
[Pemberitahuan!
Jadi All,, Aku baru saja memperbaharui Part 30. Dan, sekarang aku mau up buat Episode - Part 31. Jd, biar All nyambung baca nya kalian sunting dan unduh kembali part 30. Sekian, terima.]
***
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination!
~ Happy Reading ~
*****
Cyla meringis menatap luka di belakang telinga bawahnya yang terpantul samar dari cermin meja rias di kamarnya. Menggigit sudut bibirnya menahan rasa nyeri saat jemarinya sibuk mengobati lukanya itu.
Tok! Tok! Tok!
“Miss, ini saya madam Leura.” Ucap madam Leuran dari balik pintu yang sengaja Cyla kunci dari dalam.
“Ada apa?” Tanya Cyla sedikit berteriak dan meringis saat merasa lukanya sedikit tertarik.
“Miss, anda baik – baik saja? Saya mendengar anda meringis kesakitan.” Balas madam Leura khawatir.
“I’m good. Aku tidak apa – apa.” Jawab Cyla dengan tangannya yang meremas kuat kapas yang memiliki bekas dari dari lukanya itu hingga buku jarinya memutih.
“Kalau begitu. Apa saya boleh masuk, miss? Saya bawa makan malam anda, miss.” Ucap kembali madam Leuara. Sangat – sangat kekeh ingin melihat langsung kondisi nonanya ini di dalam sana.
“Tentu, tunggu sebentar.” Balas Cyla yang langsung membereskan kapas, tisu, dan perlengkapan p3k lainnya setelah lukanya selesai dia perban kecil agar tersimpan kembali. Membuang semua kapas dan tisu yang terdapat bekas darahnya di tempat sampah kamar mandi dengan tergesa – gesa namun tidak membiarkan ada yang terjatuh sedikit pun. Membereskan semuanya dengan rapi agar tidak mencurigakan di mata madam Leura.
Menghembuskan nafas pelan mencoba menenangkan degub jantung gugupnya. Lalu, merapikan rambutnya agar menutupi lukanya yang sudah dia perban. Memutar kunci, dan menarik knop pintu segera setelahnya langsung memasang senyum di wajahnya.
“Hello, madam? Sebenarnya aku tidak lapar. Tapi, aku tahu Rega akan memarahi madam jika sampai aku tidak memakan makan malamnya. Masuklah madam.” Ucap Cyla langung saat pintu dia buka. Dan tentu saja dengan senyum ramah dan manis di wajahnya. Sedikit menyingkir untuk memberikan jalan pada madam Leura dan guerido trolly nya itu agar dapat masuk.
“Thank’u, miss.” Balas madam Leura tersenyum ramah, namun kedua matanya menelisik setiap sudut ruang kamar nonanya itu. Masuk lebih dalam kearah meja dan sofa yang terletak didekat ranjang yang langsung berhadapan dengan balkon yang sudah tertutup rapat hingga semua lapis gorden menutupi semua jendela kaca balkon itu. Memindahkan makanan yang dia bawa menggunakan gueridon trolly keatas meja dengan hati – hati. Namun, masih setia dengan kedua mata yang menelisik isi ruangan.
“Apa ada masalah, madam?” Tanya Cyla tenang dengan senyum manis yang dia paksakan di wajahnya. Cyla tahu jika gerak – gerik madam Leura terlihat mencurigainya. Masih setia berdiri di dekat pintu. Menunggu dan mengamati madam Leura selesai melakukan tugasnya dan keluar.
“Tidak, miss. Saya harap anda menikmati hidangan makan malamnya.” Balas madam Leura ramah, lalu melangkah dengan mendorong gueridon trolly agar berjalan keluar dari kamar nonanya.
“Pasti.” Jawab singkat Cyla. Seketika langsung menggigit kembali sudut bibirnya saat lukanya kembali bereaksi, membuat Cyla menahan rasa nyeri yang sangat. Dan Cyla yakini obatnya mulai bekerja pada lukanya.
“Good night, miss.” Ucap madam Leura tepat didepan nonanya, Cyla. Sebelum kembali melangkah setelah menunduk hormat sekilas.
“Night, madam.” Balas Cyla tersenyum, menutup pintu dan langsung menguncinya saat madam Leura benar – benar sudah keluar dari wilayah kamarnya.
Cyla langsung melangkah tergesa – gesa kembali kearah meja rias. Menyibak kasar rambutnya, memperlihatkan luka yang sudah di perban itu. Sedangkan tangan satunya mencengkram kuat pinggiran meja riasnya. Sangat – sangat gelisah, itulah yang Cyla rasakan saat ini. Menatap dalam pantulan wajahnya di cermin yang terlihat getir ketakutan.
‘Semoga saja penjaga itu tidak melihat wajah ku. Sial! Aku tidak bisa membebaskan Moana saat ini. Waktu ku hanya tingga dua hari. Jika setelahnya aku tidak bisa membebaskan Moana atau Rega yang ingkar janji. Jessy pasti akan meledak lagi pada ku. Ibu, aku minta berkat mu. Ya Tuhan, Bunda Maria berkatilah aku. Biarkan satu persatu masalah selesai. Dan, tunjukan pada ku siapa Rega sebenarnya.’ Gumam Cyla berdo’a dalam hati.
¬ Flashback On ¬
“Jika kau ingin menolongku atau mengeluarkan ku dari sini. Aku senang, Cyla. Sungguh. Aku bahagia untuk itu. Tapi, tidak sekarang. Terlalu berbahaya dan kita butuh rencana. Jadi, kembalilah dan jangan biarkan penjaga melihat mu.” Ucap Moana menegaskan, menatap serius pada mata Cyla dengan kedua tangannya mencengkram erat – meyakinkan pada kedua sisi bahu Cyla.
“Rencan? Kau benar, setidaknya kita harus menunggu Rega dan Pram kembali dari Bulgaria. Mereka kembali besok sore.” Balas Cyla setuju, setelah sempat berpikir untuk beberapa saat.
“Ya, itu bagus. Jadi pergilah dan hati – hati.” Sahut Moana melepas cengkramannya pada bahu Cyla.
“Jangan khawatir. Aku pasti akan kembali, semua pasti akan baik – baik saja. Percayalah pada ku, aku pergi.” Ucap Cyla meyakinkan Moana. Keluar dari sel dan kembali mengikat pintunya dengan rantai dan menggemboknya kembali. Beralih ke meja dan meletakan kunci gembok tersebut pada tempatnya dengan posisi seperti semulai agar tidak menimbulkan kecurigaan.
“Aku pasti akan kembali, Moana.” Ucap Moana di anak tangga pertama, menatap serius pada Moana.
“Ya, aku menunggu mu.” Balas Moana sama seriusnya. Mengangguk mengerti ucapan Cyla.
Cyla bingung bagaimana cara menutup dinding gelap itu kembali. Namun, dirinya dibuat terlonjak kaget saat dia menutup pintu kayunya dan terdengar dentuman keras dari balik pintu tersebut. Membuat Cyla kembali membuka pintu tersebut, namun dinding gelap sudah terpampang nyata di depannya. Membuat Cyla bernafas lega dan kembali menutup pintunya. Namun, lagi dan lagi Cyla dibuat terlonjak kaget saat suara kunci berputar. Membuat Cyla bergegas jalan kearah pintu dan berdiri bersembunyi tepat dibalik dinding disamping sisi pintu yang bisa terbuka. Beruntunglah Cyla sebab ruangan dalam keadan gelap gulita dan dirinya memakai gaun malam yang sangat kebetulan juga berwarna hitam. Jantungnya berdegup kencang saat kedua penjaga masuk, dan saat ada celah Cyla seketika langsung menyelinap keluar diam – diam dengan tergesa – gesa hingga membuat Cyla tersandung dan jatuh. Dengan belakang leher tepat dibawah balik balik telainganya membentur pinggiran kursi penjaga. Tanpa sadar membuat Cyla mengaduh kesakitan dan menimbulkan bunyi cukup keras dentuman antara dirinya dan kursi yang tergeser akibat beban dari dirinya. Sontak saja Cyla kembali tergesa – gesa dan bersembunyi dibalik pohon tepat di hadapannya dengan nafas yang terengah – engah.
“Siapa disitu?” seru salah satu penjaga, sedang penjaga lainnya menyalakan senter yang di pegangnnya dan mengarahkan cahayanya kedepan.
Hal tersebut membuat Cyla ketakukan setengah mati, lebih merapatkan tubuhnya pada batang pohon besar dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jantungnya yang bergemuruh ketakutan, membuat Cyla menangis dalam diam.
“Mungkin kucing. Sebaiknya kita cek nona muda Adiaksa, kita akan dimarahi madam jika telat memberinya makan malam.” Ucap penjaga yang memegang senter yang langsung di angguki oleh penjaga satunya.
Hingga suara pintu tertutup, Cyla menarik kembali kedua tangannya dari mulutnya dan bernafas lega. Melangkah perlahan kearah pintu utama ‘Gala Home’ dengan tangan kanannya mememang luka yang berdarah dibalik telinganya dan berjalan tertatih akibat kelelahan sambil memlihat sekeliling untuk memastikan tidak orang atau penjaga dan pelayan yang melihat dirinya.
¬ Flashback Off ¬
“Untunglah lukanya tidak parah jadi aku tidak perlu memanggil dokter atau bahkan tidak perlu datang ke rumah sakit.” Gumam Cyla menatap nanar matanya sendiri dari pantulan cermin di depannya.
Menghela nafas lelah dan melangkah kearah meja yang mana makan malam disajikan disana. Menyantap makan malam dalam diam di tengah kesendirian malam. Namun, otak didalam kepalanya terus berpikir untuk merancang rencana demi rencana untuk mengetahui dan mengambil kunci itu dari tangan Pram.
¬
Sedangkan dilain tempat,
Tepatnya di......
Grand Hotel Sofia,
Gen. Joseph C. , Sredets District, Sofia, Bulgaria.
Hotel ini terletak di dekat Bulgaria National Theatre dan City art Gallery, dalam jarak berjalan kaki dari Bulgaria Concert dan Vasil Levski National Stadium. Hotel ini merupakan hotel yang memiliki koleksi terkenal lebih dari 400 lukisan minyak asli. Terletak di modern marble – glass building, hotel ini memiliki 109 kamar, 13 apartement mewah, gym dengan sauna, solarium, Jacuzzi dan pijat, serta restoran. Antara tahu 2005 dan 2007, Hotel ini menjadi tuan rumah turnamen kari tahunan, the M-Tel Masters.
Dan disalah satu kamar VIP, terdapat Rega yang mana tengah berdiri dibalik dinding kava kamar Hotel dengan ponsel di telinganya. Rahangnya mengeras menahan amarah dengan tangan yang bebas terkepal kuat mendengar laporan dari June yang merupakan Bodyguard yang dia tugaskan untuk terus mengawasi Cyla – Dari seberang panggilan.
“Kau sungguh yakin akan hal yang kau ucapkan itu?” Tanya Rega menggeram emosi.
“Ya, sir. Saya akan mengirimkan video cctv nya pada e-mail anda, sir.” Jawab June yakin.
“Baiklah, kirim saat ini juga.” Perintah Rega langsung memutuskan panggilan secara sepihak tanpa mau tahu balasan dari anak buahnya itu.
Tidak lama kemudian muncul notifikasi dari e-mail nya. Berisi dua video cctv. Rega menekan video cctv yang pertama, dan isi dari video tersebut membuat Rega mencengkram kuat ponsel yang berada dalam genggamannya. Video yang menunjukan dimana Cyla – Wanitanya tengah jalan mengendap – edap masuk kedalam gudang hingga berakhir dengan berinteraksi dengan Moana. Tawanan yang selama ini Rega sembunyikan. Mencoba menahannya, beralih ke video cctv yang kedua. Berisi tepat tingkah yang Cyla lakukan di kamarnya. Dimana Cyla tengah mengobati lukanya. Melihat isi video tersebut amarah Rega menjadi – jadi. Seketika Rega berteriak dan langsung membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping – keping. Kejadian tersebut bertepatan dengan datangnya Pran yang juga ingin membahas masalah video tersebut. Kejadian yang juga tidak luput dari mata Pram membuatnya membebelalak sempurna akibat terkejut melihat amarah atasannya itu.
“Sir!” seru Pram berjalan tergesa – gesa mendekat kearah Rega.
“Tidak sekarang, Pram!” balas Rega teriak kesal berdiri tegap kembali dengan memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Bediri membelakangi Pram, yang teriakannya membuat Pram terhenti beberapa langkah di belakangnya.
“Saya akan mengatur penerbangan anda dengan helicopter pribadi anda jika itu perintah anda, sir.” Ucap Pram tenang, meski dengan nada suara yang sedikit ragu melihat emosi tuannya yang meledak – ledak. Menatap khawatir pada punggung bosnya yang berdiri dengan tegang.
“Tidak perlu. Kita akan kembali sesuai jadwal. Kita akan kembali ke Indonesia besok sore setelah semua urusan di Bulgaria selesai.” Perintah Rega mencoba tenang, menatap tajam kedepan. Dengan nafas yang masih memburu.
“Sesuai perintah anda, sir.” Ucap Pram menunduk hormat sebentar. Lalu melangkah keluar dari kamar VIP atasannya setelah mendengar balasan dehaman singkat itu. Yang masih setiap berdiri memunggunginya hingga Pram keluar dan menutup pintunya.
‘Cyla sayang, tidak di sisi mu membuat mu hilang kendali. Aku harus berbuat apa agar bisa mendisiplinkan mu? Tidak bisakah kau diam dan menikmati semua cinta dan kemewahan ku saja tanpa harus berusaha mengetahui segalanya. Benar – benar merepotkan. Bersyukurlah Cyla, sikap mu itu tidak memancing sisi emosi cemburu ku yang buruk.’ Gumam Rega dalam hati. Menatap menerawang dengan mata tajamnya pada pemandangan Ibukota Sofia, Bulgaria.
¬
Pagi hari menjelang di Indonesia tepatnya di Gala Home. Dimeja makan, Cyla tengah asik dalam diamnya menikmati sarapan yang disajikan oleh madam Leura. Sembari sesekali melirik kearah pelayan lain yang sibuk membereskan dan membersihkan rumah yang terlihat bersih dan tidak berantak di mata Cyla. Pelayan yang terlalu rajin dan melakukan segalanya seuai perintah dan peraturan menurut Cyla. Meski bukan menu favorite nya, Cyla tetap menyukai hidangan sarapan pagi ini. Sarapan ala Irlandia. Taburan bubuk espresso yang ditambah pada sleepy soda bread. Rotinya sedikit keras di mulut Cyla. Namun masih Cyla sukai sebab memiliki aroma kopi yang khas. Yang Cyla tahu, orang Irlandia biasa menambahkan roti ini dengan selai nanas, strawberry atau buah – buahan lain. Tidak sedikit juga banyak yang menikmati roti ini dengan balutan butter. Dan Cyla lebih memilih untuk menggunakan selai blueberry kesukaannya. Penyajian yang tidak lepas dari segelas kopi hangat. Namun, Cyla tidak ingin kopi di pagi hari ini. Membuatnya menggeser cangkir kopi tersebut bersamaan dengan madam Leura yang tengah menyajikan menu dessert Semifredo di depannya. Dessert ini berbahan dasar telur, gula, dan krim. Selalu menjadi dessert favorite Cyla. Selain cokelat, varian rasa yang biasa dikreasi untuk dessert ini ada mocha, raspberry, madu, lemon, nectrarine, dan lainnya.
Madam Leura yang melihat nonanya menggeser kopi agar menjauh, membuatnya menatap penuh tanya kearah nonanya.
“Almond milk, please?” ucap Cyla menatap bersalah dan memohon disaat yang bersamaan.
“Sure, miss.” Balas madam Leura tersenyum ramah dan meraih cangkir kopi yang sedang tidak ingin di minum nonanya. Lalu bergegas kedapur, mengambil almond milk dari dalam kulkas dan memanaskannya sebentar diatas kompor listrik. Namun hanya sebentar, tidak sampai benar – benar mendidih alias panas agar bisa langsung diminum tanpa harus menunggu dingin atau meniupnya. Kembali kearah meja makan, tersenyum ramah pada nonanya yang sudah mulai memakan sarapannya. Lalu meletakkan almond milk dimeja makan.
“Thank’u madam.” Ucap Cyla tersenyum manis. Lalu, meraih almond milk yang hangat itu dan menguknya sekali.
“Boleh saya bertanya, miss?” tambah madam Leura.
“Tentu, apa pun itu.” Jawab Cyla mengangguk. Tanpa menoleh dan masih sibuk mengunyak makanannya.
“Sebelum makan malam, saya tidak sengaja melihat anda keluar rumah. Boleh saya tahu, miss pergi kemana?” tanya madam Leura menelisik setiap reaksi nonanya.
Sedangkan Cyla langsung tersedak mendengar pertanyaan dari madam Leura. Cyla lalu meraih gelas yang berisi air putih di depannya dan meneguk habis. Sedangkan madam Leura yang melihat reaksi nonanya semakin melebarkan senyumnya. Tetap berdiri diam menunggu jawaban tanpa ada niatan membantu sang nonanya.
“Ehemm, hanya jalan – jalan sore. Seperti biasa.” Jawab Cyla mencoba tenang.
“Baiklah kalau begitu. Tadi malam pengawas cctv mengatakan jika ada perempuan yang terlihat mencurigakan menyusup masuk kedalam gudang. Apa nona tidak melihatnya?” tanya madam Leura, tenang namun mematikan.
“Tidak. Aku tidak bertemu dengannya.” Jawab Cyla menatap gelisah pada sajian makanan sarapan didepannya.
‘Cctv? Sial! Kenapa aku melupakan satu hal yang penting itu!’ gumam Cyla khawatir dalam hati. Tanpa sadar menggenggam erat pisau makan dan garpu di tangannya.
“Syukurlah jika memang seperti itu. Dengan begitu anda tidak apa – apa. Setelah melihat video itu, tuang June langsung mengirimkan video cctv tersebut pada tuan besar Rega dan tuan Pram. Setidaknya tuan besar tidak perlu khawatir saat tahu nona baik – baik saja.” Kembali madam Leura berucap dengan menekankan kata ‘baik – baik’ dalam kalimatnya. Sedang matanya melirik tanpa diketahui, kearah luka nonanya yang tertutup rambut itu.
“Apa?” tanya Cyla terkejut, menelan ludah gugup dengan mata yang membulat sempurna.
“Saya permisi kalau begitu, miss. Selamat menikmati sarapan anda.” Ucap madam Leura dengan senyum ramahnya menunduk hormat sekilas. Lalu, melangkah kembali ke dapur. Meninggalkan nonanya yang masih tenggelam dalam keterkejutannya.
Saat sudah sampai didapur, madam Leura tersenyum penuh arti menatap ponselnya. Mengirimkan rekaman perbincangannya dengan sang nona muda Cyla barusan pada tuan besar Rega. Lalu setelahnya kembali mengirim pesan dengan bunyi ‘sesuai perintah anda, sir.’. tersenyum dan kembali memasukan ponselnya pada saku seragam kepala pelayan yang di kenakannya.
¬
Setelah selesai sarapan Cyla memilih untuk kembali kedalam kamarnya. Diberkatilah Cyla, sebab hari ini tidak ada jadwal kelas. Namun, kembali ke kamar pun yang bisa Cyla lakukan hanya mondar – mandir gelisah dengan kuku ibu jarinya yang dia gigit gugup.
“Aww,, sial! Sial! Sial!” desis Cyla menghentikan langkahnya, menatap Ibu jarinya yang luka berdarah akibat gigitannya sendiri.
“Good, Cyla. Good. Pertama leher, sekarang jari. Tidak tahu bagian tubuh mana lagi yang akan luka akibat ulah mu sendiri.” Gerutu Cyla mengambil kotak P3K yang semalam dia simpan dilaci bawah meja riasnya. Lalu, membalut luka di ibu jarinya dengan plester. Setelah selesai, kembali Cyla menyimpan kotak P3K ketempat semula.
Duduk diatas ranjang, mengatur pernapasan untuk menghilangkan perasaan gugupnya. Bertepatan dengan ponsel di samipingnya berdering. Memunculkan nama Rega yang tertera pada layar ponselnya. Membuat Cyla meneguk ludah gugup, dan menatap nama Rega pada layar ponselnya gugup.
“Hallo, Rega?” sapa Cyla tenang, atau lebih tepatnya bersikap setenang mungkin.
“Kau baik – baik saja?” tanya Rega tenang namun mencengkam.
“Tentu saja. Memangnya aku kenapa?” balas Cyla dengan nada yang di paksa candaan.
“Baguslah.” Ucap Rega singkat.
“Hmm.” Sahut Cyla berdeham.
“Cyla?” panggil Rega dengan nada serius.
“Iya.” Jawab Cyla tegang.
“Kau milikku. Segala sesuatu yang ada dalam diri mu itu adalah milik ku. Kau tahu itu, kan?” tanya Rega tajam.
“Ya, I knew.” Balas Cyla gugup setengah mati, giginya kembali berulah dengan menggigit gugup sudut bibirnya.
“Tubuhmu tidak boleh tergores atau bahkan luka sedikit saja tanpa seijin ku, Cyla. Oleh siapa pun, termasuk dirimu.” Ucap Rega menegaskan. Menutup sambungan panggilan secara sepihak.
Hal tersebut tentu saja mengejutkan Cyla, hingga tanpa sadar kembali Cyla membuat luka di sudut bibirnya hingga darah terasa sedikit mengalir masuk kedalam mulutnya. Cyla meringis dan langsung berlari kearah meja rias. Menatap wajahnya di depan cermin meja rias tersebut.
“Bad. You’re really bad, Cyla.” Gumam Cyla miris pada wajahnya. Dan benar – benar merasa miris pada kondisinya sendiri.
‘Tiga luka dalam waktu kurang dari satu hari.’ Tambah Cyla dalam hati. Menghela nafas lelah, dan mencengkram kuat pinggiran meja rias.
¬
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di kamar hotel VIP tempat dimana Rega menginap. Rega tengah duduk bersandar pada long sofa dengan tangan kanan memegang anggur dan satunya menatap nanar pada layar video yang menunjukan kondisi Cyla sebelum dan sesudah dia menghubunginya. Perbedaan waktu 5 jam antara Indonesia dengan Bulgaria, dimana Indonesia lebih cepat 5 jam dari Bulgaria. Membuat Ibukota Sofia dalam keadaan pagi buta, sedang Indonesia pagi terang. Dan semalam di Bulgaria, Rega tidak mengantuk hingga matanya berjaga semalaman.
“Saat ku bilang jangan terluka. Kau malah melukai diri mu sendiri? Hebat, Cyla. Kau sungguh hebat membuat ku kacau akibat semua ulah mu. Tingkah laku mu membuatku terbakar, tapi aku tidak mati. Sangat sakit dan marah secara bersamaan.” Ucap Rega lirih meneguk habis anggur dalam gelas genggamannya. Lalu, melempar gelas itu hingga jatuh dan hancur berkeping – keping. Kembali mengulang video yang menunjukan Cyla terluka pada sudut bibirnya dengan ponsel barunya. Bersyukurlah Rega, setidaknya kartu SIM nomornya tidak ikut rusak seperti posel sebelumnya. Memejamkan kedua matanya, Rega lalu mengehembuskan nafas lelah.
“Aku marah karena kau menentang ku. Tapi, aku kacau balau akibat semua luka – luka mu. Disaat aku menjaga mu mati – matian agar tidak ada satu goresan sedikit pun di tubuh mu. Tapi, kau dalam waktu sekejap. Oh ayolah Cyla, kau sungguh punya nyali menggores luka pada tubuh mu, milik ku.” Gumam Rega dengan mata yang terpejam. Menekankan setiap kata yang ia gumamkan dengan nada tajam dan kesal.
‘Berharaplah Cyla agar aku tidak menghukum mu saat aku kembali nanti dari Bulgaria.’ Tambah Rega dalam hati.
Rega sungguh tidak menyangka, dia hanya meninggalkan Cyla yang bahkan belum genap satu hari. Namun, sudah banyak masalah yang terjadi. Rega benar – benar di buat kebingungan dengan segala pemikiran dan sikap Cyla. Rega sangat frustasi memikirkan setiap cara agar dapat membuat Cyla disiplin. Sikap disiplin Cyla pada setiap peraturannya. Dulu, saat mereka masih awal bersama. Rega bisa dengan mudah membuat Cyla disiplin dengan segala keposesifannya dalam waktu satu bulan. Saat dia berkata ‘diam’ maka Cyla akan diam. Saat dia berkata ‘tinggal’ maka Cyla akan tinggal. Tapi, sekarang? Hubungan ini bahkan sudah hampir 5 bulan berjalan. Dan Rega sangat kesal akibat Cyla tidak kembali mudah mengikuti setiap perkataanya. Semua peraturannya. Semuanya sudah berubah, waktu berubah. Dan Secyla Jellyn pun ikut berubah dengan sifat manisnya menghilang bersama waktu 2 tahun yang lalu.
*****
Gala Home
~
Kamar Utama, Rega dan Cyla 'Gala Home'
~
Secyla Victoria Jellyn
~
Rega Morren Rahendra
~
Pram Guntara
~
June
~
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your like, vote and coment...
Typo coment guyss!
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!