannya.” Balas Cyla membalas tatapan Rega dengan senyum manis terpatri indah di bibirnya. Menatap lembut Rega. Memahami dalam diamnya Rega – Jika pria itu tengah merindukan dirinya.


“Sayang sekali.” Balas Rega dengan gumaman rendah, namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Cyla.


“Jadi?” tanya Cyla dengan nada bertanya, penasaran.


“Jadi apa?” balas Rega mengangkat sebelah alisnya.


“Kau ingin bertanya atau kau yang ingin menjelaskan?” tanya Cyla penasaran kenapa Rega terlalu diam dan terlihat sangat tenang setelah semua yang terjadi. Padahal Cyla sudah melatih jawaban apa saja yang ajan ia ucapkan saat Rega mulai melayangkan pertanyaan.


“Menjelaskan apa?” balas Rega balik, alih – alih bertanya mengapa Cyla datang dengan Adam. Rega lebih tertarik dengan kata Cyla yang meminta penjelasan darinya. Mengernyitkan dahi bingung arah ucapan Cyla.


“Telapak tangan mu? Aku baru melihatnya.” Jawab Cyla kembali bertanya. Menatap Rega dengan tatapan menuntut sebuah penjelasan.


“Hanya tidak sengaja tergores. Bukan masalah besar.” Jawab Rega menjelaskan secara singkat. Tidak berniat memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada telapak tangannya. Menelusuri setiap inci wajah Cyla. Astaga! Siapapun tolong sadarkan Rega. Berharap apa yang sedang terjadi bukanlah mimpi semata. Rega benar – benar butuh kesadaran dari jerat sihir pesona wanita yang di depannya.


“Apa sakit?” ucap Cyla kembali melayangkan pertanyaan. Mengeratkan jemarinya yang berada dibelakang leher Rega – Tersirat perasaan khawatir dalam benaknya.


“Jika sakit, apa kau akan kembali? Malam ini?” Balas Rega dengan nada sedikit memelas gelisah. Sontak pertanyaan Rega membuat Cyla menghentikan langkahnya – Menatap dalam pada manik indah mata Rega. Membuat Rega ikut terdiam – Penasaran.


“Tidak untuk malam ini. Aku harus ikut kembali ke kediaman Mahesa, maaf.” Jawab Cyla menatap Rega dengan tatapan bersalah. Namun, Cyla berjanji akan menjelaskannya setelah mereka kembali ke Semarang. Bersama.


“Aku merindukan mu.” Balas Rega pelan dengan nada frustrasi yang tidak dapat menahan lagi perasaannya. Mencengkram erat pinggang Cyla. Namun, Cyla hanya terdia mengatupkan bibir – menahan ringisannya.


“Aku tahu dan aku melihatnya.” Balas Cyla tenang, menuntun Rega agar kembali melanjutkan dansa mereka yang sempat terjeda.


“Lalu kenapa tidak bisa? Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Sayang? Jangan buat aku menyinggung keluarga Mahesa. Terutama Adam. Sahabatku sendiri.” Ucap Rega menghela nafas frustrasi. Mencoba menekan semua emosinya.


“Sudah aku duga, itulah yang sejak awal kau Khawatir kan. Tapi, sungguh Rega. Kau hanya perlu percaya padaku. Tidak ada apapun diantara aku dan Adam.” Balas Cyla tenang – Lebih tepatnya mencoba menenangkan Rega. Menyandarkan wajahnya pada dada bidang Rega yang terlihat masculine dengan balutan jas abu – abu gelap melekat pada tubuh tegap Rega. Yang langsung Rega sambut dengan senang hati – Melarikan jemarinya beralih ke punggung Cyla. Mengeratkan pelukan dengan langkah yang terus mengayun sesuai irama.


“Aku benar – benar mengharapkan itu. Jangan mencoba kabur dari ku, sayang. Yang benar jangan pernah sekalipun berpikir untuk kabur dariku. My lovely queen.” Ucap Rega berbisik. Merasakan detak jantung Cyla yang terasa menenangkan untuknya.


“Tidak sekalipun. Rega dengarkan ucapan ku baik – baik. Aku hanya akan menginap untuk dua malam. Menginap, bukan pindah ataupun menetap disana. Cobalah pahami arti dari ucapanku. Jangan biarkan rasa cemburu itu mengendalikan dirimu.” Balas Cyla menekankan kata ‘menginap’ dengan nada lembut. Melarikan jemarinya untuk mengelus – membelai rahang Rega yang terlihat mengeras menahan emoi. Cyla tidak suka mendapati Rega tanpa kendali emosi.


Ucapan Cyla membuat suasana hening diantara mereka berdua. Tetap melangkah dalam diam. Rega yang terdiam mencerna setiap kata yang di lontarkan oleh Cyla. Dan Cyla yang hanya menunggu respon dari Rega dan kapan lagu berhenti dengan menikmati kebersamaannya dengan Rega. Hingga yang ditunggu datang, langkah mereka terhenti bersamaan dengan berakhirnya lagu. Namun, seolah Rega enggan melepaskan Cyla. Membuat Cyla menjauhkan wajahnya dari dada bidang Rega. Mendongak – Menatap Rega dengan sebelah alis terangkat meminta penjelasan.


“Maaf.” Ucap Rega melepaskan jemarinya dari punggung Cyla. Keberadaan mereka yang masih di lantai dansa membuat semua pasang mata menatap penasaran kearah mereka berdua.


“Tidak masa... lah.” Balas Cyla mengatupkan bibir rapat – rapat saat kulit punggungnya terasa basah. Memejamkan mata – mencengkram erat jas Rega hingga kusut. Menahan diri agar tidak meledak. Membalik tubuh penasaran siapa orang yang berani membuat masalah dengan dirinya. Tidak terlalu terkejut mendapati Putri Bungsu Perdana Menteri Adiaksa – Moana yang tengah berdiri dengan raut wajah pura – pura bersalahnya. Sayangnya, Cyla dibuat geram ketika melihat sekilas senyum mengejek yang tersungging dibibir Moana.


“Upss, sorry. Aku tidak sengaja. Aku tidak melihat ada orang yang tidak di undang berdiri di depan ku.” Ucap Moana dengan nada bersalah yang terselip ejekan dan raut wajah yang dibuat se – bersalah mungkin. Membuat semua para tamu mulai berbisik. Sesuai keinginan Moana.


“Kau menghalangi ku.” Tambah Moana seketika raut wajahnya berubah menajam, dengan nada dingin. Benar – benar mengeluarkan aura permusuhan dengan keberadaan Cyla. Memberikan tontonan drama yang menarik bagi para tamu yang hadir.


*****


To be continue,


See you again ~~~~


Don't forget your vote, like and coment.


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!