
[Don't Copy My Story!]
Real my imagination!
Jangan lupa like dan rate nya, ya!
~ Happy Reading ~
*****
Tepat setelah Pram mendapatkan kabar dari Gladis kalau nona Cyla pergi dengan Tuan Dimas Mahesa. Pram langsung membisikan informasi tersebut kepada Rega ditengah rapat tim. Mendengar hal tersebut, sontak saja Rega terkejut. Apa yang terjadi sampai wanitanya – Cyla pergi dengan paman Dimas yang notabenya adalah Ayah dari sahabatnya sendiri, Adam Jaya Mahesa. Setelah rapat selesai Rega langsung meluncur ke Surakarta dengan Pram yang mengemudikan mobilnya. Sesampainya didalam kamar hotel yang seharusnya tempat dia menginap bersama Cyla, Rega hanya mendapati koper milik Cyla. Yang mana Gladis lah yang menata pakaian Cyla kedalam koper disaat Cyla tengah sibuk membersihkan diri didalam kamar mandi. Matanya menatap nanar kearah koper Cyla yang diletakkan dengan disandarkan disamping ranjang tidur hotel. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa Gladis kecolongan, Gladis – Pengawal Pribadi Cyla yang baru yang dia minta Pram untuk menjaga Cyla. Ah, salah lebih tepatnya untuk menahan Cyla agar tetap di sampingnya, sangat tidak berguna untuk Rega. Terlalu tidak bisa diandalkan. Kedua tangan Rega mengepal kuat, emosinya benar – benar sudah berada di puncaknya. Rega mungkin tidak akan se – emosi ini seandainya Gladis tetap bersama Cyla, mengikuti Cyla pergi bersama dengan paman Dimas Mahesa. Namun, sayangnya alur ceritanya tidak seperti yang Rega rencanakan. Paman Dimas tidak menerima orang asing ikut bersama masuk kedalam kediamannya. Hal tersebut lah yang membuat Rega panik, kegelisahan. Membuat sekujur tubuhnya bergetar ketakutan. Saat berada dijalanan, Pram baru saja menberi tahukan informasi baru yang membuat Rega tegang. Informasi yang hampir membuat jantung Rega berhenti berdetak. Saat itu juga Rega merasa kalau dirinya benar – benar sudah di bodohi oleh pria yang selalu dia anggap sahabatnya. Kebenaran yang disembunyikan dengan sangat apik oleh Adam dan Cyla. Adam, pria itu mencoba menyela tiap langkah yang Rega lakukan dalam kelengahannya. Adam dengan tidak tahu malunya berani melamar Cyla diam – diam disaat Rega terpuruk. Mencoba mengambil yang sejak awal memang sudah menjadi miliknya. Kenapa Adam berani melakukannya? Pertanyaan yang terus tengiang – ngiang dalam benak sendunya. Perasaan Rega saat ini benar – benar kacau balau. Bagaimana jika Cyla ternyata tidak menerima dirinya karena sudah mencintai Adam, itu sebabnya dia menerima ajakan pergi dari paman Dimas? Bagaimana kalau mereka saling mencintai dan menjalin hubungan di belakang dirinya? Bagaimana jika ternyata diam – diam mereka tengaj menyiapkan pesta pernikahan? Tubuh, hati, dan pikiran Rega berteriak lantang dengan frustrasi – Takut kalau kali ini Cyla lah yang benar – benar pergi dari hidupnya. Pergi untuk hidup dengan pria lain selain dirinya. Dewi batinnya membentak, menolak asumsi yang ada dalam pikirannya.
Melangkah mendekat perlahan kearah koper Cyla yang tersandar pada sisi ranjang tidur. Mengulurkan jemarinya hanya untuk sekedar menyentuh koper tersebut. Pijakan kaki Rega memelas, tubuhnya terkulai lemah diatas lantai kamar hotel tepat didepan koper milik Cyla. Kegelisahan akan kepergian Cyla mendera hatinya dengan begitu hebatnya. Air mata lolos dengan derasnya. Sampai tidak sadar membuat Rega terisak hebat. Denyut nadinya berpacu semakin kuat. Yang bermula sentuhan, jemarinya malah mencengkram kuat koper di depannya. Sangat kuat hingga membuat kuku pada jemarinya memerah. Darah dari luka sebelumnya mengalir kembali. Menetes dengan anggun menghias lantai kamar hotel. Mengalir beriringan dengan air matanya. Rega tidak akan pernah sanggup menerima kenyataan jika asumsinya benar. Tidak ingin membenarkan jika Cyla pergi meninggalkan dirinya. Membenturkan kepalanya pada koper tesebut dan menyandarkan kepalanya saat mulai lelah. Dengan isak tangis yang tanpa sadar mengusik gendang telinganya.
“Aku hanya terlalu khawatir karena kejadian kemarin. Ya, pasti karena itu. Cyla tidak akan pernah bisa meninggalkan diriku. Cyla hanya memiliki diriku dalam hidupnya. Hanya diriku, pasti Cyla kembali . Cyla harus kembali seperti sebelumnya.” Gumam Rega disela isak tangisnya. Seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. Meyakinkan segala kepanikan dalam dirinya. Menghapus ksar air mata di pipinya. Mengangguk mantap, benar – benar mendoktrin pikirannya. Kegilaan Rega dengan segala dunianya. Dan, dunia yang hanya berpusat pada Cyla nya.
~
Berbanding terbalik dengan Rega dalam kegelisahannya. Cyla merasa dunianya kembali. Terbebas dari Rega adalah hal yang baik untuknya. Menikmati kesejukan taman di kediaman Mahesa. Dirumah hanya ada Ibu Ajeng dan para pengurus rumah. Cyla sudah menghabiskan sedikit banyak waktu untuk melepas kerinduannya. Setelah perbincangan melepas rindu. Cyla memilih untuk berkeliling, mencoba kembali mengadaptasikan matanya dengan rumah yang megah ini. Kediam Mahesa tidak bertingkat, hanya satu lantai. Namun, bisa Cyla taksir kalau kediaman Mahesa sangat luas. Dengan banyaknya Paviliun. Bentuk bangunannya bisa dibilang campuran tradisional dan modern. Dengan taman bunga disetiap sudut Paviliun yang mengelilingi kediaman Mahesa, dan jajaran pohon yang semakin menyejukan udara disini – Terlihat terlalu indah untuk mata Cyla. Cyla masih ingat tempat favorit nya jika berkunjung ‘dulu’ adalah lorong terbuka yang menghubungkan setiap Paviliun, dengan pohon anggur yang menggantung indah bak kristal sebagai atap lorong. Sambil berjalan, sambil memetik. Memanjakan mata dan lidah secara bersamaan.
Setelah lelah berkeliling, Cyla memilih untuk beristirahat di gazebo dekat dengan Paviliun yang Cyla tahu itu merupakan Paviliun milik Adam Mahesa – Putra tunggal Dimas Mahesa. Menikmati buah anggur yang Cyla petik, sambik kembali menghiupkan ponsel yang sebelumnya dia non – aktifkan. Cyla mengeryitkan dahi saat menyadari pesan dan panggilan darinya tidak mendapatkan tanggapan dari sang Ibu. Ibunya tidak membalas pesan darinya bahkan tidak juga menanggapi panggilan Cyla yang tidak terhawab sebelumnya. Merasa heran apakah terjadi apa – apa pada sang Ibu dan adiknya atau tidak. Memilih membalas pesan lain yang masuk. Tepat saat hendak memasukan kembali ponselnya, Cyla kembali terheran tidak ada satupun jejak panggilan dan pesan dari Rega. Tidak mungkin jika Rega tidak tahu dirinya pergi tanpa Gladis. Gladis pasti sudah mengabari Pram dan menceritakan apa yang terjadi. Cyla masih ingat dengan jelas pernyataan cinta Rega setiap harinya. Tapi, ini bukti cintanya? Sudah mengurung, mengekang, hanya untuk sekedar menghubungi meminta maaf saja tidak Rega lakukan. Benar – benar pria dililuar batas pikiran Cyla. Membuat Cyla menyerah pada ponselnya.
Cyla melangkah penasaran kearah Paviliun Adam. Masuk kedalam Paviliun tersebut untuk pertama kalinya, kedua mata Cyla membulat sempurna. Rahangnya jatuh terpesona, menatap takjub isi di dalamnya. Langsung disuguhi ranjang tidur dengan ukuran king size dengan lambu yang terikat indah disetiap tiang sudut ranjang. Meja kerja, sofa yang memiliki warna senada dengan warna kayu dari bangunan Paviliun – Coklat tua dengan sofa ukuran lebar. Cyla tahu sofa itu bisa ditarik dan dibentuk untuk menjadi sofa bed – Sofa tidur. Bahkan ada kulkas pribadi di dalam sini. Jangan lupakan TV yang diletakan didepan sofa dan didepan ranjang. Astaga! Dua TV dalam satu ruangan? Buat apa? Rak buku yang penuh tepat dibelakang kursi kerjanya. Bahkan Paviliun ini juga penuh dengan bunga, guci yang Cyla yakin itu semua guci mahal, dan ada pohon. Hias di dalamnya. Ini semua diluar imajinasi Cyla. Jika cyla tahu seperti ini isi Paviliun milik Adam, dia mungkin akan memikirkan ulang tentang lamaran Adam stu tahun yang lalu. Oh, mengenai masalah tersebut. Sudah dipastikan saat Cyla kembali pada Rega, pria hilang akal satu itu pasti akan banyak bertanya menginterogasi dirinya. Semoga dewi fortuna memihak padanya saat hal itu tiba.
Mengenai masalah lamaran Adam. Sebenarnya baik Adam dan Cyla. Mereka sudah mengenal sejak lama. Ketika Cyla baru saja menginjakan kaki dibangku SMP semester pertama kelas 1 SMP dan Adam sudah semester terakhir kelas 3 SMA. Namun, saat itu mereka benar – benar hanya saling mengenal satu sama lain tidak lebih dari itu. Hanya sekedar anak yang kedua ayahnya memiliki hubungan sahabat. Saat itu masih terlalu muda untuk Cyla mengetahui apa itu perasaan tertarik lawan jenis. Sedangkan Adam, jangan tanyakan. Pria itu tidak akan mungkin tertarik dengan Cyla, bisa – bisa dia dianggap pedofil oleh orang – orang. Hingga Rega akhirnya datang dan dalam hidupnya yang penuh kekanak – kanakan. Baik Cyla dan Adam terkejut. Cyla terkejut ternyata Adam adalah sahabat dari Rega – Prianya disaat Cyla kelas 3 SMA. Dan Adam terkejut jika sahabatnya memiliki kekasih dibawah umur, itu hanya pemikiran Adam disaat itu. Cyla meminta kepada Adam agar tidak memberi tahu jika mereka berdua saling kenal. Benar – benar tertutup rapat. Bahkan hingga Rega pergi meninggalkan Cyla dihari pernikahan, Rega tetap tidak tahu apapun tentang hubungan Cyla dan Adam. Lalu saat memperingati satu tahun Ayah Cyla meninggal, keluarga besar Mahesa datang berkunjung sekaligus melamar dirinya. Cyla terkejut, bagaimana Cyla mau menerima disaat Cyla tahu siapa wanita yang Adam cinta. Hal tersebut lah yang menjadi poin utama kenapa Cyla menolak lamaran keluarga Mahesa. Cyla tidak mau mengikat Adam dalam ikatan pernikahan disaat hati dan jiwa Adam tidak dalam kendali Cyla. Cinta Adam yang bahkan belum Adam mulai sama sekali. Cyla hanya bisa menyemangatinya dengan kata – kata. Bagaimana Cyla bisa membantu Adam disaat hidup Cyla saja lebih kacau dari kehidupan Adam. Sungguh menyedihkan!
Cyla kembali melangkah masuk lebih dalam – Menuju ranjang tidur tersebut yang terbalut indah dengan sprei putih – Senada dengan warna dress yang Cyla kenakan. Berbaring diatas ranjang tersebut, merasa sabgat nyaman dan lembut. Cyla yakin dirinya baru saja memejamkan mata. Namun, handuk basah mendarat sempurna diatas wajahnya yang tengah terpejam. Membuat Cyla geram terduduk. Menarik handuk tersebut dari wajahnya dan bersiap melempar kembali dengan makian yang sudah diujung lidah. Namun, tidak terduga terjadi.
“AAAAAAAA!!!!!” Jerit Cyla saat mendapati ada pria yang tengah berdiri membelakangi dirinya yang hanya mengenakan boxer. Sontak Cyla menutup mata dengan handuk basah yang masih dalam genggamannya. Masih dengan jeritan yang ternyata memekakan telinganya sendiri.
Jeritan Cyla sontak membuat terkejut sipria dan membalik badan menghadap kearah Cyla. Dan konyol nya sipria tersebut ikut menjerit.
“AAAAA!!! MALING!” Jerit sipria yang hanya mengenakan boxer.
Hingga suara dentuman keras dari dobrakan pintu yang bahkan tidak dikunci terdengar. Dimas, Ajeng, Adam, Eyang Kakung, Eyang Putri, Pak Wahyu, bahkan dua pasangan paruh baya lain yang baru Cyla lihat, berdiri diambang pintu Paviliun kamar Adam. Dua pasangan paruh baya yang Cyla yakin mungkin saja kedua orang tua pria boxer di depannya. Cain Halvor Uzzielsky.
Setelah adegan terkejut, menjerit, dan berteriak mengatakan Cyla ‘maling’ – Oh ayolah memangnya ada maling secantik dan semanis Cyla didunia ini. Harga diri Cyla sedikit terluka. Baik Cain dan Cyla sempat terkejut kenapa melihat satu sama lain didalam Paviliun Adam. Namun keterkejutan iti harus mereka kesampingkan terlebih dahulu. Prioritas mereka berdua saat ini adalah menjelaskan kesalahan pahaman dari semua padang mata yang menyaksikan hal gila yang baru saja Cyla dan Cain lakukan. Cain memang tertarik dan mungkin cinta pandang pertama pada Cyla. Tapi, dirinya tidak ingin terikat dengan Cyla disaat dirinya mungkin saja dicap ingin melakukan hal yang tidak – tidak pada Cyla. Sedangkan Cyla lebih terkejut, hubungan apa antara pria yang baru saja dia temui kemarin di perpustakaan ada didalam kediaman Mahesa. Lebih tepatnya didalam Paviliun Adam. Merasa seharusnya dirinya lah yang berteriak ‘maling’ pada Cain bukan? Sungguh hal terkonyol yang pernah Cyla alami. Kini Cain dan Cyla tengan duduk diruang keluarga Paviliun Utama. Duduk berdampingan namun di single sofa. Memiliki posisi duduk yang sama. Menundukan kepala menatap jemari yang saling bertautan karena gugup. Seperti Criminal yanh sedang diinterogasi oleh polisi. Lalu didepan mereka ada Eyang Kakung dengan Dimas disisi kirinya dan Andreas disisi kanannya. Menatap tajam penuh kearah Cyla dan Cain. Sedangkan dibelakang mereka persis berdiri istri mereka. Eyang Putri dengan Ajeng disamping kirinya dan Annasia disamping kanannya. Disamping Ajeng berdiri Adam dan juga pak Wahyu yang ikut penasaran apa yang sebenarnya terjadi antara tuan muda Cain dan nona Cyla. Bersyukurlah Cain yang setidaknya diizinkan untuk mengenakan pakaian lebih dulu sebelum keluar dari Paviliun. Ruangan yang penuh dengan suasana tegang dan mencekam.
“kalian tidur bersama?” Bukan, itu bukan Eyang Kakung, Dimas, ataupun Andreas yang bertanya – melainkan Ajeng. Dengan percaya dirinya, sang nyonya bertanya dengan nada lemah lembut dan senyum ramah terpatri di wajahnya. Sontak semua pasang mata tertuju pada Ajeng. Terutama ketiga pria yang duduk diepannya. Menatap datar Ajeng, namun tersirat agar Ajeng tutup mulut dan jangan ikut campur. Ih ayolah, bagaimana bisa Ajeng melontarkan pertanyaan dengan ekspresi seperti itu ditengah – tengah keadaan yang sangat mencengkam seperti itu.
“Maaf menyela. Silahkan dilanjutkan kembali pandang – pandangannya.” Ucap Ajeng kembali, maaih dengan nada lemah lembut dan senyum di bibirnya saat semua pasang mata menatap dirinya.
Lalu semua jembali tenang, kembaki menatap Cain dan Cyla yang juga kembali menunduk. Dengan tatapan menuntut penuh penjelasan. Sayangnya, baru saja Dimas membuka bibirnya siap untuk bertanya. Namun, dirinya kembali dibuat geram oleh pertanyaan lain yang terlontar lebih dulu sebelum dirinya.
“Kalian melakukannya?” Itu bukan Ajeng. Tapi Annasia, ibu Cain yang juga merupakan istri dari Andreas. Annasia benar – benar sudah gemas dengan para pria tua di depannya yang hanya diam tanpa bertanya sama sekali. Dirinya tidak bisa menahan lebih lama rasa ingin tahunya.
“Honey diamlah, dan jangan ada yang menyela lagi.” Geram Andreas menatap tajam sang istri. Sungguh lelah dirinya, dia dan Annasia baru saja sampai di Indonesia. Dengan Eyang Kakung, Eyang Putri dan Adam datang ke Bandara menjemputnya. Namun, siapa yang menyangka baru saja dirinya sampai di Surakarta, tepat di kediaman bangsawan Ibunya dirinya sufah disuguhi pemandangan yang memalukan. Astaga bagaiamana bisa putranya yang terlihat di matanya hendak melakukan ‘apa – apa’ kepada perempuan yang dipanggil Cyla tapi malah meneriaki sang korban dengan kata ‘maling’, apa ada akhlak?
“Jadi ada yang mau menjelaskan?” tanya Dimas merasa lega akhirnya bisa mengeluarkan suara untuk bertanya, setelah semua rintangan yang cukup pelik. Padahal dirinya hanya ingin mengucapkan kalimat tersebut namun butuh waktu yang sangat lama.
“Paman Dimas, ini tidak seperti yang paman pikirkan.” Jelas Cain cepat saat sang paman mengajukan pertanyaan.
“Memangnya apa yang dia pikirkan.” Gumam Andreas lirih – Namun masih dapat didengar dengan jelas oleh semua penghuni ruang keluarga. Sontak Andreas langsung berdeham keras dengan sengaja saat melirik dan mendapati Dimas tengah melototinya.
“Paman tidak akan berpikir seperti yang kamu ucapkan, jika kamu menjelaskan keseluruhan ceritanya.” Balas Dimas tenang, padahal dirinya sungguh kesal dengan ucapan kakak se – Ibunya itu. Lalu mengalihkan pandangannya kearah Cyla yang terang – terangan tengah menatap dirinya dengan tatapan bersalah.
“Memang benar aku masuk kedalam kamar Adam. Namun, aku tidak tahu jika Cyla ada didalam kamar Adam, Paman, Daddy, Eyang. Percayalah aku mengatakan yang sebenarnya.” Jelas Cain dengan nada yang kentara frustrasi, khawatir jika semuanya tidak percaya dengan ucapannya dan masih hanyut dalam kesalah pahaman.
“Akhirnya anak itu ingat kalau itu kamarku.” Ucap Adam dengan nada khas menyindir, yang langsung mendapatkan cubitan dari sang Ibu. Sedangkan orang yang disindir – Cain hanya memutar bola mata malas. Tidak berniat menanggapi sindiran dari sepupu yang tidak pernah dia anggap sepupu.
“Lanjutkan saja nak. Abaikan semua bisikan halus itu.” Sela Dimas cepat. Sedangkan Adam membulatkan kedua matanya terkejut, bisa – bisanya sang Romo mengatakan kalau putranya adalah makhluk halus.
“Aku tidak tahu jika Cyla sedang tertidur dikamar Adam, Paman. Aku...” Lanjut Cain menjelaskan kembali, yang lagi – lagi disela oleh makhluk yang bernama Adam. Membuat Cain mengatupkan bibirnya rapat – tapat, mencoba menahan makian yang ingin dia lontarkan di wajahnya Adam secara langsung.
“Aku memahami jika Cyla berada didalam kamar ku. Tapi yang tidak aku mengerti adalah kenapa kau juga berada didalam kamar ku? Siapa yang maling teriak maling?”
gumam Adam kembali membuyarkan ketegangan maksimal didalam ruangan tersebut. Membuat semuanya melotot – Mentap tajam ke arahnya. Termasuk Cyla. Sayangnya Adam hanya membalas pelototan Cyla dengan senyum miring yang tersungging di bibirnya. Membuat Cyla memutar bola mata jengah.
“Bagaimana dengan mu Cyla? Ada yang ingin kamu jelaskan nak?” tanya Dimas lembut, membuat Cyla menatap dalam kearahnya.
“Yang Cain katakan benar Romo. Namun, bedanya mungkin Cyla yang tidak tahu jika Cain sudah didalam dan sedang mandi. Cyla masuk kedalam Karena Adam sedang tidak ada ditempat Romo. Cyla berniat ingin istirahat sebentar karena merasa sedikit lelah sehabis berkeliling. Semuanya sungguh salah paham. Kami tidak melakukan apapun. Maaf sudah membuat kegaduhan terutama di Paviliun Utama. Cyla minta maaf Romo, jika tersebar berita ataupun gosip yang membuat malu keluarga Mahesa. Seharusnya Cyla tidak datang kesini. Cyla sungguh minta maaf, Romo.” Ucap Cyla menjelaskan dengan nada tenang namun kentara tersirat tatapan bersalah pada kedua matanya.
“Syukurlah kalau begitu. Masalah gosip atau apapun itu, jangan dipikirkan Cyla. Menurut mu kediaman Eyang ini tempat untuk bergosip ria?” ucap Eyang Kakung tenang, tersenyum lembut kearah Cyla.
“Bukan itu maksud Cyla, Eyang. Cyla hanya tidak ingin membuat Eyang dan yang lain malu karena Cyla.” Balas Cyla ikut tersenyum lembut kearah Eyang Kakung.
“Iya, Eyang percaya padamu nak. Kalau begitu Sebaiknya semuanya kembali ke Paviliun masing – masing. Terutama Andreas dan Annasia, kalian baru saja sampai. Istirahat lah lebih dulu. Kau juga nak. Sebaiknya kau istirahat di Paviliun Tamu. Dan kalau Adam maupun Cain menganggu mu, katakan pada Eyang. Kau mengerti?” Ucap Eyang Kakung tegas, yang langsung diangguki oleh yang lain. Begitupun dengan Cyla, mengikuti perintah dari sang pemilik kediaman Mahesa sesungguhnya.
*****
To be continue,
See you again ~~~~
Don't forget your like, vote and coment!
Typo coment guyss....
WARNING!
FOLLOW MY ACOUNT!