
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination...
Don't forget your vote, rate, like, and coment..
~ Happy Reading ~
*****
Saat ini Rega tengah duduk diatas ranjang kamar apartemen miliknya dengan bersandar pada kepala ranjang. Sedang, jemari tangannya sibuk mengotak atik Ipad miliknya. Sesekali mengernyitkan dahi heran atau bingung pada laporang yang dikirim ke alamat e-mail miliknya. Mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di kamarnya. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Dirinya masih dengan segala laporannya. Kembali mengalihkan pandangannya ke arah Cyla yang juga masih terlihat sibuk dengan skripsinya. Menghela nafas lelah, kembali mengingat kejadian tadi siang.
Tepat setelah kejadia tersebut, Cyla juga pergi meninggalkan Caffe'. Begitupun dengan Sera. Perbedaannya, Sera dijemput kekasihnya. Sedangkan Cyla, pergi ke arah halte bus yang cukup jauh dari tempat Caffe' tersebut. Yang membuat Rega terkejut adalah Cyla menghubunginya agar di jemput di halte bus dimana Cyla menunggu. Rega menjemputnya, bersikap seolah hal yang baru saja terjadi tidak pernah dia dengar. Namun berbanding terbalik dengan Cyla. Setalah kejadian tersebut, selama di perjalanan dan sampai detik ini juga Cyla berubah menjadi pendiam. Hanya akan berbicara jika Rega bertanya, menolak halus semua sentuhan dan rayuan Rega. Tidak mau membuat suasana hati Cyla semakin memburuk, akhirnya Rega menyerah. Membiarkan Cyla diam dengan pemikiran dan dunianya sendiri. Makan malam mereka berdua juga menjadi sangat hening. Terlalu damai, dan hanya diiringi suara dentingan sendok. Benar-benar hampir membuat seorang Rega hilang kendali. Rega lebih menyukai Cyla yang marah-marah, mengomel, atau memukul/mencubitnya dari pada diam bermuram durja, dan hanyut dengan semua pemikirannya.
"Apa kau masih lama?" tanya Rega sedikit ragu.
"Hmm." jawab Cyla singkat hanya dengan dehaman.
"Ehmm, Apa kau perlu bantuan?" tanya Rega kembali, berdeham mencoba menghilangkan perasaan gelisah.
"Tidak." jawab Cyla kembali, masih dengan nada tenang tanpa mengalihkan tatapannya dari tugas skripsinya.
'Setidaknya bab 3 ini, aku harus menyempurnakan nilai kualitatifnya terlebih dahulu. Jika menurut prof. Huma sudah lebih baik, baru aku bisa fokus dengan kuantitatif nya.' batin Cyla sudah mulai merasa pusing dengan segala susunan skripsinya.
"Ini sudah hampir tengah malam. Kau akan sakit jika harus memfrosir tenaga dan pikiran mu." ucap Rega kembali, dilanda rasa khawatir.
"Aku sudah membuat janji temu dengan prof. Huma. Dosen pembimbing ku hari kamis besok. masih banyak yang belum selesai. Jika kau khawatir tidak bisa menyentuh ku malam ini, maafkan aku. Aku.. " balas Cyla acuh, terpotong.
" Aku mengkhawatirkan mu. Bukan mengkhawatirkan penyatuan kita. Kenapa kau tidak mengerti. Aku hanya tidak ingin kau sakit." sahut Rega cepat, menggeram menahan rasa kesal akibat kesalah pahaman Cyla dalam mengartikan perasaan khawatirnya.
Ucap Rega barusan, sontak membuat Cyla tersentak terkejut. Dan langsung membeku di tempat, menghentikan aktivitasnya.
"Bukan begitu. Aku hanya,,," bela Cyla kembali terpotong akibat perkataan Rega.
"Terserah. Aku sudah mengantuk, jika kau sudah selesai jangan lupa matikan lampunya. Selamat malam, Cyla." sahut Rega kesal, meletakkan Ipad miliknya diatas nakas samping ranjang tidurnya.
'Dasar wanita, selalu saja menyalah artikan ucapan pria. Benar-benar menjengkelkan.' batin Rega kesal.
"malam." cicit Cyla tiba-tiba merasa tenggorokannya tercekat.
Jantung Cyla seolah berhenti berdetak beberapa saat tepat ketika Rega memanggilnya dengan nama. Penyebutan nama 'Cyla' dalam panggilannya, membuat sekujur tubuh Cyla tersentak merasakan lerasaan asing. Dan, saat ini juga Cyla mengakui pada diri dan hatinya sendiri. Kalau Cyla lebih merasa nyaman dengan panggilan 'Sayang' keluar dari bibir kissable milik Rega.
Jam sudah menunjukan pukul satu malam. Namun ternyata dunia mimpi seolah enggan menghampiri Rega. Yang tadinya tertidur memunggungi Cyla, Rega berbalik dan dan menatap Cyla yang terlihat nyenyak dalam tidurnya. Sudah berapa kali Rega mengatakannya. Dirinya sangat terpesona dengan segala sesuatu dalam diri Cyla. Bahkan tetap membuat Rega jatuh tidak peduli sekalipun Cyla tengah diam tidak bergerak dan hanyut dalam mimpinya.
Mengulurkan tangan membelai pipi Cyla yang terasa dingin di kulit jemarinya. Hal tersebut membuat Rega menarik kembali tangannya dan terduduk perlahan diatas ranjang. Hati – hati, tidak ingin membangunkan Cyla. Meraih remote AC diatas nakas tepat disamping ponselnya. Lalu mematikan AC nya. Setelah kembali meletakan remote AC, jemari Rega beralih ke remote penghangat ruangan yang terletak di dalam laci nakas yang sama. Mengatur suhu ruangan sehangat mungkin. Namun, tidak terlalu panas. Setelah selesai, Rega kembali berbaring menghadap Cyla. Mengulurkan tangan kearah pipi Cyla. Untuk mengecek apakah suhu tubuh Cyla sudah mulai menghangat atau belum. Senyum lembut tersungging di bibir Rega, ketika jemarinya merasakan kehangatan pada kulit pipi Cyla. Menyingkirkan anakan rambut yang menghalangi wajah Cyla kesela – sela telinga Cyla. Menelusuri semua bagian wajah Cyla dengan jari telunjuknya. Hingga tidak sengaja berhenti tepat di bibir mungil Cyla. Tatapan Rega pun seketika berubah menggelap, menahan hasrat pada bibir mungil itu yang seolah memanggilnya meski hanya sekedar kecupan semata. Mendengar kata kecupan yang di teriakan dengan lantang oleh dewi batinnya, sontak Rega langsung menarik kembali jemarinya dari wajah Cyla.
Mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Menatap langit – langit atap kamar dengan nafas yang terengah – engah. Padahal Rega tidak melakukan apapun yang membuatnya sangat lelah. Mendoktrin pikirannya sendiri agar dirinya mampu menahan semua gejolak dalam tubuhnya. Mengatur gejolak tersebut dengan menarik dan menghembuskan nafas dari hidung dan mulutnya secara perlahan. Itu adalah cara terampuh saat birahinya belum sampai ke ubun – ubun. Mengendalikannya hanya dengan mengatur pernafasan, tanpa harus mandi air dingin di malam hari seperti ini. Salah, lebih tepatnya di pagi buta seperti ini. Merasa tubuhnya sudah kemali normal, Rega kembali memiringkan badannya kearah Cyla. Menatap dalam diam – Sedang dalam mode memanjakan matanya sendiri. Meraih jemari Cyla yang terkulai lemah disisi tubuhnya dan menggenggamnya erat. Menariknya perlahan kearah bibirnya, dan menghadiahi kecupan demi kecupan singkat pada punggung tangan Cyla.
‘Kita menjalin hubungan dua tahun lamanya. Dan kita berpisah lalu kembali bertemu setelah dua tahun lamanya juga. Semua berubah Cyla, tapi wanita yang ingin aku jadikan pendamping hidup selamanya hanya dirimu. Tidak lain dan tidak bukan. Hanya dirimu.’ Ucap Rega berbisik sangat lirih menatap setia wajah tenang Cyla dalam tidur. Masih terus menghujami kecupan singkat tangan Cyla hingga jemari dan telapak tangan Cyla.
Dalam diam, tenang, dan gelapnya pagi buta – Menatap Cyla di sampingnya seperti ini, membuat Rega mengingat kembali masa lalu. Masa lalu dalam kenangan indah disela – sela hubungan mereka sebelum perpisahan akan hal mendesaknya membuat Rega mau tidak mau harus meninggalkan Cyla.
¬ Flashback On ¬
3 tahun yang lalu,
Tepat saat Cyla masih duduk dibangku SMA. Dan, hubungannya dengan Rega sudah menginjak tiga bulan. Diakhir pecan, Cyla datang pagi – pagi sekali ke apartement Rega yang bahkan si pemilik apartement sendiri belum bangun tidur hanya karena Cyla ingin ‘diajak’ kencan ke Taman Bermain. Kebiasaan Cyla yang sudah mengenal Rega selama tiga bulan belakang adalah pria dewasa satu ini sangat susah dibangunkan jika akhir pekan. Bersyukur Cyla yang sudah diberi tahu sandi pintu bisa masuk tanpa harus menunggu Rega bangun dari tempat tidurnya. Hal yang mau tidak mau harus membuat Cyla membangunkan Rega dengan ‘sedikit’ kasar. ‘Mencabut keras sehelai bulu kaki Rega’ . cara terampuh yang Ibunya – Lily ajarkan ajarkan padanya jika sang Ayah juga sulit di bangunkan.
Sontak kelakuan Cyla membuat Rega terduduk dengan jeritan kesakitan. Terkejut – Mencoba mengumpulkan nyawanya kembali yang baru saja bekeliling dalam dunia mimpi. Melotot dengan mata tajamnya kearah pelaku yang mana sang pelaku hanya terkikik geli melihat keadaanya. Benar – benar membuat Rega jengkel setengah mati.
“Ada apa?” Tanya Rega dengan nada dan wajah datarnya. Membuat Cyla berdeham – Menghentikan tawa gelinya.
“Tidak ada.” Jawab Cyla singkat mengangkat bahu acuh dan mengalihkan pandangan salah tingkah kearah lain.
“Kalau begitu aku akan lanjut tidur lagi.” Sahut Rega cepat, dan bersiap – siap ingin kembali membaringkan tubuhnya. Yang langsung dicegat cepat pergelangan tangannya oleh Cyla. Menahannya yang sudah setengah – Hampir berbaring.
“Baiklah – baiklah. Aku ingin kau mengajak ku kencan.” Ucap Cyla tidak kalah cepat dengan kedua tangannya yang mencengkram erat pergelangan tangan Rega. Sedangkan Rega mengernyit heran dan menyeringai penuh arti mendengar keinginan kekasih mungilnya.
‘Astaga! Dia ingin agar aku mengajaknya berkencan alih – alih dia yang bisa langsung saja mengajak ku berkencan. Siapapun, tolong hentikan dia. Dia benar – benar membuat jantung ku berdebar – debar.’ Gumam Rega dalam hati, senang dan bahagia layaknya seorang remaja yang baru saja mengalami pubertas.
“Kiss morning? Baru aku akan mengajak mu kencan, bagaimana?” balas Rega singkat. Kembali menegakan duduknya, menegakan sebelah alisnya. Menunggu dengan kedua tangan yang sudah dia lipat didepan dada telanjangnya.
“Kalau begitu tidak jadi.” Balas Cyla memutar bola mata malas. Sangat cirri khas seorang Rega, mencari kesempatan dalam kesempitan.
“Ya sudah kalau tidak jadi.” Ucap Rega tenang kembali bergerak, bersiap – siap seolah akan berbaring kembali.
“Curang!” sahut Cyla kesal dengan wajah cemberutnya. Membuat Rega menurungkan niatnya dan menahan senyum geli, akibat gemas dengan tingkah Cyla.
“Aku rasa dan yakin kalau sedari aku diam, jadi aku tidak melakukan sesuatu hal yang berbau kecurangan. Sayang?” balas Rega dengan nada lembut namun terkesan sedang menggoda. Benar – benar suka melihat Cyla dengan wajah cemberutnya.
“ck!” decak Cyla pelan yang masih didengar jelas oleh Rega.
“Jangan berdecak didepan ku, sayang!” ucap Rega meraih lembut dagu Cyla, memaksa perlahan agar Cyla menatap matanya.
“Maaf, aku kelepasan.” Balas Cyla terbata – bata. Mengerjapkan matanya yang terpaku dalam pesona ketampanan Rega. Pesona seorang pria yang baru saja bangun tidur. Sangat sexy dimata Cyla.
“Ha?” balas Cyla yang masih mengerjapkan mata dalam kebingungan. Membuat Rega semakin melebarkan senyum lembut dan gemas, memajukan wajahnya agar bibirnya sejajr tepat disamping telinga Cyla.
“I love you, and my love just for you.” Bisik Rega lembut penuh kasih sayang. Mengecup singkat perlahan dengan penuh kelembutan. Turun dari ranjang tidur dan melangkah masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Cyla yang masih diam tertegun diatas ranjangnya.
‘Benar – benar menggemaskan. Astaga! Aku harus menahannya. Mandi air dingin di pagi yang dingin? Benar – benar pagi yang indah, Rega Rahendra. Sangat sempurna, berharaplah agar kau tidak membeku didalam kamar mandi.’ Gumam Rega dalam hati, bertepatan dengan dirinya yang melangkah masuk kedalam kamar mandi.
¬
“Aku senang setidaknya kau mencukur kumis mu.” Ucap Cyla disela – sela makan ice cream cokelatnya dalam langkah santai ditaman bermain.
“Aku peringatkan sayang. Aku menolak keras permainan selanjutnya yang ada dalam otak kecil mu itu.” Balas Rega semakin mencengkram takut pada pinggang Cyla. Mengikuti setiap langkah kecil Cyla.
“Oh, jadi tuan muda Rega Rahendra takut menaiki wahana Roler Coster. Tapi, sangat menyukai wahana Ayunan Nevis di New Zealand?” balas Cyla memutar bola mata jengah. Cyla masih tidak percaya jika Rega takut menaiki wahan ekstrem di taman bermain. Sedangkan sebulan yang lalu saat dirinya menemani Rega perjalan bisnis ke New Zealand Rega sangat menyukai olahraga ekstrem seperti Paralayang, Ayunan Nevis, dan saudara – saudaranya. Berbanding terbalik dengan Cyla yang memang baru merasakan itu semua, hal yang menurut Rega biasa dan menyenangkan adalah hal yang membuat Cyla hampir mati ditempat saat itu juga.
“Itu berbeda sayang!” sahut Rega tidak terima. Melirik sinis kearah cintanya yang tengah menikmati es krimnya.
“Aku tidak melihat perbedaannya.” Balas Cyla seperti gumaman, mengangkat bahu acuh. Tanpa menatap Rega dan lebih memilih sibuk dengan es krimnya.
“Terserah!” sahut Rega singkat, menarik tangannya dari pinggang Cyla. Dan memasukannya kedalam saku celananya. Yang kembali dibalas Cyla mengangkat bahu acuh, tidak perduli.
“Sekarang aku yang akan menentukan kita akan menaiki wahana apa. Dan aku memutuskan kalau Komedi Putar adalah wahana selanjutnya.” Tambah Rega tegas. Memandang Cyla yang tengah membelalakan kedua matanya terkejut.
“Apa? Tidak bisa, aku ingin naik..” sahut Cyla terpotong.
“Jangan berdebat dengan ku, sayang. Sekarang giliran ku yang memutuskan. Dan itu adalah keputusan terakhir ku.” Ucap Rega tajam. Kembali melangkahkan kaki cepat kearah wahana Komedi Putar yang berdiri kokoh di hadapannya. Meninggalkan Cyla berdiri terkejut, tidak percaya. Saat kesadarannya kembali, Cyla langsung mengahabiskan es krimnya dan membuang sampah plastiknya ditempat sampah yang berada tidak jauh darinya. Tidak lama kemudian Cyla kembali menyusul Rega dengan berdiri disamping prianya itu. Dengan bibir tertutup rapat. Membuat Rega tersenyum senang, dengan hati lega karena bisa terhindar dari wahana – wahana yang mengerikan itu.
Tidak lama kemudian, wajah cemberut Cyla terganti dengan tawa ceria di sela – sela Komedi Putar yang mulai melaju sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Rambut berayun – ayun indah dengan sebagian beberapa helai mulai menutupi wajah bahagianya. Sedangkan Rega yang duduk tepat disamping Cyla hanya tersenyum bahagia dengan mata yang selalu setia memandang Cyla. Berharap bahwa dunia berhenti sejenak, agar bisa membuat Rega menikmati keindahan didepan matanya. Hati Rega terasa menghangat ketika Cyla tiba – tiba membalas tatapannya dengan senyum manis di wajahnya. Semakin membuat Rega tertegun, merasa tidak siap dengan balasan pesona Cyla yang tiba – tiba itu. Hingga Komedi Putar berakhir, Rega masih tetap diam dalam langkahnya. Hatinya semakin merasa terharu bahagia ketika mereka keluar dari wahana tersebut, Cyla mengapit lengan kirinya dengan sendirinya tanpa perintah Rega. Rega benar – benar senang hingga rasa sesak akibat terasa sedikit pasokan udara di dalam paru – parunya. Untuk pertama kalinya bagi Rega, melihat Cyla dan merasakannya sendiri Cyla menggandengnya terlebih dahulu tanpa Rega minta. Hingga tanpa sadar Rega menghentikan langkahnya, membuat Cyla ikut berhenti dan menatap bingung kearah Rega dengan alis yang saling bertautan.
“Jangan seperti ini.” Ucap Rega dengan suara yang bahkan hampir terdengar tidak jelas di telinga Cyla.
“Apa? Apanya yang jangan seperti ini?” Tanya Cyla bingung. Dengan kerutan di dahinya semakin banyak, tidak mengerti.
“Ku mohon Cyla jangan bersikap seperti ini, sikap yang bisa dikatakan kebahagiaan. Namun hal itu memnakutkan bagi ku. Kau membuat ku takut.” Jawab Rega menatap dalam tepat di netra mata Cyla.
“Bersikap seperti apa? Dan apa yang sudah aku lakukan hingga membuat mu ketakutan?” Tanya Cyla kembali, masih belum memahami arah pembicaraan Rega.
“Jangan bersikap seolah kau sangat menginginkan diriku. Tersenyum manis kepada ku, lalu tiba – tiba kau menggandeng tangan ku tanpa aku minta. Aku bahagia, sayang. Dan sangat. Namun, dimataku kau terlihat seperti sedang memanjakan ku sebelum pergi meninggalkan ku. I’m scared.” Jelas Rega dengan nada sendu dan menatap khawatir kearah Cyla.
Perkataan yang dilontarkan Rega dengan jelas membuat Cyla menarik sudut bibirnya membentuk senyum lembut lalu menarik lengan Rega dalam apitannya agar kembali berjalan supaya tidak menghalangi jalan pengunjung lainnya di belakang mereka.
“Why scared? If I enjoy it. Jadi hilangkan pemikiran negative mu itu, young master Rega Rahendra.” Balas Cyla lembut. Semakin mengeratkan dekapannya pada lengan Rega. Lalu, menyandarkan kepalanya.
Cyla yang saat itu tingginya bahkan tidak sampai sebahu Rega, membuat Cyla hanya mampu menyandarkan kepalanya pada lengan atas Rega. Meski begitu, hal kecil yang Cyla lakukan membuat Rega menghela nafas lega. Melarikan jemarinya untuk mengelus punggung tangan Cyla. Dengan senyum tenang pada setiap sudut bibirnya.
“Kenapa harus dihalangkan? Jika ternyata kecemasanku saat ini benar – benar terjadi pada masa depan kita, bagaimana?” Tanya Rega mulai menggunakan nada suara yang terkendali. Meski tidak Rega pungkiri jika jauh dalam benaknya masih tersimpan sedikit perasaan khawatir dan gelisah dengan perkataannya sendiri.
“Karena jika dalam hubungan kita, memiliki prinsip yang sama dengan prinsip hidup ku. Aku yakin saling kehilangan tidak menghampiri kita.” Jawab Cyla tenang dengan pandangan menerawang kedepan. Senyum kaku dan raut wajah berpikir terpampang jelas di wajahnya, seandainya Rega melirik untuk melihatnya itu lah ekspresi Cyla saat itu. Namun, Rega memilih untuk ikut memandang kedepan dimana para pengunjung taman hiburan berlalu lalang di depannya. Dengan pikirannya yang sibuk mencerna setiap kata yang di ucapkan Cyla.
“Prinsip apa?” Tanya Rega kembali disela – sela setiap langkahnya . menuju restaurant yang hanya terlihat beberapa langkah lagi. Namun, langkahnya harus terhenti saat Cyla menahan lengannya yang berada dalam dekapan Cyla. Mau tidak mau Rega menatap penuh tanya kearah Cyla.
“Teman – teman ku selalu berkata, jika dalam setiap hubungan adalah yang terpenting itu komunikasi. Tapi, menurut ku itu salah.” Jelas Cyla tersenyum lembut dengan nada bicara yang terkesan menenangkan.
“Aku juga berpikir demikian. Tapi, jika menurut mu bukan. Lalu seperti apa?” Tanya Rega yang lebih menjerumus kearah rasa penasarannya.
“Semua manusia di dunia ini berpikir bahwa mereka diciptakan sempurna. Padahal, semua juga tahu tidak ada yang sempurna didalam dunia ini. Namun, bagiku dunia akan menjadi sempurna saat kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’ saling berdiri berdampingan.” Jelas kembali Cyla kembali, menatap dalam dan penuh arti. Perkataan yang membuat Rega kembali tertegun.
“Maaf? Dan, Terima kasih?” gumam Rega lirih yang tidak bisa didengar oleh Cyla.
“Berani mengucapkan maaf saat dirinya melakukan kesalahan yang entah di sengaja atau tidak. Dan jangan melupakan kata terimaksih setiap seseorang mengulurkan tangan untuk membantu. Bagiku, kehidupan seperti itu adalah kehidupan terindah yang ingin aku jalani. Meski sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Begitupun dengan hubungan kita, hanya karena kita sepasang kekasih. Jangan pernah ragu untuk mengucapkan dan jangan menolak ucapan tersebut dari pasangan mu. Dan jangan malu untuk mengucapkannya jika kau mengalaminya dengan pasangan mu.” Jawab Cyla semakin lebih dalam ketika menjelaskan. Tersenyum manis membuat Rega mengerti. Mengangguk mengerti, dan membuat Rega membalas senyuman manis Cyla dengan senyum lembut terpatri di wajah tampannya.
¬ Flashback Off ¬
Rega menyelipkan tangan kanannya dibawah leher Cyla. Dan menarik Cyla agar masuk kedalam dekapannya secara perlahan. Tanpa harus membangunkan sang empunya tubuh.
“Maaf karena sudah maninggalkan mu. Serta, terima kasih sudah mau menerima ku kembali meski dengan cara yang salah sejak awal, Secyla Jellyn. Dan, sesuai dengan perkataan mu agar jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa di tepati. Maka, aku hanya akan mengatakan. Jika aku akan berusaha untuk memperbaiki segalanya. Untuk mu.” Gumam Rega lirih, dalam mata terpejam. Memberikan kecupan singkat pada rambut Cyla. Mencoba menyusul Cyla yang sudah masuk kedalam dunia mimpi. Berharap kecil, jika dunia mimpi yang akan dia kunjungi sama dengan dunia mimpi yang sedang wanita tercintanya itu jelajahi.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your like, rate, vote and coment.
Typo coment guyss.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!