
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination.
~ Happy Reading ~
*****
Didalam luar gedung apartement milik Rega. Pram – Sekretaris sekaligus asisten pribadi Rega datang ke apartement berniat melapor apa saja yang sedang dilakukan nona Cyla sekaligus mengantarkan dokumen yang perlu dilihat dan ditanda tangani. Tepat saat masuk kedalam apartement karena Pram tahu sandi apartement bosnya sejak dulu, Pram mengernyitkan dahi bingung sebab tidak mendapati bosnya dimana pun. Hal tersebut membuatnya langsung berfikir jika ada kemungkinan kalau bosnya sedang berada diruang rahasianya. Nyalinya sedikit menciut, apakah harus membuka pintu rak buku tersebut atau tidak. Pram juga mengetahui sandi tersebut, sandi yang menurutnya terbilang cukup ceroboh untuk ukuran seorang CEO. Sandi yang sangat mudah diingat, yaitu angka nol dengan empat digit. Namun, meski Pram tahu sandi tersebut. Seumur hidupnya bekerja mengabdikan dirinya pada Rega Rahendra tidak pernah sekalipun Pram memasuki ruangan tersebut. Tapi, keadaan saat ini terbilang sedikit genting. Maka pilihan satu – satunya Pram adalah membuka pintu rak buku tersebut. Bermodal nekad, Pram mulai menekan sandi tersebut dari angka demi angka dengan jari telunjuk kanannya. Setelah selesai menekan sandi, Pram menghela nafas mencoba meringankan perasaan gugupnya.
Namun, hal diluar dugaan yang ia dapati saat matanya berkeliling melihat isi ruang rahasia milik bosnya. Cahayanya memang tidak terang, terbilang temaram namun hal tersebut masih bisa dikatan cuku untuk menerangi ruangan ini. Cahaya yang membuatnya melihat sesuatu yang mengejutkan, Pram tersentak terkejut mundur beberapa langkah tidak percaya. Hampir seluruh dindingnya penuh dengan foto Cyla. Foto Cyla dari bayi sampai foto Cyla yang tumbuh besar sampai saat ini. Yang membuat Pram berdiam mebeku, Pram berani bertaruh lebih banyak foto Cyla dalam keadaan telanjang. Sungguh kejutan yang membuatnya seketika ingin mengundurkan diri. Memberanikan diri mendekat kearah bosnya yang tengah duduk membelakanginya,membelah cahaya lampu yang temaram melangkah mendekat kearah bosnya. Namun, hal aneh terjadi saat langkah demi langkah membuatnya mengernyitkan dahi bingung ketika mendengar suara seperti suara orang yang mendesah. Jantungnya sudah berdegup kencang, perasaan Pram sudah mulai ketakutan. Saat tepat sudah berdiri dibelakang bosnya, jantungnya yang tadi berdebar kencang gelisah seketika berhenti berdetak. Kedua matanya membelalak terkejut. Begitupun tubuhnya, kembali tersentak mundur. Atasannya – Bosnya tengah menonton dilayar laptop, yang membuat Pram terkejut setengah mati adalah bosnya tengah menonton dirinya sendiri yang tengah bercinta dengan Cyla. Pram merasa saat sedikit melihat bisa dikatan itu adalah saat bosnya mengambil paksa keperawanan Cyla.
Seribu makian dan sumpah serapah Pram ucapkan kepada bosnya, namun sayangnya. Ucapan kasar tesebut tidak diucapkan dimulut, melainkan mengalun dengan indah didalam hatinya. Dirinya kembali dikejutkan saat telinganya mendengar suara boanya dengan nada santai, seolah tidak tergangu atau mungkin tidak perduli akan kehadirannya.
“Ada apa?” tanya Rega dengan nada santai, namun matanya masih setia menatap layar laptop dengan tatapan datar.
“saya ingin...” jawab Pram terpotong ketika matanya kembali dikejutkan – Menangkap genangan darah cukup banyak dilantai. Mengalihkan pandangannya sedikit keatas. Kedua matanya kembali membulat sempurna, terkejut melihat telap tangan bosnya yang terluka cukup parah dengan darah yang terus mengalir cukup deras.
Sontak tubuh Pram bergegas keluar dan menuju dapur untuk mengambil kotak P3K. Kembali keruang kerja bosnya, menutup pintu ruang kerja. Hendak kembali keruang rahasia. Namun, ternyata bosnya sudah menunggu disofa ruang kerjanya. Melangkah mendekat kearah bosnya, ikut duduk disofa disamping bosanya. Mengobati atasannya dalam diam tanpa banyak bertanya apa penyebab lukanya ini terjadi.
“Nona Cyla saat ini tengah di perpustakaan bersama pria lain, sir. Anak buah saya mengatakan jika pria yang sedang bersama nona Cyla adalah tuan muda Sky. Cain Halvor Uzzielsky, sir.” Ucap Pram dengan nada datar, bersikap profesional sebagai seorang sekretaris. Meski dirinya tampak tenang dari luar, namun jauh didalam benaknya. Jantungnya sudah berdebar gelisah dan ketakutan. Takut jika tiba – tiba pria di depannya, yang notabenya adalah bosnya itu seketika bisa meledak. Menjadi amukan bos, hal itu masuk dalam daftar list paling dia hindari.
“Cain Halvor Uzzielsky? Sudah berapa lama mereka bersama di perpustakaan?” tanya Rega dingin, matanya menatap datar kearah telapak tangan kanannya yang sudah dibalut perban dengan rapi oleh Pram. Namun setelah mendengar laporan Pram barusan. Perasaan yang paling ingin Rega hindari, kini seketika bersemayam di hatinya. Perasaan cemburu membayangkan Cyla bersama prua lain selain dirinya. Rahang Rega mengetat, wajahnya memerah padam menahan emosi yang kembali ingin ia lampiaskan.
“Mereka sudah bersama sejak dua jam yang lalu, sir.” Jawab Pram tenang atau lebih tepatnya menahan nafas bersikap pura – pura tenang.
“Dan kau baru memberi tahu ku sekarang?” tanya Rega kembali masih dengan nada dingin, menatap tajam menguhunus kearah mata Pram.
“Maafkan saya, sir. Ini semua akibat dari kelalaian saya, sir.” Jawab Pram gugup, menelan ludah susah. Menundukan kepala mencoba menghindari tatapan dari bosnya – Bersikap layaknya seseorang yang melakukan kesalahan dengan memandang ujung sepatunya.
“Kalau begitu seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang, bukan?” ucap Rega dengan aura yang lebih suram dari sebelumnya. Mengaitkan jemarinya dan menumpukan dagunya diatasnya – Masih menatap tajam Pram.
“Saya mengerti, sir. Tapi,” balas Pram sedikit Ragu. Mengangkat wajahnya, kembali menatap bosnya dengan perasaan penuh keraguan.
“Tapi, apa?” sahut Rega tidak suka. Memicingkan mata kesal mendengar kata ‘Tapi’ keluar dari mulut Pram.
“Tiga jam sebelumnya, salah satu sahabat nona Cyla menghubungi saya. Kalau tidak salah namanya adalah Nadia. Mengatakan kalau nona Cyla akan menginap di apartementnya.” Jelas Pram kembali tenang, sebisa mungkin menghilangkan perasaan gugupnya. Menghela nafas pelan, lega karena sudah mengatakan segalanya.
“Kau pikir setelah mendengar Cyla bersama si – Sky itu. Aku akan mengijinkannya?” tanya Rega kembali, mengangkat sebelah alisnya. Lalu menyandarkan punggungnya kekursi, melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya.
“Tidak, sir. Kalau begitu saya permisi.” Jawab Pram yakin, menundukan kepala hormat. Melangkah keluar dari ruang kerja bosnya.
Pram terus melangkah menuju basemant apartement dimana dirinya memperkirakan mobilnya. Tepat setelah berdiri disamping pintu mobil kurai kemudi, tangannya mengambil ponsel didalam saku jasnya. Menekan tombol deal ke nomor anak buahnya yang dia sewa untuk mengawasi nona Cyla.
“Halo bos?” jawab salah satu anak buah Pram yang bernama June. Tengah duduk disalah satu kursi meja baca perpustakaan umum dengan kedua rekannya – Wana dan Indra. June memang mengangkat panggilan dari Pram, namun kedua matanya masih senantiasa mengawasi setiap gerak gerik nona Cyla. Begitu juga dengan kedua rekannya. Mereka bertiga tidak terlalu dicurigai, sebab mereka mengawasi dengan dandanan pakaian casual. Dengan gaya rambut rapi, serta tas yang mereka bawa. Persisi seperti mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas bersama pada umumnya.
“Masih di perpustakaan?” tanya Pram datar, membuak pintu mobil kemudi lalu masuk kedalamnya.
“Masih bos. Perintah dari selanjutnya?” jawab June kembali bertanya dengan nada sepelen mungkin tentang perintah selanjutnya.
“Tetap awasi. Tunggu sampai aku datang, ada kemungkinan kalau kita akan memaksa nona Cyla pulang. Mungkin menculiknya secara paksa adalah kata yang tepat.” Jawab Pram mulai menyalakan mesin mobilnya. Matanya tanpa sengaja melirik kearah kursi penumpang samping kemudi, semua berkas dan dokumen yang seharusnya dia berikan kembali tergeletak ditempatnya semula saat dia membawanya kesini.
“Saya mengerti bos. Lalu bagaimana dengan sipria? Kita harus apakan tuan muda Sky?” balas June mengerti perintah dari Pram. Namun kembali bertanya saat bingung tindakan apa yang harus dia lakukan bersama kedua rekannya kepada tuan muda Sky.
“Terlalu beresiko jika kita sampai berurusan dengan seorang Cain Halvor Uzzielsky. Biarkan saja tuan muda Sky. Namun, lakukan segala cara jika dia berusaha menghalangi kita. Kau mengerti?” ucap Pram tegas dengan nada memerintahnya. Mulai menjalankan mobilnya keluar dari basemant gedunga apartement.
“Baik bos. Saya mengerti.” Balas June paham, menyimpan kembali ponselnya kedalam saku hoodienya setelah menutup panggilannya. Matanya kembali teliti mengawasi setiap gerak gerik nona Cyla dan tuan muda Cain Halvor Uzzielsky. Terus mengawasi, menunggu bosnya – Pram datang ke perpustakaan. Menemuinya membawa paksa nona Cyla agar kembali ke apartement bos besarnya, bersama kedua rekannya tentu saja.
~
Latar Belakang Cain Halvor Uzzielsky.
Memiliki nama lengkap, Cain Halvor Uzzielsky – Pria yang berusia 27 tahun. Ayahnya bernama Andreas Ansellsky. Sedangkan Ibunya, Annasia Orlova. Annasia memiliki ciri khas orang Rusia yang menurun kedalam tubuh Cain. Ibunya – Annasia memiliki warna rambut khas orang Rusia yaitu merah (Kecoklatan), dengan kedua matanya gray (Abu – abu terang). Hal tersebut membuat Cain juga memiliki warna rambut yang sama dengan Ibunya – Merah (Kecoklatan). Serta memiliki warna mata gray (Abu – abu kebiruan). Terlihat sangat mencolok diranah publik jika Cain berdiri diantara mereka. Warna mata gray yang dimiliki Cain sedikit berbeda dengan warna mata miliki Sera. Warna mata gray yang dimiliki Cain kadang juga dianggal warna mata biru muda. Penampilan warna mata gray (Kebiruan) disebabkan hamburan cahaya dari epitel yang lebih gelap. Pewarnaan gray, observasi tertutup, juga bisa menunjukan sedikit kuning atau coklat.
Alasan kenapa Cain bisa berada di Indonesia sedangkan kedua orang tuanya dan adiknya tinggal di Moskow, Rusia. Alasannya tersebut juga merupakan dari salah satu rahasia yang hanya diketahu anggota keluarga Sky saja. Kakeknya – Ayah Andreas sudah meninggal dunia sejak 4 tahun yang lalu. Kakeknya pernah menikahi perempuan dari Indonesia – Neneknya lalu melahirkan Ayahnya yaitu Andreas Ansellsky. Namun, pernikahan Kakeknya tidak bertahan lama. Mereka bercerai saat Ayahnya berusia 3 tahun. Hak asuh Ayahnya jatuh sepenuhnya ke Kakeknya, tapi Kakeknya tetap mengijinkan Ayahnya bertemu dengan Neneknya – Ibu Andreas. Dengan catatan Ayahnya lah yang berkunjung menemui Neneknya di Indonesia sebab Neneknya dideportasi dari negara Rusia oleh sang Kakek, sehingga membuat sang Nenek tidak dapat lagi menginjakan kaki lagi di Rusia.
Nenek Cain menikahi pria lain saat Ayahnya genap berusia 5 tahun. Neneknya menikahi pria keturunan bangsawan keraton Solo. Neneknya juga merupakan nenek dari Adam Jaya Mahesa. Membuat Ayah Adam adalah adik se – Ibu dari Ayahnya – Andreas. Yang cain tahu, Ayahnya dengan paman Dimas – Ayah Adam tidak pernah akrab dan selalu menunjukan aura perang dingin satu sama lain. Hal tersebut juga mendarah daging kepada Cain dan juga Adam. Bertegur sapapun akan mereka lakukan jika Neneknya yang memintanya.
Dan tepat dua hari yang lalu saat dirinya sedang berada di Dubai, menggantikan Ayahnya. Cain mendapat panggilan dari suami Neneknya jika sang Nenek sudah sakit selama tiga hari dan ingin agar cucu keduanya datang ke keraton Solo saat itu juga. Mau tidak mau Cain meminta sekretarisnya untuk menangani masalah proyek di Dubai selama dua minggu kedepan. Ayah dan Ibunya akan datang besok, sedangkan sang adik tidak dapat datang karena sedang disibukan dengan ujian akhir musim dingin. Dua hari merasa bosan dengan selalu berada di Keraton Solo Cain memilih untuk berwisata sendiri setelah dilihat sang Nenek sudah membaik dan sudah memberikan ijin kepadanya.
Datang ke Semarang dan menginap dihotel, lalu berwisata kuliner setelah itu pergi ke Perpustakaan. Matanya langsung berbinar terpaku saat melihat Cyla untuk pertama kalinya. Merasa bahwa Cyla memiliki pesona tersendiri yang menariknya untuk mendekatinya - Berdalih ingin meminjam buku yang sama yang sedang Cyla pegang. Alasan yang sangat konyol bagi seorang pria keturunan Sky. Namun, siapa yang menyangka triknya akan membuahkan hasil yang memuaskan.
~
Berbeda dengan Rega yang hatinya tengah uring – uringan menahan Kecemburuan. Cyla saat ini merasa sedikit terhibur dengan teman barunya. Tersenyum, tertawa, bahkan saling memaki satu sama lain tanpa sungkan. Seketika Cyla membandingkan pria di sampingnya – Cain Halvor dengan pria yang menganggap diri Cyla saat ini sebagai kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Rega Rahendra. Cyla merasa jika dirinya saat bersama Rega tidak mendapatkan perasaan senyaman ini. Tanpa sadar, tiba – tiba pendengaran Cyla mengabur. Fokusnya jatuh menatap wajah Cain dalam. Merasa konyol dengan dirinya sendiri yang langsung terpesona padahal mereka baru saja bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Menatap penuh memuja pada warna mata Cain yang berwarna gray (Kebiruan). Alisnya yang coklat gelap. Dan rambutnya yang berwarna merah (kecoklatan) – Warna yang sangat jarang Cyla dapati di Indonesia. Kulit Cain yang berwarna putih kecoklatan. Pakaian casual – hoodie putih, celana jeans, sepatu both hitam. Serta jam tangan yang Cyla tahu dari brand ternama Christian Dior. Sangat tampan, padahal Cain mengaku kalau usianya 27 tahun. Hanya berbeda satu tahun dengan Rega. Sedikit mengernyitkan dahi saat sadar semua yang melekat pada tubuh Cain terbilang sangat mahal, namun yang membuat Cyla semakin bingung. Cyla tidak ingat dan atau mungkin Cyla sangat yakin jika tidak ada keluarga dengan marga Halvor di Indonesia. Namun pikiran itu segera Cyla mengenyahkan saat melihat senyum tampan Cain. Seketika imajinasi Cyla mulai menggila. Seandainya lebih dulu mengenal Cain sebelum bertemu Rega. Mungkin akan berbeda cerita. Imajinasi tersebut langsung menghilang saat Cain mengguncang pelan bahunya. Menyadarkan Cyla dari pikirannya. Mengerjapkan mata perlahan – Menatap Cain bingung.
“Jadi, sedari tadi kau tidak mendengar perkataan ku, hm?” tanya Cain tersenyum lembut. Menaikan sebelah alisnya, seolah meminta jawaban yang memuaskannya.
“Ha? Oh, itu. Aku hanya sedang memikirkan masalah ku. Iya, masalah ku.” Jawab Cyla terbata – Gugup, mengalihkan pandangannya salah tingkah.
“Yakin? Tapi yang kulihat, kau sedari tadi hanya diam menatap wajahku tanpa berkedip dengan senyum di wajahmu. Terpesona?” tany Cain lagi dengan senyum di bibirnya, mendekatkan wajahnya beberapa centi tepat didepan wajah Cyla. Membuat Cyla mengerjapkan mata diam membeku, terkejut.
Cyla sedikit memundurkan wajahnya, menjauh dari tatapan Cain. Hal tersebut membuat Cain terkekeh pelan, tersenyum miring menggelengkan kepala melihat tingkah Cyla. Sangat menarik dimatanya.
“Aku tidak akan menyangkal tentang hal tersebut. Kau terlihat terlalu berbeda dengan pria pada umumnya. Apa itu warna rambut asli atau itu pewarna rambut?” tanya Cyla tanpa bisa menahan jemarinya untuk menyentuh setiap helaian rambut milik Cain.
Seketika Cain membeku terkejut dengan pergerakan tiba – tiba Cyla. Jantungnya kembali mulai berdebar dengan yang lebih menggila. Mengerjapkan mata pelan, menatap diam kearah Cyla yang terlihat jelas diwajah Cyla kalau dia terpesona pada rambutnya.
“Kalau menurut mu bagaimana? Apa ini warna asli atau pewarna rambut?” tanya Cain balik tersenyum manis, senyuman yang hampir membuat matanya menyipit – Tidak terlihat.
“Aku merasa kalau itu warna asli. Terlalu sempurna untuk dikatakan kalau itu pewarna rambut. Apa aku benar?” jawab Cyla pelan sedikit ragu dengan jawaban yang dia lontarkan sendiri, namun masih bisa didengar dengan jelas ditelinga Cain.
“Kau benar. Ini warna rambut asli ku. Apa terlihat aneh?” balas Cain masih dengan senyum menghias di wajahnya.
“Ya, kau benar. Terlihat aneh.” Ucap Cyla masih dengan nada pelannya.
“Sungguh? Anehnya bagaimana?” Cain kembali, mengerutkan dahi bingung.
“Anehnya, warna rambut itu terlihat sangat cocok untukmu.” Jawab Cyla jujur, menggedikan bahu pelan.
“Kau orang ketiga yang mengatakan hal serupa padaku.” Ucap Cain semakin menarik sudut bibirnya.
“Sungguh? Oh aku merasa terhormat tuan Halvor. Jadi siapa yang pertama dan yang kedua?” balas Cyla sedikit terkejut, namun langsung menetralkan perasaan terkejutnya. Mengucapkan kalimat yang berakhir pertanyaan. Tanpa menutupi rasa penasarannya.
“Ibu dan Nenekku.” Balas Cain tersenyum, mengingat kilasan balik saat Ibu dan Neneknya mengatakan hal serupa seperti yang Cyla katakan.
“Kau sungguh tidak terlihat seperti orang Indonesia.” Ucap Cyla bergumam, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku memang bukan orang Indonesia. Aku lahir dan tinggal di Moskow, Rusia. Namun Nenekku orang Indonesia dan beliau ada di Indonesia sekarang.” Balas Caim cepat, menjelaskan saat tidak sengaja mendengar gumaman Cyla.
Hal tersebut sontak mengejutkan Cyla. Paham kenapa dirinya tidak pernah mendengar nama belakang Halvor. Mengerjapkan mata berkali – berkali. Masih mencoba mencerna ucapan Cain yang terbilang tiba – tiba. Tingkah Cyla yang diam saja malah semakin terlihat imut dan juga manis dimata Cain. Membuat Cain betah berlama – lama menatap wajah Cyla.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your vote and coment,
Typo coment guyss.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!