
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination...
~ Happy Reading ~
*****
Hari Cyla semakin kelam, menatap menerawang kearah luar kaca jendela mobil. Melirik sekilas pada kursi mobil depan dengan June yang mengemudi dan Gladis duduk dikursi samping June. Suasana mobil yang sangat tenang, terlalu damai dan lebih membosankan dari pada sebelumnya. Hari ini Cyla ada jadwal kelas Matematika. Dan kali ini Rega melakukan semuanya sesuai dengan kesepakatan. Membiarkan dirinya tetap melanjutkan pendidikannya, tentu saja dengan aturan dan dua orang – Anak buah Rega yang akan mengikuti kemana pun dirinya pergi. Hal yang sangat membuat Cyla tidak nyaman.
Melangkah keluar mobil dan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah menunggu tidak jauh dari tempat parker mobil. Namun langkah Cyla kembali terhenti saat tahu jika June dan Gladis juga ikut melangkah di belakangnya. Berbalik dan melayangkan tatapan tajam pada dua bodyguard suruhan Rega. Menatap nyalang memeringati, membuat June dan Gladis meneguk ludah gugup dan gelisah.
“Jangan coba – coba!” ucap Cyla setengah berbisik, memperingati.
“Tapi, nona. Ini perintah langsung dari tuan Rega tadi pagi saat beliau akan berangkat ke kantor.” Balas Gladis sedikit ragu, salah tingkah menghindari tatapan mematikan dari sang nona nya.
“Aku terikat janji, dan aku bukan orang yang suka ingkar janji. Aku tahu, aku harus bagaimana dan apa yang harus aku lakukan. Jadi, tetap diam dan tunggu di mobil sampai aku selesai. Kalian mengerti?” ucap Cyla tajam.
“Kami mengerti, nona. Kalau begitu hubungi kami jika terjadi sesuatu. Kami permisi balik kedalam mobil.” Sahut June cepat. Mengehentikan Gladis, tahu saat melirik sekilas Gladis akan melayangkan protes tidak setuju. Menunduk kepala sekilas diikuti Gladis yang pasrah, lalu melangkah kembali kearah mobbil dengan Gladis yang hanya diam mengikutinya.
¬
“Kalau begitu semua sudah sepakat. Anggota kelompok sesuai dengan yang saya sebutkan tadi. Satu minggu batas waktu kalian, jadi jangan coba – coba mencari alasan untuk tidak mengerjakannya. Mengerti?” ucap Prof. Huma tegas, mulai membereskan lembar – lembar kertas dan buku yang digunakan untuk bahan kelas baru saja.
“Mengerti Prof.” Sahut para mahasiswa serempak. Memilih tetap diam, menunggu sang Prof. Yang merupakan salah satu jajaran dosen killer di kampus untuk keluar dari ruangan.
Tepat setelah Prof. Huma keluar, ruangan menjadi ramai. Semua sibuk menyusun rencana untuk berkumpul dan bahan mengerjakan tugas kelompok tersebut. Namun, tidak dengan Cyla, Sera dan Nadia. Mereka bertiga serempak keluar cepat guna mengejar langkah sang Profesor. Berdiri dan menghadang jalannya Prof. Huma. Membuat yang di hadang mengernyitkan dahi bunging dengan tingkah laku ketiga mahasiswinya itu.
“Apa ada masalah?” Tanya Prof. Huma bingung.
“Iya, Prof. Kenapa saya tidak memiliki anggota kelompok? Kenapa saya, Secyla Jellyn harus mengerjakan tugas tersebut seorang diri?” Tanya Cyla cepat dengan nafas memburu.
“Oh, itu. Kalau hal tersebut kau bisa bertanya langsung pada pemilik yayasan. Tuan Rega memerintah, saya tidak memiliki wewenang untuk menolak. Jadi, mengertilah Cyla. Lagi pula kau merupakan mahasiswi terbaik dengan jalur beasiswa. Dan kau juga berada di bawah bimbingan saya untuk skripsi mu. Kau pintar, saya yakin tugas seperti ini mudah kau kerjakan sendiri. Saya sudah menjawab, apa saya sudah bisa pergi sekarang anak – anak?” jelas Prof. Huma dengan nada tenang, seolah tidak terkejut jika murid bimbingannya itu akan mendatanginya karena masalah hal ini. Meski sedikit mengganggu pekerjaannya, namun permintaan sang atasan mana bisa di abaikan. Saat sang pemilik yayasan sendiri yang memerintah langsung tadi pagi tepat saat dirinya sedang sarapan.
Sedangkan Cyla menatap dingin kearah punggung Prof. Huma yang sudah mulai menjauh dalam jarak pandangnya. Menggertakan gigi, dengan kedua tangan mengepal erat disisi tubuhnya. Hingga tepukan pelan di bahunya, menyadarkan Cyla yang tengah terdiam menahan emosi.
“Sudah lah. Benar kata Profesor. Jika Rega sudah memiliki keinginan, kita bisa apa? Tapi, kau tenang saja. Masih ada kita berdua. Kita akan membantu mu saat kelas selesai. Kita bisa mengerjakan bersama di perpustakaan.” Ucap Sera mengusap lembut bahu Cyla. Mencoba mengerti tekanan yang di alami sahabatnya saat ini.
“Aku tidak peduli dengan tugas ini, guys. Tapi, aku merasa kalau sikap Rega sudah keterlaluan. Dia membiarkan ku pergi, tapi dia tetap menahan ku dalam setiap langkah. Membatasi ruang gerak ku. Aku sangat jengkel.” Balas Cyla lirih, menundukan kepala. Namun dengan nada bicara yang kentara sangat kesal di telinga Sera dan Nadia.
“Aku tidak tahu harus bicara apa, Cyla. Kau benar, Rega keterlaluan. Baik Sera maupun Prof. Huma juga tidak salah. Kita bisa apa? Jawabannya hanya dua, yaitu diam dan menurutinya.” Sahut Nadia dengan nada mengejek, membuat Cyla dan Sera menatapnya dengan kerutan di dahi mereka, bingung.
“Siapa peduli, Cyla. Jika ruang gerak mu terbatas. Memangnya kau ingin bergerak seperti apa? Bukankah yang terpenting, Rega tidak membatasi pertemuan kita?” tambah Nadia mengangkat sebelah alisnya, menggoda.
“Nad... kau?” ucap Cyla tersenyum.
“Dan itu artinya. Yang terpenting. Kita masih bisa menghabiskan waktu bersama untuk bersenang – senang didalam ruang gerak terbatas mu itu. Aku benar kan?” sahut Sera memperjelas. Tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
“Kalau begitu bisa kita kekantin sekarang? Aku benar – benar lapar. Aku belum sarapan.” Ucap Nadia yang langsung menyela, berdiri di antara Cyla dan Sera. Merangkul kedua bahu sahabatnya. Menyeret paksa agar segera pergi ke kantin kampus. Membuat Sera dan Cyla hanya tertawa melihat tingkah Nadia.
“Tapi, Sera sarpan. Bagaimana bisa kau tidak sarapan?” Tanya Cyla disela – sela tawanya.
“Jangan bertanya pada ku. Tanyakan saja kepadanya. Kenapa dia kenyang sedangkan aku kelaparan? Itu karena Sera tidak mau membangunkan ku tadi pagi.” Jawab Nadia mendengus kesal, melirik tajam kearah Sera.
“Oh, ayolah. Cyla kau bodoh jika kau percaya padanya. Aku tidak membangunkannya? Sampai kiamat datang pun, aku orang pertama yang akan datang dan membangunkannya. Salahkan Nadia, yang tidur seperti orang mati saja. Dia yang tidak bangun, aku yang di salahkan. Menyebalkan.” Gerutu Sera, menyingkirkan rangkulan tangan Nadia yang berada di bahunya. Pura – pura merajuk, menunjukan wajah cemberutnya. Melipat tangannya di depan dadanya, dan memilih melangkah lebih cepat mendahuli kedua sahabatnya.
Melihat tingkah Sera, sontak membuat Cyla dan Nadia saling pandang dan terkikik geli. Setengah berlari dan secara bersamaan merangkul Sera. Hampir saja membuat Sera terjungkal ke depan. Ketiganya melempar pandang, lalu tertawa bersama. Tawa yang mengiringi langkah mereka menuju kantin.
Akhirnya setelah mereka cukup lama mengantri, mereka bertiga melangkah kearah meja yang kosong dengan nampan masing – masing yang berisi makan siang mereka. Sera dan Nadia memilih duduk berdampingan. Tepat, saat Cyla juga akan duduk. Nampan yang berisi makan siangnya jatuh ke lantai kantin menimbulkan suara nyaring yang keras. Jatuh akibat seseorang yang dengan sengaja manmpik kasar nampannya, membuat semua makanan berceceran di lantai mengotori kantin. Menatap tajam kearah sang pelaku yang juga menapat nyalang kearahnya. Tingkah yang mmebuat suasana kantin hening menegangkan. Tadinya yang mana para pengunjung fokus pada santapan mereka. Kini mereka lebih tertarik pada dua wanita yang tengah bersitegang dengan saling melempar tatapn tajam satu sama lain. Aura yang keluar sangat mematikan, mengerikan, namun sangat menghibur untuk mereka tonton. Pertunjukan yang menarik mata mereka.
“Apa kau sudah gila!” geram Cyla menatap nyalang tidak suka kearah perempuan yang sedang memancing amarahnya. Jessy Adiaksa. kakak kedua Moana – Sekaligus putri kedua Perdana Menteri Adiaksa.
“Ck! Ya, kau benar. Aku sudah gila. Dan semua kegilaan ini, akibat kesalahan ku karena mengenal mu.” Balas Jessy sinis. Ikut menatap tajam tepat pada netra mata ember milik Cyla.
“Minggir! Aku sedang tidak memiliki mood untuk berdebat atau bertengkar dengan mu. Jadi, enyah dari hadapan ku saat ini juga.” Ucap Cyla tegas, namun bersikap abai.
“Oh, takut. Tentu nyonya Rahendra. Memang siapa aku? Aku yang sekarang memiliki kekuasaan untuk melawan mu.” Sahut Jessy dengan nada yang dibuat – buat.
“Tentu, aku akan pergi. Setelah masalah kita selesai, Secyla Jellyn.” Tambah Jessy menahan geraman emosi yang meluap – luap.
“Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?” gumam Cyla mengernyitkan dahi bingung. Namun, masih menyimpan perasaan kesal akibat ulah Jessy.
“Kau tidak memiliki hak untuk bertanya, Cyla. Aku yang harusnya bertanya. Sebenarnya kesalahan apa yang sudah kami lakukan, sampai kau harus menghukum kami sebesar ini Cyla? Apa yang sudah ku lakukan pada mu sampai kau tega berbuat sejauh ini Cyla? Apa?” Tanya Jessy panjang lebar, menggertakan gigi marah hingga tidak dapat lagi membendung air matanya.
“Dengar! Aku benar – benar tidak paham apa yang sedang..” ucap Cyla terpotong ketika melihat Jessy melempar Koran diatas meja tepat di depannya.
Cyla meraih Koran tersebut, dan membaca tepat di halaman utama Koran. Dahinya semakin mengernyit bingung ketika judul utama Koran tersebut menyebutkan ‘Kebangkrutan Keluarga Adiaksa dan Penurunan Posisi Perdana Menteri Adiaksa’. kembali mengalihkan pandangannya kearah Jessy yang kedua matanya sudah memerah dalam tangis diamnya dengan tatapan bertanya tidak mengerti maksud dari Jessy. Apa hubungan antara dirinya dengan masalah yang menimpa pada keluarga Adiaksa? Cyla sungguh tidak mengerti.
“Apa hubungannya dengan ku?” Tanya Cyla bingung.
“Kau tidak lihat hari dan tanggalnya?” balik Tanya Jessy, mulai terisak pelan.
Mendengar perkataan Jessy, Cyla kembali menatap Koran tersebut. Melihat hari dan tanggal berita tersbut di terbitkan.
‘Empat hari yang lalu? Berarti satu hari setelah acara pernikahan? Bagaimana bisa?’ gumam Cyla dalam hati.
“Aku masih tidak mengerti, Jessy?” Tanya Cyla kembali setengah berbisik.
“Kau tidak mengerti! Cyla, apa kau bodoh? Moana hanya menyiram mu dengan air minum, dank au juga sudah membalasnya. Tapi, apa kami satu keluarga juga harus di hokum karena itu? Tepat satu hari setelah hari paling membahagiakan kakak tertua ku? Sebenarnya dimana dirimu selama ini, sampai berita besar seperti ini saja kau tidak tahu? Lucu sekali dirimu, Cyla!” jawab Jessy dengan nada yang mulai meninggi. Menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.
“Aku benar – benar tidak tahu, Jessy. Jangan berbelit – belit dan bicara langsung pada intinya saja.” Balas Cyla yang juga dengan nada meninggi, mulai muak mendengar ocehan rumit Jessy.
“Rega Rahendra.” Sahut Jessy berteriak, yang terjeda.
“Rega yang melakukan semua itu pada keluarga ku.” Tambah Jessy dengan menekankan setiap kata. Meluapkan semua amarah dan kekesalannya. Membuat kedua mata Cyla membelalak sempuran – Terkejut.
“Rega membeli paksa semua saham investasi milikku dan Ayahku. Membeli semua saham dan property milik keluarga Adiaksa. membuat posisi Ayahku turun dari jabatannya, menjadi anggota biasa di partai. Begitupun dengan Suami Kakak pertama ku. Kami bangkrut dan kehilangan posisi dalam waktu satu malam. Satu malam, Cyla. Pria itu benar – benar mengerikan.” Tambah Jessy menjelaskan. Mulai tidak bisa menahan isak tangisnya yang menyesakkan dadanya.
“I..tu, itu tidak mungkin.” Gumam Cyla tidak percaya dengan pendengarannya barusan.
“Cyla, bahkan Moana kabur dari rumah. Bahkan hingga saat ini tidak ada yang tahu dimana keberadaanya sekarang. Apa hukaman ini setimpal dengan air yang Moana tumpahkan pada tubuh mu?” Tanya Jessy, disela – sela isak tangisnya.
“Ya, siapa yang menduga. Tapi aku percaya itu Rega. Karena semua saham yang Rega beli berawal atas nama dirinya bukan anggota keluar Mahesa. Lalu, kau mau tahu. Saham tersebut sekarang sudah di alihkan dengan atas nama dirimu, Secyla Jellyn. Kau masih berpikir ini semua bukan ulah Rega?” sahut Jessy sinis.
“Nama ku?” gumam Cyla terkejut.
Semua mahasiswa yang mendengar ucapan Jessy , mulai berbisik tidak percaya dan juga terkejut dengan pendengaran mereka.
“Persetan dengan semua itu Cyla. Aku hanya ingin agar kau mengembalikan adik ku, Moana. Setelah itu aku meminta Moana untuk meminta maaf pada mu. Jadi, beri tahu dimana adik ku sekarang, Cyla?” ucap Jessy menggertakan gigi.
“Tapi, aku sungguh tidak tahu dimana Moana. Kenapa kau kau malah bertanya pada ku?” jawab Cyla balik bertanya, hingga tanpa sadar meneteskan air mata dari sudut matanya. Tanpa seijinnya.
“Siapa peduli, kau tahu atau tidak. Tapi, pemilik bidak catur pastilah tahu dimana bidak – bidaknya berada. Pastikan dalam dua hari aku harus sudah mendengar dimana keberadaan adik ku. Jika tidak, jangankan kata ‘maaf’. Memaki mu saja aku tidak sudi.” Balas Jessy menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Kembali menghapus kasar air matanya, dan pergi dengan langkah kasar keluar dari kantin tersebut.
Sedangkan Cyla hanya terdiam, menatap kosong kedepan. Mengabaikan semua air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
“Cyla?” panggil Nadia yang sedari tadi bungkam, terkejut dengan semua yang terjadi di depan matanya sendiri.
“Apa kalian juga tahu masalah ini?” Tanya Cyla tanpa menatap kedua sahabatnya yang sudah berdiri di samping kanan kirinya, semakin mencengkram erat Koran di tangannya. Hingga buku jari – jarinya memutih.
“I..iya. tapi, sungguh Cyla. Kami hanya sekedar tahu saja. Tanpa tahu semua itu ada hubungannya dengan mu dan Rega. Percayalah.” Jawab Sera gugup, mengulurkan tangan berniat ingin mengusap bahu Cyle – Menenagkan. Yang langsung di tepis kasar oleh Cyla.
“Aku ingat, aku menghubungi kalian satu hari setelah berita ini muncul. Tapi, kalian tidak member tahu ku?” Tanya Cyla berbalik dan melayangkan tatapan tajam kearah kedua sahabatnya secara bergantian.
“Kami tidak memberi tahu mu karena kami pikir kau sudah tahu.” Jawab Nadia tenang berbanding terbalik dengan Sera yang semakin gelisah mendengar jawaban Nadia. Berbicara tenang adalah kunci utama agar Cyla tidak semakin tersulut emosinya.
‘Bagaimana aku tahu jika Rega memotong semua kabel televise dirumah itu? Bagaimana aku bisa tahu, saat semua sambungan internet disana tidak muncul dan tidak bisa digunakan?’ gumam Cyla bertanya – Tanya dalam hati.
“Rega sengaja melakukannya.” Ucap Cyla mulai tidak bisa membendung air mata yang sudah mengalir deras.
“Apa?” Tanya Sera tidak paham.
“Dia sengaja melakukannya, agar aku tidak mengetahuinya.” Jawab Cyla menatap sendu pada Sera dan Nadia.
“Aku harus pergi.” Ucap Cyla kembali, melangkah pergi mengabaikan semua panggilan Sera dan Nadia. Menemui Rega adalah hal utama yang harus Cyla lakukan agar mendapat penjelasan.
¬
Cyla terus melangkah dengan hentakan amarah yang menggema di koridor lantai atas ‘R Company’. Tangis yang tidak bisa berhenti dalam bibirnya yang terkatup rapat. Cengkraman eratnya, meninggalkan bekas sobekan pada lembar Koran yang sudah kusut. Diikuti dengan Gladis dan June di belakangnya.
Baik Gladis dan June sempat khawatir, dan bertanya pada nonanya itu. Namun, jawaban yang dilontarkan mengejutkan mereka.
¬ Flashback On ¬
“Nona, katakana pada kami apa yang sebenarnya terjadi pada anda?” Tanya Gladis khawatir di tengah perjalanan menuju gedung kantor ‘R Comapny’.
“Urusanku bukan semuanya urusan kalian. Jadi, tutup mulut mu itu.” Jawab Cyla dingin. Membuat Gladis dan June tersentak terkejut, sebab tidak pernah mereka melihat amarah nonanya itu sampai terasa semengerikan ini.
“Ehemm, nona. T...tuan. Ehemm, tuan Rega beberapa saat yang lalu sedang rapat. Jadi mungkin,,” ucap June yang terbata terpotong, mencengkram kuat setir mobilnya.
“Apa aku terlihat peduli apa yang Rega lakukan saat ini?” sahut Cyla menyela ucapan bodyguardnya itu.
“Tidak, nona.” Balas June, melirik kearah kaca depan dalam mobil.
“Baguslah kalau kau tahu. Yang aku inginkan saat ini adalah bertemu dengan Rega. Jadi, bawa saja aku kepada tuan mu itu. Dan jangan bicara kecuali aku mengijinkannya.” Sahut Cyla kesal, membuang pandangan jengkelnya pada kaca jendela mobil yang dia naiki.
¬ Flashback Off ¬
Kedua bodyguard tersebut menghentikan langkah mereka diambang koridor lantai teratas. Dimana hanya ada satu ruangan di lantai tersebut. Yaitu ruangan CEO yang memang ditempati oleh Rega Rahendra, dengan meja sekretaris didepan ruangan tersebut. Gladis dan June berdiri tidak jauh dari ruangan CEO, bersiap menghalangi siapapun yang akan masuk dan memiliki potensi menganggu pembicaraan nonanya dengan tuan Rega.
Sedangkan Cyla terus melangkah dan berhenti tepat didepan pintu ruangan Rega dengan tangan yang sudah memegang knop pintu, dan terbuka sedikit membuat celah pintu ruangan. Namun, niatnya yang mau masuk di urungkannya saat kedua telinganya menangkap sayup – sayup pembicaraan antara Rega dan Pram didalam. Yang semakin membuat Cyla penasaran ketika namanya disebutkan dalam pembicaraan mereka berdua.
¬
Didalam ruang CEO,
“Apa kau bisa memastikan jika Cyla tidak akan tahu mengenai hal ini?” Tanya Rega dengan nada dan tatapan tajamnya.
“Tentu, sir. Saya sudah pastikan jika nona Cyla tidak akan tahu mengenai masalah ini. Sesuai dengan keinginan anda.” Jawab Pram tenang.
“Pastikan juga, jangan sampai nyonya Jellyn tetap ditempat. Jika sampai aku mendapti dirinya menghubungi Cyla lagi. Maka kau orang pertama yang akan aku hukum. Kau mengerti?” sahut Rega tegas, melipat kedua tangannya.
“Baik, sir.” Balas Pram, menunduk sekilas. Lalu melangkah keluar ruangan CEO.
Langkah Pram terhenti tepat diambang pintu. Pram dibuat terkejut akan kehadiran Cyla dan kondisi nonanya yang terlihat kacau di matanya. Mata yang sembab hingga memerah, dan rambut yang di ikat asal membuat kesan berantakan. Tengah berdiri dan menatap nyalang kearahnya. Membuat Pram meneguk ludah gugup. Namun, Pram kembali bernafan lega saat nonanya itu menerobos masuk hingga menyenggol kasar lengannya. Melihat hal tersebut, Pram dengan sikap buru – buru langsung keluar dan menutup kembali pintu CEO dengan perlahan.
“Cyla apa yang terjadi padamu?” Tanya Rega terkejut, spontan berdiri khawatir melihat kondisi Cyla yang berantakan. Serta terkejut melihat kedatangan Cyla yang tiba – tiba.
Bukannya menjawab, Cyla memilih melempar Koran kusut yang ada di tangannya keatas meja kerja Rega dengan kasar. Yang langsung menampilkan berita utama pada Koran tersebut. Hal yang dilakukan Cyla kembali membuat Rega menahan nafas terkejut, menatap getir kearah Koran dan Cyla bergantian. Semoga ini tidak sesuai dengan apa yang di khawatirkan Rega.
“Aku tahu kau egois, pemarah, dan temperamental Rega. Selama dijalan, benakku selalu berucap semoga semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan mu. Semoga kegelisahan ku tidaklah nyata. Tapi, mendengar apa yang kau ucapkan pada Pram barusan. Aku tidak tahu kalau kau akan sekejam itu, Rega.” Ucap Cyla menekan setiap kata yang dia lontarkan dengan tajamnya.
“Cyla, aku...” balas Rega terpotong, meneguk ludah kasar.
“Setelah mengahancurkan keluarga Adiaksa, kini kau ingin memisahkan ku dengan Ibu ku sendiri? Apa harus sampai sejauh ini? Kau mengerikan Rega. Sikap mu benar – benar menakutkan.” Sahut Cyla cepat, berteriak dengan isak tangis yang mengeras.
“Cyla, mereka pantas mendapatkannya!” bentak Rega tajam, mengabaikan tangisan wanita di depannya.
“Termasuk Ibu ku?” Tanya Cyla sinis, menatap tajam pria yang berdiri dengan nafas memburu itu di hadapannya.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your, like, and coment.
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!