
[DON'T COPY MY STORY!]
REAL MY IMAGINATION!
~ HAPPY READING ~
*****
Setelah kejadian dimana Cyla sedikit terkejut mengetahui bahwa Cain adalah orang Rusia, Cyla dan Cain kembali mengobrol dan menghabiskan waktu sedikit lebih lama waktu bersama. Hingga pesan singkat dari Nadia yang menanyakan keberadaannya membuat Cyla berniat untuk pulang – Kembali ke apartement milik kedua sahabatnya.
~
Message from Nadia
Nadia : Kau ada dimana? Sera bilang kau pergi ke Perpustakaan. Aku sudah di apartement, kau akan pulang sekarang atau nanti?
Cyla : Iya. Aku ada di perpustakaan. Aku akan kembali sebentar lagi.
Nadia : Baiklah. Kabari aku jika ada sesuatu dijalan. Kau mengerti?
Cyla : Iya aku mengerti.
~
Memahami maksud Cyla, Cain pun tersenyum ramah dan menawarkan diri untuk mengantarkan Cyla pulang yang disambut terbuka oleh Cyla.
Baik Cyla dan Cain, mereka berdua melangkah beriringan menuju petugas perpustakaan berniat meminjam buku. Setelah Cyla selesai mengurus data pinjam buku dengan kartu identitas perpustakaan, mereka kembali melangkah bersama keluar dari perpustakaan.
“Aku tidak tahu apa kau masih mau aku antar atau tidak. Tapi, aku hanya membawa motor, mungkin kita akan kepanasan di jalanan.” Ucap Cain lembut, senyum dan raut wajah menampilkan ekspresi setenang mungkin.
“Apa kau sedang bercanda? Aku tidak masalah. Aku bahkan lebih suka naik motor dari pada naik mobil. Lebih cepat dan terasa menyenangkan. Lagi pula aku datang kesini juga menggunakan bus umum. Jadi, tidak masalah bagiku kau mau mengantarkanku dengan apa. Itu, tidak terlalu penting.” Balas Cyla lembut, tersenyum semanis mungkin seolah mengatakan bahwa dia bukan wanita seperti yang ada dipikirkan Cain. Masih lanjut melangkah.
“Aku mengerti. Aku...” Sahut Cain terpotong saat tiba – tiba ada yang datang dan memegang Cyla dengan paksa.
Tepat didepan pintu masuk perpustakaan Cyla yang tadinya tersenyum tenang, memperhatikan ucapan Cain mendadak terhenti terkejut saat tiba – tiba ada yang memahan paksa kedua tangannya. Dua pria menahan kedua lengannya dan satu pria menerobos berdiri dihadapan Cyal. Seolah menjadikan dirinya sendiri jarak antara Cain dan Cyla.
“Sial! Siapa kalian? Lepaskan aku brengsek! Apa yang sedang kalian lakukan?” Ucap Cyla dengan nada meninggi – Terkejut. Suaranya tanpa sadar menarik perhatian pengunjung dan orang – orang yang berlalu lalang didepan perpustakaan.
“Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan? Lepaskan dia!” Ucap Cain sedikit membentak – Menatap tajam kearah pria yang berdiri didepannya, menghalangi dirinya mendekat kearah Cyla.
Kejadian tersebut sontak semakin menarik perhatian orang – orang, melihat dan merekam peristiwa tersebut dengan rasa penasaran tinggi.
“Maaf tuan muda. Ini adalah perintah dari bos besar (Rega Rahendra) kami. Sebaiknya anda pergi dan jangan ikut campur. Itu semua juga demi kebaikan anda.” Balas pria yang berdiri diantara Cyla dan Cain – June (Anak buah Pram). Mengucapkan dengan nada tenang namun dingim dengan raut wajah datar – Pandangannya juga tidak kalah tajam.
“Lepaskan aku! Atau aku akan lapor ke polisi! Kalian dengar tidak!” teriak Cyla kesal dan marah, memberontak berkali – kali yang hanya berakhir sia – sia.
Caim yang melihat keadaan Cyla dari balik punggung pria didepannya, membuat Cain menggeram marah – Melangkah berniat melayangkan tinjunya. Namun, langkahnya seketika terhenti saat pria di depannya menodongkan pistol tepat di kepalanya. Membuat Cain langsung terdiam membeku – Terkejut.
Hal tersebut juga sontak membuat orang – orang yang sedari tadi bisik – bisik sambil merekam kejadian langsung panik. Namun, kepanikan mereka hanya sekedar teriakan panik. Tidak ada yang berniat menolong atau membantu satu pun. Tidak beda jauh dengan Cain, Cyla yang melihat itu juga terkejut. Tubuh Cyla seketika tersentak mundur – masih tetap dipegang erat oleh dua pria disamping kanan kirinya. Terdiam membeku, berhenti memberontak dan hanya mampu membelalakan kedua matanya. Bahkan Cyla sempat menahan nafas sejenak akibat rasa terkejutnya.
“Mendekat satu langkah saja. Saya tidak akan segan – segan menarik pelatuknya. Tuan muda Uzzielsky.” Ucap June datar namun penuh ancaman. Awalnya June tidak berniat melakukannya. Tapi, June merasa si Tuan Muda satu ini tidak mau menyerah. Membuat June mau tidak mau harus mengambil tindakan – Mengambil pistol yang ia sembunyikan dibalik hoodie cream yang ia kenakan.
Mendengar ucapan pria didepannya, Cyla tiba – tiba langsung dilanda pusing. Dirinya merasa pasokan udara seketika menipis. Cyla berharap dirinya jatuh pingsan. Tapi, sayang tubuhnya terlalu sehat untuk pingsan disaat situasi seperti ini. Benar – benar menyebalkan buat Cyla.
“Kau! Apa kau sedang bermain – main dengan ku? Kau pikir aku akan takut?” Ucap Cain dingin – Menggeram tidak suka dan menatap tajam tepat pada netra mata pria yang menodongkan pistol tepat di kepalanya.
Sebenarnya Cain sempat terkejut – Sedikit. Dirinya terkejut saat pria di depannya menyebutkan nama lengkap belakangnya. Merasa curiga jika pria tersebut adalah pria bayaran yang disewa atau anak buah dari Pamannya, Paman Dimas – Ayah Adam.
“Tentu saja anda tidak akan taku, tuan muda. Lagi pula memangnya ada yang berani membuat takut seorang pewaris dari mr. Ansellsky.” Sahut Pria dengan setelan jas lengkap dan rapi, berjalan mendekat kearah June dan Cain dengan tegap. Namun, senyum ramah penuh ancaman juga terpancar di wajahnya – Pram Guntara.
Sontak mereka semua langsung menatap kearah Pram, kecuali June yang masih setia dengan posisi siaganya. Sedikit pun, tidak memberikan celah pada tuan muda Uzzielsky untuk mendekati wanita bos besarnya – Secyla Jellyn.
‘Pram? Tunggu! Jangan bilang ini semua ulah dari si hilang akal Rega! Dia tidak menghubungi ku, tidak juga mengirim pesan kepada ku. Tapi, tiba – tiba langsung menyuruh anak buahnya untuk langsung membawa paksa aku? Sial! Sial! Sial! Pria hilang akal itu benar – benar cari masalah dengan ku.’ Batin Cyla geram saat sadar ini semua ulah dari Rega yang tidak tahu malu itu.
“Kau siapa?” tanya Cain dingin, memicingkan mata tidak suka kearah pria yang baru saja datang menyela dirinya.
“Sebelumnya, maaf karena sikap anak buah saya yang sedikit kurang sopan yang berani mengangkat senjata. Tuan muda Uzzielsky. Perkenalkan, saya Pram Guntara. Sekretaris pribadi dari tuan Rega Rahendra. Saya rasa anda pasti mengenalnya, tuan muda Uzzielsky.” Jawab Pram panjang lebar – Masih dengan senyum ramah penuh ancaman di wajahnya.
Perkataan Pram membuat Cyla mengerutkan dahi bingung – Tidak mengerti maksud dari ucapan Pram. Sebenarnya Cyla sudah bingung sedari tadi, saat dirinya melihat dan mendengar dengan jelas kalau pria yang didepannya – Yang menodongkan pistol dikepala Cain serta Pram, memanggil Cain dengan sebutan ‘Tuan muda Uzzielsky’.
Cain yang tahu siapa Rega Rahendra hanya diam tutup mulut. Namun, harga dirinya terluka saat tahu anak buah Rega dengan beraninya menodongkan pistol kepadanya. Selain itu, pikirannya juga bertanya – tanya. Apa hubungan antara Rega Rahendra dengan Secyla Jellyn. Dewi batinnya menjawab dengan lantang, seolah menyadarkan jika Cyla adalah wanita milik Rega Rahendra. Namun, egonya menolak jawaban tersebut. Cain tidak menerima jika wanita yang menarik perhatiannya pertama kali itu milik seorang Rega Rahendra.
Melihat cain yang hanya diam saja. Cyla langsung menghentakan kedua tangannya kuat saat dirasa pegangan dari kedua anak buah Pram sedikit melemah. Sontak hal tersebut membuat kedua anak buah Pram – Wana dab Indra terkejut. Hendak kembali mencekal tangan nonanya – Secyla Jellyn. Namun terlambat. Cyla sudah melangkah mendekat dan berdiri di tengah – tengah ketiga pria yang dalam kondisi bersitegang.
“Sekarang aku mengerti. Turunkan pistol milik mu, siapa pun namanu aku tidak perduli. Baru setelah itu aku akan ikut kalian. TANPA PAKSAAN.” Ucap Cyla sedikit lantang – Menekankan kata terakhirnya. Hampir saja Cyla tidak dapat menahan gejolak emosinya.
“Mereka tidak akan berani melukai diriku. Kau tenang saja Cain. Yang ada aku mengkhawatirkan dirimu, mereka bisa melukai dirimu kapan saja.” Balas Cyla dengab nada setenang mungkin. Tersenyum – Mencoba meyakinkan Cain kalau dirinya baik – baik saja.
“Yang dikatakan nona Cyla benar, tuan muda Uzzielsky. Akan lebih bagus jika anda menjauh dan pergi dari nona Cyla.” Sela Pram dengan nada lembutnya – Masih dengan raut wajah ramah namun penuh dengan seribu ancaman.
“Dan kau! Turunkan senjata mu!” Ucap Cyla sedikit meninggikan suaranya, menatal tajam kearah pria yang masih menodongkan pistol tepat dikepala Cain. Namun, pria tersebut – June seolah menulikan pendengarannya. Masih diam tidak bergerak sedikit pun, mengabaikan ucapan nonanya – Secyla Jellyn. Hal tersebut membuat Cyla sangat geram.
“Ku bilang turunkan pistol mu! Itu perintah ku!” Ucap Cyla tegas – Menggeram menahan emosinya.
Mendengar kata ‘Perintah’, June seketika langsung menurunkan pistolnya dan kembali menyimpannya dibalik hoodienya. Cyla lalu mengalihkan pandangannya kearah Cain. Menatap dengan tatapan bersalah.
“Maafkan mereka Cain. Maafkan aku. Aku tidak tahu siapa sebenarnya dirimu sampai Pram mengenal mu. Namun, aku benar – benar meminta maaf atas semua kekacauan ini. Terlalu berbahaya untuk mu, jika kita bertemu lagi. Jadi aku harap kita sebisa mungkin tidak pernah bertemu kembali.” Ucap Cyla pelan dengan nada dan tatapan bersalahnya. Yang masih dapat didengar dengan jelas oleh Cain.
Mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Cyla, sontak membuat Cain tersentak terkejut. Menatap Cyla dengan kedua matanya yang membulat sempurna.
“Apa maksud mu dengan berharal kita tidak bertemu kembali? Sedangkan kita saja baru pertama kali bertemu dan pertama kali berkenalan?” tanya Cain dengan nada terkejut – Tidak terima dengan keputusan sepihak dari Cyla. Menatap bingung dan penuh tanya kearah Cyla.
“Kau tidak mengerti. Dan, aku tidak berniat menjelaskan untuk membuat mu mengerti. Tapi, aku senang bertemu dengan mu. Kau orang yang menyenangkan.” Ucap Cyla dengan nada tegas tidak terbantahkan. Membalikkan badannya – Melangkah pergi diikuti oleh ketiga anak buah Pram. Meninggalkan Cain yang terdiam membeku ditempat.
“Akan lebih bagus jika anda melupakan kejadian hari ini, tuan muda Uzzielsky. Selagi tuan Rega Rahendra masih menghormati putra dari mr. Ansellsky selaku rekan bisnisnya. Apalagi jika anda juga melupakan pernah mengenal nona Cyla. Itu lebih dari kata bagus.” Ucap Pram dengan nada ramah – Namun raut wajahnya seketika langsung berubah menjadi datar dan dingin saat mengucapkan kalimat terakhir. Membalikkan badannya – Menyusul nonanya dan anak buahnya. Meninggalkan Cain yang masih terdiam membeku seorang diri – Mengepalkan kedua tangannya, menahan amarah yang siap meledak kapan saja. Memicingkan mata – Menatap tidak suka kearah punggung pria yang bernama Pram.
~
Didalam mobil Pram, Cyla benar – benar dilanda perasaan jengkel. Cyla sudah mengatakan sendiri saat di perpustakaan kalau dirinya menyerah – Memilih ikut tanpa paksaan. Namun, tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Pram sampai tidak mempercayai dirinya. Pram dengan sikap tegasnya memerintahkan salah satu anak buahnya yang memegang tangan sisi kanan Cyla saat kejadian beberapa saat lalu – Indra agar memborgol pergelangan tangan kiri Cyla dengan pergelangan tangannya. Cyla benar – benar sudah merasa muak dan lelah – Sangat lelah untuk semua kejadian hari ini. Cyla bahkan sudah memberontak, membentak mereka – Hingga makian Cyla lontarkan kepada Pram dan kedua anak buahnya yang satu mobil dengan Cyla. Namun, baik Pram dan kedua anak buah Pram tidak ada yang mendengar seolah mereka bertiga kompak untuk mengabaikan Cyla dengan segala sumpah serapahnya.
Akibat rasa lelah yang menyerang Cyla karena berusaha memberontak, Cyla kembali mengaku dirinya menyerah dan lebih memilih diam – Menahan sakit di pergelangan tangannya yang diborgol. Cyla mengamati sejenak dan baru sadar. Mobil yang dinaikinya mobil milik Pram, dengan pria yang menodongkan pistol dikepala Cain yang duduk di kursi kemudi – June. Sedangkan sipemilik mobil – Pram duduk dengan tenangnya di kursi penumpang depan samping kemudi. Melirik sekilas kearah kaca spion dalam, ada mobil lain berwarna silver dibelakang. Mengikuti mobil Pram yang dinaiki Cyla. Cyla meyakini kalau mobil tersebut mobil anak buahnya Pram yang satu lagi, yang memegang paksa lengan kirinya – Wana disaat kejadian di perpustakaan beberapa saat yang lalu.
Cyla mendengus kesal, mengalihkan pandangannya keluar kaca jendela mobil Pram. Menatap jalanan kota Semarang yang dilanda gerimis cukup derasa. Mengernyit heran, padahal Cyla yakin sebelum masuk kedalam mobil tadi cuaca masih cerah. Langit biru indah terdampar tanpa awan, namun siapa yang menyangka seolah gerimis memahami perasaan Cyla. Perasaan yang terpendam didalam hatinya, yang terkunci dan dijaga dengan baik oleh dewi batinnya.
“Cih! Sekarang aku benar – benar merasa seperti seorang tahanan yang siap dipenjara. Lagi pula mereka ini bodyguard atau polisi! Bisa – bisanya mereka menyimpan borgol.” Gumam Cyla pada dirinya sendiri – Berdecih menghela nafas kasar. Memutar bola mata malas saat melihat dari sudut matanya kalau mereka semua diam, masih mengabaikan semua perkataannya.
“Bagaimana keadaan Ibu dan Adikku? Apa operasi Malik sudah dilakukan? Apa mereka baik – baik saja?” ucap Cyla bertanya masih dengan nada gumaman namun sedikit dia tinggikan dengan sengaja – Menatap menerawang kearah kendaraan yang berlalu lalang. Tiba – tiba saja dirinya dilanda perasaan rindu akan kehadiran Ibu dan Adiknya. Masih menyimpan sejuta perasaan keraguan, apakah semua yanh dilakukannya tepat? Dan baik untuk semua pihak? – Menghela nafas mencoba mengenyahkan pikirannya yang mulai sedikit menganggu.
“Anda tidak perlu khawatir nona. Tuan muda Jellyn akan segera melakukan operasi dua minggu lagi. Setelah semua prosedur tes selesai dan berjalan lancar.” Jawab Pram yang akhirnya memilih membuka suara juga dengan nada tenang dan datar – Namun, tatapannya masih setia dengan Ipad yang ada di genggamannya.
“Lalu kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau ada di Amerika?” tanya Cyla lagi dengan nada tergesa – gesa. Tidak mampu menahan rasa penasarannya.
“Saya langsung kembali setelah mengurus semua yang ada disana, nona. Lagi pula saya tidak bisa untuk tetap tinggal, apalagi tuan Rega mulai keluar dari jalurnya. Tidak bisa membedakan antara pekerjaan dan urusan pribadinya. Seharusnya anda lebih tahu dari pada saya, nona muda Jellyn.” Jawab Pram menjelaskan dengan kalimat yang kentara menyindir dengan nada tenangnya. Namun, gerakan jari telunjuk kanannya yang diatas layar Ipad seketika terhenti sejenak – Tidak percaya jika nona Cyla akan menanyakan hal tersebut.
Dada Pram seketika terasa sesak – Sangat sakit saat mengingat kejadian yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri diruang rahasia milik bosnya – Rega Rahendra. Perasaan yang muncul tiba – tiba, tidak pernah terbayangkan dia akan merasa sangat ketakutan padahal bukan dirinya yang menjadi objek tersebut. Melirik sekilas kearah kaca spion dalam, dilihatnya nona Cyla hanya merenung menatap keluar kaca jendela mobil. Kembali mengalihkan pandangannya – Menatap hampa kearah layar Ipad yang mati. Menampilkan layar gelap.
'Saya sangat ingin menolong anda, nona Cyla. Tapi saya sendiri tidak tahu apakah mencoba membantu anda menjauh dari tuan Rega termasuk dalam kategori menolong anda atau tidak. Lagi pula saya merasa kalau saya tidak bisa. Saya tidak sanggup untuk melawan kekuasaan tuan Rega. Maafkan saya yang hanya diam saja, nona muda Jellyn. Saya benar – benar minta maaf jika kedepannya terjadi sesuatu pada anda saya hanya akan menutup mata, mengabaikan nona. Maaf.’ Gumam Pram sendu didalam hati. Dirinya dilanda perasaan bersalah karena tidak bisa menolong dan tidak bisa berbuat apapun untuk sekedar membantu nona Cyla. Pram tidak munafik, jika nona Cyla adalah wanita yang baik. Sangat baik bagi dirinya. Namun, Pram sadar diri dengan tidak berani mengusik apalagi menyentuh yang menjadi milik bosnya – Tuan Rega Rahendra. Menghembuskan nafas pelan – Lelah dengan semua pikiran yang ada didalam benaknya. Mengalihkan pandangannya kedepan – Menatap kosong, menerawang dalam diam kearah kaca mobil didepannya.
~
Sesampainya di apartement, Cyla masih bungkam begitupun dengan yang lain. Namun, dahinya mengerut heran saat dirasa seluruh ruang apartement terasa sangat sepi – Dingin tidak tersentuh. Padahal dirinya hanya meninggalkan apartement belum ada satu hari. Semakin heran mana kala matanya menjelajah tidak menemukan sosok Rega. Kerutan di dahinya semakin banyak saat dirinya dituntun sedikit paksa untuk masuk kedalam kamarnya – Kamar Cyla dan Rega. Sedikit merada lega saat dilihat Pram sedang membuka kunci borgol dipergelangan tangannya hingga lepas. Namun, senyum Cyla seketika langsung memudar saat melihat Pram dan kedua anak buahnya keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan tergesa – gesa.
Cyla tersentak terkejut dengan debaran jantung gelisah ketika telinganya – Pendengarannya menangkap suara pintu terkunci dari luar. Pintu kamar dikunci dari luar. Dirinya – Cyla dikurung didalam kamar.
“Tunggu! Tunggu sebentar.... Pram. Buka pintunya, jangan dikunci!” ucap Cyla dengan nada meninggi – melangkahkan kedua kakinya tergesa – gesa kearah pintu kamar. Menarik knop pintu kamar berharal apa yang dia dengan dan lihat hanya halusinasi saja.
Namun, saat dirasa pintunya tidak mau terbuka. Cyla mulai panik, tangannya sontak menggedor – gedor kencang pintu kamar. Sambil terus meneriakan nama Pram. Memanggil Pram tanpa ada sahutan dari sang punya nama. Sedangkan Pram dan ketiga anak buahnya berdiri menghadap Pram. Mengabaikan gedoran pintu ataupun teriakan dari nonanya – Secyla Jellyn. Benar – benar menulikan pendengaran mereka.
“Aku akan menemui tuan Rega dikediaman Rahendra. June akan ikut denganku. Sedangkan kalian berdua, Wana dan Indra. Tetap disini, jaga nona Cyla jangan sampai biarkan dia pergi. Pastikan nona Cyla juga dalam keadaan aman. Kalian mengerti?” ucap Pram tegas dengan nada khas memerintahnya pada Wana dan Indra. Menatap tajam penuh peringatan kepada kedua anak buah andalannya agar melaksanakan perintahnya dengan sempurna.
“Baik bos. Kami mengerti.” Balas Wana dan Indra bersamaan – Dengan nada lantang dan sikap tegap layaknya anggota pasukan militer. Sebab, mereka berdua memang mantan anggota militer. Menegakan badan dengan posisi siap, memahami semua perintah dari bosnya. Dan berjanji dalam diam pasti akan melaksanakannya dengan sempurna.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your LIKE and coment,
Typo coment guyss!
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!
LIKE NYA GUYS,,, BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT NGETIKNYA. OKEHHH