
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination...
~ Happy Reading ~
*****
Setelah memarkirkan mobilnya di basemant gedung apartemennya. Rega langsung bergegas menaiki lift, menuju apartemennya. Menekan sandi apartemen lalu membuka pintu apartemennya.
"Sayang,, aku kemba...li." ucap Rega lirih, terkejut mendapati kedua orangtuanya tengah duduk manis di sofa ruang tamu apartemennya. Melarikan pandangannya kearah Cyla yang juga duduk di sofa berbeda, di balas Cyla dengan senyum kikuk.
Menghela nafas, Rega melepas sepatu kerjanya diganti dengan sandal yang memang biasa dipakai didalam apartemen. Melengkah mendekat kearah orang tuanya, dan duduk disamping Cyla.
"Kenapa Mama sama Papa ada disini?" tanya Rega bingung, membuka kancing kemeja teratas dan sedikit melonggarkan ikatan dasinya.
"Memangnya orang tua harus punya alasan untuk mengunjungi kediaman putranya sendiri?" Jawab Riana, Mama Rega. Diakhiri pertanyaan dengan nada sinis.
"Bukan begitu, Ma. Tapi, kenapa tidak menghubungi ku terlebih dahulu kalau Mama dan Papa ingin berkunjung?" tanya Rega kembali, masih bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Anaknya saja tidak mau menghubungi kedua orang tuanya terlebih dahulu. Lalu, untuk apa orang tua menghubungi anaknya. Iyakan, Pa?" jawab Riana, menatap tajam kearah suaminya yang dibalas dengan anggukan setuju.
"Bukan begitu, Ma. Aku...." sahut Rega terpotong.
"Cukup bilang 'Maaf', Ga. Apa itu sulit?" bisik Cyla menggenggam jemari Rega yang ada dipaha Cyla. Membuat sang empunya menatap dalam kemanik mata Cyla.
"Maaf Ma, Pa." ucap Rega menyerah, mengikuti perkataan Cyla.
Kejadian tersebut tidak luput dari pandangan Jhoan dan Riana. Jhoan dan Riana melempar pandangan satu sama lain sebelum akhirnya tersenyum penuh arti.
"Iya, kami maafkan. Jangan diulangi lagi. Sesibuk apa pun dirimu, cobalah sesekali hubungi kami terlebih dahulu. Kau mengerti, Son?" ucap Jhoan lembut namun tersirat makna tidak ingin di bantah kepada putra tunggalnya.
"Baik, Pa." Tersenyum tulus kearah kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, kita makan siang dulu. Sebentar lagi kalian harus kembali kekantor. Dan, Cyla juga harus ke Kampus." sahut Riana menarik lengan Cyla dengan senyum merekah di bibirnya. Diikuti Jhoan dan Rega dibelekan mereka, melangkah bersama menuju meja makan.
~
Tepat setelah melihat Cyla keluar dari kamar mandi, Rega langsung melangkah masuk kedalam kamar mandi. Cyla yang sudah memakai piayama model Nightgown, berwarna cream dengan motif seperti bordiran, atau renda. Cyla melangkah kearah meja rias berniat mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah. Suara haiydryer memekakan telinganya, mengabaikan suara tersebut. Menatap kosong kearah pantulan dirinya sendiri didalam cermin. Mengingat semua pembahasan saat makan siang. Kedua orang tua Rega berfikir kalau dirinya dan Rega kembali bersama. Meminta mereka berdua agar segera melangsungkan pernikahan. Raut wajah Rega bahagia saat kedua orang tuanya membahas pernikahan, bahkan Rega secara terang-terangan mengatakan solah kami sedang merencanakannya. Sedangkan Cyla, hanya mampu tersenyum sebagai reaksinya. Menikah dengan Rega, jika itu dulu. Mungkin akan menjadi daftar teratas yang sangat Cyla nantikan. Namun, tidak untuk saat ini.
Mengabaikan pikirannya, Cyla melangkah masuk kedalam walk in closet. Menyiapakan piyama yang akan Rega kenakan. Army green shorts and black sleeve shirts.
‘benar-benar seperti seorang istri.’ Gumam Cyla dalam hati, tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Membentuk sebuah senyuman.
Melangkah keluar, namun langkahnya terhenti bertepatan dengan Rega masuk ke dalam walk in closet. Mereka saling bertatapan sebentar dengan Rega yang hanya mengenakan handuk melingkar di pinggangnya. Cyla kembali melangkah berniat keluar, namun langkahnya terhenti akibat Rega mencekal pergelangan tangannya.
“Kau benar-benar berubah, sayang. Tidak seperti dahulu.” Ucap Rega menatap dalam penuh arti dimanik mata Cyla.
“Memangnya kau tahu apa tentang diriku yang dulu?” tanya Cyla datar, dingin membuat batasan.
“Cyla Jellyn yang aku kenal adalah gadis yang...” jawab Rega lembut terpotong, membelai pipi Cyla.
“Aku sudah bukan gadis.” Sela Cyla menepis tangan Rega dari wajahnya.
“Kenapa tidak memberi tahu ku kalau ayah mu sudah meninggal?” tanya Rega lembut, penasaran apa jawaban Cyla.
“Apa itu penting?” jawab Cyla balik tanya.
“Sayang, segala sesuatu yang berhubungan dengan dirimu. Sudah pasti penting untuk ku.” Jawab Rega lembut, meraih kedua tangan Cyla dan memberi kecupan singkat pada punggung tangan Cyla.
“Aku sangat hancur, Rega. Saat ini aku sangat membenci mu, berharap kau menghilang dari jarak pandang ku. Namun, aku tidak mau berbohong pada diriku sendiri. Hatiku, pikiranku, dan tubuhku menginginkan mu. Namun, aku masih trauma. Itu yang membuat ku ragu, tetap tinggal atau pergi dari mu.” Ucap Cyla menatap dalam manik mata Rega yang menatap penasaran dan bingung kearahnya.
“Aku tidak mengerti, sayang. Apa maksud mu?” Tanya Rega kembali.
“Kau pergi meninggalkan ku di hari pernikahan kita, Rega.” Jawab Cyla dengan mata berkaca – kaca.
“Ayahku meninggal di hari yang sama, Rega. Di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan kita. Ayah terkena serangan jantung setelah mendengar kabar kau kabur dari pernikahan kita.” Sahut Cyla bibir bergetar, air matanya berhasil lolos dari sudut matanya.
“Apa!” ucap Rega terkejut, membelalakan kedua matanya.
“Kau menyuruh ku bersandar padamu. Tapi, apa yang kau lakukan? Kau pergi dari pernikahan kita. Dan dihari yang sama aku juga kehilangan pria yang selalu menjadi sandaran ku sejak aku lahir. Aku kehilangan dua pria yang sangat aku cintai di hari yang sama. Di hari dan bulan terkutuk itu, brengsek.” Sambung Cyla kembali, berteriak diakhir kalimat.
“Cyla.” Gumam Rega, tanpa sadar air matanya ikut mengalir. Hatinya sangat sakit menatap wanitanya yang terlihat sangat rapuh didepannya saat ini akibat ulahnya.
“Dan apa kau tahu? Aku belum selesai berkabung. Satu hari setelah pemakaman Ayah, adikku. Malik dilarikan ke rumah sakit karena pingsan dikamar mandi. Apa kau tahu apa yang dokter katakan?” sambung Cyla menatap Rega dengan mata merahnya.
“Sayang, hentikan.” Gumam Rega terisak.
“Dokter bilang Malik terkena tumor otak stadium 2.” Sambung Cyla, terjatuh di lantai dengan tangisan pecah. Tubuhnya lemas saat sekelebat peristiwa itu kembali berputar di kepalanya.
Rega ikut duduk di lantai, mengabaikan dirinya yang masih mengenakan handuk. Membawa Cyla masuk kedalam dekapannya. Hati Rega sangat hancur, benar-benar hancur.
“Aku hancur, Rega. Aku hancur. Semuanya hilang dan pergi disaat yang bersamaan. Aku hanya manusia biasa, Rega. Aku berdarah saat jatuh. Aku tidak tersisa. Semuanya sangat sakit.” Raung Cyla dalam dekapan Rega. Menangis kencang, mengungkapkan isi hatinya.
Rega semakin mendekap Cyla dalam pelukannya. Mengabaikan air matanya yang juga mengalir deras. Menangis dalam diam. Rega mulai berandai, jika dia tidak melakukannya. Semua tidak akan seperti ini. Cyla tidak akan semenderita ini. Membelai punggung wanitanya, mencoba menenangkan Cyla. Rega kembali mengakui, penyesalan selalu datang di akhir kisah.
~
Setelah menangis cukup lama, Cyla tertidur dalam dekapan Rega. Rega mengangkat tubuh Cyla, meletakkan dengan sangat hati – hati di atas ranjang tidur. Menyelimuti Cyla, memberi kecupan singkat di dahi Cyla. Jemarinya bergerak dengan lembut mengahpus sisa – sisa air mata Cyla. Melangkah kembali ke arah walk in closet. Mengenakan piyama yang sudah Cyla siapkan. Setelah selesai, Rega kembali kekamar. Menaiki ranjang, bersandar ke kepala ranjang. Mengambil ponsel yang tergeletak disamping nakas. Menekan tombol deal ke nomor yang ingin di hubungi.
“Halo, sir?” sapa Pram yang langsung mengangkat panggilan dari atasannya.
“Aku ingin kau mencari tahu apa saja yang sudah terjadi pada Cyla setelah aku pergi. Aku ingin datanya besok setelah jam makan siang selesai. Semuanya, Pram. Tidak terkecuali.” Perintah Rega tegas, rahangnya mengeras mengingat kembali pengakuan Cyla. Membelai kepala Cyla lembut penuh kasih sayang.
“Baik, sir.” Balas Pram, tanpa membantah sekalipun.
Meletakan kembali ponsel diatas nakas, disamping lampu tidur. Membaringkan tubuhnya miring menghadap Cyla dengan tangan kiri menyangga kepalanya, sedangkan tangan kanan masih setia membelai kepala dan wajah Cyla. Memberikan kecupan lembut di sudut bibir Cyla. Terkekeh saat mendapati Cyla tidak bergerak sama sekali. Namun, senyum Rega langsung luntur saat melihat kedua mata Cyla membengkak akibat terlalu lama menangis.
Bayangan awal pertemuan mereka muncul begitu saja dalam benak Rega. Terkekeh pelan mengingat pertemuan pertamanya yang terdengar konyol dengan Cyla. Cyla memanggilnya ‘om mesum’ hanya karena tidak sengaja menyenggol payudara Cyla. Yang membuat Rega kesal saat itu adalah Cyla meneriakan ‘om mesum’ dengan lantang didepan umum tepat disalah satu Mall milik Rega. Saat itu Rega tengah melakukan observari. Kejadian paling menyebalkan dan terlucu yang pernah Rega alami. Hingga siapa yang menyangka sejak kejadian tersebut mereka menjadi sering bertemu. Rega kemudian mengungkapkan perasaannya yang disambut hangat oleh Cyla. Namun, satu minggu setelah mereka bersama Rega baru mengetahui sebuah fakta kalau ternyata Cyla masih kelas 3 SMA. Dan saat itu juga, Rega merasa kalau dirinya benar-benar ‘om mesum’. Sungguh mengelikan.
“Aku mencintai mu, Cyla. Sangat mencintaimu, Secyla Jellyn. Aku tahu aku menghancurkan dirimu. Tapi, aku juga tahu dan yakin kalau hanya aku yang bisa menatamu kembali. Hanya aku yang bisa membuat mu kembali bahagia. Selalu seperti itu.” Gumam Rega, masih betah menatap Cyla yang tengah tertidur pulas.
Saat awal dirinya dan Cyla menjalin hubungan, mereka tidak menjalin hubungan diam – diam tapi juga tidak terang-terangan. Mereka menjalaninya secara bertahap dan perlahan. Memahami satu sama lain. Dari berpegangan tangan sampai dimalam pertama mereka melakukannya.
Malam dimana dia mengambil secara paksa, bahkan mengikat kaki dan tangan Cyla di atas ranjang. Tidak memerdulikan suara tangisan Cyla yang memintanya untuk berhenti. Sampai dipagi berikutnya Rega menjanjikan pernikah. Berjanji tidak akan pernah meninggalkan Cyla. Dan meminta Cyla agar bersandar padanya. Satu bulan setelah kejadian itu Cyla lulus dengan nilai sempurna. Bahkan mendapatkan gelar beasiswa. Lalu, dihari yang sama keluarga besar Rega datang kekediaman Cyla. Ayah Cyla yang merupakan CEO dari Jellyn Hotel, dengan senang hati menyambut lamaran dari keluarga Rahendra. Apa lagi memang Cyla sudah menjalin hubungan cukup lama, sudah satu tahun.
Kedua keluarga menetapkan tanggal pernikahan 6 bulan lagi. Sedangkan hubungan Cyla dan Rega sudah terjalin selama satu setengah tahun. Tanggal itu dipiling mengingat itu juga termasuk dalam tahun pertama Cyla menjadi mahasiswi. Menghormati keputusan Cyla, kedua keluarga menerima hal tersebut. Cyla sangat bahagia, tahun pertama kuliahnya juga akan menjadi tahun pertama pernikahannya.
Namun, siapa yang menyangka kejadian paling mengerikan dalam hidup Rega terjadi tepat di hari pernikahannya. Saat para tamu undangan baru datang. Rega masih siruang tunggu pria menunggu panggilan dari papa nya. Namun, tiba-tiba ada wanita yang membuat membuat jantung Rega hampir berhenti berdetak. Abell Susan, wanita satu malam yang tidak sengaja Rega tiduri. Hanya untu satu malam kesalahannya, tanpa ada yang mengetahui kecuali Adam dan Pram. Abell mengaku sedang hamil dua bulan. Dan mengancam akan mengatakan didepan publik kalau Rega tidak membatalkan pernikahannya dengan Cyla. Rega tidak menginginkan hal itu terjadi, meminta bantuan Pram dan Adam. Kabur dari acara pernikahannya. Acara yang selalu Rega nantikan, dambakan, dan impikan bersama wanita yang dia cintai. Namun, saat itu harus sirna dalam hitungan menit karena kesalahan satu malamnya.
Menyembunyikan dirinya dan Abell di Texas. Meminta Pram mengatakan kepada kedua orang tua Rega, Jhoan Rahendra dan Riana Putri. Kalau ada proyek yang benar – benar tidak bisa ditunda. Menjaga Abell dan bayinya dengan tinggal satu atap. Namun, selama mereka tinggal bersama Rega tidak pernah sekali pun menyentuh Abell. Abell itu yatim piatu, besar di panti asuhan. Dan tumbuh di bar. Membuat Abell menjadi wanita malam. Sampai di hari persalinan Abell, Rega menunggu. Menanti penuh harap pada bayinya. Namun, kabar duka menghampirinya. Baik ibu dan bayinya tidak bisa diselamatkan. Saat itu juga dunia Rega hancur. Hancur berkeping – keping. Demi bayinya, Rega nekat meninggalkan wanita yang dicintai seumur hidupnya. Namun, kini telah sirna. Alasan Rega meninggalkan Cyla telah hilang. Tiada, sudah tidak ada dibumi yang Rega pijak. Baik Adam dan Pram hanya bisa merasa iba kepada sahabatnya dan atasannya. Semua pengorbanan yang Rega lakukan seolah sia – sia. Hatinya hancur sejak Rega kabur dari pernikahannya dengan Cyla. Dan saat bayinya juga pergi, jiwa Rega tidak tersisa. Bayinya meninggal tanpa bisa melihat indahnya dunia.
Air mata Rega kembali lolos, menangis dalam diam. Sadar bahwa semua yang terjadi padanya dan juga Cyla adalah akibat ulahnya yang ceroboh. Menyeruakan wajahnya diceruk leher Cyla. Mengirup aroma menenangkan dari tubuh Cyla. Memeluk erat tubuh Cyla dalam dekapannya. Hingga Rega ikut terlelap dalam tidur akibat pikiran dan tubuhnya yang lelah menerima semua fakta. Masuk kedalam mimpi menyusul Cyla tanpa melepaskan dekapannya.
Yang bisa dilakukan Rega sekarang adalah mengikat Cyla seerat mungkin hanya untuknya. Menyusun renca bagimana membuat Cyla sendiri yang tidak mau pergi dari Rega. Mau bagamaina lagi, diantara Rega dan Cyla. Rega lah yang paling takut kehilangan wanita pertama dalam segala hal dari hidup Rega. Dan, rencana yang terlintas dalan pikiran Rega disela – sela tidurnya adalah, menghamili Cyla. Seolah merespon hal tersebut. Rega nengeratkan pelukannya, semakin membenamkan wajahnya pada kekukan leher Cyla.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your vote and coment,
Typo coment guyss.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!