CEO Is Obsessed Marry Me

CEO Is Obsessed Marry Me
Part 28



[Don't Copy My Story!]


Real my imagination...


Don't forget your vote, rate, and like guyss!


~ Happy Reading ~


*****


Tiga hari sudah setelah makan malam itu. Dan selama tiga hari itu tingkah laku Rega membuatnya mengernyit dahi kebingungan. Membelikan ponsel baru yang sudah pasti keluaran terbaru dengan harga yang bias dikatakan tiga kali lipat dari ponsel sebelumnya. Dan, tiga hari itu pula Rega lebih memilih untuk tidur dikamar pribadi ruang kerjanya dari pada satu kamar dengannya, sungguh seperti bukan Rega dimata Cyla saat ini. Selama tiga hari itu juga Cyla habiskan waktunya untuk berkeliling rumah, bermain game dikamar. Membalas pesan singkat dari kedua sahabatnya dan keluarga Mahesa namun yang jelas bukan Adam Mahesa,Cyla tidak mau mencari masalah lagi dengan Rega hanya karena sebuah pesan. Lagi pula nomor yang di ponsel barunya juga merupakan nomor baru, jadi baik Adam ataupun Cain tidak ada yang memiliki nomornya. Sarapan, makan siang, dan makan malam Cyla lakukan dalam kesendirian yang mana menemani kegiatan tiga hari belakang. Cyla semakin dibuat keheranan saat merasa jika rega terlihat sibuk atau persepsi lain jika pria itu menghindarinya. Baik Gladis maupun June, mereka berdua sudah tidak mengikutinya selama tiga hari belakang dalam setiap langkahnya. Sekarang Cyla merasa salah karena sudah menyetujui keinginan Rega. Menetap dan memilih tetap tinggal selama tiga hari, Cyla sudah merasa diabaikan. Cyla terlalu merasa kesepian dalam harinya. Tiga hari hampa yang ditelan mentah – mentah oleh rimbunan pohon pinus.


Cyla menarik kedua lutunya dan menyandarkan dagu diatasnya. Memeluk lutunya diatas ranjang tidur kamar dengan menatap nanar kearah layar ponselnya. Semenjak terakhir kali dia menghubungi Ibunya. Kini sang Ibu tidak bias ia hubungi, selalu suara sang operator yang menyambutnya. Cyla kesal, marah, dan khawatir. Dirinya dibuat kelimpungan akibat tidak bisa menghubungi sang Ibu dan Adiknya. Menghembuskan nafas lelah, hanya mamu memutar – mutar jari telunjuknya membuat pola absurd pada layar ponsel yang mati. Namun, jemarinya berhenti bergerak ketika layar ponsel tiba – tiba menyala dan menunjukan nomor yang tidak dia kenal menghubunginya. Yang semakin membuat memperbanyak kerutan dahi bingung adalah tahu jika nomor tersebut bukan nomor Indonesia. Nomor tersebut melainkan nomor panggilan dari luar negeri. Sedikit ragu menekan tombol jawab. Namun, mencari tahu adalah obat terampuh untuk sebuah penyakit merakyat yang disebut dengan penyakit penasaran.


“Hallo?” sapa Cyla setelah mengangkat panggilan asing tersebut.


“Cyla! Itukah kamu nak?” balas seseorang dari seberang panggilan.


“Ibu! Benarkah ini Ibu?” Tanya Cyla sedikit ragu dengan suara hampir seperti berbisik, tidak percaya.


“Astaga, nak! Akhirnya Ibu bisa menghubungi mu.” Ucap Lily – sang Ibu dengan suara lega.


“Hehehe... Ibu dimana ponsel mu?” balas Cyla terkekeh pelan. Meski dia sendiri juga merasa lega setelah susah di hubungi, akhirnya sang Ibu sendiri yang menghubunginya terlebih dahulu. Sedikit menghilangkah rasa kekhawatirannya.


“Ibu tidak kehabisan daya baterai. Ponsel Ibu menghilang, benar – benar menghilang. Ibu merasa sedang mengalami kemunduran tehnologi saat ini. Benar – benar menyebalkan, nak.” Jelas Lily dengan suara ceria khas seorang Ibu.


“Cyla kangen Ibu.” Balas Cyla dengan suara serak. Menahan rindunya pada sang Ibu yang begitu menggebu –gebu di dadanya.


“Oh, nak. Ibu juga merindukan mu. Sangat.” Balas Lily lembut, suara khasnya yang terdengar seperti sedang menenangkan putri kecilnya. Princessnya.


“Ibu, Cyla berharap bisa melihat Ibu.” Gumam Cyla tanpa bisa memendung air mata lagi.


“Cyla? Ada apa nak?” Tanya Lily mulai terdengar khawatir saat telinganya menangkap isak tangis sang putri.


“Tidak ada apa – apa. Cyla baik – baik saja, bu.” Jawab Cyla berbohong.


“Apa bersama Rega kembali tidak membuatmu bahagia, nak?” Tanya Lily penasaran.


“Jangan khawatir akan hal itu, Bu. Dia membuatku bahagia, hanya saja keadaannya sedikit rumit.” Jawab Cyla tanpa berniat menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya.


“Dengar nak. Kamu mungkin butuh waktu luang darinya. Datanglah kesini, kamu tahu Rega tidak akan menghalangi mu menemui Ibu, nak. Meski hanya untuk satu atau dua hari. Lagi pula Malik sudah mulai membaik pasca operasi. Ibu punya waktu dan kita bisa bicara secara langsung. Pertimbangkanlah.” Ucap Lily panjang lebar, berusaha untuk menenangkan sang putri.


“Ya, bu. Tapi, Cyla tidak janji.” Balas Cyla disela – sela isak tangisnya. Merasa sedikit tenang mendengar suara sang Ibu.


“Tentu nak. Jangan terlalu memikirkan Malik. Dia baik – baik saja bersama Ibu. Operasinya juga berjalan lancar. Jadi, pikirkan saja dirimu. Jika memang Rega tidak membuat mu bahagia. Ibu tidak akan memaksa mu lagi, nak. Kebahagiaan mu adalah ketenangan jiwa Ibu.” Ucap Lily yang tidak akan pernah bosan memberikan kata – kata menenangkan perasaan gundah putrinya.


“Baik, Bu. Cyla tutup. Hubungi Cyla jika Ibu sudah membeli ponsel baru.” Balas Cyla tersenyum tenang, menutup panggilan setelah mendengar gumaman bertanda ‘iya’ dari sang Ibu.


Menghembuskan nafas lelah, menatap nanar pada ponselnya yang sudah kembali gelap – Mati. Mengalihkan pandangannya kearah jendela kaca sampingnya. Menampilkan pohon pinus yang menjulang tinggi. Jam menunjukan pukul empat sore. Namun, diluar tidak menampilkan perbedaannya sejak pagi tiba. Bahkan selama tiga hari belakang, Cyla tidak dapat melihat letak matahari berada. Tiga hari hanya terasa terang dan gelap. Turun dari ranjang, melangkah kearah jendela kaca disamping dirinya. Sekujur tubuhnya terasa merinding saat bertepatan dengan berhembusnya angin sore masuk lewat balkon. Membuat gaun putih polos sepanjang lutut dan berlengan pendek, berayun anggun. Mengibas sesuai irama alunan anggin. Rambut hitam pekat sebahunya ikut berayun indah mengikuti senian sore hari. Dewi batinnya berteriak menangis, tidak membantah jika dunianya selalu dibuat ‘jungkir balik’ apa bila sudah terikat dengan seorang Rega Rahendra. Satu – satunya pria yang mencampakannya, dan berani muncul kembali setelahnya. Sangat mengerikan.


“Kau sudah mandi?” Tanya Rega yang suda berdiri di ambang kamar. Kamar mereka, yang bahkan Rega tidak tidur di dalamnya. Menatap punggung Cyla yang terlihat lebih kurus.


Sontak ucapan Rega membuat Cyla tersadar dari lamunannya. Berbalik, mengernyit heran. Terlihat tampan dengan t-shirt putih polos dan celana pendek coklat. Lengan yang dilipat di depan dadanya, seolah sedang memamerkan otot bisep sexy kepada Cyla.


“Aku belum mandi, kau bisa duluan jika ingin mandi. Jadi, kau ingin mandi?” jawab Cyla seadanya.


“Hmm, kau bisa keluar dulu?” Tanya Rega kembali, melangkah pelan menuju kamar mandi.


“Tentu. Aku akan keluar setelah menyiapkan pakaian untuk mu.” Jawab Cyla tersenyum lembut.


“Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri.” Balas Rega datar, masuk kedalam kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi kasar.


Meninggalkan Cyla yang berdiri terkejut. Menatap nanar pintu kamar mandi, dengan kedua sisi gaunnya kusut akibat remasan kuat jemarinya.


‘Baiklah, jika ini yang kau inginkan Rega. Jangan salahkan aku jika sikap abai mu memacu adrenalin dalam diriku. Men missing mind.’ Gumam Cyla dalam hati. Menahan geraman emosi, lebih memilih pergi. Keluar dari kamar dengan ikut membanting kasar daun pintu.


Tanpa Cyla sadari. Sedari tadi Rega berdiri di belakang pintu, dengan nafas sesak yang tertahan. Memejamkan mata ketika telinganya menangkap dengan sangat jelas dentuman kasar pintu yang tertutup.


¬


Langkah Cyla terhenti di balik dinding, tepat di belakang bagasi dimana mobil Rega terparkir rapid an sejajar. Dirinya hamper berteriak terkejut, tidak sengaja melihat anak buah Rega menarik paksa masuk seseorang yang mana keadaannya sudah terlihat sangat kacau. Cyla yakin jika orang tersebut berjenis kelamin perempuan, dilihat dari pakaian yang dikenakannya berupa gaun sepanjang mata kaki hijau polos dan rambut panjang yang tergerai berantakan. Mengalihkan pandangan kebelakang saat dirasa seseorang berdiri di belakangnya. Yang membuat Cyla kembali hampir berteriak terkejut saat sosok madam Leura sudah berdiri disampinya tanpa sepengetahuannya.


“madam kau mengejutkan ku!” ucap Cyla terkejut. Dengan kedua mata membulat sempurna.


“Nona, ini sudah mau malam. Tidak baik nona diluar saat senja tiba dengan pakaian tipis seperti itu.” Balas madam Leura ramah dengan senyuman di wajahnya.mengulurkan cangkir putih yang berisi milk tea kearah nyonya yang tidak ingin di panggil nyonya. Memaksanya memanggil nona.


Sedangkan Cyla mengernyitkan dahi bingung menatap cangkir tersebut. Namun, tetap menerima tanpa bertanya dan langsung menghabiskan dalam satu kali tegukan.


“madam Leura tadi , baru saja aku melihat bodyguard Rega membaw paksa perempuan masuk ke..” ucap Cyla terpotong dengan nada gelisah dan khawatir. Menggigit kuku jari telunjuk kanan ketakutan.


“Mari masuk nona, saya akan siapkan air hangat untuk mandi anda.” Sahut madam Leura cepat dengan raut wajah tetap.


“Tapi, madam. Perempuan itu butuh bantuan. Kita harus meno...” balas Cyla yang semakin gelisah, kembali terjeda.


“Nona, cobalah abaikan sekitar anda. Dan fokuslah melihat keberadaan tuan Rega saja, nona. Sikap tersebut akan membantu kami dalam menyelesaikan tugas kami.” Sela madam Leura dengan wajah datar dan nada tajam. Namun, kembali memunculkan senyum ramah saat selesai berbicara. Tingkah dan kata yang membuat Cyla tersentak terkejut, dan terdiam pasrah saat madam Leura menarik pergelangan tangan Cyla pelan namun memaksa.


Cyla benar – benar dibuat mati kutu melihat perubahan sikap dan nada bicara madam Leura yang berubah dalam sekejap mata. Benar – benar sikap yang mencurigakan, namun aura yang keluar sangat menakutkan bagi Cyla. Benar – benar mengerikan.


¬


Cyla memejamkan mata, menikmati air hangat yang merendam tubuhnya didalam bathub. Menghirup aroma dari lilin terapi lavender yang menyala di sampinya. Mencoba mengenyahkan pikiran curiga terhadap madam Leura. Sudah Cyla putuskan, jika nanti dia harus Tanya langsung mengenai masalah ini kepada Rega. Cyla khawatir, bagaimana jika perempuan tadi merupakan salah satu dari pelayan dirumah ini. Bagaimana jika perempuan tadi mengalami kekerasan ataupun pelecehan seksual. Maka, Cyla akan menyuruh Rega untuk menghukum kedua bodyguard Rega saat itu juga. Dan mereka sangat layak untuk di masukan kedalam penjara.


Cyla menghela nafas lelah, lalu perlahan semakin menurunkan tubuhnya. Menenggelamkan seluruh badannya hingga wajah. Mengerjapkan mata sekali sebelum seluruh tubuhnya terendam dalam bathub yang berisi air hangat penuh dengan busa sabun berwarna pink hingga tumpah ke lantai kamar mandi. Cara terampuh Cyla dalam menenangkan semua isi kepala yang bergejolak. Seakan ingin meledak akibat semua masalah yang Cyla alami beberapa hari terakhir. Terlalu menyulitkan, melelahkan, dan mengejutkan seluruh hidupnya.


¬


Mengamati setiap gerakan Rega yang tengah berdiri membelakanginya dengan ponsel yang melekat diantara telinga dan bahu. Serta kedua tangan sibuk membuka setiap halaman buku dalam genggamannya. Berdeham sengaja. Membuat Rega langsung menghentikan aktivitasnya dengan meletakan kembali bukunya dan mematikan sambungan panggilannya. Memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana, berbalik untuk melihat sumber suara dehaman yang disengaja itu. Sesuai dugaan, Cyla yang menawan dan mempesona lah yang tengah berdiri indah sembari menatapnya.


Rega terdiam membeku. Terpesona dengan penampilan Cyla malam ini. Wanita tercintanya yang selalu menawan dengan gaun yang membalut sempurna pada tubuhnya. Empire waist dress – Memiliki bentuk seperti gaun kerajaan tapi tidak semewah dan seheboh ballgown. Simple dengan bagian dada agak kebawah. Kemudian di bagian pinggang terdapat tali yang akan membuat lekuk tubuh lebih terlihat. Dengan lengan pendek dan berwarna dark gray, abu – abu gelap. Heels hitam polos setinggi 3 cm, dan semakin mempesona dengan tatanan rambut yang dibiarkan tergerai di bahunya.


Rega tersenyum lembut. Melangkah mendekat kearah Cyla perlahan dengan terus menatap sayang, bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mengabaikan atau bersikap dingin pada wanita di depannya ini lebih dari satu hari. Oke, lupakan. Sangat tepat yaitu tiga hari.


¬ Flashback On ¬


Tiga hari yang lalu,


Tepat diruang kerja setelah makan malam pada malam pertama Cyla di ‘Gala Home’.


“Sir, sebelumnya maaf jika saya ikut campur. Namun saya ingin memberi tahu anda. Membuat seorang wanita jatuh cinta kembali bukanlah hal yang mudah. Namun, juga tidak bisa di katakan sulit. Hanya dengan membuka sedikit saja pintu tersebut. Maka, sang pemilik pintu sendiri yang akan membukanya lebar – lebar.” Ucap madam Leura lembut dengan senyum ke Ibuannya. Meletakan teh hangat tanpa gula diatas meja kerja Rega, tepat disamping tangan kanan atasannya itu.


“Tanpa mendorong dan hanya mengetuk pun sang pemilik pintu pasti akan membukanya untuk ku. Madam Leura.” Balas Rega dingin dan datar. Tanpa menatap madam Leura dan lebih memilih untuk tetap mengamati lembar demi lembar dokumen yang berada di depannya. Tidak terlalu tertarik dengan arah pembicaraan kepala pelayannya.


“Kalau anda merasakan hal itu yang terjadi. Lalu, kenapa anda mengunci dan bahkan memagari pintu tersebut dengan pagar besi? Tidak kah anda sudah keterlaluan, sir?” Tanya madam Leura ramah namun berani. Matanya terus mengamati setiap reaksi atasannya.


“Madam, apa kau juga sadar kalau kau sudah berbicara diluar batas posisi mu?” balas Rega bertanya. Menatap tajam tidak suka kearah madam Leura, yang terlihat tidak tertanggu sama sekali dengan nada kasar Rega.


“Saya mengerti, sir. Namun, memberikan ruang gerak dan menghargai ketentuan sang pemilik pintu sebagaimana kodratnya. Adalah cara terampuh membuat sang wanita kembali menginginkan kehadiran sang pria. Percayalah sir, hati anda membenarkan perkataan saya. Kalau begitu, saya permisi.” Jawab madam Leura masih dengan nada lembut dan senyum ramah. Keluar dan meninggalkan atasannya yang duduk terdiam membeku. Menatap kosong kedepan.


¬ Flashback Off ¬


Itulah sebabnya tanpa sadar selama tiga hari belakang Rega mengikuti instruksi saran madam Leura. Hanya agar sang pemilik pintu tersebut menginginkan kehadirannya. Menunggunya dating setiap waktu. Rega berpikir keras bagaimana cara menghargai Cyla sebagai kodratnya seorang wanita. Dan, hasil pencariannya di internet malam itu juga adalah dengan tidak menyentuh sang wanita tanpa seijin sang wanita, atau menunggu sang wanita yang terlebih dahulu memintanya. Hal ‘Atau’ tersebut adalah hal yang mustahil Cyla lakukan, memintanya menyentuh terleih dahulu? Bermimpi saja Rega sudah bersyukur. Hal yang tidak mungkin terjadi. Dan satu hal yang berat bagi Rega yaitu hasil pencarian internet yang lain. Mengatakan yaitu sebelum cincin pernikahan melekat di jari manis sang mempelai wanita.


Oh, ayolah! Rega tidak bisa menunggu selama itu. Dan, pernikahan? Tentu saja hal membahagiakan dalam hidupnya didunia mimpi. Astaga! Menikah dalam dirinya saja tidak ada dalam daftar masa depan Cyla. Jadi, berapa lama Rega harus menunggu? Satu tahu, dua tahun. Bagus jika masih bisa dihitung dalam tahunan. Bagaimana jika seumur hidupnya? Rega bukan pria yang bisa menerima hal tersebut. Maka, menghamili Cyla adalah rencana dalam daftar prioritasnya di masa depan. Cyla dengan dunia keras kepalanya harus dan mau menerima dirinya yang memiliki dunia dengan kuasa kepemilikan. Pasangan yang sangat serasi bagi Rega. Terlalu serasi hingga mungkin gabungan dari sifat keduanya bisa menghancurkan kekrasan batu yang sudah berdiri kokoh hingga ratusan tahun.


Rumah tangga yang cukup ‘baik’ menurut Rega. Namun, siapa yang peduli? Oke, banyak. Yang benar mungkin hanya Rega yang tidak peduli. Yang Rega mau adalah hidup dengan Cyla. Karena Rega mencintai Cyla. Kenapa Cyla? Karena harus Cyla lah wanita yang layak Rega cintai. Dan kenapa harus? Karena itu Cyla, bukan yang lainnya. Demi sejuta tahun, ratusan reinkarnasi, ribuan emosi, dan puluhan ruang waktu. Rega hanya menginginkan wanita yang berdiri di hadapannya ini. Bahkan sekalipun Rega berpaling dan mencintai wanita lain. Rega tetap ingin dan berharap Cyla lah yang menjadi pendampingnya. Wanita yang menemaninya hingga tatapan terakhirnya, sebelum seluruh tubuh terbujur kaku dan mata tertutup selamanya. Hari indah yang selalu berada dalam bayangan seoran Rega Rahendra.


“Ehmm, apa ada masalah?” Tanya Rega datar berdeham pelan. Mencoba menyembunyikan rasa rindunya yang sangat mendalam setelah tiga hari lamanya tidak menatap Cyla. Padahal Cyla sangat dekat dan didepan matanya setiap hari. Namun, seolah sikap Rega yang mencoba menghargai Cyla sebagai seorang wanita membuat sosok Cyla di matanya tampak jauh dan tidak tersentuh. Menyembunyikan rasa senang melihat Cyla datang menemui dirinya terlebih dahulu. Sesuatu hal yang hampir mustahil Cyla lakukan tanpa Rega ucapkan. Hal yang tidak mungkin jika bukan Rega yang meminta atau bahkan memaksa.


“Ya, dank au lah yang jadi masalahnya. Lagi.” Jawab Cyla menekankan kata ‘lagi’. Melipat kedua tangan didepan dadanya, dengan wajah datar menantang.


“Aku?” gumam Rega bertanya.


Rega mendesah kesal dalam hati. Rasa senangnya yang padam dalam hitungan menit atau bahkan mungkin detik. Melihat nada bicara dan raut wajah yang terasa tidak bersahabat. Sudah di pastikan, jika Cyla menemui dirinya bukan karena merindukan atau bahkan menginginkannya. Melainkan karena masalah yang Rega sendiri tidak tahu masalah apa itu.


“Iya, kau. Apa kau tidak bisa mengatakan kepada orang – orang mu untuk bersikap sopan dan baik?” jawab Cyla kembali bertanya dengan nada yang disengaja meninggi. Agar Gladis dan June yang diluar pintu ikut mendengarnya.


Sedangkan Gladis dan June yang mendengar, saling melempar tatapan satu sama lain. Sebelum mengalihkan tatapan, salah tingkah.


“Memangnya apa yang orang – orang ku lakukan? Apa mereka menyakiti mu? Bicara yang jelas Cyla, aku tidak paham.” Balas Rega dengan nada yang kentara bingung tidak mengerti.


“Dengar, tadi sore saat aku berkeliling. Aku melihat dua pengawal mu yang lain menyeret dengan paksa perempuan agar masuk kedalam gudang samping belakang.” Jelas Cyla.


Sontak mendengar perkataan Cyla, raut wajah Rega seketika berubah menjadi datar dan dingin. Rahangnya mengetat menahan emosi. Meski tidak dipungkiri, hatinya khawatir jika Cyla mengetahui kebenarannya. Jantungnya berdebar kencang gugup, berharap jika Cyla tidak mengenali wajah peremuan tersebut.


“Aku yakin kau salah lihat.” Sahut Rega datar.


“Apa? Tidak mungkin! Aku lihat dengan sangat jelas kejadian tersebut. Bagaimana jika perempuan itu dilecehkan, Rega? Kau harus menghentikannya. Aku ingat wajah kedua pengawal mu itu.” Sahut Cyla cepat, melotot tidak percaya dengan respon Rega.


“Apa kau lihat wajah si perempuannya?” Tanya Rega menahan rasa gelisah dalam benaknya.


“Ha? Tidak. Tapi, apa itu penting?” jawab Cyla bingung. Bukankah yang terpenting Cyla tahu siapa pelakunya.


“Aku sangat yakin juga, kalau kau salah lihat Cyla. Aku akan meminta Pram untuk membuat jadwal temu dirimu dengan dokter mata.” Balas Rega kembali masih mencoba berdalih.


“Apa? Mata ku masih bagus, jadi jangan coba – coba. Rega masalah ini sangat serius. Sudah aku katakana, yang t repenting...” ucap Cyla terpotong. Dengan nada kesal dan jengkel.


“Cyla aku yakin kau salah lihat. Sebaiknya kau kembali kekamar mu. Dan, mulai saat ini jangan mendekati gudang. Maka, jika kau membangkang dan masih nekat. Tanpa negosiasi, aku akan melakukan opsi kedua dalam pilihan yang kau ajukan padaku. Mengurungmu adalah hal tepat untuk mendisiplinkan sikap membangkang mu.” Sahut Rega tajam. Membuat Cyla meneguk ludah takut dan terkejut.


“Tapi, Rega. Aku yakin...” gumam Cyla pelan terjeda tanpa berani melanjutkan perkataannya.


“Secyla Jellyn, ku bilang kembali kekamar mu. Aku akan meminta madam Leura agar mengantarkan makan malam mu ke kamar.” Perintah Rega tegas, berbalik tanpa berniat menatap kedua mata Cyla yang sendu.


“Rega, ku mohon. Kau bisa melihatnya dulu.” Cicit Cyla takut namun terselip sedikit harapan.


“Cyla jangan berdebat atau aku benar – benar akan mengurung mu.” Balas Rega tegas.


“Baiklah. Aku mengerti.” Ucap Cyla dengan wajah sendu keluar dari ruang kerja Rega.


Meninggalkan sang empunya ruangan yang menahan emosi akibat pengawalnya itu tidak bisa diandalkan. Padahal, hanya menjaga satu orang saja. Bisa kecolongan hingga Cyla mengetahuinya. Bersyukur, setidaknya Cyla tidak melihat wajah si perempuan itu. Dan sungguh, jangan sampai hal itu terjadi. Atau mimpi buruk yang selama ini Rega takutkan akan terjadi.


*****


To be continue,


See you again ~~~~


Don't forget your vote, like, and coment!


Typo coment guyss....


WARNING!


FOLLOW MY ACOUNT!