
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination...
Jangan lupa like dan rate nya!
~ Happy Reading ~
*****
“Termasuk Ibu ku?” Tanya Cyla sinis, menatap tajam pria yang berdiri dengan nafas memburu itu di hadapannya.
“Ya, termasuk Ibu mu.” Jawab Rega dingin.
Mendengar jawaban Rega, sontak saja membuat Cyla melangkah mundur.
“Dimana Moana?” Tanya Cyla kembali dengan nada suara yang bergetar.
“Aku tidak tahu.” Jawab Rega singkat, kembali mendudukan dirinya pada kursi kebesarannya.
Cyla menatap dalam penuh makna tepat pada mata Rega. Saling melayangkan tatapan membuat suasana hening sesaat.
“Aku tahu kau mengetahuinya.” Gumam Cyla pelan, namun masih dapat di dengar dengan jelas di telinga Rega.
Sedangkan Rega yang mendengar gumaman Cyla hanya diam tanpa reaksi. Mengamati setiap perubahan ekspresi pada wajah Cyla. Tidak berniat menanggapi perkataan kekasihnya itu. Kekasih diatas hitam putih.
“Aku tahu hal yang sia – sia bertanya pada mu. Tapi, tidak tahu kenapa aku tetap memiliki harapan agar menemukan jawabannya dari mu. Bukan orang lain.” Ucap Cyla mencoba berusaha untuk berikap tenang. Menghapus kasar sisa – sisa air mata yang sudah mulai tidak mengalir di pipinya.
“Aku pebisnis, sayang. Kau tahu lebih baik akan hal itu. Aku harus memiliki jaminan dalam setiap transaksi yang aku lakukan agar tidak merugikan ku.” Balas Rega datar dengan tetap mengamati setiap gerakan Cyla dengan mata tajamna yang seolah – olah ingin menelanjangi Cyla meski hanya dengan tatapannya saja. Hal tersebut membuat Cyla merinding dalam diam.
“Jaminan? Setelah kau menghancurkan keluarga Adiaksa, kau masih berani berbicara tentang jaminan? Apa mereka punya jaminan dari semua perbuatan yang sudah kau lakukan?” Tanya Cyla menggebu – gebu.
“Sudah ku katakana sebelumnya bukan. Jika mereka pantas mendapatkannya. Karena berani menyinggung ku. Mengusik milik ku.” Jawab Rega santai, namun masih dengan nada datarnya.
“Karena ku? Apa akibat dari Moana yang menyiram ku?” kembali Cyla bertanya, berharap jawaban yang akan di katakana Rega ‘tidak’ meski hanya sekedar harapan palsu semata.
“Ya, kau benar.” Jawab Rega singkat.
“Rega! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?” jerit Cyla dengan nafas yang menderu.
“Rega, tanpa kau sadari kau membunuh mereka secara perlahan. Apa kau tidak takut jika mereka melaporkan mu pada pihak yang berwajib? Kau sungguh sudah tidak waras.” Tambah Cyla mencengkram erat sisi pakaiannya.
“Apa kau berpikir jika polisi tidak berada di bawah kekuasaan ku? Syang, jangan bertingkah seperti gadis polos saat kau sendiri sudah tidak polos.” Balas Rega diakhiri diakhiri dengan senyum mengejek.
“Kau!” desis Cyla menggigit lidah bagian dalamnya.
“Jika kau tidak ingin semua terjadi. Bukankah kau seharusnya sadar dan tahu diri untuk lebih menjaga dirimu sendiri, dan jangan sampai biarkan orang lain menyentuh mu tanpa seijin ku tidak peduli dia laki – laki atau perempuan. Seharusnya kau tahu bagaimana kau bersikap. Tidakkah kau sadar, semua ini terjadi karena mu. Karena dirimu. Hal ini tidak akan terjadi jika saja kau menjadi gadis penurut untuk ku. Ah, salah. Bukankah sudah tidak gadis lagi?” sahut Rega tenang, berdiri dan melangkah memutari meja. Duduk tepat diatas meja dengan menatap Cyla dengan tangan yang dilipat didepan dada bidangnya.
Alih – alih tersinggung akibat mendengar ucapan Rega, Cyla hanya berdecak pelan dan mengabaikan semua perkataan yang dilontarkan Rega. Berbalik, memilih melangkah berniat keluar dari ruangan CEO yang sayangnya sangat terkutuk itu. Namun, langkahnya terhenti akibat ucapan Rega kembali.
“Kau keluar, Mahesa selanjutnya.” Ucap Rega meninggi. Membuat langkah Cyla terhenti kembali, berbalik dan menatap tajam dengan geraman emosi kearahnya.
“Kau!” desis Cyla kembali untuk kesekian kalinya. Tidak percaya Rega akan mengancamnya dengan kata tersebut, yang sayangnya memang berhasil.
“Jaminan, Cyla. Jaminan. Kau bernegosiasi dengan ku, maka jaminan itu harus dari dirimu. Bukan Adiaksa ataupun Mahesa.” Sambung Rega, menurunkan lengannya. Lalu mencengkram erat pinggiran meja yang ia duduki.
“Kau tidak bisa menyentuh Mahesa meski kau ingin. Jalan kalian berbeda, kau tahu itu. Mahesa berdiri sendiri.” Balas Cyla tersenyum kemenangan. Ikut melipat kedua tangannya didepan dadanya.
“Siapa yang tahu. Kau berkata seperti itu, bukankah itu artinya aku hanya harus membuat diriku berada dijalan yang sama dengan mereka. Agar aku bisa meruntuhkan dindingnya, tanpa tersisa. Seperti Adiaksa, kau melihatnya.” Sahut Rega tidak kalah sengit, menyunggingkan senyum miring.
“Apa yang kau mau?” Tanya Cyla menahan amarah, tanpa sadar menggigit sudut bibirnya hingga membuat luka dan mengeluarkan sedikit bercak darah.
“Kau yang paling tahu hal apa yang aku inginkan di dunia ini, Cyla. Jawabannya adalah kau. Aku menginginkan mu. Dirimu.” Jawab Rega tajam, melangkah mendekati Cyla.
“Aku?” gumam Cyla bingung dan bertanya – Tanya dalam benaknya.
“Ya, kau. Aku ingin dirimu. Seutuhnya dan selamanya.” Jawab Rega dengan nada bicara yang mulai sedikit melembut, tepat didepan wajah Cyla. Membuat Cyla mendongak agar dapat menatap wajahnya.
“Kau sudah mendapatkannya.” Balas Cyla masih di landa kebingungan.
“Tidak, kau salah. Saat ku bilang seutuhnya dan selamanya. Itu artinya tanpa ada tanda tangan yang mengikat dan membatasi kebersamaan kita.” Ucap Rega mengakhirinya dengan kecupan singkat pada pipi kiri Cyla, membuat sang empunya memejamkan mata tanpa pemberontakan.
“Kau yang menghindari ku beberapa hari belakang, bukan aku.” Balas Cyla lirih hampir setengah berbisik membela diri, kembali membuka kedua matanya perlahan.
“Aku mencoba bersikap untuk menghargai mu....” sambung Rega terpotong, menatap dalam mata Cyla.
“Tidak, kau menyembunyikan ku.” Sahut Cyla cepat, menyela dengan mata yang terperangkap pada tatapan mendalam Rega.
“Aku tidak akan menyangkalnya. Kali ini aku berjanji dan pastinya akan aku tepati. Dengan kau sebagai syaratnya.” Ucap Rega lembut, kembali menghadiahkan kecupan singkat di dahi Cyla.
“Apa itu?” Tanya Cyla cepat dengan rasa penasarannya.
“Kita akhiri kontrak dengan kau kembali menjadi wanitaku sesungguhnya. Maka, janji yang akan aku berikan adalah mengembalikan semua pada tempatnya. Bagaimana?” jawab Rega mengelus perlahan pipi Cyla sebelum kembali memejamkan mata, menahan getaran hebat yang mengalir pada setiap pembuluh darah dalam tubuhnya – Menyadari jika dirinya akan selalu kembali dibuat luluh meski hanya dengan sentuhan dan rayuan lembut nan mematikan milik seorang Rega Rahendra.
“Apa itu artinya Moana ada bersama mu?” Tanya Cyla memastikan. Dengan nafas menderu, menahan gejolak birahi yang muncul akibat sentuhan permainan jemari Rega pada leher jenjangnya.
“Aku menolak menjawab. Tapi, janji tetaplah janji. Akan aku pastikan Moana kembali pada rumahnya. Keluarganya.” Jawab Rega tersenyum geli melihat raut wajah sayu Cyla yang terlihat luluh kembali padanya.
“Bagaimana dengan Ibu ku?” Tanya Cyla lagi khawatir.
“Itu pengecualian. Tapi, aku akan membiarkan mu kembali bisa menghubunginya atau bahkan bertemu langsung dengannya. Setelah Ibu mu tidak lagi menjadi batu penghalang di antara kita, sayang.” Jawab Rega dingin, tidak suka dengan pembahasan ini.
“Penghalang? Itu mustahil, Ibu ku bahkan terlihat masih sangat menyukai mu setelah semua yang kau lakukan pada kami.” Ucap Cyla memburu.
“Maka, tetaplah melihatnya seperti itu. Dan semuanya akan baik – baik saja.” Sahut Rega cepat.
Menatap dalam mata Cyla, meraih dagunya agar semakin lebih dekat dengan wajahnya. Mengecup singkat sudut bibir Cyla yang terluka akibat ulah Cyle sendiri. Menjauhkan wajahnya sebentar sebelum kembali menghujami ciuman menggebu pada bibir Cyla. Ciuman yang sangat agresif akibat rasa rindu yang dia tahan selama beberapa hari belakang. Mendorong Cyla di sela – sela ciuman mereka hingga punggung Cyla membentur daun pintu ruangan CEO, bersyukurlah Rega yang memang mendesign ruangannya menjadi ruangan yang kedap suara. Meraih kedua tangan Cyla agar dikalungkan pada lehernya. Meraih tengkuk Cyla guna untuk memperdalam ciumannya itu. Mengalihkan ciumannya yang panas dan erotis itu pada leher Cyla yang mengiurkan dengan kecupan singkat diseluruh leher Cyla, membuat sang empunya leher mengerang tertahan. Meluapkan segala kerinduannya akan menyentuh wanitanya. Semakin menekan badan Cyla seolah ingin menenggelamkan Cyla diantar dirinya dan daun pintu dengan badannya. Seolah Rega ingin member tahu Cyla, menunjukan seberapa panas dirinya saat itu juga. Dan memerlukan sesuatu yang bisa membuatnya keluar dengan kenikmatan yang melandanya.
¬
“Kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang bukan?” ucap Rega datar, menegak habis wine dalam satu kali teguk. Duduk menyilangkan kaki dengan tubuhnya yang hanya mengenakan boxer dan juga jubah tidur yang mana bahkan tidak diikat jubah tersebut. Menunjukan dada bidangnya yang six pack itu.
“Saya mengerti, sir. Saat ini semua berjalan sesuai dengan rencana anda. Dan akan saya pastikan, sampai akhir semua tetap dalam kendali anda. Nona Cyla tidak akan tahu ataupun sadar jika apa yang baru saja terjadi padanya merupakan scenario anda, sir.” Jawab Pram tenang, meski sedikit merasa bersalah pada nonanya itu. Menyunggingkan senyum sekilas, sekali lagi bangga pada dirinya sendiri yang selalu bisa menyingkirkan hama yang menghalangi jalan rencana bosnya.
“Saya mengerti, sir. Kalau begitu saya permisi.” Balas Pram menunduk sekilas, lalu melangkah pergi setelah mendengar dehaman dari atasannya itu. Keluar dari kamar pribadi bosnya dengan menutup kembali pintu ketika keluar secara perlahan.
Rega berdiri dan melepas jubah tidurnya dengan meletakannya di atas single sofa yang baru saja dia duduki. Melangkah kembali kearah ranjang dan naik dengan hati – hati. Masuk kedalam selimut yang membungkus tubuh ***** Cyla lalu langsung memeluk erat punggung Cyla. Membuat Cyla melenguh pelan merasa sedikit terganggu. Menghujami ciuman lembut pada leher jenjang Cyla, membuat Cyla jengah dan berbalik untuk masuk kedalam dekapan Rega. Sentuhan sesame kulit yang membuat Rega menggeram tertahan.
“Aku masih lelah. Tidak bisakah biarkan aku tidur sebentar saja.” Gumam Cyla dalam tidurnya. Setengah sadar akibat jemari Rega yang menelusuri setiap inci kulit punggungnya yang tanpa penutup. Dimana selimut yang tadinya menutupi tubuhnya menurun.
“Baiklah. Tidurlah yang nyenyak, aku akan membangunkan mu saat kita akan pulang nanti.” Balas Rega berbisik, ikut memejamkan mata setelah dehaman Cyla. Mencoba mendamaikan diri dalam mimpi tidurnya.
~
Dalam langkah diamnya, Cyla jalan mengendap – ngendap. Masuk kedalam gudang yang sejak kejadian itu selalu membuatnya penasaran tepat saat melihat kedua penjaga pergi. Menutup perlahan pintu gudang dan menguncinya dari dalam, berjaga – jaga agar tidak ada yang bisa masuk dan merusak rencananya. Sangat sesak hingga membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata dari sudut matanya akibat rasa trauma akan kegelapan dalam dirinya. Menekan saklar lampu yang dalam sekejap mata menerangi gudang tersebut. Menghembuskan nafas lega terhindar dari lampu rusak yang tidak akan bisa hidup.
“Kosong?” gumam Cyla tidak percaya dengan penglihatannya.
Tidak ada apa pun dalam gudang itu. Tidak ada barang atau pun benda lainnya. Benar – benar ruang tertutup yang sangat kosong, bahkan tidak ada jendela satu pun sebagai fentilasi udara sama sekali yang membuat heran adalah namun gudang tersebut tidak lembab atau bahkan tidak berdebu sama sekali, sangat terawat untuk ukuran ruangan yang disebut gudang oleh Rega. Sungguh ruangan yang mengejutkan untuk seorang Secyla Jellyn. Hanya ada dua pintu. Pintu di belakang Cyla yang dia gunakan untuk masuk kedalam. Dan satu lagi pintu dengan bentuk dan warna yang sama tepat di depan seberangnya. Meneguk ludah gugup, memberanikan diri mendekat kearah pintu tersebut. Cyla melangkah mendekat lalu menekan knop pintu tersebut dan menariknya. Hal yang mengejutkan kembali membuat kedua mata Cyla membulat sempurna.
“Dinding di balik pintu? Apa Rega sedang mempermainkan ku? Atau ini jebakan?” gumam Cyla lagi.
Mengulurkan tangan meraba dinding di depannya. Bepikir mungkin saja ada tombol rahasia atau apa pun itu. Mendengus kesal, saat tidak menemukan apapun. Kosong. Tidak ada tombol atau yang lainnya. Cyla melangkah mundur mengamati. Melipat kedua tangann didepan dadanya, berpikir. Dinding di balik pintu itu sangat berbeda. Memiliki cat dinding yang berwarna hitam pekat, membuat dinding tersebut terlihat sangat kontras dari pada cat dinding gudang yang memang berwarna putih ke abu – abuan.
Kembali mata Cyla melotot sempurna saat mengingat kilas balik bayangan masa lalu ucapan Rega padanya saat mereka berdua masih bersama dan tepat satu minggu sebelum hari pernikahan mereka, yang seribu sayang tidak pernah terjadi.
¬ Flashback On ¬
“Sayang, apa kau tahu. Aku sangat suka kata – kata dari Anish Mazumder yang isinya ‘terkadang di butuhkan luka untuk menyembuhkan luka.’ Terdengan mengerikan, namun entah mengapa memiliki kesan sendri untukku.” Ucap Rega lembut dengan senyum di wajahnya. Menyangga dagunya dengan jemari yang saling berkaitan dan menatap penuh kasih pada Cyla yang sibuk menyantap sarapannya.
¬ Flashback Off ¬
“Terkadang di butuhkan kegelapan untuk menghilangkan gelap lainnya.” Gumam Cyla tersadar, melangkah mundur lalu berbalik jalan kearah saklar lampu. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Mematikan satu – satunya lampu yang menerangi gudang tersebut. Hingga,
Kreekk!
Bunyi pintu terbuka tertangkap di telinganya dari balik punggungnya. Secercik bayangan cahaya yang memantul pada dinding di depannya. Membuat Cyla seketika langsung berbalik, medapati seperti sebuah lorong tangga ke bawah muncul dari balik dinding gelap tersebut. Sontak Cyla menghembuskan nafas lega, melanjutkan kembali langkahnya menuju lorong tangga kebawah itu dengan tergesa – gesa.
Terus melangkah hingga tangga terakhir. Menatap tidak jauh terdapat jeruji besi dimana di dalam sel yang seperti sel penjara tersebut terdapat ranjang serba putih dan seseorang yang berbaring memunggunginya dengan gaun tidur yang juga berwarna senada dengan warna selimut dan sprei ranjang tersebut. Melihat sekeliling, memastikan tidak ada satupun orang – orangnya Rega. Dengan memaksakan keberaniannya melangkah menuju sel tersebut dibawah cahaya yang remang – remang. Sungguh otaknya kini dipenuhi banyak pertanyaan sedang benaknya bersembunyi ketakutan membuat setiap langkah kaki Cyla bergetar gelisah. Menghela nafas pelan, lalu kembali mengalihkan pandangan pada meja yang tidak jauh dari sisi sel tersebut. Meski harus memutari sisi sel yang tepat berada dibalik punggung perempuan yang tengah berbaring diatas ranjang. Menggeledah setiap laci meja tersebut dengan sangat perlahan hingga menemukan kunci yang Cyla yakini itu adalah kunci sel tersebut. Kembali mendekati pintu sel, dan membuka kunci gembik sel yang dirantai itu dengan pelan meski tetap menimbulkan sedikit suara gesekan. Membuka pintu sel perlahan sehingga menimbulkan decitan pintu terbukan. Membuat perempuan yang terbaring tidur diatas ranjang membuka mata seketika.
“Hello! Apa kau tidur? Maaf, apa aku bisa sedikit mengganggu mu?” ucap Cyla gugup mendekat kearah punggung perempuan tersebut.
“Cyla! What’s that you?” balas perempuan itu yang langsung terduduk, dan berbalik menatap Cyla dengan melotot terkejut.
“Mo...Moana! itu kau!” ucap Cyla meninggi, terkejut saat mengetahui ternyata wanita yang lalu dia lihat dan yang ia kira salah satu pelayan ternyata adalah Moana.
“Bagaimana kau bisa ada disini? Kenapa itu dirimu? Dan, apa yang terjadi pada wajah mu?” Tanya Cyla beruntun, mendekat kearah Moana dengan kedua mata yang membulat sempurna terutama melihat kondisi Moana yang terlihat sangat kacau. Beberapa luka disudut bibirnya yang sudah mongering dan juga luka di pelipisnya. Menangkup kedua pipi Moana dengan sangat hati – hati. Yang langsung dibalas Moana dengan menggenggam kedua tangannya yang berada di pipi Moana.
“Cyla bagaimana kau bisa tahu aku ada disini? Dan, apa yang kau lakukan disini?” balik Moana bertanya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya dan jemari mereka berdua.
“Aku yang bertanya duluan. Kenapa kau ada disini? Dan apa yang terjadi padamu? Pada wajahmu?” kembali Cyla bertanya khawatir. Mengelus pelan luka Moana yang ada di pelipisnya. Membuat Moana meringis pelan kesakitan.
“Sorry.” Sambung Cyla cepat, ikut meringis melihat luka Moana.
“Aku, aku tidka bisa memberitahu mu Cyla, lebih baik kau pergi dari sini. Dan Cyla tinggalkan Rega, dia pria yang sangat mengerikan. Cyla cepatlah pergi, pergilah! Sembuny darinya dan jangan sampai dia menemukan mu. Dia tidak baik untuk mu, dia...dia sangat menakutkan. Rega terlalu berbahaya untuk sekuuran manusia. Dia sudah gila!” jawab Moana dengan isak tangisnya dan nafas yang menderu. Menatap penuh khawatir kearah Cyla. Berharap wanita di depannya ini mau mendengar perkataannya.
“Jadi, prasangka ku benar kalau semua ini adalah ulah Rega. Aku sudah menduga jika Rega dibalik hilangnya dirimu. Tapi, ini diluar imajinasi ku jika Rega menyembunyikan mu disini.” Balas Cyla lebih seperti ocehan khawatir dengan jemari yang sibuk merapikan rambut Moana yang sangat berantakan.
“Cyla, pergilah dari sini. Kumohon jangan sampai Rega tahu kau ada disini.” Sahut Moana menatap memohon tepat dinetra mata Cyla.
“Tidak! Bukan aku yang akan pergi. Tapi, kita berdua akan pergi.” Balas Cyla menegaskan. Meraih tangan Moana dan hendak membawanya keluar dari sel terkutuk itu. Namun, langkah mereka terhenti tepat didepan pintu. Saat suara dentuman besi terdengar dari arah kaki Moana. Membuat Cyla berbalik dan menatap penuh Tanya pada Moana yang dijawab Moana dengan wajahnya yang menunjukan pergelangan kaki kirinya.
“Rantai?” ka dirantai! Moana sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Cyla membelalakan mata terkejut, hingga tangannya yang bebas – Yang tidak menggenngam pergelangan tangan Moana, naik menutup mulutnya yang menganga tidak percaya. Terkejut dengan semua yang terjadi pada Moana.
“Cerintanya panjang. Lagi pula, persetan dengan ceritanya. Tinggalkan aku dan cepatlah pergi darisini. Aku takut jika penjaga atau bahkan Rega melihat mu disini. Melihat kita. Hal itu hanya akan membuat kita semakin dalam bahaya. Percayalah pada ku.” Jawab Moana dengan nada sendu yang frustasi.
“Aku tidak akan mungkin meninggalkan mu. Kita memang musuh, tapi itu yang oran tahu. Orang lain tidak tahu kalau pertengkaran dan perdebatan kita adalah sikap kita dalam berteman. Bagaiaman bisa aku meninggalkan teman ku seperti ini, Moana? Apalagi, keadaanmu yang sangat kacau. Kau perlu dibawa kerumah sakit. Aku harus bilang apa pada keluarga mu terutama kakak kedua mu?” balas Cyla dengan nada yang juga memohon.
“Tapi aku bahkan tidak bisa melangkah keluar dari sel ini meskipun pintunya terbuka lebar. Jadi jangan banyak bicara Cyla, hal itu hanya akan semakin membuang waktu mu untuk keluar dari sini.” Sahut Moana yang sudah sangat frustasi. Khawatir jika ada penjaga masuk dan menangkap basah Cyla.
“Kalau begitu beritahu aku, apa kau tahu dimana kunci untuk borgol besi di kaki mu itu?” Tanya Cyla tegas.
“Ya, aku tahu.” Jawab Moana pasrah dengan nada hampir seperti gumaman.
“Dimana?” Tanya Cyla cepat.
“Pram. Aku melihat kunci itu diserahkan pada Pram meskipun saat itu Rega juga ada disini.” Jawab Moana mencoba bersikap tenang.
“Tapi, Pram tidak tinggal disini. Dan, Pram juga sedang menemani Rega untuk perjalanan bisnis di Bulgaria. Mereka bahkan baru berangkat tadi sore, tepat setelah Rega mengantarku pulang. Jika itu Pram yang memegangnya, sudah dipastikan dia akan membawanya kemanapun dia pergi.” Gumam Cyla yang masih dapat di dengar dengan jelas oleh Moana. Menatap menerawang pada jemarinya yang menggenggam tangan Moana, berbicara seolah seperti sedang menyimpulkan suatu masalah.
“Karena itu sudah aku katakan. Sekalipun kau ingin menolong ku. Sekalipun pintu ini terbuka lebar dan tidak kembali di kunci. Semua sia – sia, aku tidak akan mungkin bisa melangkah keluar dari balik jeruji besi sialan ini.” Sahut Moana menyadarkan Cyla seketika.
“Pasti ada cara lain, Moana. Pasti ada.” Ucap Cyla yakin, mencoba menunjukan tatapan menenangkan untuk Moana.
“Ya, kau benar. Satu – satunya cara adalah lupakan kau pernah datang dan melihat ku disini. Lalu, saat ada waktu pergilanh sejauh mungkin dari Rega. Jika perlu ganti identitas mu sekalian.” Sahut Moana yang mulai kesal dengan kegelisahan yang khawatir akan keselamatan Cyla.
“Berhenti menyuruh ku pergi.keputusanku adalah menyelamatkan mu, dan aku tidak akan pergi sebelum berhasil melakukannya. Kau hanya harus percaya pada ku, Moana.” Ucap Cyla tidak kalah kesal akibat Moana yang terus menerus berucap, menyururhnya pergi meninggalkan Moana. Cyla yakin pasti selalu ada cara untuk membebaskan Moana dari jerat besi yang mengekang setiap langkahnya.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your vote, like, and coment..
Typo coment guyss!
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!